Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

THE RELATIONSHIP OF GENDER INEQUALITY FROM CAROLE PATEMAN'S PERSPECTIVE IN ANTON KURNIA'S NOVEL MAJNUN AND ITS USE AS LITERARY TEACHING MATERIAL IN HIGHER EDUCATION Panji, Panji Kuncoro Hadi; Kasimbara, Devi Cintia; Putri, Meilani Alvindha
JURNAL SKRIPTA Vol 10 No 2 (2024): SKRIPTA NOVEMBER 2024
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/skripta.v10i2.7200

Abstract

This research aims to describe and explain unequal relations between women and men from Carole Pateman's perspective in the novel Majnun by Anton Kurnia, and its use as literary teaching material in universities. Based on the object, this research is a qualitative descriptive research. Data was collected through library methods. Data were analyzed using the content analysis method using Carole Pateman's reading method. The research results show that in the novel Majnun by Anton Kurnia there are unequal relations between women and men in terms of marital status. This is because in essence marriage is only a sexual contract.
Representasi the Other dalam Novel Cinta Putih di Bumi Papua Karya Dzikry El Han: Tinjauan Sastra Perjalanan Carl Thompson Kasimbara, Devi Cintia; Wahyuningsih
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/kls.v9i1.5209

Abstract

Travel literature is a work that writes about the author's experience when traveling to a new andunfamiliar place. This research aims to raise and explore the form of representation of The Otherdescribed by Dzikry el Han in the novel Cinta Putih di Bumi Papua. The research method used in thisstudy is qualitative. By using Carl Thompson's travel writing theory, this paper will reveal the author'sculture and Papuan culture told in the novel. The results show that in the novel Cinta Putih di BumiPapua, there are various colonial discourses that are demeaning and othering the Papua people.Although the travel literature written by Dzikry is based on accurate data, it should be noted that thefact that a society consists of various individuals who have various characters so that it can be concludedthat travel literature will not be able to cover a society in a culture perfectly because the society consistsof various individuals who have their own life stories so that it would not be fair to judge a culturewithout seeing it as a whole.
PSIKOANALISIS LACAN DALAM CERPEN MENYAMAK BABI: IDENTITAS, HASRAT, DAN KEKURANGAN Kasimbara, Devi Cintia
JURNAL SKRIPTA Vol 10 No 2 (2024): SKRIPTA NOVEMBER 2024
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/skripta.v10i2.7182

Abstract

ABSTRACT Irwan Abu Bakar's short story Menyamak Babi features an in-depth exploration of human nature through symbolism and metaphor. Using Lacan's psychoanalytic approach, this study examines the psychological and social dynamics depicted in the short story, particularly through the concepts of lack, desire, metaphor and metonymy. The short story tells the transformation of Or and Ang into pigs, which symbolically depicts greed, avarice, and moral conflict. This transformation not only represents personal conflict, but also provides social criticism of immoral behavior in society. In analysis, savagery symbolizes the dark side of humans, both as individuals and members of society. Or eventually overcomes his savagery and chooses the moral path as a writer, while Ang drowns in his greed, losing his humanity. The pig symbol is also used metonymically to criticize corrupt and greedy behavior in social and political life. The results of this study show that literary works can be a reflection of the complexity of human identity and social criticism, where symbolism and metaphor serve as a medium to understand human desires, shortcomings, and struggles in shaping their identity. Keywords: psychoanalysis, Lacan, lack, desire, metaphor, metonymy
THE RELATIONSHIP OF GENDER INEQUALITY FROM CAROLE PATEMAN'S PERSPECTIVE IN ANTON KURNIA'S NOVEL MAJNUN AND ITS USE AS LITERARY TEACHING MATERIAL IN HIGHER EDUCATION Panji, Panji Kuncoro Hadi; Kasimbara, Devi Cintia; Putri, Meilani Alvindha
JURNAL SKRIPTA Vol 10 No 2 (2024): SKRIPTA NOVEMBER 2024
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/skripta.v10i2.7200

Abstract

This research aims to describe and explain unequal relations between women and men from Carole Pateman's perspective in the novel Majnun by Anton Kurnia, and its use as literary teaching material in universities. Based on the object, this research is a qualitative descriptive research. Data was collected through library methods. Data were analyzed using the content analysis method using Carole Pateman's reading method. The research results show that in the novel Majnun by Anton Kurnia there are unequal relations between women and men in terms of marital status. This is because in essence marriage is only a sexual contract.
Makna Simbol-simbol dalam Kumpulan Puisi Mata Air di Karang Rindu Karya Tjahjono Widarmanto Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih; Kasimbara, Devi Cintia
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v2i2.3943

