Ismail, Ismail
Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : MATHEdunesa

Profil Berpikir Relasional Siswa SMA dalam Menyelesaikan Masalah SPLTV Ditinjau dari Self Efficacy Nia Nur Fauziyah; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.619 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p699-709

Abstract

Aktivitas mental seseorang di mana ia harus dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan informasi baru yang diberikan untuk menyelesaiakan suatu masalah matematika disebut sebagai berpikir relasional yang dapat dipengaruhi oleh keyakinan diri seseorang (self efficacy). Mendeskripsikan profil berpikir relasional siswa SMA dalam menyelesaikan masalah SPLTV ditinjau dari self efficacy merupakan tujuan penelitian ini, serta masing-masing satu siswa self efficacy tinggi dan self efficacy rendah sebagai subjek penelitian. Deskriptif kualitatif adalah jenis penelitian ini, serta instrumen penelitiannya yaitu angket self efficacy, tes penyelesaian masalah SPLTV, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMA dengan self efficacy tinggi telah melaksanakan aktivitas berpikir relasional dalam menyelesaikan masalah SPLTV dengan mengidentifikasi pernyataan yang diketahui dan pertanyaan yang ditanyakan dalam permasalahan, kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan yang dimilikinya pada tahap memahami masalah, siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dengan informasi yang diperolehnya dari permasalahan pada tahap membuat rencana dan melaksanakan rencana penyelesaian. siswa dapat membangun keterkaitan antara hasil jawaban dengan informasi pada permasalahan pada tahap memeriksa kembali. Sedangkan siswa SMA dengan self efficacy rendah telah melaksanakan aktivitas berpikir relasional pada tahap memahami masalah dengan menentukan pernyataan yang diketahui dan pertanyaan yang ditanyakan dalam permasalahan dan membentuk relasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan informasi yang diperolehnya dari permasalahan, pada tahap membuat rencana dan melaksanakan rencana penyelesaian siswa dapat menghubungkan informasi dalam permasalahan dengan pengetahuan yang dimilikinya, pada tahap memeriksa kembali siswa belum dapat menghubungkan hasil penyelesaian yang diperoleh dengan informasi yang terdapat pada permaasalahan. Oleh karena itu, diharapkan guru dapat memberikan soal nonrutin dengan gabungan antar konsep matematika sehingga dapat melatih berpikir relasional dan kemampuan penyelesaian masalah siswa. Kata Kunci: Berpikir Relasional, Penyelesaian Masalah, Self Efficacy
Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal AKM Numerasi Ditinjau dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer Fajar Wahyu Hidayat; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.44 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p684-698

Abstract

Pada saat ini dunia pendidikan telah memasuki era abad ke-21, dimana semua kemampuan yang akan dimiliki siswa semuanya berorientasi pada kemampuan yang bernama “The Four C’s” atau 4C, kemampuan tersebut yaitu critical thinking, creativity, communication, dan collaboration. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana gambaran berpikir kritis siswa yang memiliki gaya kognitif visualizer dan gaya kognitif verbalizer dalam menyelesaikan soal AKM Numerasi. Penelitian ini mengambil dua orang subjek yang memiliki jenis kelamin yang sama, tingkat kemampuan matematika yang setara, dan gaya kognitif yang berbeda. Data berpikir kritis dan data hasil wawancara masing-masing dikumpulkan menggunakan tes tulis dan wawancara. Dari ini peneliti ini menghasilkan bahwa siswa visualizer mampu memenuhi semua kategori berpikir kritis dalam menyelesaikan soal AKM Numerasi, yaitu kategori klarifikasi, asesmen, inferensi, dan strategi, sedangkan siswa verbalizer hanya mampu memenuhi beberapa kategori berpikir kritis saja, yaitu kategori asesmen dan inferensi.
Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills Ditinjau dari Tingkat Kecemasan Matematika Siti Makrufah; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.043 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p868-883

