Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

STRUKTUR VERTIKAL DAN VARIABILITAS ARLINDO YANG MASUK KE TEPI BARAT LAUT BANDA Atmadipoera, Agus S.; Naulita, Yuli; Nugroho, Dwiyoga; Giu, La Ode M. Gunawan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v12i2.29142

Abstract

Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan sistem arus antara samudera Pasifik dan Hindia yang melewati Laut Indonesia, seperti melalui jalur primer Selat Makassar ke Laut Flores dan melalui jalur sekunder Selat Lifamatola ke Laut Banda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur vertikal dan variabilitas Arlindo di Laut Flores Timur (Flores) dan Laut Banda Utara (Banda) yang berasal dari keluaran model laut INDESO antara tahun 2008 dan 2014. Analisis struktur Arlindo dengan menghitung rataan komponen arus secara vertikal. Volume transpor dihitung dari penampang di Laut Banda dan Laut Flores. Deret waktu Arlindo dianalisis variabilitasnya menggunakan filter band-pass dan transformasi wavelet kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Arlindo Banda secara dominan mengalir ke selatan, sedangkan Arlindo Flores mengalir ke timur di sepanjang utara Kepulauan Nusa Tenggara. Struktur vertikal aliran Arlindo mengalami penguatan di kedalaman antara 50 m dan 150 m. Perkiraan total volume transpor selama periode 7 tahun dari kedua jalur Arlindo yang masuk ke Laut Banda bagian barat sebesar 6,27 Sv (±3,81 Sv), yang merupakan kesepakatan baik dengan studi model sebelumnya. Variasi tahunan transpor Arlindo Banda (Flores) maksimum selama musim Barat Laut (Tenggara) dan minimum selama musim Tenggara (Barat Laut). Variabilitas yang mendominasi pada transpor Arlindo Banda ialah periode intra-musiman (ISV) dan semi-tahunan (SAV), sedangkan variabilitas transpor Arlindo Flores didominasi oleh periode tahunan (AV).
Sebaran Suhu Permukaan Laut Teluk Lampung berdasarkan Citra Landsat-8 dan Kaitannya terhadap Indian Ocean Dipole (IOD) Periode Tahun 2013 – 2021: Sea Surface Temperature Distribution in Lampung Bay Based on Landsat-8 Images and its Relation to the Indian Ocean Dipole (IOD) on the Period Year 2013-2021 Nurjaya, I Wayan; Naulita, Yuli; Rastina; Okgareta, Dema
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 3 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v15i3.48441

Abstract

Suhu permukaan laut merupakan parameter oseanografi yang penting di perairan lautan karena perubahan suhu air laut dapat mengubah ekosistem perairan. Perairan Teluk Lampung yang berasal dari Samudera Hindia dan Laut Jawa yang melewati Selat Sunda akan dipengaruhi oleh Indian Ocean Dipole (IOD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) antar-tahun secara spasial dan temporal dalam kurun waktu 9 tahun terakhir (2013-2021) serta menganalisis pengaruh fenomena IOD terhadap anomali SPL di Teluk Lampung. Metode yang digunakan adalah metode uji regresi, metode deskriptif dan statistik korelatif. Hasil menunjukkan bahwa nilai SST dari ekstraksi citra Landsat-8 dapat mewakili kondisi SPL in situ dengan uji regresi R2=0,6872. Fenomena IOD memengaruhi pola sebaran SPL perairan Teluk Lampung terlihat pada fase IOD positif (2015, 2018 dan 2019) atau fase IOD negatif (2013 dan 2016) menunjukkan adanya anomali Sea Surface Temperature (SST) perairan Teluk Lampung. Korelasi antara IOD dan SPL di Teluk Lampung memiliki dua hasil yaitu pada perairan terbuka (TL3, TL4, dan TL5) berkorelasi sedang (r>0,7) dan korelasi lemah (r<0,2) pada titik pengamatan TL1 dan TL6 yang merupakan titik dekat dengan daratan.
WATER MASS ANALYSIS OF THE INDONESIAN THROUGHFLOW BY MEANS OF PRINCIPLE COMPONENT ANALYSIS Yuli Naulita
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences Vol. 4 (2007)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.ijreses.2007.v4.a1214

Abstract

The water masses in both routes of Indonesia Throughflow (ITF) from historical hydrographic data are examined by means of the Principal Component Analysis (PCA), a multivariate statistical technique, during the southeast monsoon and northwest monsoon, and compared with the TS diagrams. The temperature and dissolves oxygen always play in the same PC, which describeds a variability contribution of the water mass characters, while salinity in a different PC. The relationship of the water masses parameters may indicate the character of dissolved oxygen as a non-conservation tracer. The Principle Component Analysis may also be used to follow the trendds of core layer attenuation as verified by the salinity corresponds at the PC. It will be higher with S-max and S-min and more closely resemble the sources. This condition is shown in the waters close to the main sources in the Pacific, like Sulawesi, Malkuku and Halmahera Sea, where both the salinity extrema can still be observed. Conversely, in the Banda and Timor Sea, where S-max and S-min are greatly attenuated even completely remove, the correspondence of salinity in the water mass character variability becomes smaller. As seen on TS and TO diagrams, PCA graphics are also showed the dominant of the north Pacific water in the western route seas, the Sulawesi, Makasar Strait and the Florest Sea, but relatively salty water of South Pacific origin is observed in the Halmahera Sea, particularly in the northwest monsoon. The strong seasonal variablity of surface water in the Indonesian can also be observed in the PCA graphics.
ESTIMATION OF MIXING AND TRANSFORMATION OF SOUTH PACIFIC WATER MASSES IN THE HALMAHERA SEA: ESTIMASI PERCAMPURAN DAN TRANSFORMASI MASSA AIR PASIFIK SELATAN DI LAUT HALMAHERA Aprilia, Jesikha Dwi; Naulita, Yuli; Nurjaya, I Wayan; Purwandana, Adi; Wang, Zheng
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.440-452

