Budiman , Budiman
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Wanita Pekerja di Subang Annisa Aulia Listiani; Siska Nia Irasanti; Zulmansyah Zulmansyah; Eka Nurhayati; Budiman Budiman
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4320

Abstract

Peningkatan jumlah pekerja perempuan terutama berada pada usia reproduksi sering menjadi kendala bagi mereka untuk memberikan ASI eksklusif sehingga pemberian ASI eksklusif sering tidak tercapai. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif dan pemberian ASI eksklusif pada wanita pekerja pabrik di PT Taekwang Subang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data diambil dari hasil kuesioner yang telah tervalidasi. Subjek penelitian adalah wanita yang sedang bekerja di pabrik PT Taekwang bagian divisi produksi bottom (proses bagian bawah sepatu) dan produksi upper (proses bagian atas sepatu) yang mempunyai  bayi usia ≥6–24 bulan dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 93 orang. Data penelitian dianalisis dan diuji menggunakan uji chi-square. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah responden sebagian besar  memberikan ASI eksklusif sebanyak 51 responden (55%) dan yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 42 responden (45%) hal tersebut memiliki perbedaan yang tidak jauh berbeda. Hasil analisis chi-squre dengan statistical product and service solution (SPSS), nilai p yang didapatkan 0,48 lebih besar dari alpha yang telah ditentukan 0,05. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif pada wanita pekerja pabrik PT Taekwang Subang. RELATED BETWEEN EXCLUSIVE BREASTFEEDING KNOWLEDGE AND EXCLUSIVE BREASTFEEDING ON FEMALEWORKER IN SUBANGIncreasing numbers of female worker primarily in the reproductive age is often a constraint for them to give exclusive breastfeeding. Many of them then decide not to give exclusive breastfeeding for their babies. The purpose of this study was to assess the relation between knowledge about exclusive breastfeeding with exclusive breastfeeding behavior on female worker in PT Taekwang Subang. This study was a quantitative analytic observational research with cross sectional approach. Data collected by validated questionnaire. Subjects were women who work at bottom and upper production division (bottom and upper of shoe process) in PT Taekwang factor who  had babies aged ≥6–24 months, totally 93 subjects. Research data were analyzed and tested using chi-square test. The study showed that the respondents who gave exclusive breastfeeding (55%) with those who did not give exclusive breastfeeding (45%) had not spesific differences. chi-square analysis with statistical product and service solution (SPSS), p-value obtained 0.48 greater than the specified alpha 0.05. In conclution, there is no relation between mother’s about exclusive breastfeeding and exclusive breastfeeding on female worker in PT Taekwang Subang.
Kejadian Diare dan Perilaku Higienis pada Pengolah Makakanan Pedagang Kaki Lima di Wilayah Tamansari Intan Purnamasari Munajat; Budiman Budiman; Lisa Adhia Garina; Raden Ganang Ibnusantosa; Fajar Awalia Yulianto
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v2i2.4340