Abstract

Berpikir kritis adalah aktivitas mental individu untuk mengembangkan pengetahuan yang dimiliki dengan mempertimbangkan, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi dengan fakta atau informasi lain dari berbagai sumber untuk tujuan membuat keputusan yang rasional. Ada beberapa faktor yang memengaruhi proses berpikir kritis matematis seseorang, salah satunya adalah adanya perbedaan kecemasan matematika. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal High Order thinking Skills (HOTS) ditinjau dari tingkat kecemasan matematika. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini dari 2 siswa kelas VIII dengan tingkat kemampuan matematika dan jenis kelamin sama antara lain siswa dengan kecemasan matematika rendah dan siswa dengan kecemasan matematika tinggi. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan tes kemampuan matematika, angket kecemasan matematika (AKM), tes pemecahan masalah (TPM), dan wawancara. Selanjutnya data pemecahan masalah yang diperoleh dianalis menggunakan kriteria berpikir kritis menurut Enis yang disingkat dengan FRISCO yaitu Focus (Fokus), Reason (Alasan), Inference (Kesimpulan), Situation (Situasi), Clarity (Kejelasan), dan Overview (Meninjau Kembali). Pada hasil penelitian didapat bahwa siswa yang berkecemasan matematika rendah menunjukkan semua kriteria berpikir kritis Fokus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview dalam menyelesaikan soal HOTS level menganalisis(C4), level mengevaluasi (C5), sekaligus level mencipta(C6). Namun siswa berkecemasan matematika tinggi menjukkan semua kriteria berpikir kritis Fokus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview dalam menyelesaikan soal HOTS level menganalisis(C4), menunjukkan kriteria berpikir kritis kritis Focus, Reason, Overview dalam menyelesaikan soal HOTS level mengevaluasi (C5), dan menunjukkan kriteria berpikir kritis kritis Reason saja dalam menyelesaikan soal HOTS level mencipta (C6). Hal ini menunjukkan bahwa siswa berkecemasan matematika rendah memiliki proses berpikir kritis lebih baik dibandingkan siswa berkecemasan matematka tinggi. Kata Kunci : Berpikir Kritis, High Order thinking Skills, Kecemasan Matematika
Kemampuan Numerasi Siswa MA dalam Menyelesaikan Soal Setara Asesmen Kompetensi Minimum pada Konten Aljabar Afifa Nur Arofa; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.29 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p779-793

Abstract

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan sebuah penilaian kompetensi mendasar seperti literasi membaca dan numerasi siswa yang diperlukan dalam kehidupan. Pada penelitian ini akan dibahas tentang kemampuan numerasi yang memuat tiga konteks dan tiga proses kognitif pada konten aljabar. Penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan numerasi siswa dalam menyelesaikan soal yang setara dengan AKM. Subjek penelitian ini yaitu 36 siswa Madrasah Aliyah 1 Pasuruan kelas XI MIA-1 tahun ajaran 2021/2022. Subjek diberikan tes berupa soal setara AKM yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan numerasi yang kemudian diambil sebanyak 3 siswa untuk dilaksanakannya wawancara. Berdasarkan hasil dan wawancara, siswa kemampuan numerasi rendah dapat menentukan prosedur dan fakta dan dapat menyelesaikan permasalahan aljabar yang bersifat rutin dalam konteks personal. Dalam konteks sosial budaya dapat menyebutkan konsep aljabar yang digunakan dan pada konteks saintifik dapat menyebutkan fakta. Siswa kemampuan numerasi sedang dapat memahami fakta dan prosedur pada konteks personal, menyebutkan konsep pada konteks sosial budaya dan dapat meyebutkan fakta pada konteks saintifik, dapat menyelesaikan permasalahan aljabar yang bersifat rutin dalam konteks personal dan sosial budaya serta menyelesaikan masalah aljabar yang bersifat tidak rutin dalam konteks personal. Siswa kemampuan numerasi tinggi dapat menentukan prosedur dan fakta dalam konteks personal, dapat menentukan konsep pada konteks sosial budaya dan dapat menentukan fakta pada konteks saintifik. Dalam masalah yang bersifat rutin, dapat menyelesaikan masalah aljabar dari ketiga konteks sedangkan dalam masalah aljabar yang tidak rutin, siswa dapat menyelesaikan pada konteks personal dan saintifik. Oleh karena itu untuk meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi AKM disarankan dalam kegiatan belajar mengajar guru memberikan banyak latihan soal yang setara AKM dengan konten aljabar.
Profil Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah SPLDV Ditinjau dari Gaya Belajar Ni'amatul Aulia Nur Fitri; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 11 No 3 (2022): Jurnal Mathedunesa Volume 11 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.513 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p948-957

