Irmadi Nahib
Pusart Survei Sumberdaya Alam Laut, Bakosurtanal

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : MAJALAH ILMIAH GLOBE

SURVEI DAN PEMETAAN UNTUK PENGEMBANGAN TAHURA SEBAGAI ASET DAN POTENSI PLURALITAS DAERAH Wijaya, Jaya; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1703.717 KB)

Abstract

Taman Hutan Raya (Tahura) pada dasarnya untuk dikembangkan sebagai kekayaan daerah untuk kepentingan pembangunan ekonomi dan konservasi. Merujuk UU No. 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Tahura mempunyai peranan yang penting bagi pemerintah daerah otonom. Tahura diperkirakan akan mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi dai aktivitas konservasi daerah seperti kegiatan riset, pendidikan, pariwisata, pengembangan masyarakat sekitar kawasan, dan konservasi keanekaragaman hayati. Dalam penelitian ini, Tahura Herman Johannes dipilih sebagai studi kasus kegiatan survei dan pemetaan dalam rangka pengembangan tahura yang merupakan asset dan pluralitas daerah otonom.ABSTRACTThe great forest park (Tahura/province park) is basically promoted to be a local richness to meet conservation and development interests. By virtue of law number 22/1999 about local government and law number 41/1999 about forestry, the province park plays an important role in fulfilling the interests of autonomous local governments. The role of Indonesia’s Tahura in local levels is to bolster economic developments and conservation activities such as education and research developments, tourist activities, local human resources improvement and biodiversity conservation. For this instance, Herman Johannes Park is fetched up to describe the role of surveys and mapping in developing the Tahura as an asset and plurality of autonomous region.Kata Kunci : Tahura, Survei dan Pemetaan, Pluralitas Daerah, Otonomi DaerahKeyword: Great Forest Park, Survey and Mapping, Regional Plurality, Regional Autonomy
KAJIAN SPASIAL EVALUASI RENCANA TATA RUANG BERBASIS KEBENCANAAN DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH Suryanta, Jaka; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.979 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-1.392

