Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Political Backdrop of the Indonesian Marriage Law of 1974 Munfarida, Elya
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 6 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3752.307 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v6i1.593

Abstract

Penetapan UU Perkawinan tahun 1974 oleh pemerintah didasari oleh beberapa pertimbangan politis, yaitu, pertama, untuk menciptakan sistem hukum yang sesuai dengan positivisme negara yang memberikan kedaulatan dan kekuasaan bagi negara sebagai sumber makna hukum dan sosial. Kedua, penegasan atas otoritas hukum ini dimotivasi oleh keinginan untuk membangun kesadaran dan identitas national yang mengatasi kekuatan-kekuatan disintegratif dari perbedaan afiliasi etnis, agama dan bahasa. Ketiga, perhatian untuk meningkatkan status hukum dan sosial perempuan Indonesia. Keempat, politik akomodasi Orde Baru yang dipengaruhi oleh pragmatisme politik untuk menurunkan ketegangan sosial dan untuk mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok Muslim untuk melawan kekuatan militer yang mengancam kekuasaan Orde Baru. Pendeknya, UU Perkawinan tahun 1974 diharapkan dapat dijadikan alat untuk melakukan transformasi politik dan sosial menuju masyarakat sipil dan negara yang beradab.
Hermeneutika Al-Qur’an dalam Perspektif Farid Essack Munfarida, Elya
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 2 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7122.21 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v2i1.3693

Abstract

Reception hermeneutic toward Al-Qur’an in Farid Essack perspective is not only able to accommodate the history of texts but also to give space for readers to ‘have dialogues’ with text based on social contexts. This approach is applied as a to get objective interpretation especially in South Africa with its characteristic (rasism, economic exploitation, etc ).
Living Qur’an sebagai Solusi Penguatan Pendidikan Akhlak terhadap Siswa: Perspektif Teori Thomas Lickona (Studi Kasus MTs Pesantren El-Madani Rawalo) Winasih, Tia Mugi; Munfarida, Elya
Jurnal Kependidikan Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jk.v12i1.10235

Abstract

Abstract Currently, the Living Qur'an is dominated by the scope of social research, namely the scope of the community in wider society. Formal education, especially in secondary schools, still rarely incorporates and preserves the Al-Qur'an in it, whether it is for the development of children's character, moral and spiritual values. In fact, the "spirit" of Islamic education lies in efforts to embody the Koran and practice it well in the school and community environment. In this research the author analyzes Lickona's educational theory of thought as "reinforcing research results". Namely, the study of the living Qur'an includes moral feeling, moral coming and moral acting in MTs educational institutions. The research writer used a qualitative approach, using the case study method with the research object at MTs Pesantren El-Madani Rawalo. The sources for this research are primary and secondary, participation from the resource persons, namely Mr. Abdul Basit (Principal of the school), Mr. Ahsin (Tahfiz teacher), Mrs. Khilya and students in grades 7-8. Data collection using individual in-depth interviews. With field research and conclusions drawn. According to the results obtained, the analysis of the living Qur'an at Mts from a lickon perspective is emphasized for students from grades 7 - 8, namely there are three most important aspects: understanding, knowing and applying it by students in everyday life. Therefore, students do not just carry out Islamic teachings but also become aware of knowledge, experience and appreciation. Keywords: Living Quran, Students, Spiritual Education, Thomas Lickona. Abstrak Living Qur’an dimasa ini di dominasikan dalam ruang lingkup penelitian sosial, yakni lingkup komunitas di masyarakat luas. Pendidikan formal terutama di pendidikan sekolah menengah masih jarang membumikan dan melestarikan Al-qur’an di dalamnya, entah terhadap pengembangan nilai karakter, moral dan keruhanian anak. Padahal “ruh” pendidikan Islam terdapat pada pengupayaan penjiwaan al-qur’an dan mempraktikan secara baik di lingkungan sekolah serta masyarakat. Dalam penelitian ini penulis menganalisis teori pendidikan pemikiran Thomas lickona sebagai “penguat hasil penelitian”. Yaitu kajian living qur’an meliputi moral feeling, moral knowing serta moral acting di lembaga pendidikan MTs, penulis meneliti dengan menggunakan pendekatan kualitatif, menggunakan metode studi kasus dengan objek penelitian di MTs Pesantren El-Madani Rawalo. Sumber dari penelitian ini adalah primer serta sekunder, partisipasi dari narasumber yakni bapak abdul basit (Kepala sekolah), bapak ahsin (Guru tahfiz), ibu khilya, dan siswa kelas 7-8. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam secara individual, dengan penetian lapang dan ditarik menggunakan kesimpulan. Sesuai hasil yang didapatkan bahwanya analisa living qur’an di MTs Pesantren El Madani Rawalo dari perspektif lickon akan ditekankan pada siswaa sejak kelas 7 sampai selesai, ada tiga aspek terpenting di dalamnya yaitu: menghayati, mengetahui serta diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari . Oleh karen itu siswa tidak sekedar menjalankan ajaran Islam saja melainkan kesadaran pengetahuan, pengalaman dan penghayatan. Kata Kunci : Living Qur’an, Siswa, Pendidikan Ruhani, Thomas Lickkona
IMPLIKASI KONSEP MODERASI BERAGAMA TERHADAP MULTIKULTURALISME DI INDONESIA Febrianto, Sobri; Munfarida, Elya
Jurnal SUARGA: Studi Keberagamaan dan Keberagaman Vol. 2 No. 1 (2023): Decolonialization of Religious Studies
Publisher : Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/suarga.v2i1.8233

