Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengolahan Limbah Domestik Perkantoran dengan Sistem Rotating Biological Contaktor (RBC): Kasus : Perencanaan Ipal Gedung Sainath Tower Jakarta Pusat Frebhika Sri Puji Pangesti; Fitri Dwirani
Jurnal Lingkungan dan Sumberdaya Alam (JURNALIS) Vol. 1 No. 1 (2018): Civil and Environmental
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.583 KB)

Abstract

Gedung Sainath Tower terletak di Jln. Merpati St. Blok B.12 Kav.2, Kemayoran, Gunung Sahari Selatan DKI Jakarta - Jakarta Pusat. Gedung ini merupakan gedung perkantoran dengan luas 1.200 m2 dan memiliki 17 lantai. Dari luas area gedung tersebut diperkirakan penggunaan air bersihnya sebesar 51 m3/hari sehingga potensi air limbah yang dihasilkan adalah sebesar45 m3/hari. Untuk mengelola air limbah yang dihasilkan tersebut diperlukan system pengolahan air limbah yang ringkas (efisien) mengingat ketersediaan lahan yang terbatas dan tepat (efektif), dapat menghasilkan hasil olahan yang memenuhi satandar baku mjutu yang dipersyaratkan. Sehubungan dengan itu maka dirancanglah pengolahan air limbah dengan system Rotating Biological Contactor (RBC). Dari hasil analisis rancangan yang dilakukan dengan beban organik inlet100 mg/ltr dan outlet 5,6 mg/ltr didapatkan volume unit-unit IPAL Grease Trap : 0,512 m3, Equalisation Tank : 5,0 m3,ABR : 30 m3,ABT : 4,5 m3,RBC : 1,3 m3, Sedimentation Tank : 2,0 m3,Desinfection Tank : 2,5 m3.
Analisis Kesesuaian Ruang Terbuka Hijau Di Kota Serang Frebhika Sri Puji Pangesti; Fitri Dwirani
Jurnal Serambi Engineering Vol 3, No 2 (2018): Vol. 3 Edisi Khusus Februari 2018
Publisher : Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jse.v3i2.438

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)yang ada di Kota Serang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas RTH Kota Serang masih belum  mencukupi ketentuan Undang-Undang. Total luas RTH pada tahun 2016 adalah sebesar 7361,7  Haatau sekitar 27,6% luas wilayah Pemerintahan Kota Serang sebesar 2.518,9 Ha dipenuhi oleh RTH publik sedangkan sisanya, 4.842,2 Ha, diisi oleh RTH privat. Hanya RTH di dua kecamatan yang memenuhi Permendagri Nomor 1 Tahun 2007 dan Permen PU Nomor 05/PRT/M/2008 yakni kecamatan Kasemen dan Cipocok Jaya. Kecamatan Serang masih kurang 63,22 ha RTH sedangkan Kecamatan Taktakan kurang 284,53 ha. Kecamatan Walantaka dan Kecamatan Curug juga masih kurang masingmasing sebesar 965,44 ha dan 1.192,74 ha. Ruang Terbuka Hijau paling luas di Kota Serang berada diKecamatan Kasemendengan total 3.333,594 Ha atau sekitar 45,28%  dari luas wilayah Kota Serang. Berdasarkan proyeksi, luas RTH yang harus tersedia di Kota Serang berdasar kan jumlah penduduk pada tahun 2016 adalah 1.311ha, 1.336 ha pada tahun 2017, 1.362 ha pada tahun 2018, 1.388 ha pada tahun2019 dan 1.415 ha pada tahun 2020.
SISTEM PENGOLAHAN AIR SUNGAI CIBANTEN SEBAGAI AIR BAKU MENGGUNAKAN KOAGULAN POLYALUMUNIUM CHLORIDE Fitri Dwirani; Fitriyah fitriyah; Zacky Maulana
Jurnal Lingkungan dan Sumberdaya Alam (JURNALIS) Vol. 2 No. 1 (2019): Environmental
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.235 KB) | DOI: 10.47080/jls.v2i1.552