Abstract

Penelitian ini membahas kumpulan puisi Mata Air Di Karang Rindu karya Tjahjono Widarmanto menggunakan pendekatan semiotika. Pendekatan ini merupakan upaya mengungkap tanda yang terdapat dalam kumpulan puisi berupa simbol. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan simbol budaya dan simbol sastra. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data: mengumpulkan, membaca, dan mempelajari buku yang berhubungan dengan penelitian. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa terdapat simbol budaya yang meliputi bahasa, benda, warna, dan tindakan. Simbol sastra berupa citra penglihatan, gerak, dan pendengaran. Simbol bahasa digunakan untuk menampilkan istilah-istilah dalam mempertegas dan memperjelas sifat religius. Simbol bahasa juga mengandung amanat selalu mengingat kematian yang pasti akan dialami semua makhluk hidup. Simbol sastra berupa citraan digunakan untuk mengimajinasikan kematian sehingga pembaca memiliki gambaran dalam pikirannya tentang proses kematian yang menjadi ketetapan dari Tuhan.
Maguti Tradition: Constructing the Mindset of Ngawi People a Symbolism Approach Kodrat Eko Putro Setiawan; Devi Cintia Kasimbara; Estuning Dewi Hapsari; Wahyuningsih Wahyuningsih
Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE) Vol 6, No 2 (2024): Juli
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ijsse.v6i2.4307

Abstract

Maguti is one of the traditions that still exist in Jagir Village, Sine Subdistrict, Ngawi Regency, East Java. This research aims to provide information by describing one by one the equipment used in the implementation of the maguti tradition and describing the construction of the mindset of the Ngawi people towards the maguti tradition. This research method is descriptive qualitative. The source of data is from interviews. The result of this research is that Ngawi people have a mindset that the implementation of this maguti tradition has the aim of “Kangge bucal sengkolone kari segerwarase”, meaning to get rid of all negative things, stay safe. The implementation can be done when the baby is two hundred and forty-five days old, can also be done when stepping into adulthood or before marriage. The equipment (ubo rampe) in the maguti tradition is bucu, jenang abang putih, jenang sepuh, banyu suci, setaman flowers, sego udhuk, sego golong, gedhang setangkep, asahan, kopat lepet. 
FORMULA DALAM SERIAL TELEVISI MALAM MINGGU MIKO SEASON 1 KARYA RADITYA DIKA Devi Cintia Kasimbara; Kodrat Eko Putro Setiawan; Wahyuningsih Wahyuningsih
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v12i1.8073

Abstract

Bergenre komedi, Malam Minggu Miko Season 1 (M3S1) memiliki formula khusus dalam penceritaannya yang membedakannya dengan genre film lainya. M3S1 yang ditulis dan disutradarai oleh Raditya Dika merupakan salah satu jenis film (serial televisi) yang banyak diminati oleh masyarakat karena pada awal mula kemunculannya di YouTube telah berhasil merebut perhatian masyarakat dengan mendapatkan 1.679.874 viewer. Serial televisi ini terdiri atas 26 episode yang semuanya memiliki formula yang sama. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana formula dalam serial televisi M3S1. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis formula dengan membandingkan episode-episode tersebut lalu menggeneralisasikannya sehingga diperoleh formula umum dalam serial televisi ini, kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan M3S1 dengan budaya sehingga diperoleh gambaran mengapa formula ini disukai oleh masyarakat. Hasil dari penelitian ini, yaitu M3S1 memiliki formula: (1) karakter tokoh yang unik; (2) tokoh mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, menarik, dan menggelikan; (3) terdapat tokoh wanita yang menjadi sasaran cinta tokoh utama; (4) tema cerita diangkat dari kejadian-kejadian aktual di masyarakat; dan (5) dalam setiap episode tokoh utama selalu mengalami kesialan, tetapi pada akhirnya cerita berakhir dengan happy ending. M3S1 disukai oleh masyarakat karena memiliki unsur kelucuan yang dipengaruhi oleh faktor incongruity dan superioritas dalam memancing gelak tawa penonton.Kata kunci: formula, serial televisi, malam minggu Miko
Konsep Misoginis dan Standar Kecantikan dalam Novel Imperfect Karya Meira Anastasia Noviana Nur Azizah; Devi Cintia Kasimbara; Dedy Richi Rizaldy
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/adjektiva.v9i1.7079

Abstract

Fenomena misoginis dan standar kecantikan yang tidak realistis kerap memojokkan perempuan dalam tatanan budaya patriarki, sebuah realitas yang terekam dalam karya sastra populer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi konsep misoginis dalam narasi dan dialog tokoh, serta menganalisis bagaimana standar kecantikan berfungsi memperkuat atau menantang konsep tersebut dalam novel Imperfect karya Meira Anastasia. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik sastra feminis yang mengacu pada teori misoginis Kate Manne. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik studi dokumen dengan pembacaan intensif, kemudian dianalisis secara interpretatif untuk melihat manifestasi logika misoginis dalam teks. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa komentar negatif dan tekanan sosial terkait fisik dalam novel bukan sekadar hinaan personal, melainkan alat kontrol sistemik patriarki untuk menghukum perempuan yang tidak memenuhi ekspektasi ideal. Meskipun standar kecantikan awalnya digambarkan sebagai alat penindasan, narasi novel pada akhirnya menawarkan wacana perlawanan melalui proses penerimaan diri tokoh utama. Simpulannya, novel ini merepresentasikan kritik terhadap sistem misoginis sekaligus menegaskan bahwa nilai perempuan tidak semata ditentukan oleh kepatuhan terhadap standar fisik eksternal.