Abstract

This research is a research that discusses religious moderation and its implications for multiculturalism in Indonesia. Today the term religious moderation is increasingly being hoisted by the government as a concept that becomes a middle way and solution to pluralism in multicultural Indonesian society. This concept was initiated by the Ministry of Religious Affairs and was massively raised in the era of Minister of Religious Affairs Lukman Hakim Saifuddin. This research is positioned to try to dissect whether the concept of religious moderation has a good impact on multiculturalism in Indonesia. Where this research borrows a theory from John Rawls related to Multicultural Philosophy which is in line with the life of multicultural society in Indonesia. This research uses qualitative methods and library research type. There are several results found including, John Rawls' basic theory related to the philosophy of Multiculturalism actually arises from justice and mlticultural side by side with culture or culture. So from the clash of the meeting of these three variables, Rawls conceptualized at least several points that became the basis of Multicultural society, namely Justice as Fairnes, Veil of Ignorance, Maximum Rules, Reflective Equilibrium, and Principal of Liberty / Principal of Equal Liberty and Difference Principle. Meanwhile, in the concept of religious moderation in Indonesia, it has several indicators that indicate a society uses religious moderation or not. Some of these indicators are National Commitment, Tolerance, Anti-Violence, and Accommodating to Local Culture. Conceptually and theoretically it says that the concept of religious moderation has implications for multicultural society represented in John Rawls' philosophical theory of multiculturalism, but in practice it has not had a major impact due to several factors such as the large faktr of the Indonesian state and the uneven understanding of religious moderation for people in Indonesia.
STUDI TERJEMAH AL QURAN KAWASAN ASIA TENGGARA Arjuna, Klawing; Munfarida, Elya
Jurnal Asy-Syukriyyah Vol. 24 No. 2 (2023): Jurnal Asy-Syukriyyah
Publisher : STAI Asy-Syukriyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36769/asy.v24i2.344

Abstract

Translation of the Quran is an important topic to be studied academically as the transfer of language from the source language to the target language is not an easy task. Translation must also take into account the culture, social conditions, and language used to render the language of the Quran into a language understandable by the people in the Southeast Asian region. The purpose of this research is to enhance the understanding and accessibility of the language of the Quran in the Southeast Asian region. Through this study, it is revealed that the translation of the Quran originated from the Malay region of Sumatra and later spread throughout Southeast Asia through various Quranic scholars who studied the Quran in the Arabian Peninsula, the place where the Quran was revealed.
Truth and Love in Sexual Ethics of Islam Munfarida, Elya; Soeratno, Siti Chamamah; Syamsiyatun, Siti
KALAM Vol 11 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v11i1.1070

Abstract

Tulisan ini berpretensi untuk mengelaborasi salah satu unsur penting dalam etika seksual Islam yakni cinta untuk memperkuat dasar pernikahan. Cinta adalah dialog dan perjumpaan antara dua ‘Aku” yang kemudian melebur dalam ke-aku-an kekasih. Pandangan ini menunjukkan adanya beberapa komponen dalam cinta. Pertama, dialog dan perjumpaan mengisyaratkan kesetaraan eksistensi dan subyek yang otonom yang memiliki kebebasan determinasi-nya. Kedua, konsekuensi logis dari relasi dialog adalah mutualitas di mana masing-masing saling berbagi kasih sayang. Ketiga, kesatuan antara dua aku yang tidak menghilangkan subyektifitas masing-masing aku. Cinta meniscayakan adanya kemuliaan dan kesetiaan seperti yang digariskan oleh moralitas dan agama. Cinta juga sangat berkaitan dengan panca indera, karena penggunaan yang tepat berbasis pada prinsip abstinensi justru akan menguatkan ikatan cinta. Selain itu, akal juga penting dalam cinta, karena eksistensinya dapat mencegah efek negatif dalam memaknai dan merealisasikan cinta. Terakhir, cinta sangat terkait dengan pernikahan, karena hanya dengannya cinta dapat mencapai kondisi sempurna dan mengantarkan seseorang pada kebenaran dan kebijaksanaan.
Otoritas Penafsiran Muhammad Adnan dalam Tafsir Quran Suci Basa Jawi Tentang Akhlak Mulia Zurnafida, Zurnafida; Munfarida, Elya
Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir Vol. 2 No. 3 (2023): Mashadiruna Jurnal Ilmu Al-Qurân dan Tafsir
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/mjiat.v2i3.27066

Abstract

Perkembangan tafsir Al-Quran di Nusantara, tentunya tidak terlepas dari pengaruh sosial, budaya dan bahasa yang sangat beragam. Penafsiran di Indonesia pada umumnya menggunakan lokalitas yang dimaksudkan untuk memudahkan dalam memahami Al-Quran dan menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat. Dalam rangka memudahkan masyarakat Muslim Jawa dalam memahami isi kandungan Kitab Suci al-Quran, KH. Muhammad Adnan melalui karyanya yang berjudul Tafsir Al-Quran Suci Basa Jawi berusaha melakukan vernakularisasi tarjamah Al-Quran ke dalam bahasa Jawa tanpa menghiraukan gagasan-gagasan yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Sebagai contoh, Mohammaad Adnan memanfaatkan sistem tata bahasa Jawa atau undhak-undhuk dalam menafsirkan Tafsir Al-Quran Suci Basa Jawi. Dari hasil penelitian yang diperoleh, Mohammad Adnan melakukan vernakularisasi terhadap ayat tentang akhlak mulia dalam Al-Quran yaitu tentang adil (netepi samubarang wajibira marang Allah), sesama muslim adalah saudara dilarang bertikai (pasulayan), anjuran untuk berbuat kebaikan (penggawe becik), dan saling memaaafkan (lilalan legawa).