Abstract

Diare merupakan penyakit menular di dalam saluran pencernaan yang merupakan penyebab kematian kedua di dunia serta merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah tuberkulosis dan pneumonia di Indonesia. Faktor risiko penyakit diare adalah kualitas air dan sanitasi yang buruk, serta perilaku pengolahan makanan yang tidak higienis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan perilaku higienis dengan kejadian diare. Metode penelitian ini adalah analitik observasional melalui pendekatan cross sectional dan bersifat kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah pedagang kaki lima yang berdagang di wilayah Tamansari periode April–Juni 2018. Data subjek tersebut diambil menggunakan teknik pengambilan data consecutive sampling yang kemudian dianalisis menggunakan Uji Eksak Fisher. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner baku riset kesehatan dasar tahun 2013. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada subjek penelitian yang tidak higienis dan pernah diare dalam 1 bulan terakhir 92%, tidak higienis dan tidak diare 8%, higienis dan diare 83%, serta higienis dan tidak diare 17%. Nilai p=0,43 tidak terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku higienis dan kejadian diare pada pedagang kaki lima di wilayah Tamansari. Terdapat faktor lain yang didapat saat pengisian kuesioner dan wawancara, yaitu usia dewasa pada responden, konsumsi makanan yang pedas, asam atau berkualitas kurang baik yang perlu dibuktikan dalam penelitian yang lain. THE INCIDENCE OF DIARRHEA AND HYGIENE BEHAVIOUR ON FOOD HANDLER STREET VENDORS AT TAMANSARI REGIONDiarrhea is an infectious disease in gastro intestinal tract wich is the second leading cause of death in the world and the third leading cause of death after tuberculosis and pneumonia in Indonesia. The risk factor of diarrhea is poor water quality and sanitation, and non hygiene food handling. The purpose of this research was to find out the relation one of the risk factor that is hygienic behavior towards the incidence of diarrhea. The method used in this research is observational analytics trough cross sectional approach and quantitative. The subject in this research was street vendors who selling food in Tamansari region during April–June 2018. The method for taking the data from the subject was consecutive sampling and analyzed by fisher’s exact test. Instrument that used in this research is a standard questionnaire from riset kesehatan dasar tahun 2013. The result demonstrate that the subject who hygiene and had diarrhea in the last month was 92%, hygiene and not diarrhea was 8%, hygiene and had diarrhea was 83%, hygiene and not diarrhea was 17%. P value was p=0.43 so the conclusion is there’s no meaningful relation between hygiene behavior towards the incidence of the street vendors diarrhea in Tamansari region. There is another factor found on the answer of the questionnaire and interview that is adult age in the respondents, spicy or sour food consumption, and not good quality of food consumption that need to be proven in another research.
Gambaran Postur Kerja dan Keluhan Muskuloskeletal pada Pegawai Tata Laksana di Universitas Islam Bandung Luthfianisa Rayyani; Yuniarti Yuniarti; Caecielia Wagiono; Susan Fitriyana; Budiman Budiman
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v2i1.4342

Abstract

Ketidaksesuaian faktor ergonomi akan mengakibatkan kesalahan dalam postur kerja dan umumnya disertai gejala kelainan/keluhan musculoskeletal yang merupakan gangguan pada sendi, otot, tendon, kerangka, tulang rawan, ligamen, dan saraf yang umumnya berupa rasa nyeri. Tujuan penelitian mengetahui gambaran postur kerja dan keluhan muskuloskeletal pada pegawai tata laksana di Universitas Islam Bandung. Jenis penelitian merupakan observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 50 orang pegawai tata laksana di Universitas Islam Bandung yang berada di bawah naungan Kopsyakardos dan sudah bekerja lebih dari 1 tahun. Sampel penelitian diambil dengan cara melakukan observasi mengggunakan employee rapid entire body assessment (REBA) working sheet untuk menilai postur kerja, kemudian melakukan pengisian kuesioner dengan menggunakan nordic body map (NBM) untuk menilai keluhan muskuloskeletal. Penelitian dilakukan Maret–Mei 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar postur kerja responden berada pada kelompok risiko sedang sebanyak 39 orang (78%), kelompok risiko tinggi sebanyak 6 orang (12%), dan kelompok risiko rendah sebanyak 5 orang (10%). Keluhan muskuloskeletal paling banyak mengeluh sakit pada bahu kanan, bahu kiri, dan pinggang. Kesalahan postur kerja yang tidak sesuai dengan kaidah ergonomi, dilakukan secara berulang-ulang, dan dalam jangka waktu yang lama akan menimbulkan keluhan muskuloskeletal. DESCRIPTION OF WORK POSTURE AND MUSCULOSKELETAL COMPLAINT ON THE CLEANING SERVICE IN UNIVERSITY OF ISLAM BANDUNGErgonomic factor incompatibility will lead to errors in the work posture and generally accompanied by symptoms of musculoskeletal disorder which is a disorder of the joints, muscles, tendons, skeletons, cartilage, ligaments, and nerves are generally a pain. The purpose of this study was to know the description of work posture and musculoskeletal complaints on the cleaning service in University of Islam Bandung. This method in research type is descriptive observational by using cross sectional. Research subjects as many as 50 cleaning service personnel in University of Islam Bandung under the Kopsyakardos and has worked for more than 1 year. Research sample was taken by observation using Employee Rapid Entire Body Assessment (REBA) working sheet to assess work posture, then fill out questionnaires using Nordic Body Map (NBM) to assess musculoskeletal complaints. The study was held during March–April 2018. The results showed that most of respondent’s work posture was in moderate risk group as much as 39 people (78%), in high risk group as many as 6 people (12%), and in low risk group as many as 5 people (10%). Musculoskeletal complaints most often complain of pain in the right shoulder, left shoulder, and waist. Work posture errors that are not in accordance with ergonomic rules, carried out repeatedly, and in the long term will cause musculoskeletal complaints.
Pengaruh Kebiasaan Buang Air Besar (BAB) terhadap Kejadian Demam Tifoid di RSUD Al-Ihsan Bandung Periode Maret–Mei Tahun 2018 Melvi Imelia Risa; Ismawati Ismawati; Budiman Budiman; Hana Sofia; Herry Garna
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4214

