Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Departemen Neurologi, FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Sistem Skoring Diagnostik untuk Stroke: Skor Siriraj Widiastuti, Priska; Ngurah Nuartha, Anak Agung Bagus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.514 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.959

Abstract

Penegakan diagnosis stroke perdarahan atau stroke iskemik memerlukan alat penunjang seperti CT scan kepala sebagai pemeriksaan baku emas yang tidak dipunyai oleh semua daerah. Skor Siriraj telah dikembangkan sekitar tahun 1984-1985 di Rumah Sakit Siriraj, Thailand, untuk membedakan stroke perdarahan atau stroke iskemik. Banyak penelitian menunjukkan hasil bervariasi, karena perbedaan kondisi daerah, prevalensi stroke, jumlah sampel, dan metode penelitian. Skor Siriraj dikatakan tidak cukup sensitif pada penelitian di Jakarta. Namun, penelitian terakhir di India menyimpulkan skor Siriraj masih dapat digunakan untuk membedakan stroke perdarahan dan stroke iskemik, terutama di daerah yang belum memiliki fasilitas CT scan kepala.Diagnosis of haemorrhagic stroke or ischemic stroke require supporting examination such as CT scan of the head as the gold standard examination but not all regions have such facilities. Siriraj scores have been developed in 1984-1985 in Siriraj Hospital, Thailand, to differentiate haemorrhagic stroke or ischemic stroke. Many researches show variable results, explained by regional difference, stroke prevalence, sample size and also different research methods. Siriraj score is not sensitive enough to distinguish ischemic and haemorrhagic stroke in Jakarta. But recent study in India concluded that Siriraj scores can still be used to distinguish haemorrhagic from ischemic stroke, especially in areas where head CT scan is not available.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN INSOMNIA PADA MAHASISWA PSSKPD ANGKATAN 2016 DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Trisa Permata Suhadi; Dewa Putu Gede Purwa Samatra; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i7.P15

Abstract

ABSTRAK Insomnia merupakan sebuah gangguan tidur dimana pasien mengalami keluhan tidur yang tidak memadai. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian insomnia antara lain adalah jenis kelamin, tingkat stres, tingkat kecemasan, tingkat depresi, konsumsi alkohol dan konsumsi kopi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kejadian insomnia pada mahasiswa PSSKPD Angkatan 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian ini dilakukan secara potong lintang analitik. Bahan penelitian yang digunakan berupa hasil kuesioner gabungan: KSPBJ Insomnia Rating Scale, Depression Anxiety Stress Scale (DASS 21), dan kuesioner yang menanyakan konsumsi alkohol dan kopi. Data penelitian diolah menggunakan software IBM SPSS dan dianalisa dengan uji chi-kuadrat. Jumlah sampel penelitian yang didapatkan adalah 154 orang. Hasil penelitian didapatkan 44,15% mahasiswa mengalami insomnia. Kejadian insomnia berhubungan dengan tingkat stres (p=0,003), tingkat kecemasan (p=0,000), tingkat depresi (p=0,000), dan konsumsi kopi (p=0,029). Tidak berhubungan dengan jenis kelamin (p=0,121) dan konsumsi alkohol (p=0,409). Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor resiko terjadinya stres, kecemasan dan depresi pada mahasiswa PSSKPD Angkatan 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kata kunci : insomnia, mahasiswa, DASS 21
A case report of disseminated cysticercosis in Bali, Indonesia A.A Raka Sudewi; Toni Wandra; Oka Adnyana; NFN Moestikaningsih; A A.B.N. Nuartha; Yasuhito Sako; Kazuhiro Nakaya; Akira Ito
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol 1, No 2 (2013): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.235 KB) | DOI: 10.32667/ijid.v1i2.6

Abstract

Abstract. We reported the case of a 36-year-old Balinese man who disseminated cysticercosis, presented neuro-, subcutaneous- and oral-cysticercosis. Diagnosis of it was based on anamnesis, clinical examination including CT Scan, histopathological and serological examinations. The patient visited outpatient clinic of Sanglah Denpasar Hospital in Bali, in June 2003 with two subcutaneous nodules in the body. Serological examinations (ELISA and immnunoblot) used both purified glycoproteins and chimeric recombinant antigen were positive. The two subcutaneous nodules disappeared after treatment with albendazole. In January 2004, the patient presented neuro-, and oral-cysticercosis. CT Scan showed multiple active lesions in the brain. During the treatment with 800 mg albendazole daily during for one month. The side effects of it such as nausea and vomit were found in that patient. Antibody responses in ELISA and immnunoblot were still positive and follow up CT scan in May 2004, it showed that very similar figures as previously. Repeated treatment with 400mg albendazole daily for one and half month was applied. Antibody responses became low, and CT scan in March 2006 did not show any active cysts but only calcified lesions.
PENENTUAN STROKE HEMORAGIK DAN NON-HEMORAGIK MEMAKAI SKORING STROKE Candida Isabel Lopes Sam; Bagus Ngurah Mahasena Putra Awatara; Dewa Putu Gede Purwa Samatra; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Callosum Neurology Vol 1 No 3 (2018): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.525 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v1i3.30