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah air Sungai Cibanten dapat dijadikan air baku dalam proses pengolahan air bersih yang dilakukan pengambilan sampel selama empat hari. Variabel penelitian yang diteliti adalah TDS (Total Dissolved Solid), warna, DO (Dissolved Oxygen), serta variabel yang lain yang mengacu pada standar baku mutu air bersih. Proses pengolahan air bersih dilakukan dengan proses fisika dan kimia, meliputi tahapan yang di lakukan yaitu menambahkan koagulan Polyalumunium Chloride dengan variasi waktu tunggu dan variasi konsentrasi volume koagulan. Waktu tunggu yang dipakai yaitu 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, dan 25 menit, sedangkan volume pemakaian koagulan yang di pakai yaitu 1 tetes, 2 tetes, dan 3 tetes. Sehingga didapatkan jumlah sampel yang akan diuji yaitu 60 sampel. Dengan menggunakan perhitungan regresi dan korelasi didapatkan waktu tunggu dan penggunaan koagulan yang optimal yaitu TDS 21,7%, warna 50%, dan DO 99,3%.
MENENTUKAN STASIUN HUJAN DAN CURAH HUJAN DENGAN METODE POLYGON THIESSEN DAERAH KABUPATEN LEBAK Fitri Dwirani
Jurnal Lingkungan dan Sumberdaya Alam (JURNALIS) Vol. 2 No. 2 (2019): Environmental
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.796 KB)

Abstract

Hujan yang jatuh dipermukaan bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga penyebarannya tidak merata untuk suatu wilayah sungai. Hal tersebut dapat diketahui dengan penempatan stasiun hujan yang tepat, baik lokasi, jumlah dan pola penyebarannya. Namun penempatan stasiun hujan pada umumnya hanya didasarkan pada kebutuhan sesaat, sehingga belum memperhatikan pengembangan sumber daya air secara menyeluruh. Lokasi penelitian yang dipilih adalah kabupaten lebak yg terletak di provinsi banten. Daerah ini memiliki keragaman topografi yang kompleks. Iklim di Kabupaten Lebak dipengaruhi oleh angin monsoon dan La Nina. Cuaca didominasi oleh angin baratan dari Samudera Hindia dan benua Asia pada musim hujan dan angin timuran pada musim kemarau. Curah hujan rata-rata per tahun mencapai 2.000-4.000 mm dengan suhu udara antara 24°-30 °C. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode polygon thiessen. Dari hasil perhitungan data rerata hujan kawasan Lebak dengan metode poligon thiessen didapatkan curah hujan rata-rata daerah pada bulan Mei 2019 adalah 186,97mm dan di dapat bahwa stasiun hujan di daerah Lebak dengan Luas 3.635 km2 seharusnya 7 stasiun namun dilapangan terdapat 8 stasiun. Hal ini baik, mengingat dapat meningkatkan keakuratan data hujan yang akan terkumpul karena pada daerah Lebak cukup luas cakupannya.
ANALISIS PENGARUH DOSIS PROBIOTIK TERHADAP KADAR pH, TSS, BOD, DAN COD PADA AIR LINDI TPA CILOWONG KOTA SERANG Herni Nurulaeni; Fitri Dwirani
Jurnal Lingkungan dan Sumberdaya Alam (JURNALIS) Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Lingkungan dan Sumberdaya Alam (JURNALIS)
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/jls.v7i1.2949

Abstract

Air lindi yang dibuang tanpa pengolahan terlebih dahulu dapat mencemari kualitas air yang berada di sekitar lingkungan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan menggangu kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar pH, TSS, BOD, dan COD pada air lindi TPA cilowong sebelum dan setelah perlakuan dengan probiotik dan mengetahui pengaruh dosis probiotik terhadap kadar pH, TSS, BOD, dan COD. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor variabel bebas (dosis probiotik) yang terdiri dari 3 perlakuan; perlakuan 1 (dosis probiotik 7,5 ml/L), perlakuan 2 (dosis probiotik 10 ml/L), perlakuan 3 (dosis probiotik 15 ml/L). Variabel terikat penelitian berupa kadar pH, TSS, BOD, dan COD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan penambahan dosis probiotik 15 ml/L merupakan dosis yang efektif pada kadar pH dan TSS yaitu pada kadar pH menjadi 7,21 dan TSS turun menjadi 32 mg/L. Sedangkan untuk kadar BOD dan COD tidak terdapat dosis yang efektif dalam menurunkan kadar tersebut dikarenakan setelah perlakuan penambahan probiotik mengalami peningkatan. Berdasarkan uji statistik bahwa penambahan dosis probiotik hanya berpengaruh pada kadar pH dan penurunan TSS sedangkan pada kadar BOD dan COD tidak berpengaruh dalam menurunkan.