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit endemik yang banyak terjadi di negara berkembang yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Faktor risiko demam tifoid di antaranya usia, jenis kelamin, pendidikan, status sosial ekonomi, kebiasaan cuci tangan, serta kebiasaan buang air besar (BAB) di jamban. Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung mencatat bahwa masyarakat Baleendah masih belum memiliki dukungan infrastruktur sanitasi yang baik seperti jamban serta kesadaran masyarakat yang rendah untuk melakukan pola hidup bersih yang berperan terhadap kejadian demam tifoid. Tujuan penelitian mengetahui hubungan kebiasaan cuci tangan dan buang air besar (BAB) dengan kejadian demam tifoid di RSUD Al-Ihsan periode Maret–Mei tahun 2018. Penelitian yang digunakan merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain kasus kontrol dan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, yaitu peneliti mengambil 50 sampel kasus dan kontrol yang dipilih sesuai dengan kriteria inklusi (anak usia ≥6 tahun terdiagnosis probable demam tifoid) dan tidak termasuk kriteria eksklusi (anak dengan komplikasi berat). Data yang diperoleh menggunakan uji chi-square. Berdasar atas hasil perhitungan risk estimate kebiasaan buang air besar (BAB) diperoleh OR 4,55 (OR>1) nilai p <0,001 (IK 95%:  1,69–12,79) serta nilai p cuci tangan 0,06 (IK 95%: 0,82–11,13) dengan risk estimate 2,82. Simpulan terdapat pengaruh kebiasaan buang air besar (BAB) terhadap kejadian demam tifoid. IMPACT OF DEFECATION HABITS ON THE INCIDENCE TYPHOID FEVER AT AL-IHSAN GENERAL HOSPITAL BANDUNG FROM MARCH–MAY 2018Typhoid fever is a common endemic disease in developing countries caused by Salmonella typhi bacteria. Risk factors of typhoid fever include age, sex, education, socioeconomic status, hand washing habits, and bowel habits in the toilet. Bandung District Health Office noted that Baleendah people still do not have the support of good sanitation infrastructure such as latrines and low awareness of the community to perform a clean lifestyle that plays a role against the incidence of typhoid fever. The objective of the study was to know the relationship between handwashing and defecation habit with the occurrence of typhoid fever in Al-Ihsan Hospital period March–May 2018. This research was an observational analytic study using case control design and quantitative approach. The sampling technique was done by purposive sampling, that is the researcher took 50 cases and control samples selected according to the inclusion criteria (age ≥6 years and probable typhoid fever) and exclusion criteria (severe complications). The data obtained using chi-square test. Based on the result of calculation of risk estimate of bowel habit obtained OR 4.55 (OR> 1) p value <0.001 (CI 95%: 1.69–12.79) and hand washing p value 0.06 (CI 95%: 0.82–11.13) with risk estimate 2.82. In conclusion there is an impact of defecation on with the incidence of typhoid fever.
Kejadian HIV pada Anak Balita di Jawa Barat Periode Tahun 2014–2016 Nia Yulia Susanti; Budiman Budiman; Caecielia Caecielia; Buti Azfiani Azhali; Tony S Djajakusumah
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 2 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i2.4348