Abstract

Latar belakang: Manajemen stroke yang rasional harus berdasarkan jenis stroke sehingga sangat penting untuk membedakan antara stroke hemoragik dan non-hemoragik. Di rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas neuroimaging dapat digunakan skor stroke untuk membedakan antara stroke hemoragik dan non-hemoragik. Objektif: Bertujuan mengetahui tingkat sensitifitas dan spesifisitas skor strokeyang diperkenalkan oleh Nuartha. Metode: Uji diagnostik dikerjakan secara prospektif pada 167 penderita stroke akut periode Juli 2002 – Juni 2003 di Lab/SMF Neurologi Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Berdasarkan skor stroke, sampel dikelompokkan menjadi stroke hemoragik dan non-hemoragik, dengan CT-Scan otak sebagai standar baku. Perbedaan karakteristik kedua kelompok dianalisis dengan uji t dan chi-square,memakai program SPSS 11.0 dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Kelompok stroke hemoragik dan non-hemoragik tidak berbeda bermakna dalam hal jenis kelamin (laki-laki 24,0% berbanding 37,1%) dan rerata umur 62,2 ±11,0 berbanding 62,1 ± 13,4 tahun. Skor stroke dengan rentang nilai 16-24 sebagai stroke hemoragik memiliki tingkat sensitifitas 90,0%, dan tingkat spesifisitas 98,1%. Simpulan: Skor Stroke Nuartha dapat digunakan sebagai alat bantu diagnostik untuk membedakan stroke hemoragik dan non hemoragik bila fasilitas neuroimaging tidak tersedia, terutama pada sarana kesehatan lini pertama. Kata Kunci: Stroke, Skoring Stroke, Stroke Hemoragik, Stroke Non Hemoragik, CT Scan Otak
SINDROM GUILLAIN-BARRE PADA PASIEN DENGAN INFEKSI SARS-COV-2 SELAMA MASA PANDEMI Johann Andrasili; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.124

Abstract

Latar Belakang: Corona Virus Disease 19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus korona yang sekarang dinamakan Severe Acute Respiratory Syndrome – Corona Virus -2 (SARS-CoV-2). Selain sistem pernapasan, penyakit ini utamanya dapat memengaruhi sistem saraf dalam bentuk penyakit autoimun salah satunya sindrom Guillain-Barre (SGB). Ditemukan sebanyak 12 laporan kasus dari berbagai negara yang menunjukkan pasien terinfeksi SARS-CoV-2 dengan SGB. Tujuan: Untuk menjelaskan patogenesis terjadinya SGB pada infeksi SARS-CoV-2 dan meningkatkan kewaspadaan klinisi terhadap kejadian ini. Diskusi: Keterlibatan SARS-CoV-2 terhadap sistem saraf kemungkinan dapat melalui dua cara, yaitu melalui dugaan kemampuan neurothropic yang terlihat dari virus memasuki bulbus olfaktorius sehingga menyebabkan peradangan dan demielinisasi (neuroinvasif) serta melalui penyakit autoimun. Simpulan: Dengan ditemukannya SGB pada pasien infeksi SARS-CoV-2, maka diperlukan kewaspadaan yang tinggi dari klinisi terhadap hal tersebut. Kata Kunci: Sindrom Guillain-Barre, SARS-CoV-2, Autoimun, Mimikri Molekuler
PROFIL SKRINING INFEKSI COVID-19 DAN KADAR D-DIMER PADA PASIEN STROKE DI RSUP SANGLAH DENPASAR Ida Ayu Sri Indrayani; Ida Bagus Kusuma Putra; I Gusti Ngurah Ketut Budiarsa; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha; Angga Krishna; Kumara Tini; I Made Odie Lastrawan; Putu Ngurah Arya Darmawan; Eric Hartono Tedyanto; Aurelia Vania
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.157

