Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Correlation of Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Gene Polymorphism and Random Blood Sugar Levels In Obese Amelia Eka Damayanty; Isra Thristy; Nanda Sari Nuralita
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v6i3.25281

Abstract

Background: Obesity is a condition where there is excessive accumulation of fat that can pose a risk to health in the form of the risk of chronic diseases such as type 2 diabetes mellitus (DM). Current blood sugar levels are one of the diagnoses of type 2 DM (T2DM) which is a standard test that describes blood glucose homeostasis. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) is an important enzyme in the renin-angiotensin system (RAS) because it catalyzes the conversion of angiotensin I to angiotensin II (Ang II). The RAS component of adipose tissue provides a potential pathway by which obesity can lead to insulin resistance where ACE gene polymorphisms can raise blood sugar levels. Objectives: To analyse the relationship of ACE gene polymorphism with random blood sugar levels as a predictor of type 2 DM risk in obesity. Materials and Methods: The design of this study was observational analytic with a cross-sectional approach. The sample in this study were blood from 35 obesity people in Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara and then carried out PCR examination to identify ACE gene polymorphisms and random blood sugar levels. The data were analyzed with the Kruskal Wallis Test. Results: The major samples were in 26-35 years old (42,86%). The most types of ACE gene polymorphisms were type II 51,4%, followed by the type of ID polymorphisms (32,4%), and the least was the type of DD polymorphisms (10,8%). The random blood sugar levels was normal level 80-140mg/dl (74,29%). The Kruskal Wallis test of ACE gene polymorphism and blood sugar levels with p = 0.119 (p  0.05). Conclusion: There was no correlation of  ACE gene polymorphism with random blood sugar levels in obesity.
Dampak Bahan Kimia Berbahaya dalam Makanan terhadap Kesehatan Isra Thristy; Amelia Eka Damayanty; Nanda Sari Nuralita
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 3, No 3 (2022)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v3i3.11846

Abstract

Abstrak: Masyarakat telah menggunakan dan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya dalam kehidupan sehari-hari. Bahan kimia berbahaya ini apabila menumpuk di dalam tubuh dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Zat adiktif makanan yang dimaksud dalam hal ini adalah pengawet, penyedap, pewarna, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal. Bahan tambahan pangan (BTP) merupakan bahan tambahan yang secara sengaja ditambahkan pada makanan/minuman dengan maksud untuk memperbaiki tampilan makanan/minuman. jenis bahan tambahan pangan golongan pengawet yang dilarang penggunaannya dalam produk pangan antara lain adalah formalin dan asam borat. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan melalui penyuluhan atau edukasi dan diakhiri dengan diskusi. Kegiatan tersebut diharapakan dapat meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat tentang penggunaan bahan kimia berbahaya maupun bahan aditif makanan khususnya di lingkungan keluarga. Dari hasil kegiatan ini didapatkan terjadi peningkatan pengetahuna masyarakat mengenai bahan kimia yang terkandung dalam makanan, dampaknya dan cara sederhana mendeteksinya yaitu menjadi 76% peserta memiliki pengetahuan baik
Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai Upaya Preventif Menurunkan Kejadian Stunting di Posyandu Sempurna Ujung Kelurahan Sudirejo 1 Kota Medan Tsaniya Difa Hermanto; Amelia Eka Damayanty
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v3i4.11897

Abstract

Abstrak: Stunting merupakan suatu gangguan dimana terjadi penurunan pertumbuhan fisik sebagai salah satu dampak kekurangan gizi kronis. Stunting sendiri masih merupakan salah satu permasalahan yang cukup mengkahawatirkan di Indonesia. Pemerintah telah mencanangkan beberapa intervensi guna mencegah stunting di kemudian hari, seperti intervensi gizi dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tujuan: untuk mengetahui serta meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai stunting dan pencegahannya. Metode: penyuluhan ini dilakukan di posyandu sempurna ujung kelurahan Sudirejo 1 dengan total peserta penyuluhan sebanyak 20. Gambaran pengetahuan masyarakat diketahui dengan membandingkan jawaban pretest dan postest dari kuesioner yang dibagikan. Hasil: dari hasil postest setelah penyuluhan dilakukan, didapati peningkatan pengetahuan masyarakat dengan nilai rerata 96 dari nilai rerata pretest 86 yang didapat sebelum penyuluhan.