Abstract

Laut Halmahera merupakan bagian dari jalur timur Indonesian Throughflow dan adalah wilayah kunci untuk interaksi dan transformasi massa air. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan pencampuran vertikal dan menganalisis implikasinya terhadap transformasi massa air Pasifik Selatan di Laut Halmahera. Data yang digunakan adalah data observasi arsip dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menggunakan profiler CTD dan pengukuran kecepatan arus vertikal pada Februari 2021. Estimasi percampuran dilakukan menggunakan analisis Thorpe untuk menghitung tingkat dispersi energi kinetik turbulen (ε) dan difusivitas Eddy vertikal (Kρ). Area pencampuran turbulen diidentifikasi pada kedalaman 50–300 m. Massa air S. Pasifik Selatan memiliki nilai salinitas maksimum 35,5 psu pada isopiknal σθ = 25,4, dan salinitas minimum 34,5 pada  isopiknal σθ = 26,5. Laut Halmahera di dekat Selat Obi mengalami perubahan salinitas maksimum pada isopiknal σθ = 25,5 dengan nilai 35,4 psu, sedangkan salinitas minimum pada σθ = 26 adalah 34,8 psu. Lapisan ini (σθ = 24–26), memiliki tingkat disipasi energi kinetik turbulen yang relatif tinggi (10-6 W/kg) dan difusivitas eddy vertikal (10-3 m2/s) yang menggambarkan transportasi Air Subtropis Pasifik Selatan (SPSW). Lapisan isopiknal σθ = 26–27 menunjukkan penurunan salinitas minimum, dengan ε pada ordo (10-7 W/kg) dan Kρ pada ordo (10-3 m2/s) di lapisan tengah dan dalam di dekat Selat Obi, menunjukkan pencampuran yang didorong oleh instabilitas geser yang terkait dengan zona disipasi energi gelombang internal.
Karakteristik Massa Air Berdasarkan Data Argo Float Di Laut Banda Zahara, Asha Aulia; Hartanto, Mohammad Tri; Balbeid, Nabil; Atmadipoera, Agus Saleh; Nurjaya, I Wayan; Naulita, Yuli
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.29534

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik massa air di Laut Banda dengan memanfaatkan data dari Argo Float. Sebagai laut terdalam yang krusial bagi dinamika Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), monitoring in-situ hingga kedalaman ribuan meter di wilayah ini menjadi tantangan. Oleh karena itu, Argo Float merupakan instrumen krusial untuk menyediakan data suhu, salinitas, dan densitas secara real-time. Penelitian ini menggunakan 108 profil Argo Float (WMO ID_6901747) terkini untuk memetakan massa air utama Laut Banda secara musiman yang jarang dilakukan di studi-studi sebelumnya. Hasil penelitian mengungkap bahwa massa air di Laut Banda terdiri dari beberapa tipe utama, yaitu North Pacific Subtropical Water (NPSW), South Pacific Subtropical Lower Thermocline Water (SPLTW), North Pacific Intermediate Water (NPIW), dan Antarctic Intermediate Water (AAIW). Variasi suhu, salinitas, dan densitas menunjukkan bahwa pada musim timur (September), nilai yang terukur berada dalam rentang 4,6 – 27,5°C; 34,2 – 34,6 PSU; dan 21,9 – 27,4 kg/m³. Sementara itu, pada musim barat (Maret) pada kedalaman yang sama, kisarannya adalah 4,6 – 29,9°C; 32,6 – 34,6 PSU; dan 20,1 – 27,4 kg/m³. Frekuensi Brunt-Vaisala yang terukur selama musim timur berkisar antara -2,3 hingga 22 siklus per jam, sedangkan pada musim barat berkisar antara -2,6 hingga 32,2 siklus per jam, dengan distribusi yang berbeda antara kedua musim tersebut.Kata Kunci: Temperatur, Salinitas, Densitas, Argo Float, Laut BandaABSTRACTThis study aims to examine the characteristics of water masses in the Banda Sea using data obtained from Argo Floats. As the deepest sea basin that plays a crucial role in the dynamics of the Indonesian Throughflow (ITF), conducting in-situ monitoring down to thousands of meters depth in this region presents significant challenges. Therefore, Argo Floats serve as essential instruments for providing real-time temperature, salinity, and density data. This research utilizes 108 recent Argo Float profiles (WMO ID_6901747) to map the seasonal distribution of the major water masses in the Banda Sea, an approach that has been rarely undertaken in previous studies. The results reveal that the water masses consist of several key types, namely North Pacific Subtropical Water (NPSW), South Pacific Subtropical Lower Thermocline Water (SPLTW), North Pacific Intermediate Water (NPIW), and Antarctic Intermediate Water (AAIW). Variations in temperature, salinity, and density indicate that during the east monsoon (September), the measured ranges are 4.6–27.5°C, 34.2–34.6 PSU, and 21.9–27.4 kg/m³, respectively. Meanwhile, during the west monsoon (March) at similar depths, the ranges are 4.6–29.9°C, 32.6–34.6 PSU, and 20.1–27.4 kg/m³. The Brunt–Väisälä frequency measured during the east monsoon ranges from –2.3 to 22 cycles per hour, while during the west monsoon it ranges from –2.6 to 32.2 cycles per hour, exhibiting distinct seasonal distribution patterns. Keywords: Temperature, Salinity, Density, Argo Float, Banda Sea