Abstract

ABSTRAKPemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dokumen RTRW diharapkan menjadi dasar dalam pengaturan, pengendalian dan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kota sehingga pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terhindar dari bencana, mengingat di setiap wilayah administrasi Kabupaten di Indonesia selalu dijumpai bagian yang rawan bencana. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi dokumen RTRW Kabupaten Kudus berdasarkan data spasial kebencanaan. Metode yang digunakan adalah analisis overlay data spasial rawan bencana terhadap pola ruang dan struktur ruang serta wighting/scoring. Analisis spasial menunjukkan pola ruang yang sudah didesain akan terdampak rawan bencana seluas 13.023,22 ha terdiri atas wilayah rawan banjir 11.692,52 ha (89,78%) dan longsor 1.331,17 ha (10,22%). Rawan banjir berdampak pada lahan pertanian sawah 9.497,83 ha (85,32%), permukiman sebesar 1.168,28 ha (10,5%), sedangkan rawan longsor terjadi di wilayah hutan lindung sebesar 459,68 (34,53%), kawasan pertanian tanaman pangan sebesar 524,90 ha (39,43%) dan kawasan hutan produksi sebesar 120,89 ha (13,32%). Hasil penelitian menunjukkan kondisi exsisting sawah dan kawasan hutan bertampalan dengan wilayah rawan bencana longsor dan banjir maka RTRW memungkinkan untuk ditinjau kembali. Struktur ruang khususnya jaringan jalan dapat memberikan akses ke wilayah terdampak longsor maupun banjir dengan baik sehingga evakuasi mudah dilaksanakan. Implementasi pola ruang maupun struktur ruang selanjutnya perlu kajian rekayasa penanggulangan wilayah rawan bencana dengan cara struktural berupa bangunan fisik, maupun peningkatan kapasitas masyarakat dan pemasangan instrumen peringatan dini yang akan dipasang baik pada wilayah rawan longsor maupun banjir. Alokasi pola ruang khususnya pada sawah yang rawan terdampak banjir dan hutan yang rawan terdampak longsor perlu ditinjau kembali atau dibuat infrastruktur untuk mengurangi dampak.Kata kunci: keruangan, rencana tata ruang wilayah (RTRW), kebencanaan, Kabupaten KudusABSTRACTLocal governments are given the authority to regulate and manage their own domestic affairs through spatial planning. Documents of Spattial Planing (RTRW) which become the basics for regulating, controlling and utilizating the district area to implementing sustainable development and avoid disaster, considering that every administrative Regency in Indonesia have disaster-prone areas. This study aims to evaluate the Spatial Planning Document of Kudus District based on spatial disaster data. The method used is the overlaying analysis of disaster-prone spatial data to the spatial patterns and structures as well as the space wighting/scoring. The spatial analysis showed that spatial patterns will be affected by a disaster-prone area of 13.023,22 hectares consisting of flood-prone area 11.692,52 ha (89,78%) and landslides 1.331,17 ha (10,22%). Prone to flooding impact on agricultural land paddy 9.497,83 ha (85,32%), settlement of 1.168,28 ha (10,5%), while prone to landslides occurred in the protected forest area of 459,68 (34,53%), the area of food crops amounted to 524,90 ha (39,43% ) and production forest area of 120,89 ha (13,32%). The results showed some areas of rice fields and forest areas overlap with the potential for landslides and flooding so RTRW allow to be reviewed. The spatial structure mainly the road network access to areas of landsliding and flooding so that the evacuation is well implemented. In the implementation of the spatial planning and structure need to feasibility study due to reduce disaster-prone by using structural means that physically, as well as community capacity building and need to install of early warning instruments that will be used in either region of landslides and floods prone. The spatial pattern allocation  especially used for rice fields that affected by floods and landslides affected the vulnerable forest need to be reviewed or created infrastructure to reduce the impact.Keywords: spatial, spatial planning, disaster, Kudus District
ANALISIS POTENSI TAMBAK GARAM MELALUI PENDEKATAN INTERPRETASI CITRA PENGINDERAAN JAUH : STUDI KASUS DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN KUPANG Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Prihanto, Yosef
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.664 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.79

Abstract

ABSTRAKPemanfaatan citra penginderaan jauh untuk pengelolaan wilayah pesisir dapat dilakukan melalui analisis spasialatau kewilayahan. Citra penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk identifikasi potensi sumberdaya di wilayahpesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis spasial areal tambak garam (potensial dan eksisting), danmenganalisis kelayakan usaha budidaya tambak garam di wilayah pesisir Kabupaten Kupang. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan interpretasi visual citra satelit resolusi tinggi, yang dikombinasikandengan pengolahan citra SRTM, serta pemanfaatan Peta RBI skala 1:25.000. Penelitian ini juga ditunjangsurvei lapangan untuk menguji kebenaran hasil interpretasi dan wawancara pengumpulan data parameter ekonomi.Hasil analisis menunjukkan dari lahan seluas ± 3.404,51 ha yang teridentifikasi berpotensi sebagai lahan tambak, ±731,41 ha merupakan areal penyangga berupa mangrove, sehingga luas areal yang dapat dimanfaatkan untukpengembangan tambak adalah ± 2.673,1 ha. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa tambak garam layakdikembangkan. Hasil analisis diperoleh benefit cost ratio sebesar 2,20 dengan mendapat nilai net present valuesebesar Rp. 334.888.490 dalam pengusahaan selama 10 tahun. Usaha budidaya ini cukup mapan, bahkan tetapmampu bertahan jika terjadi kenaikan biaya sebesar 25 % dan produksi menurun hingga 25 %.Kata Kunci : Penginderaan Jauh, Tambak Garam, Analisis Spasial, Analisis Ekonomi.ABSTRACTUtilization of remote sensing imagery for coastal zone management can be done through spatial analysis. Remotesensing imagery can be used to identify resources potential in coastal areas. This study aims to analyze spatialdidtribution of salt ponds area (potential and existing) and to analyze the feasibility of salt pond cultures at KupangRegency. The method used in this studies are visual interpretation of high-resolution satellite imagery approach,combined with SRTM image, and utilization of RBI map at the scale of 1:25.000. This study is also supported by fieldsurveys to test the accuracy of the interpretation results, besides interview to fishermen to get economic parametersdata. The results of the analysis shows that among the area of 3,404.51 ha that is identified as a potential salt pond,731.41 ha (21,48 %) of the area is covered by mangrove and consider a buffer area. Therefore total area that can beused for developing salt pond is 2,673.1 ha (81,81 %). Moreover, the economic analysis shows that the salt ponds isfeasible to be developed. Fish pond culture should be developed with benefit cost ratio of 2.20 with Net PresentValue in 10 years. This cultivation is already well established, even still considered capable to survive in case thecost would increased by 25 % and production decreased by 25 %.Keywords: Remote Sensing, Salt Pond, Spatial Analysis, Economic Analysis.
PENGEMBANGAN VALUASI EKONOMI TERUMBU KARANG SPASIAL DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN METODE BENEFIT TRANSFER Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Soleman, M Khifni; Arief, Syachrul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1672.054 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.94

