Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

KERUSAKAN PANTAI (STUDI KASUS PANTAI LAMPU SATU MERAUKE) Dina Limbong Pamuttu; Jeni Paresa; Muchlis Alahudin
MUSTEK Vol 7 No 1 (2018): MUSTEK ANIM HA
Publisher : Universitas Musamus, Merauke, Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/mustek.v7i1.1498

Abstract

Kabupaten Merauke merupakan kawasan terluar dari Indonesia Bagian Timur dengan luasan total sekitar 4.677.938,47 hektar dan memiliki wilayah pesisir yang cukup Panjang dengan garis pantai ± 1.050 km. Pantai Lampu Satu adalah salah satu daerah wisata yang terletak di Kabupaten Merauke. Pantai ini terletak di daerah yang telah berkembang dan padat penduduk dan kondisinya semakin hari menjadi rusak oleh karena faktor alam dan juga adanya faktor manusia. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kerusakannya serta berapa besar bobotprioritas dari kerusakannya sehingga dapat diperoleh solusi tentang bagaimana cara meminimalisir kerusakan Pantai Lampu Satu tersebut. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian campuran (mixed methods), yaitu metode penelitian yang mengkombinasikan antara metodekuantitatif dan kualitatif agar diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliable, dan obyektif. Dalam penelitian ini juga dilihat perilaku atau aktivitas dari masyarakat pesisir di Pantai Lampu Satu yang menyebabkan kerusakan pada lingkungan pantai. Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kerusakan Pantai Lampu Satu antara lain adalah karena adanya faktor alam (gelombang, pasang surut air laut) dan faktor manusia (pengambilan pasir, alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan). Pembobotan prioritas Pantai Lampu Satu berada pada urutan bobot prioritas C (diutamakan). Pada daerah tersebut terjadi kemunduran garis pantai sehingga berpotensi membahayakan daerah pemukiman warga pesisir. Kata kunci: Kerusakan Pantai, Pantai Lampu Satu
Gravitasi Transportasi Antar Distrik Kabupaten Merauke Agustan Agustan; Muh Akbar; Jeni Paresa
Musamus Journal of Civil Engineering Vol 1 No 2 (2019): Musamus Journal of Civil Engineering
Publisher : Musamus University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/mjce.v1i2.2034

Abstract

Hamparan 20 distrik kabupaten Merauke tidak semua terkoneksi dengan transportasi darat, laut, dan udara. Wilayah distrik masing-masing memiliki potensi daya tarik sehingga dalam pergerakan barang dan manusia terjadi saling mempengaruhi atau daya tarik menarik antar distrik. Selain faktor topografi, Potensi grafitasi distrik penelitian ini mencoba menggunakan jenis dan jumlah kegiatan yang ada didalamnya. Variabel kekuatan grafitasi distrik digunakan persamaan Hansen untuk mengukur indeks terkuat. Hasil analisa menunjukkan hirarki grafitasi sebagai berikut : Merauke 5247.66, Tanamiring 1297.95, Semangga 1109.8, Kurik 825.84, Jagebob 690.94, Malind 627.41, Elikobel 572.61, Muting 531.85, Ulilin 455.77, Sota 264.34, Kimaam 227.09, Okaba 194.68, Nokenjerai 161.4, Animha 141.26, Tabonji 112.68, Ngguti 99.66, Ilwayab 91.08, Kaptel 81.65, Waan 73.73, Tuban 65.27. Hal ini memberikan gambaran bahwa distrik Merauke, Tanamiring, dan Semangga adalah 3 wilayah distrik yang mulai terhubung sebagai pusat kegiatan kabupaten. Distrik kurik dan jagebob adalah dua wilayah terpisah namun memperlihatkan ciri pusat kegiatan baru. Sedangkan Ilwayab, Kaptel, Waan, dan Tuban adalah daerah pelosok dengan kegiatan yang masih minim
Perhitungan Rencana Anggaran Biaya dan Metode Pelaksanaan Pada Perencanaan Ulang Gedung Struktur Baja Choirun Nawal; Budi Doloksaribu; Jeni Paresa
Musamus Journal of Civil Engineering Vol 4 No 02 (2022): Musamus Journal of Civil Engineering
Publisher : Musamus University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/mjce.v4i02.4410

Abstract

Untuk mendukung penyelenggaraan PON XX Papua dibutuhkan vasilitas bangunan yang berupa rusun sebagai tempat tinggal para official serta atlet yang akan berlaga. Bangunan tersebut bertingkat 2 (dua) atau berlantai 3 (tiga) dengan struktur utamanya beton bertulang yang berlokasi di Jalan Kamizaun Merauke. Jangka waktu pembangunan yang membutuhkan waktu pelaksanaan pekerjaan yang lebih cepat digunakan bangunan konstruksi baja karena produksi material yang dilakukan secara pabrikasi. Dalam hal ini konstruksi baja, sebaiknya perlu dilakukan perhitungan terhadap penggunaan anggaran biaya serta menghitung waktu pelaksanaan agar mengetahui mana saja item pekerjaan yang mempunyai waktu normal kerja dan waktu keritis. Tujuan Penelitian adalah untuk menghitung rencana anggaran biaya serta menghitung waktu pelaksanaan gedung wisma atlet dengan menggunakan konstruksi baja.