Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

EVALUASI SISTEM PEMANENAN LATEKS TANAMAN KARET DI AREAL REGULER DAN BORONG: STUDI KASUS DI KEBUN-KEBUN WILAYAH JAWA BARAT Junaidi, Junaidi; Rouf, Akhmad; Putra, Riko Cahya; Nugroho, Priyo Adi; Susetyo, Imam; Nugrahani, Mudita Oktorina; Mujahidin, Jaja; Sulaiman, Budi; Nurdiyatna, Harry
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 2 (2025): Volume 44, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i2.1205

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kinerja sistem pemanenan lateks tanaman karet di areal reguler dan borong yang dilakukan pada 12 kebun di wilayah Jawa Barat. Sistem pemanenan reguler menggunakan karyawan tetap dan karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dengan upah bulanan, sedangkan sistem borong menggunakan tenaga kerja karyawan lepas dengan upah rupiah per kilogram kering yang disetor. Data dikumpulkan dari statistik produksi tahun 2024 masing-masing kebun. Hasil analisis menunjukkan bahwa produktivitas tanaman per hektar pada areal reguler nyata lebih tinggi dibanding sistem borong (895,44 kg/ha/tahun berbanding 623,06 kg/ha/tahun), namun produktivitas per tanaman nyata lebih rendah (21,57 g/p/s berbanding 33,64 g/p/s). Indeks kecukupan tenaga sadap (IKT) untuk areal reguler masing-masing 0,93 pada irisan tunggal, 0,96 pada irisan ganda, dan 1,00 pada sadap bebas, sedangkan untuk areal borong, jumlah penyadap cenderung berlebih, IKT masing-masing mencapai 1,18, 1,89, dan 1,86. Pada areal reguler indeks realisasi hari kerja sadap (IRHK) berkisar antara 0,80 – 0,87, sedangkan pada areal borong menunjukkan realisasi yang lebih rendah, hanya berkisar 0,41 – 0,55. Analisis korelasi menunjukkan bahwa parameter indeks capaian produksi (ICP) memiliki korelasi signifikan terhadap umur sadap (US), IRHK, produksi per pohon (g/p/s), dan produksi per hari kerja (kg/HK) pada areal reguler. Pada areal borong, ICP berkorelasi signifikan terhadap kerapatan tanaman, IRHK, IKT, g/p/s, dan kg/ HK. Capaian produksi terhadap target dapat dioptimalkan dengan meningkatkan realisasi hari kerja, produksi per pohon, dan produksi per hari kerja. Upaya optimalisasi ketiga parameter tersebut didiskusikan dalam artikel ini.
EVALUASI KESUBURAN TANAH PERKEBUNAN KARET DENGAN PENDEKATAN INDEKS HARA PAMUNGKAS, Ari Santosa; PUTRA, Riko Cahya; SUSETYO, Imam; NUGROHO, Priyo Adi
Jurnal Penelitian Karet JPK: Volume 43, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v43i2.1082

Abstract

Suatu survei yang bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan kesuburan tanah perkebunan karet melalui pendekatan indeks hara (IH) telah dilakukan di sentra tanaman karet di Jawa Tengah (Jateng). Pengambilan contoh tanah dilakukan pada kedalaman 0-20 cm di 18 lokasi perkebunan karet di wilayah Utara dan 19 lokasi di wilayah Selatan Jateng. Lima parameter kesuburan tanah meliputi C-organik, N-total, P-tersedia, K-tersedia dan pH tanah diukur pada contoh tanah yang dianalisis dan selanjutnya ditentukan tingkat kecukupan haranya mengikuti kriteria kesuburan tanah untuk lahan pertanian. Tingkat kecukupan hara lalu digunakan untuk menetapkan nilai IH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa C-organik tanah di wilayah Utara Jateng termasuk kategori sedang (IH= 2,60), lebih besar dari wilayah Selatan yang termasuk ke dalam kategori rendah (IH= 2,41). Di kedua wilayah kandungan N-total tergolong rendah dengan nilai IH= 2,20 dan IH= 2,41 masing-masing untuk wilayah Utara dan Selatan. IH untuk pH tanah di wilayah Utara dan Selatan masing-masing sebesar 1,80 dan 2,10 dan keduanya tergolong masam. Kandungan P-tersedia di wilayah Utara termasuk kategori sedang dengan nilai IH= 3,45 sedangkan di wilayah Selatan tergolong tinggi dengan nilai IH= 3,59. Nilai IH untuk K-tersedia adalah 2,85 (sedang) untuk wilayah Utara dan 2.29 (rendah) untuk wilayah Selatan. Dalam penelitian ini juga ditemukan korelasi linier positif yang kuat dan signifikan (r= 0,67, p< 0,05) antara hara tanah dan hara daun karet yang semakin memperkuat bahwa kecukupan hara tanaman adalah refleksi dari kesuburan tanah.