Abstract

Valuasi ekonomi adalah upaya untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan, baik atas dasar nilai pasar maupun nilai non pasar. Penelitian valuasi ekonomi sudah banyak dilakukan, namun belum banyak yang menyajikan nilai valuasi ekonomi dalam bentuk peta. Dengan menggunakan metode benefit transfer dan sistem informasi geografi dapat mengkalibrasi nilai ekonomi terumbu karang dari suatu areal (rujukan) untuk ditransfer ke lokasi yang diinginkan. Metode penghitungan valuasi ekonomi dengan metode benefit transfer didasarkan pada: peta kualitas sumberdaya terumbu karang lokasi studi, nilai valuasi ekonomi di wilayah rujukan, dan karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan kalibrasi ulang perkiraan nilai valuasi ekonomi areal rujukan untuk ditransfer ke lokasi studi. Hasil studi menunjukkan bahwa nilai valuasi ekonomi di daerah studi berkisar Rp. 2,46 sampai Rp. 27,26 juta/ha/tahun atau mencapai 9-100 % dari nilai rujukan. Studi ini juga menghasilkan peta valuasi ekonomi terumbu karang yang lebih detil.Kata kunci: Terumbu Karang, Metode Benefit Transfer, Sistem Informasi GeografiABSTRACTEconomic valuation is an attempt to give a quantitative value of goods and services generated from natural resources and environment, both on the basis of market value and non-market value. Research of economic valuation has been done, but not many who present value of economic valuation in a map. Benefit transfer method is used to calibrate the economic value of an area (reference) to be transferred to a desired location. Calculation of the economic valuation using the benefit transfer method is based on: a map of coral reef quality on the study sites, economic valuation in the region of reference, and social economic characteristic of communities in the study area. Re-calibration can be done to estimate economic valuation at the reference area to be transferred to the study site. The study showed that the value of economic valuation in the study area ranges from Rp. 2,46 to Rp. 27,36 million/ha/year or reaching 9% to 100% of the reference value. This study also presented a more detailed map of the economic value of coral reef resources.Keywords: Coral Reef, Benefit Transfer Method, Geographical Information Systems
PEMODELAN SPASIAL DEFORESTASI DI KABUPATEN TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT Nahib, Irmadi; Turmudi, Turmudi; Suwarno, Yatin
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.921 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-2.226

