Articles
PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN PENGELOLAAN ASI PERAH UNTUK MENCEGAH STUNTING BALITA
Sawitri Dewi;
Ikhwah Mu’minah
PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP Vol 1 (2019): PROSIDING SEMINAR NASIONAL LPPM UMP 2019
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (829.406 KB)
Bentuk upaya intervensi gizi yang dilakukan untuk bayi dan balita sebagai upaya pencegahan stunting adalah pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai dengan usia 2 tahun, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP- ASI), pemberian kapsul vitamin A dan imunisasi dasar lengkap serta pemantauan pertumbuhan balita di posyandu. Keberhasilan pemberian ASI Eksklusif memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya adalah kader kesehatan yang berperan menggerakkan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan pemberdayaan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Penyuluhan dan pemberian pelatihan mengenai ASI Eksklusif dan pengelolaan ASI perah bagi ibu bekerja dilaksanakan untuk membantu kader dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sebagai pendukung tugas kader. Kader posyandu di Desa Pamijen saat ini belum pernah mengikuti pelatihan mengenai ASI Eksklusif dan khususnya mengenai pengelolaan ASI perah untuk ibu bekerja. Tujuan kegiatan ini memberikan pengetahuan dan mendukung tugas kader dalam penyuluhan kepada ibu nifas dan menyusui. Pelatihan dilakukan dengan memberikan materi, brosur dan modul ASI Eksklusif serta pengelolaan ASI perah yang dibagikan kepada peserta sebagai panduan selama kegiatan, dilanjutkan demonstrasi pengelolaan ASI perah.Evaluasi dilakukan dengan post test kepada peserta, terdapat peningkatan pengetahuan kader dan meminta kader untuk mengulang kembali bagaimana cara memerah serta menyimpan ASI sesuai materi praktik yang telah disampaikan.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Menstruasi terhadap Pengetahuan dan Sikap pada Remaja Putri dalam Menghadapi Menarche
Fidya Hanifa;
Sawitri Dewi
Proceedings Series on Health & Medical Sciences Vol. 4 (2023): Proceedings of the Midwifery Conference on Collaborative Maternity Care (DYNAMIC)
Publisher : UM Purwokerto Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30595/pshms.v4i.563
Usia remaja dimulai sejak usia 10-18 tahun. adanya pertumbuhan dan perkembangan dalam system perubahan tubuh, yang memerlukan pemahaman dan bimbinngan, salah satu perubahan yang terjadi yaitu menstruasi hari pertama atau Menarche. Metode dalam penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain pre-eksperimental dengan metode one group pretest posttest design. Lokasi penelitian dilakukan di SD wilayah Desa Dukuhwaluh. Teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik probability sampling, dengan metode simple random sampling, dengan jumlah 56 responden. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan remaja putri sebelum diberikan pendidikan kesehatan memiliki rata-rata 10,34 terjadi peningkatan menjadi 13,05 setelah diberikan pedidikan kesehatan. Hasil yang sama menunjukkan sikap remaja putri sebelum diberikan pendidikaan kesehatan dengan nilai rata-rata 29,21 terjadi peningkatan menjadi 32,71 setelah diberikan pendidikan kesehatan. Hasil uji statistic didapatkan nilai p=0,000 (<0,05). Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang menstruasi terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri dalam menghadapi menarche.
Gambaran Pelaksanaan Deteksi Dini Inspeksi Visu L Asam Asetat (IVA) Terhadap Kejadian Kanker Serviks Pada Wanita Usia Subur Di Puskesmas Purwojati
Sawitri Dewi
INVOLUSI: Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 9 No 2 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61902/involusi.v9i2.93
Cancer is a health problem for people around the world, according to data from the World Health Organization (WHO), cervical cancer contributes 12% of all cancers affecting women and is the second leading cause of death for women in Indonesia after breast cancer. Every day, it is estimated that 41 new cases occur and 20 women die from the disease. Because of the high risk factors for this disease, women should do early detection, one of which is the Acetic Acid Visual Inspection (IVA) method. This method is relatively simple, comfortable and practical. IVA is a method for early detection of cervical cancer using 3-5% acetic acid, and has an accuracy of 90%. The purpose of this study was to determine the implementation of early detection of IVA on the incidence of cervical cancer in women of childbearing age in the Purwojati Health Center, Banyumas Regency. The research design used an analytic survey with a cross sectional approach. The sampling technique used accidental sampling. Data processing was carried out by using the Chi-Square (X2) test. The results showed that the incidence of cervical cancer was 15%, most women of childbearing age did not perform early detection of cervical cancer with the IVA method because of ignorance and shame.