Abstract

Berpikir kritis merupakan proses berpikir seseorang dalam mengolah informasi yang diperoleh hingga mendapatkan simpulan yang valid. Untuk mengidentifikasi proses berpikir kritis siswa salah satunya bisa dengan kegiatan pemecahan masalah. Salah satu faktor yang memberi pengaruh terhadap berpikir kritis ialah gaya belajar yang digunakan oleh siswa. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa SMP dalam menyelesaikan masalah sistem persamaan linear dua variabel yang ditinjau dari gaya belajar kinestik, auditorial, dan visual. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga siswa yang mempunyai gaya belajar yang berbeda, memiliki jenis kelamin yang sama dan kemampuan matematika yang setara. Penelitian ini juga menggunakan pedoman wawancara, tes berpikir kritis, dan angket gaya belajar sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik pada proses pengenalan, siswa menentukan pokok permasalahan dengan tepat. Pada proses analisis, siswa dengan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik menentukan strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dan membuat kesimpulan. Pada proses evaluasi, siswa dengan gaya belajar visual, audirorial, dan kinestetik mengecek kembali perhitungan dan langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan masalah. Pada proses memikirkan alternatif penyelesaian, siswa dengan gaya belajar visual dan kinestetik memikirkan alternatif penyelesaian lain dalam memecahkan permasalahan. Sedangkan siswa dengan gaya belajar auditorial tidak memikirkan alternatif penyelesaian lain.
Proses Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Himpunan Ditinjau dari Kemampuan Matematika Izzad Abidi Noor Haykal; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 12 No 1 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.63 KB) | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n1.p129-147

Abstract

Abstrak Permendiknas no.22 menunjukkan salah satu alasan mengapa pemahaman matematika itu penting. Hal ini disebabkan fakta bahwa matematika adalah ilmu universal yang mendorong kemajuan teknologi kontemporer, sangat penting untuk banyak bidang studi, dan mendorong pertumbuhan kognisi manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk perkembangan pendidikan di semua tingkatan. Tujuan dari penataran ini adalah untuk lebih membekali mahasiswa agar dapat bersaing secara internasional dalam berbagai disiplin ilmu. Manusia membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi berbagai kemajuan teknologi. Sistem pendidikan kini telah memasuki abad 21, dan semua kemampuan siswa kini terfokus pada “the 4C Critical thinking and problem solving skills, Creativity and innovations skills, Communication, and Collaboration skills” keterampilan pemecahan masalah siswa sekolah menengah pertama kelas tujuh sangat penting. Setiap individu dalam penelitian ini berjenis kelamin sama dan mahir secara matematis pada tingkat yang sama. Sebuah tes kemampuan matematika digunakan untuk mengumpulkan informasi dari wawancara dan tes berpikir kritis. Menurut temuan penelitian, siswa-siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah tidak dapat dibandingkan dalam hal proses berpikir kritis mereka. Untuk mode pengajaran, lebih baik dan efisien dalam masa pengajaran menggunakan mode ajar luring Kata Kunci: Proses Berpikir Kritis, Pemecahan Masalah, Kemampuan Matematika, Himpunan Abstract (Gunakan Style Penulis & Abstrak) Permendiknas no.22 shows one of the reasons why understanding mathematics is important. This is due to the fact that mathematics is a universal science that drives contemporary technological progress, is essential to many fields of study, and promotes the growth of human cognition. Advances in science and technology in the era of globalization have an impact on all aspects of life, including the development of education at all levels. The purpose of this upgrading is to better equip students to be able to compete internationally in various disciplines. Humans need the ability to think critically to deal with various technological advances. The education system has now entered the 21st century, and all student abilities are now focused on "the 4C Critical thinking and problem solving skills, Creativity and innovations skills, Communication, and Collaboration skills". The problem solving skills of seventh grade junior high school students are very important. Each individual in the study was of the same sex and mathematically proficient at the same level. A math ability test was used to gather information from interviews and critical thinking tests. According to the research findings, students with high, medium, and low math abilities were not comparable in terms of their critical thinking processes. For teaching mode, it is better and more efficient in the teaching period to use offline teaching mode. Keywords: Critical Thinking Process, Problem Solving, Mathematical Ability, Sets.
Analisis Kesalahan Siswa SMA dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika SPLTV Berdasarkan Prosedur Newman Ditinjau dari Gaya Belajar Aini Ayuning Tias; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n2.p359-371

Abstract

In almost every math lesson, students often experience mistakes when reading and understanding questions. Based on these problems, teachers are required to know students well and understand the different characteristics of each student, one of them is stuudents learning style. Learning style is a unique way that each student has to capture information effectively in a lesson. There are 3 types of learning styles, namely visual learning styles, auditory learning styles, and kinesthetic learning styles. Each student has different learning styles. This study is a qualitative-descriptive study which was purposed to describe students error in solving the Linear Equation Three Variables problems by analizing students errors. The data were collected from the learning style questionnares, students answers according to Newman errors indicator, and interviews. The subjects of this study are three students from thirty six students at tenth grade of Sains 5 Senior High School 1 Sampang. not only from the test, the subjects were interviewed and analized to know the more reasons behind students errors. This study found that students with visual learning style were doing more errors on transformations, the processing skill, and the final answers. Besides, students with auditorial learning style did mistakes on reading, understanding, transforming, processing, and final answers. Lastly, students with kinesthetic learning style were error on understanding, transforming, processing, and final answers writting.
Proses Berpikir Kreatif Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Open-Ended Ditinjau dari Kemampuan Matematika Muhammad Aldi; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n2.p388-399