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk memiliki konsekuensi terhadap perkembangan ekonomi yang menuntut kebutuhan lahan untuk pemukiman, industri, infrastuktur dan jasa, sehingga akan berdampak terhadap laju deforestasi yang dapat mempengaruhi perubahan iklim. Berdasarkan hasil analisis tutupan hutan antara tahun 2000 sampai tahun 2009 bahwa deforestasi di Pulau Jawa mencapai sekitar 1,38 juta ha atau sekitar 60,64% dari luas hutan yang ada. Sedangkan deforestasi di Jawa Barat sekitar 596.743,40 ha, atau 62,55% dari seluruh deforestasi di Pulau Jawa. Deforestasi juga terjadi di wilayah hutan Kabupaten Tasikmalaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perubahan tutupan hutan Kabupaten Tasikmalaya pada periode 1990-2011, dan membangun model spasial deforestasi di Kabupaten Tasikmalaya untuk memprediksi deforestasi masa yang akan datang. Pengembangan model deforestasi dilakukan dengan menggunakan model regresi logistik. Variabel dependen (Prediktan, Y) biner regresi logistik dinyatakan sebagai 0 dan 1, dimana 1 mengungkapkan terjadinya deforestasi, dan 0 tidak terjadi deforestasi. Variabel independen yang digunakan adalah jarak dari jalan, jarak dari tepi hutan, jarak dari sungai, kelas kelerengan dan kepadatan penduduk. Model ini dibangun atas terjadinya deforestasi antara tahun 1990 dan 2011. Persamaan model deforestasi yang diperoleh adalah Logit (deforestasi) = -2,3711 + 0,000776 x1 + 0,002311 x2 + 0,000554X3 – 0,401958 X4 - 1,346622 x5, dengan nilai Relative Operating Characteristics (ROC) sebesar 0,8874. Hasil validasi model menggunakan deforestasi kejadian antara 2000-2011 menunjukkan bahwa model yang dikembangkan cukup baik dengan memberikan akurasi 77,68%.Kata kunci: pemodelan spasial, penggundulan hutan, model logistik, perubahan penggunaan lahan, prediksiABSTRACTThe increase in population has consequences to the economic development which demand the need of land for residential, industrial, infrastructure and services, and will have impact to increase rate of deforestation that can affect to climate change. Based on analysis of forest cover changes between 2000 and 2009 shows that deforestation in Java around 1.38 million ha, or about 60.64 percent of the existing forest area. While deforestation in West Java accounted at around 596,743.40 ha (62.55%). The deforestation also occured in forest area of Tasikmalaya Regency. This research objectives are to determine forest cover change. Tasikmalaya Regency in the period 1990-2011, and building a spatial model of deforestation to predict the future deforestation. The development model of deforestation was done by using a logistic regression model. The dependent variable (Prediktor, Y) binary logistic regression expressed as 0 and 1, where 1 reveal the deforestation and 0 is not deforestation. The independent variables used are: distance, distance from the forest edge, distance from river, slope and population density. This model was built upon the occurrence of deforestation between 1990 and 2011. Equation of the deforestation models obtained were: logit (deforestation) = -2.3711 + 0.000776 x1 + 0.002311 x2 + 0.000554X3 – 0.401958 X4 - 1.346622 x5, with a value of Relative Operating Characteristics (ROC) of 0.8874. The results of model validation using deforestation between 2000-2011 shows that the model developed was quite suitable, providing accuracy of 77,68%.Keywords : spatial model, deforestation, logistic model, land use change, prediction
PREDIKSI POLA SEBARAN FISHING GROUND NELAYAN DI PERAIRAN SELATAN YOGYAKARTA Nahib, Irmadi; Sutrisno, Dewayany
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.621 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.112