Digitalisasi Skrining Faktor Risiko Preeklamsi pada Buku KIA Berbasis Aplikasi Multiplatform
Wilis Dwi Pangesti;
Sawitri Dewi;
Achmad Fauzan;
Elsa Pudji Setiawati;
Adhi Pribadi;
Dany Hilmanto
Jurnal Teknologi Informatika dan Komputer Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Informatika dan Komputer
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37012/jtik.v10i1.2136
Preeklamsi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas pada 5-10% kehamilan di dunia. Berdasarkan etiologi dan perjalanan penyakitnya, telah dikembangkan skrining melalui identifikasi faktor risiko awitan dini preeklamsi pada wanita hamil sebelum usia kehamilan 20 minggu. Di Indonesia, skrining telah dilaksanakan menggunakan pedoman skrining buku KIA secara manual. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan sistem informasi skrining faktor risiko preeklamsi berbasis multiplatform. Digitalisasi skrining preeklamsi ini dilakukan dengan membangun sistem informasi dengan pendekatan System Development Life Cycle (SDLC) model Waterfall. Tahapan pengembangan sistem dimulai dari analisis, perancangan, implementasi, pengujian, dan perawatan. Sistem dibangun berbasis multiplatform agar aplikasi dapat digunakan di beberapa sistem operasi yang berbeda. Sistem informasi skrining preeklamsi dikembangkan sebagai aplikasi untuk melakukan skrining preeklamsi dan mendokumentasikan secara digital oleh tenaga kesehatan khususnya bidan. Aplikasi yang dikembangkan terdiri dari aplikasi admin berbasis Web yang digunakan oleh penanggungjawab program skrining preeklamsi untuk mengelola data pengguna, data puskesmas, data bidan, data rekapitulasi pasien dan laporan. Sedangkan aplikasi bidan bebasis mobile digunakan oleh bidan yang bertanggungjawab langsung terhadap pasien dalam satu wilayah kerja puskesmas untuk melakukan skrining faktor risiko preeklamsi, input data, observasi dan mendokumentasikan hasil observasi. Digitalisasi skrining faktor risiko preeklamsi dikembangkan untuk memudahkan tenaga kesehatan dalam melakukan skoring dan pendokumentasian faktor risiko preeklamsi.
Hubungan Riwayat Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunted Pada Balita Usia 6-24 Bulan Di Desa Cindaga Puskesmas Kebasen Kabupaten Banyumas
Ating Restu Julian;
Sawitri Dewi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2672
Stunting masih menjadi tantangan dan menjadi masalah kesehatan yang perlu ditangani secara serius khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan negara berkembang, salah satunya Indonesia. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama sangat penting untuk mencegah stunting pada anak. ASI eksklusif menyediakan nutrisi optimal yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunted di wilayah kerja Puskesmas Kebasen tahun 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 6 – 24 bulan di Desa Cindaga Puskesmas Kebasen Tahun 2025 dan memilih sampel kasus dengan simple rendom sampling yang berjumlah 85 orang pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, pengelolaan data dilakukan secara ststistik menggunakan analisis univariat dan analisis biavariat dangan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunted dengan p value 0,000< 0,05. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatan edukasi dan dukungan kepada ibu serta keluarga mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan untuk mencegah stunting. Selain itu, tenaga kesehatan dan kader perlu diberdayakan agar mampu memberikan pendampingan yang optimal dalam program ASI eksklusi
Hubungan Riwayat Ibu Hamil Kek Dengan Kejadian Stunted Pada Balita Usia 6-24 Bulan Di Puskesmas Somagede
Siti Khotijah;
Sawitri Dewi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3125
Stunting yang juga dikenal sebagai kondisi kerdil atau pendek, merupakan gangguan pertumbuhan pada anak di bawah usia lima tahun (balita) yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak dalam kandungan hingga usia 23 bulan. Faktor dari orang tua yang berkontribusi pada stunting dapat dilihat dari kondisi ibu selama kehamilan, salah satunya adalah ibu hamil KEK. Tujuan penelitian ini adalah Menganalisis hubungan riwayat ibu hamil KEK dengan kejadian stunted pada balita usia 6-24 bulan diPuskesmas Somagede. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik korelasi dengan rancangan penelitian ini menggunakan Kohort Retrospektif. Sampel penelitian ini adalah balita berusia 6-24 bulan yang berada diwilayah kerja Puskesmas Somagede sejumlah 194 balita. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian terdapat hubungan antara ibu hamil KEK dengan kejadian stunted pada balita usia 6-24 bulan di Puskesmas Somagede dengan nilai P Value 0,001 dan koefisien kontingensi 0,239. Hal ini menunjukan adanya hubungan positif yang lemah antara ibu hamil KEK dengan kejadian stunted pada balita usia 6-24 bulan di Puskesmas Somagede. Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang gizi sebelum dan selama kehamilan untuk mencegah terjadinya stunted
The Effect of Chicken Eggs on The Body Weight of Stunting Toddlers Aged 12-59 Months
Anggun Tyasmarawati;
Sawitri Dewi
Journal Midwifery Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Gorontalo Vol 11, No 2 (2025): Jurnal Midwifery
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Gorontalo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52365/jm.v11i2.1532
Stunting remains a major nutritional health problem among Indonesian children under five, with long-term effects on health and the quality of future generations. One effective intervention is providing supplementary food using locally available sources such as chicken eggs. Eggs are rich in essential macro and micronutrients that meet children’s nutritional needs and can improve body weight. This study aimed to determine the effect of chicken egg consumption on the body weight of stunted children in Sumurkidang Village, Bantarbolang Sub-District, Pemalang Regency. A pre-experimental one-group pretest-posttest design was used, involving 36 stunted children aged 12–59 months selected through purposive sampling. Research instruments included chicken eggs, observation sheets, weighing scales, and child growth monitoring cards (KMS). Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The mean body weight increased from 11.489 kg before to 12.375 kg after 90 days of daily egg consumption, showing a significant effect (p = 0.001). In conclusion, daily consumption of chicken eggs for 90 days significantly increased body weight in stunted children. Mothers are encouraged to provide eggs regularly with varied cooking methods while maintaining food hygiene to prevent infection and support optimal growth.