Abstract

Pendahuluan: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) diumumkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Studi menemukan stroke dapat merupakan salah satu manifestasi neurologi COVID-19. Studi mengenai karakteristik pasien stroke pada masa pandemi COVID-19 dipublikasi untuk menunjang data mengenai COVID-10 pada pasien stroke sehingga mendukung penyusunan pedoman tatalaksana stroke yang lebih baik di masa pandemi COVID-19 Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik pasien stroke selama pandemi COVID-19 di RSUP Sanglah Kota Denpasar Metode: Studi ini merupakan studi deskriptif dengan kriteria inklusi pasien yang didiagnosa stroke di RSUP Sanglah pada periode Juni-Agustus 2020. Subjek dipilih menggunakan teknik consecutive sampling Hasil Penelitian: Studi melibatkan 69 pasien stroke dengan laki-laki sebanyak 62,3% dan perempuan 37,7%. Stroke non-hemoragik didapatkan sebanyak 67,7% dan stroke hemoragik 33,3%. Dari skrining Rapid Test ditemukan 7,2% hasil reaktif dan 92,8% non-reaktif. Pemeriksaan PCR pada tes swab menunjukkan hasil 10,1% positif, negatif 11,6%, dan yang tidak diperiksa sebanyak 78,3%. Hasil pemeriksaan rontgen thorax menunjukkan gambaran pneumonia sebanyak 23,2%, tidak pneumonia sebanyak 75,4%, dan TB 1,4%. Hasil pemeriksaan D-Dimer ditemukan 62,3% normal dan 37,7% meningkat. Dari pasien yang memiliki hasil swab test positif (7 orang), didapatkan 7 orang dengan hasil D-Dimer meningkat Simpulan: COVID-19 dapat ditemukan sebagai penyebab atau penyakit penyerta pasien stroke pada masa pandemi ini. Kadar D-dimer yang tinggi dapat menjadi marker gangguan koagulasi pada COVID-19 yang merupakan salah satu mekanisme penyebab stroke pada infeksi SARS-CoV-2 ini Kata Kunci: COVID-19, D-dimer, Karakteristik, Stroke
Neurorestorasi Pasca-stroke: Harapan Baru Penderita Stroke Hadi Wijaya; Putra IBK; Nuartha AABN
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 4 (2015): Alergi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i4.1019

Abstract

Stroke merupakan penyebab kecacatan utama di dunia, baik di negara maju maupun berkembang. Biaya pengobatan dan rehabilitasi pasca-stroke diperkirakan mencapai US$ 140.000/pasien, sehingga penderita stroke dengan kecacatan merupakan beban ekonomi bagi keluarga dan sistem asuransi kesehatan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembangkan terapi stroke yang efektif, sejauh ini terbatas pada bidang neuroproteksi untuk mencegah perluasan cedera otak. Hal ini disebabkan karena paradigma lama menyatakan bahwa sistem saraf pusat sifatnya permanen, neuron yang mengalami kematian tidak dapat mengalami regenerasi. Penelitian neuroscience dewasa ini membuktikan adanya aktivitas neuroregenerasi dan neuroplastisitas pada susunan saraf pusat yang terus berlangsung sepanjang kehidupan mamalia, termasuk manusia. Neurorestorasi meliputi proses pembentukan neuron baru (neurogenesis), vaskulerisasi baru (angiogenesis), dan hubungan antar neuron yang baru (sinaptogenesis). Proses ini dapat ditingkatkan melalui terapi farmakologis dan latihan berulang. Fakta ini memberi harapan baru bagi penderita stroke di masa mendatang.Stroke is the major leading cause of disability in the world, either in developed and developing country. The estimated cost for stroke treatment and rehabilitation is about US$ 140.000/patient, causing financial burden for family and also for insurance and health care system. Several efforts had been made to develop effective stroke treatment, but are still limited in neuroprotective area to prevent further brain injury. Contrary to central dogma that once the neuron died, it cannot regenerate, neuroscience research found an evidence that neuroregeneration and neuroplasticity in human central nervous system is an ongoing process during lifetime. Neurorestoration is a definition that covered neurogenesis, angiogenesis, and synaptogenesis. This process can be enhanced by pharmacological agent and repetitive exercise. This fact gives a new hope for stroke patient.
Sistem Skoring Diagnostik untuk Stroke: Skor Siriraj Priska Widiastuti; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.959