Abstract

Pengetahuan lokal (pranata mangsa) dijadikan acuan untuk mengetahui awal datangnya musim penangkapan dan lokasi penangkapan ikan oleh nelayan Yogyakarta. Citra penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik oseanografi. Dalam penelitian ini, citra yang digunakan adalah citra Aqua MODIS/Moderate Imaging Spectroradiometer level 3. Analisis temporal khlorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) dilakukan dengan metode deret waktu. Untuk melihat hubungan antara khlorofil-a dan SPL dengan hasil tangkapan dilakukan analisis secara deskriptif dan regresi linier sederhana. Tujuan penelitian adalah (1) Menganalisis hubungan pranata mangsa dengan dengan pola sebaran fishing ground dan (2) Mengkaji informasi oseanografi berdasarkan data inderaja untuk prediksi daerah fishing ground di pesisir selatan Yogyakarta. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata SPL tahun 2002-2009 berkisar antara 23,48 – 31,36 °C. SPL yang dominan pada wilayah penelitian adalah 28,00. - 30,00 ° C. Secara umum kisaran khlorofila di wilayah penelitian sebesar 0.26 -13.67 mg/m3. Kisaran yang dominan pada wilayah penelitian antara 0.30 - 0.40 mg/m3. Hasil analisis data produksi tangkapan dengan konsentrasi khlorofil-a dan data produksi tangkapan dengan SPL, secara langsung mempunyai hubungan yang erat.Kata Kunci : Citra Catelit Aqua Modis, Khlorofil-a, Suhu Permukaan Laut, Potensial,Daerah PenangkapanABSTRACTThe local knowledge called “pranata mangsa” were referred to indentify recent fishlocation and catchments by the Yogyakarta fisherman. Remote sensing images are used to understand the oceanographic characteristics. In this study, Image used is the image of Aqua MODIS level 3. Chlorophyll-a and Sea Surface Temperature (SST) temporal analysis was carried out with time sequence method. The relationship between Chlorophyll-a and SST with pelagic fish catch was based on descriptive analysis and simple linier regression. The aims of the study were: (1). To analyze “pranata mangsa” with fishing ground distribution patterns and (2) To examine oceanography information by using multi-time remote sensing data to support the prediction development of fishing ground area in the south coastal of Yogyakarta. Results of research shows that: Average SST years 2002 - 2006 ranged between 23,48 – 31,36° C. SST at the area of research is dominant about 28,00 -30,00 ° C. In general, the range of Chlorophyll-a in the area of 0.26 -13.67 mg/m3. Dominant Chlorophyll-a in the range of research areas is between 0,30 -,.40 mg/m3. The results showed that there is a strong correlation between the data of production captured with chlorophyll-a concentrations and data captured by SST directly.Keywords : Aqua Modis Image, Chlorophyll-a, Sea Surface Temperature, Potential,Fishing Ground
PROYEKSI KENAIKAN TINGGI MUKA LAUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA ALTIMETER DAN MODEL IPCC-AR4 Sofian, Ibnu; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.352 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.127

Abstract

Estimasi kenaikan tinggi muka laut (TML) dilakukan dengan menggunakan data altimeter dan model. Hasil analisa dengan menggunakan tren analysis menunjukkan bahwa kenaikan TML di Indonesia berkisar antara 0.2 cm/tahun sampai 1 cm/tahun, dengan kenaikan TML tertinggi terjadi di Samudera Pasifik, sebeah utara Pulau Papua. Pola arus musiman dan Indonesian Through Flow (ITF) mungkin akan terpengaruh dengan adanya kenaikan TML yang tidak seragam, dengan kenaikan TML di Samudera Pasifik lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan TML di Samudera Hindia. Sebagai akibatnya, pola arus geostrofik akan lebih mendominasi dibandingkan dengan kondisi sekarang. Sementara itu, kenaikan TML tidak hanya merubah pola arus, tetapi juga dapat mengakibatkan peningkatan bahaya erosi, perubahan garis pantai dan mereduksi daerah wetland (lahan basah) di sepanjang pantai. Pada akhirnya, ekosistem lahan basah di daerah pantai mungkin akan mengalami kerusakan jika tingkat kenaikan tinggi dan suhu muka air laut melebihi batas maksimal dari kapasitas adaptasi biota pantai.Kata Kunci : Proyeksi, Altimeter, Tinggi Muka Laut, IPCC. ABSTRACTThe sea level rise has been estimated by using the trend analysis. The analysis results show that the sea level rise within the Indonesian Seas are ranging from 0.2cm/yr to 1cm/yr, with the highest sea level rise is occurred at Pacific Ocean, the north of Papua Island. The inhomogeneous sea level rise may be influences to the seasonal surface current and ITF (Indonesian Through Flow), in which the sea level rise in the Pacific Ocean is higher than the one in the Indian Ocean. As the results, it will be projected that the geostrophic currents will be more dominant than the present condition. On the other hand, sea level rises not only change the characteristics of surface current but also heighten the risk of erosions, coastal line changes and reduction of the wetland area. Eventually, the wetland ecosystem in the coastal region is likely to be destructed if the sea level and sea surface temperature rises are higher than the maximum adaptation capacity of the coastal biota.Keywords : Projection, Altimeter, Sea Level, IPCC
PEMETAAN TERUMBU KARANG DAN NILAI EKONOMI BERDASARKAN TRAVEL COST METHOD Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Arief, Syahrul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.593 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.132