Pembuatan Pemberian Makanan Tambahan dan MP- ASI sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Kader ‘Aisyiyah
Sawitri Dewi;
Purwati Purwati;
Diah Atmarina Yuliani
Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2020): Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Akbid Harapan Ibu Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37402/abdimaship.vol1.iss2.107
Growth and development disorders in infants and children under 2 years of age (baduta) are problems that need to be addressed seriously. This age is an important and critical period in the process of child development, both physical and intellectual. Provision of additional food (PMT) especially for vulnerable groups is one of the supplementation strategies in overcoming nutritional problems. Based on the 2014 Total Diet Survey (SDT) data, it is known that more than half of toddlers (55.7%) have energy intake that is less than the recommended Energy Adequacy Rate (AKE). This shows that the fulfillment of nutrition in infants and toddlers is still lacking. The involvement of health workers, cadres and parents in fulfilling nutrition for children under five is very important, therefore it requires sufficient knowledge and skills in menu selection and food processing as PMT and complementary foods. This activity provides skills and knowledge to cadres in making supplementary food and complementary foods according to the needs of toddlers as well as improving the skills of cadres in counseling. The method used was to provide counseling on nutrition for PMT and complementary foods and how to make them. There was an increase in the knowledge and skills of cadres after participating in this activity. The contribution of cadres in the implementation of counseling on PMT and complementary foods can be an initial illustration of the success of the community in an effort to overcome stunting in infants and toddlers.
Pencegahan Anemia Defisiensi Besi pada Remaja melalui Penyuluhan Gizi Seimbang
Sawitri Dewi;
Alfi Noviyana
Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal ABDIMAS-HIP Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Akbid Harapan Ibu Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37402/abdimaship.vol3.iss1.164
Adolescence is the second critical period for physical growth after the first year of life. Indonesia is home to about45 million adolescent boys and girls or equivalent to 18% of the total population. Indonesia suffers from a fairly high nutritional deficiency accompanied by an increasing prevalence of obesity – which is known as the Double Burden of Nutrition Problems. During adolescence, there are specific biological and physiological changes in the body according to gender so that nutritional needs become different. Adolescents are increasingly considered important as potential agents of nutritional change in Indonesia because they play a role in cutting the intergenerational chain of poverty and malnutrition. The Tanjung Muhammadiyah Women's Orphanage is one of the private institutions that manages and protects young orphaned and orphaned girls. In the orphanage there are about 34 young women who attend school from elementary school to high school. Every day the children in this orphanage get food rations from the orphanage's kitchen with a standard menu. Temporary data obtained that most of the teenagers in this orphanage suffer from mild anemia, one of the possible causes is a lack of knowledge about balanced nutrition. The purpose of providing counseling to adolescents in this orphanage is to provide knowledge and understanding of nutritional needs and fulfillment, especially for young women as an effort to prevent iron deficiency anemia in adolescents
Hubungan Status Gizi Dengan Perkembangan Motorik Pada Balita Usia 12-17 Bulan
Anisa Rahma Fahla;
Sawitri Dewi;
Ikhwah Mu’minah;
Khamidah Achyar
Excellent Health Journal Vol. 4 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi Bin Dahlan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.70437/excellent.v4i2.251
Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan periode penting yang menentukan kualitas hidup di msa mendatang. Status gizi yang baik berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan motorik yang optimal. Permasalahan gizi dapat menyebabkan gangguan perkembangan motorik, terutama pada balita usia 12-17 bulan yang berada pada masa golden age, sehingga perlu diteliti hubungan status gizi dengan perkembangan motorik pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan perkembangan motorik pada balita usia 12-17 bulan di desa teluk. Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 40 balita usia 12-17 bulan yang dipilih melalui total sampling. Status gizi dinilai berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan menggunakan grafik z-score, sedangkan perkembangan motorik diukur menggunakan kuesioner pra-skrining perkembangan motorik. Hasil analisis uji statistik Spearman rank diperoleh p value 0,020<0,05 yang artinya terdapat hubungan status gizi dengan perkembangan motorik pada balita usia 12-17 bulan. Hasil uji korelasi spearman diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,336 atau rendah. Hal tersebut dapat diartikan status gizi bukan menjadi faktor utama yang mempengaruhi perkembangan motorik, tetapi banyak faktor lain yang dapat mempengaruhinya. Kesimpulan Ada Hubungan status gizi dengan perkembangan motorik pada balita usia 12-17 bulan di desa Teluk. Bagi orangtua agar lebih memperhatikan gizi anak dan hal-hal lain yang bisa meningkatkan perkembangan motorik anak.