Abstract

Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Di Indonesia perempuan usia reproduktif dengan HIV masih tinggi pada periode Januari sampai Maret tahun 2014 berjumlah 13.023 kasus, kemudian meningkat pada periode April sampai Juni tahun 2014 menjadi 30.542 kasus. Hal ini berdampak apabila perempuan usia reproduktif hamil dengan HIV dapat meningkatkan risiko bayi yang lahir dengan HIV positif. Intervensi lebih dini dengan mengikuti pelayanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) dapat menurunkan angka kejadian HIV pada anak balita. Penelitian ini bertujuan melihat kejadian HIV pada anak balita di Provinsi Jawa Barat dan untuk melihat bagaimana layanan PPIA di Provinsi Jawa Barat periode tahun 2014–2016. Penelitian dilakukan studi ekologi kualitatif deskriptif observasional untuk melihat jumlah kasus infeksi HIV pada anak balita di Jawa Barat periode tahun 2014 sampai 2016. Penelitian menggunakan data tersier dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian HIV pada anak balita di Jawa Barat pada tahun 2015 mengalami peningkatan dibanding dengan tahun 2014, sedangkan pada tahun 2016 dan 2015 tidak terdapat perubahan kejadian HIV pada anak balita di Jawa Barat. HIV INCIDENCE IN CHILDREN UNDER FIVE IN WEST JAVA PERIOD YEAR 2014–2016Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system. In Indonesia, women of reproductive age with HIV were still high in the period of January to March 2014 was 13,023 cases and then increased in the April to June 2014 period to 30,542 cases. It has an impact if women of reproductive age pregnant with HIV can increase the risk of babies born with HIV positive. Early intervention by following prevention services for mother-to-child HIV transmission (PPIA) can reduce the incidence of HIV in children under five. This study aimed to know the incidence of HIV in children under five in the province of West Java and to know how PPIA services in the province of West Java in the period 2014–2016. Observational descriptive quanlitative ecology study was conducted to know the number of cases of HIV infection in children under five in West Java in the period 2014 to 2016. The study used tertiary data from the provincial health office of West Java. The results showed that the incidence of HIV in children under five in West Java in 2015 had increased compared to 2014 while in 2016 and 2015 there was no change in the incidence of HIV in children under five in West Java.
Protective Effect of the T1212C Macrophage Mannose Receptor Gene Polymorphism on Pulmonary Tuberculosis Yani Triyani; Julia Hartati; Budiman Budiman; Ida Parwati; Bachti Alisjahbana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v10i3.10706

Abstract

The interaction between the mannose receptor, which is encoded by the macrophage mannose receptor (MMR) gene, and the most virulent antigen (the mannose-capped lipoarabinomannan) cell wall of virulent strains of Mycobacterium tuberculosis trigger an innate and adaptive immune response. It also produces pro and anti-inflammatory cytokines, which play a role in the pathogenesis of tuberculosis (TB) infection. Therefore, MMR gene polymorphism is a risk factor associated with the prognosis for active pulmonary TB. This study aimed to determine the correlation between MMR gene polymorphism and active or latent pulmonary tuberculosis. In this phase, MMR gene polymorphism was analyzed using a case-control design consisting of 74 control group subjects (patients with latent TB) and 74 case groups (patients with active pulmonary TB). The subject’s MMR gene DNA sequencing examination. The study was conducted at the Teaching Hospital, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran Bandung, from February 2014 to January 2015. The statistical analysis used chi-square and odds ratio. The study’s result has shown the MMR gene polymorphism factor that correlated to the incidence of active pulmonary TB was T1212C (OR=0.253; 95% CI=0.111−0.575; p=0.001). There was an MMR gene in one SNP in the control group (C1323T) only and five single nucleotide polymorphisms (SNPs) in both groups (C1303T, C1221, T1212C, G1186A, and G1195A). Therefore, it can be concluded that MMR gene polymorphism on the T1212C site correlated with the incidence of active pulmonary tuberculosis and was protective.