Abstract

Studi ini bertujuan mengetahui potensi dan penyebaran terumbu karang serta menganalisis manfaat ekonomi dari wisata terumbu karang. Pemetaan dilakukan dengan analisis citra Aster tahun 2007 dan survei lapangan tahun 2011. Analisis ekonomi dilakukan dengan pendekatan biaya perjalanan (travel cost method), yaitu mengkaji biaya yang dikeluarkan oleh setiap individu untuk menikmati kawasan rekreasi. Hasil perhitungan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) diketahui luas ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa sebesar 6.189,69 ha, yang terdiri dari terumbu karang : 3.707,303 ha (59,89%), lamun 405,686 ha (6,55%) dan pasir 2.076,697 ha (33,55%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian ekosistem terumbu karang masih merupakan karang. Berdasarkan jumlah biaya akomodasi yang dikeluarkan selama berada di TN Karimunjawa, rata-rata biaya akomodasi yang dikeluarkan oleh wisatawan adalah sebesar Rp. 880.000/orang/kunjungan. Sedangkan berdasarkan rata-rata total biaya perjalanan adalah Rp.3.184.000/orang/kunjungan (wisatawan domestik) dan Rp. 29.720.000 /orang/kunjungan (wisatawan asing). Dari hasil perhitungan konsumen suprlus yang dinikmati oleh wisatawan adalah sebesar Rp. 550.250 dan nilai ekonomi Taman Nasional Karimunjawa sebesar Rp. 4.981.963.500.Kata Kunci : Pemetaan, Nilai Ekonomi, Terumbu Karang, WisataABSTRACTThis study aims to determine the potential and distribution of coral reefs as well as analyzing the economic benefits of coral reef trip. The coral reef mapping was carried out by analyzing an Aster satellite image year 2007 and a field survey conducted in 2011. An economic valuation using a travel costs method was performed to examine the costs incurred by each individual to enjoy the recreation area. The results of calculations using Geographical Information Systems (GIS) found the area of coral reef ecosystems in the Karimunjawa National Park (NP) accounted for 6189.69 hectares, consisted of coral reefs at 3707.303 ha (59.89%), seagrass at 405.686 ha (6.55% ) and sand at 2076.697 ha (33.55%). This number suggests that most of the ecosystem is dominated by coral reef. Meanwhile, based on the calculation of additional costs incurred while visiting the Karimunjawa NP, average accommodation costs incurred was IDR 880.000/person/visit. Moreover, the total cost average of each trip was valued for IDR 3.184 million/person/visit for domestic visitors, and IDR 29.720.000/person/traffic for overseas visitors. Besides that, the calculation of consumer surplus enjoyed by tourists was accounted for IDR 550,250. Altogether, the economic value of Karimunjawa NP was accounted for IDR 4.981.963.500.Keywords: Mapping, Economic Value, Coral Reefs, Tourism
INVENTARISASI PRODUKSI PADI DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA MODIS DI KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Kusumawardan, Ratih; Widjojo, Suharto; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1688.13 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.67