Abstract

Future challenges that are increasingly complex require the competence of graduates who are not only skilled, but also creative. The process of creative thinking has four stages, namely synthesizing ideas, building ideas, planning the implementation of ideas, and implementing ideas. Open-ended math problems are a medium that teachers can use to find out students' creative thinking processes. The purpose of this research is to describe the process of creative thinking of junior high school students in solving open-ended math problems in terms of mathematical abilities. This research is a qualitative descriptive study conducted in 7th grade of SMP Muhammadiyah 2 Taman. The research subject was one student from each category of high, medium and low mathematical ability. Data collection methods used are test and interview methods. The results obtained were that at the stage of synthesizing ideas, subjects with high, medium, and low mathematical abilities did so based on experience in class with known formulas. At the stage of building ideas, subjects with high mathematical abilities considered convenience, subjects with mathematical abilities considered other ways, and subjects with low mathematical abilities considered logic. At the stage of planning the implementation of the idea of a high ability subject and is doing it smoothly and productively, the low math ability subject is doing it inefficiently. As well as at the stage of applying the idea, the subject of high mathematical ability fulfilled the creative thinking aspects of fluency, flexibility, and novelty, the subject of medium mathematical ability fulfilled the aspect of flexibility, and novelty, the subject of low mathematical ability only fulfilled the aspect of flexibility.
Analisis kesalahan Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Kontekstual pada Materi Perbandingan Ditinjau Dari Gaya Kognitif Mufidatin Anjelina; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 12 No 2 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n2.p652-662

Abstract

The aim of this research is describe errors conducted by students of junior high schools with cognitive styles type field-dependent and field-independent in solving contextual problems in proportion and its causal factors. This research is a descriptive qualitative research. The research subjects for this research were 2 students with the most errors from each type of cognitive styles. The two subjects are of the same gender. Data was collected by interview techniques and test. This research used 3 kinds of instruments, those were interview guidelines, the GEFT test, and diagnostic tests. Data of this research is processed using Miles and Huberman technique which includes 3 steps. The results of this research shows the errors made by subject FD and FI cognitive style, and also the factors that cause the errors. Subject with FD cognitive style made errors such as, errors in understanding the problem, erros in devising a plan, erros in carrying out the plan, and looking back errors. The errors made by students with FI cognitive style included carrying out plans, and checking again. Factors that cause subject that has FD cognitive style made errors tend to be caused by difficulties in understanding problems, lack of the understanding of the mathematical concepts, and also lack of calculating skills. Factors that cause subject that has FI cognitive style made errors tend to result from a lack of thoroughness in students when solving problems.
Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Kontekstual Ditinjau dari Kemampuan Matematika dan Perbedaan Jenis Kelamin Andinny Nur Rizky Prameswari; Ismail Ismail
MATHEdunesa Vol 12 No 3 (2023): Jurnal Mathedunesa Volume 12 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Program Studi S1 Matematika UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/mathedunesa.v12n3.p946-981

Abstract

This research aims to describe the critical thinking skills of junior high school students in solving contextual math problems in terms of mathematical ability and gender differences. The type of research used is descriptive qualitative research. The subjects in this research were 1 male and 1 female student with high mathematics ability, 1 male and 1 female student with moderate mathematics ability, and 1 male and 1 female student with low mathematics ability.Data were collected using test and interview techniques. The instruments used were Mathematics Ability Test (TKM), Problem Solving Test (TPM), and interview guidelines. Based on the results of the research, it can be concluded that the critical thinking skills of (1) male and female students with high mathematical ability met the indicators of interpretation, analysis, evolution (on argument proof, because in argument assessment only male students met the sub-indicator), inference, and explanation. Male students did not fulfill the indicators of self-regulation, while female students did. (2) Male and female students with moderate mathematics ability met the indicators of interpretation, inference, and explanation. Male students did not fulfill the indicators of analysis and self-regulation, while female students did. However, both did not fulfill the evaluation indicator. (3) Male and female students with low mathematics ability have many differences in critical thinking skills. Male students did not fulfill the indicators of interpretation, analysis, explanation, and evaluation. However, the self-regulation indicator is fulfilled. While female students fulfill the indicators of interpretation and analysis. Female students did not fulfill the indicators of evaluation, explanation, and self-regulation.