Sugeng Nugroho
Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang – BMKG Jln. Raya Bukittinggi-Medan Km 17, Palupuh, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat Telp.: 0752-7446089, Fax.: 0752-7446449

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Panggung

Pertunjukan Wayang Babad Nusantara: Wahana Pengajaran Nilai Kebangsaan bagi Generasi Muda -, Sunardi; Nugroho, Sugeng; -, Kuwato
PANGGUNG Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i2.176

Abstract

ABSTRACT Wayang Babad Nusantara  represents a creation  of a shadow puppet show which  used as a means of transmission  of nationalism  values  towards younger  generations.  This type  of show has the aspect  of innovations  in several  elements  of pakeliran,  which are: the heroic story  of National  heroes’ struggle, the authentic  puppets bas on the reinterpretation  of the figure in the history, a new musical score, and the scene-system with the shadow puppet show structure.  This show is interestingly  wrapped with the story of Gajah Mada. The spirit of these figure  serves as the good example for young  generations  to love their  country.  The  nationalism  value,  which contain  the teaching  of patriotism  and allegiance can build the awareness  of the children  of the nation  so that they will always  love the land  of Indonesia. Keywords: Babad shadow puppet, nationalism  values,  young  generations     ABSTRAK Wayang Babad Nusantara merupakan rekayasa model pertunjukan wayang yang dipergunakan sebagai wahana transmisi nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda. Pertunjukan wayang ini memiliki kebaruan dalam berbagai unsur pakeliran, yaitu: cerita sejarah perjuangan pahlawan bangsa, boneka wayang hasil reinterpretasi dari figur tokoh, musik komposisi baru, dan sistem pengadegan dengan struktur pertunjukan wayang. Pertunjukan wayang ini dikemas secara menarik dengan menyajikan cerita Gajah Mada. Spirit perjuangan tokoh Gajah Mada ini memberikan suri teladan bagi generasi muda untuk selalu cinta tanah air. Nilai kebangsaan yang memuat ajaran mengenai patriotisme dan nasionalisme memberikan kesadaran dan menggugah kesadaran anak bangsa untuk selalu mencintai Tanah Air Indonesia. Kata kunci: wayang babad, nilai kebangsaan, generasi muda
KREATIVITAS PURBO ASMORO DALAM PENCIPTAAN DAN PENYAJIAN PAKELIRAN PURWA LAKON DUMADINE GAMELAN Nugroho, Sugeng
PANGGUNG Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2905

Abstract

Penelitian ini bermaksud menjawab tiga rumusan masalah: bagaimana Purbo Asmoro menciptakan lakon Dumadine Gamelan, bagaimana sanggit lakonnya, dan bagaimana garap pakeliran-nya? Pertunjukan wayang ini menarik untuk dikaji karena selain termasuk lakon baru, juga penyajiannya bersifat kolosal, melibatkan seratus musisi (pengrawit), dengan perangkat gamelan Jawa, gambelan Bali, dan talempong. Penelitian ini menggunakan paradigma ethnoart, dengan analisis berdasarkan Teori Sanggit dan Garap. Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penciptaan lakon wayang tidak selalu diadaptasi dari sumber-sumber cerita wayang (Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa, dan sebagainya), tetapi dapat diadaptasi dari berbagai cerita termasuk babad dan gotk, antara lain Wdhapradangga. Sanggit lakon Dumadin Gamelan meskipun beralur linier seperti dongeng, tetapi struktur adegannya fokus pada tema lakon. Unsur garap pakeliran Purbo Asmoro saling mendukung dan saling mengisi. Meskipun instrumen gamelannya bersifat kolosal, tetapi interaksi garap antara karawitan dan pakeliran dapat terjalin dengan baik. Kata kunci: Dumadine Gamelan, pakeliran purwa, kreativitas, penciptaan, penyajian
KREATIVITAS PURBO ASMORO DALAM PENCIPTAAN DAN PENYAJIAN PAKELIRAN PURWA LAKON DUMADINE GAMELAN Nugroho, Sugeng
PANGGUNG Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2905

Abstract

Penelitian ini bermaksud menjawab tiga rumusan masalah: bagaimana Purbo Asmoro menciptakan lakon Dumadine Gamelan, bagaimana sanggit lakonnya, dan bagaimana garap pakeliran-nya? Pertunjukan wayang ini menarik untuk dikaji karena selain termasuk lakon baru, juga penyajiannya bersifat kolosal, melibatkan seratus musisi (pengrawit), dengan perangkat gamelan Jawa, gambelan Bali, dan talempong. Penelitian ini menggunakan paradigma ethnoart, dengan analisis berdasarkan Teori Sanggit dan Garap. Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penciptaan lakon wayang tidak selalu diadaptasi dari sumber-sumber cerita wayang (Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa, dan sebagainya), tetapi dapat diadaptasi dari berbagai cerita termasuk babad dan gotèk, antara lain Wédhapradangga. Sanggit lakon Dumadiné Gamelan meskipun beralur linier seperti dongeng, tetapi struktur adegannya fokus pada tema lakon. Unsur garap pakeliran Purbo Asmoro saling mendukung dan saling mengisi. Meskipun instrumen gamelannya bersifat kolosal, tetapi interaksi garap antara karawitan dan pakeliran dapat terjalin dengan baik. Kata kunci: Dumadine Gamelan, pakeliran purwa, kreativitas, penciptaan, penyajian
Dèwi Sri Kedu Temanggungan: Analisis Sanggit Lakon dan Makna Simbolisme Prasetiyanto, Thomas Yudha Tri; Nugroho, Sugeng
PANGGUNG Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i4.4282

Abstract

Penelitian ini mengkaji sanggit lakon dan simbolisme lakon Dèwi Sri pada pertunjukan wayang kulit gaya Kedu Temanggungan yang disajikan oleh Legowo Cipto Karsono. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna yang terkandung dalam pakeliran tersebut dengan menganalisis sanggit lakon dan simbolisme Dèwi Sri. Analisis ini dilakukan dengan paradigma tekstual-kontekstual dengan payung metode ethnoart. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan observasi pertunjukan wayang kulit. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sanggit lakon Dèwi Sri menunjukkan tingkat integritas artistik yang tinggi, mematuhi prinsip-prinsip dramatik Jawa yaitu tutug (tuntas), kempel (koherensi), dan mulih (penyelesaian konklusif). Simbolisme Dèwi Sri tidak hanya merepresentasikan kesuburan padi, tetapi juga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sosial. Lebih lanjut, figur Dèwi Sri memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan alam, yang terefleksi dalam ritual pertanian seperti wiwitan dan mapag.