Abstract

ABSTRAKMemantapkan ketahanan pangan merupakan prioritas utama pembangunan, karena pangan merupakankebutuhan yang paling dasar bagi manusia. Salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan pangan adalahketersediaan pangan. Aspek produksi menjadi salah satu aspek terpenting dalam ketersediaan pangan. Penelitian inibertujuan untuk melakukan inventarisasi produksi, pola musim tanam dan pola musim panen padi sawah denganmenggunakan Enhanced Vegetation Index (EVI) citra MODIS. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah estimasiproduksi tanaman padi sawah di Kabupaten Lebak pada tahun 2011 yaitu sebesar 489.947 ton atau 2% lebih kecildibandingkan dengan angka perhitungan produksi tanaman padi sawah dari Dinas Pertanian Kabupaten Lebak.Secara umum, Kabupaten Lebak mengalami 3 periode musim tanam dan panen dalam setahun. Musim tanam terjadipada bulan Januari, Mei dan November, sedangkan musim panen terjadi pada bulan Maret, April, Agustus danSeptember.Kata Kunci: Estimasi Produksi Padi, Penginderaan Jauh, Enhanced Vegetation Index.ABSTRACTStrengthening food security is one among top priorities of development because food is the most basic need ofhumans’ life. One of the important pillars in building food security is ensuring food availability. For this respect, foodproduction aspect is the most important aspects in ensuring food availability. This study aims to inventory foodproduction, planting and harvesting patterns of wetland rice crop by using the Enhanced Vegetation Index (EVI)derived from MODIS imagery. The results of this study shows that the estimation of rice crop production in LebakRegency in 2011 amounted to 489,947 tons or 2% less compared to paddy crop production data provide by the LebakRegency Agriculture Office. In general, there are 3 (three) periods of paddy planting and harvesting yearly in LebakRegency. The planting season in the months of January, May and November, while the harvesting season in March,April, August or September.Keywords: Rice Production Estimation, Remote Sensing, Enhanced Vegetation Index.
PEMETAAN VALUASI EKONOMI HUTAN MANGROVE BERDASARKAN GIS DAN METODE BENEFIT TRANSFER Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.896 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.104

Abstract

Masalah yang dihadapi negara berkembang seperti Indonesia dalam menilai kondisisumberdaya alam dan lingkungan adalah sedikitnya data yang tersedia dan biaya yang terbatas untuk melakukan penelitian secara komprehensif. Valuasi ekonomi adalah upaya untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan, baik atas dasar nilai pasar maupun nilai non pasar. Penelitian valuasi ekonomi sudah banyak dilakukan, namun belum banyak yang menyajikan nilai valuasi ekonomi dalam bentuk peta. Dengan menggunakan metode benefit transfer dapat mengkalibrasi nilai ekonomi dari suatu areal (rujukan) untuk ditransfer ke lokasi yang diinginkan. Penghitungan valuasi ekonomi berdasarkan metode benefit transfer didasarkan pada nilai valuasi ekonomi di wilayah rujukan, peta kualitas sumberdaya hutan mangrove lokasi studi, dan karakteristik sosial ekonomi masyarakat di lokasi studi, dapat dilakukan kalibrasi ulang perkiraan nilai valuasi ekonomi areal rujukan untuk ditransfer ke lokasi studi.Hasil studi menunjukkan bahwa nilai valuasi ekonomi di daerah studi berkisar antara US $ 9.278,14 sampai US $ 20.500,99 atau mencapai 67 % s/d 150 % dari nilai rujukan, dan juga peta nilai ekonomi sumberdaya hutan mangrove, yang lebih detil.Kata Kunci: Keberlanjutan, Hutan Mangrove, Metode Benefit Transfer, Sistem Informasi GeografiABSTRACTThe problems that occur in the developing countries like Indonesia for assessing the condition of natural resources and environmental is the llimited of data availability and budget for conducting comprehensive research. Economy Valuations is an attempt to give a quantitative value of goods and services generated by natural resources and environment, both on the basis of market value and non-market value. Research on economic valuation has been done, but not many who present the value of economic valuation on a map. By using the benefits transfer method to calibrate the economic value of an area (reference), the economic value then, to be transferred to the desired location. Calculations of the economic valuation based on the benefit transfer method conducted based on economic valuations in the region of reference, a map of the quality of the mangrove forest study sites, and socioeconomic characteristics of communities in the study area, re-calibration can be estimated economic valuations reference area to be transferred to the study site. The study showed that the value of economic valuation in the study area ranges from U.S. $ 9,278.14 to 20,500.99 or reaches 67 to 150% of the reference value, while the map of the economic value of mangrove forest resources shows in more detailed.Keywords: Sustainability, Mangrove Forest, Benefit Transfer Method, GeographicalInformation Systems