Abstract

Penegakan diagnosis stroke perdarahan atau stroke iskemik memerlukan alat penunjang seperti CT scan kepala sebagai pemeriksaan baku emas yang tidak dipunyai oleh semua daerah. Skor Siriraj telah dikembangkan sekitar tahun 1984-1985 di Rumah Sakit Siriraj, Thailand, untuk membedakan stroke perdarahan atau stroke iskemik. Banyak penelitian menunjukkan hasil bervariasi, karena perbedaan kondisi daerah, prevalensi stroke, jumlah sampel, dan metode penelitian. Skor Siriraj dikatakan tidak cukup sensitif pada penelitian di Jakarta. Namun, penelitian terakhir di India menyimpulkan skor Siriraj masih dapat digunakan untuk membedakan stroke perdarahan dan stroke iskemik, terutama di daerah yang belum memiliki fasilitas CT scan kepala.Diagnosis of haemorrhagic stroke or ischemic stroke require supporting examination such as CT scan of the head as the gold standard examination but not all regions have such facilities. Siriraj scores have been developed in 1984-1985 in Siriraj Hospital, Thailand, to differentiate haemorrhagic stroke or ischemic stroke. Many researches show variable results, explained by regional difference, stroke prevalence, sample size and also different research methods. Siriraj score is not sensitive enough to distinguish ischemic and haemorrhagic stroke in Jakarta. But recent study in India concluded that Siriraj scores can still be used to distinguish haemorrhagic from ischemic stroke, especially in areas where head CT scan is not available.
Kebutaan pada Karsinoma Nasofaring Khristi Handayani; I Gusti Ngurah Purna Putra; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i3.1158

Abstract

Latar belakang: Keluhan karsinoma nasofaring (KNF) pada hampir separuh pasien adalah benjolan di leher. Gejala neurologi lebih jarang dijumpai, kebutaan hanya terjadi kurang dari satu persen. Laporan kasus: Laki-laki 26 tahun dengan keluhan nyeri kepala, suara sengau, dan tidak dapat melihat sejak satu bulan. Dari pemeriksaan didapatkan massa di kavum nasi kanan, pembesaran kelenjar getah bening leher kanan, lesi nervus III, IV, V1, V2, V3, VI, VII kanan, dan nervus II kanan. Refleks makula kanan pada funduskopi menurun. Pada CT scan didapatkan massa nasofaring kanan yang meluas ke intrakranial dan intraorbital kanan. Simpulan: Terdapat infiltrasi KNF perkontinuitatum ke jaringan sekitar sampai intrakranial. Kebutaan pada satu mata dapat disebabkan oleh perluasan ke fosa serebri media dan invasi ke orbita, juga karena kompresi nervus optikus oleh jaringan tumor.Background: The common complaint in almost half of nasopharyngeal carcinoma (NPC) patients was a lump in the neck. Neurological symptoms occured less frequently, whereas blindness occurred in only less than one percent of cases. Case report: A 26 year-old male complained about headache, nasal voice, and blindness in right eye since a month ago. Examination found mass in the right nasal cavity, right neck lymph nodes enlargement, damage to the right oculomotor (III), trochlear (IV), trigeminal (V), and abducens (VI) nerve, and right opticus nerve (II). On fundoscopy, right macular reflex decreased. On CT scan there was right nasopharyngeal mass extending to intracranial and right intraorbital spaces. Summary: There was a direct infiltration of NPC into surrounding and intracranial structures. Unilateral blindness may be caused by expansion to middle cerebral fossa and orbita. It can also be caused by optic nerve compression from surrounding tumor tissue. Khristi
Level of knowledge and attitude towards alzheimer`s disease among people in Sanglah General Hospital, Denpasar, Bali Florence Diana Thomas; A.A. Bagus Ngurah Nuartha; I Putu Eka Widyadharma
Intisari Sains Medis Vol. 9 No. 3 (2018): (Available online: 1 December 2018)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.25 KB) | DOI: 10.15562/ism.v9i3.280

Abstract

Background: Alzheimer`s disease (AD) is a kind of dementia that causes impair of memory, intuition, and social life in elderly particularly. This study aims to know the public awareness, attitude, and knowledge of AD in Denpasar, BaliMethods: A cross-sectional study was conducted among 70 participants at Sanglah General Hospital by using self-administered questionnaire during April-May 2018 period. Subjects selection using simple random sampling method. Statistical analysis was carried out by using SPSS ver. 17 to know the percentage or proportion regarding with attitude and knowledge of AD.Results: About 39% of participants have a good knowledge, followed by 20% poor knowledge, and 41% don’t know about AD. The study found that 50% of participants have a good attitude, 25% poor attitude, and don’t have attitude regarding with AD. Data comparison showed that students scored higher for attitude than knowledge about 11%.Conclusion: Most of the participants at Sanglah General Hospital have a poor knowledge and attitude regarding with HD