Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS KEKERINGAN HIDROLOGI BERDASARKAN METODE PALMER DI DAERAH ALIRAN SUNGAI TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI Rifka Annisa Arin; Raden Roro Rintis Hadiani; Solichin Solichin
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2019): JUNI
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.114 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i2.36504

Abstract

DAS Tirtomoyo merupakan sub DAS Bengawan Solo Hulu 3 yang bermuara di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dan terletak di sebelah tenggara Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Wonogiri memiliki curah hujan yang cukup rendah, sehingga mempengaruhi ketersediaan air di wilayah sekitarnya. Ketersediaan air yang rendah dapat menyebabkan terjadinya bencana kekeringan, salah satunya yaitu terjadi kekeringan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tirtomoyo.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekeringan menggunakan indeks kekeringan metode Palmer dan mengetahui kriteria kering berdasarkan indeks kekeringan hidrologi serta memperoleh peta persebaran kekeringan menggunakan software ArcGIS. Perhitungan debit untuk indeks kekeringan hidrologi menggunakan rumus metode NRECA. Kemudian membuat grafik hubungan antara debit (Q) dengan indeks kekeringan Palmer.Hasil yang didapat dari analisis menunjukan bahwa kekeringan paling parah terjadi pada bulan November periode II tahun 2010 dengan nilai indeks kekeringan Palmer sebesar X = -6,778; maka termasuk dalam kriteria amat sangat kering. Berdasarkan  perhitungan debit yang berpotensi terjadinya bencana kekeringan yaitu pada bulan Juni hingga bulan Oktober tahun 2015 dengan ketersediaan air yang kecil. Hasil dari perhitungan debit dan indeks kekeringan Palmer dapat dibuat grafik hubungan diantara keduanya. Grafik tersebut menghasilkan nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0,3593 dengan persamaan grafik y=2,5369x +
IMPLEMENTASI METODE PALMER UNTUK ANALISIS KEKERINGAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI TEMON KABUPATEN WONOGIRI Julian Wahyu Purnomo Putro; Raden Roro Rintis Hadiani; Suyanto Suyanto
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.116 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37082

Abstract

Salah satu sumber daya alam yang paling penting dalam kehidupan serta dapat diperbaharui adalah air. Air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui melalui siklus hidrologi, dimana siklus hidrologi tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim suatu wilayah. Perbedaan iklim disetiap wilayah menjadi penyebab bayak sedikitnya air yang terdapat di wilayah tersebut. DAS Temon yang terdapat di wilayah Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah salah satunya yang mengalami kekeringan. Kekeringan disebabkan oleh terjadinya defisit air yang terjadi di suatu wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ketersediaan air dengan menggunakan Metode Mock serta indeks kekeringan dengan menggunakan Metode Palmer, juga akan dilanjutkan dengan kriteria kekeringan berdasarkan debit yang mana terdiri dari debit normal rerata (Q50rerata) dan debit andalan rerata (Q80rerata) terhadap kriteria kekeringan Palmer. Hasil yang didapat dari penelitian menunjukan bahwa potensi ketersediaan air yang dibawah threshold Q50rerata sebesar 1,0774 m3/ det terjadi pada Juni sampai dengan November kecuali pada tahun 2010 dan 2013. Namun berdasarkan threshold Q80rerata sebesar 0,3842 m3/ det , tidak adanya ketersediaan air hanya pada Agustus, September dan Oktober, kecuali pada tahun 2010 dan 2013 memiliki ketersediaan air yang berbeda dari tahun-tahun yang lainnya. Kekeringan yang terjadi pada DAS Temon kurang dari threshold Q50rerata maupun threshold Q80rerata hampir sama tiap tahunnya yaitu terjadi selama tiga sampai lima bulan. Begitu pula berdasrkan indeks kekeringan Palmer kekeringan cukup tinggi terjadi pada tahun 2006 dan 2007 terjadi kekeringan dimana besaran indeks Palmer pada 2006 berkisar antara -13,157 yang setara dengan amat sangat kering sampai dengan 0,000 yang setara dengan kering sedangkan pada 2007 berkisar antara -10,718 yang setara dengan amat sangat kering sampai dengan 0,000 yang setara dengan kering. Kriteria kering berdasarkan data debit dan Palmer menunjukkan hasil yang tidak terlalu jauh, dimana jika debit kurang dari 0.204 m3/det setara dengan indeks kekeringan Palmer ? (-4) yang berarti amat sangat kering, bila besarnya debit tersedia 0,207 m3/det sampai dengan 0,291 m3/det setara dengan indeks kekeringan Palmer (-3) - (-3,99) yang berarti sangat kering, dan jika debit 0,291 m3/det < Qtersedia < 1,077 m3/det setara dengan indek kekeringan Palmer 0 - (-2,99) yang berarti kering.
PREDIKSI KEBISINGAN PADA JALAN KOLEKTOR (Studi Kasus : Jalan Monginsidi Surakarta) Dewi Handayani; Rizky Setyo Rahadi; Raden Roro Rintis Hadiani
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.593 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37069

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu masalah transportasi yang banyak dihadapi penduduk kota besar. Salah satu sumber kebisingan adalah suara yang berasal dari kendaraan yang melintas dan jumlahnya semakin lama semakin bertambah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebisingan dengan volume lalu lintas, kecepatan lalu lintas, dan jarak pengukuran kebisingan pada jalan kolektor. Lokasi penelitian berada di Jalan Monginsidi Surakarta merupakan jalan kelas III dengan fungsi jalan kolektor yang menurut MKJI 1997 termasuk jalan tipe 2 arah tak terbagi (2/2UD). Kondisi sekitar jalan adalah permukiman penduduk, lokasi pendidikan, dan rumah sakit. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode survei pencatatan volume dan kecepatan kendaraan serta mencatat nilai kebisingan selama 6 jam dari pukul 06.00-12.00 pada jarak 0 - 15 meter dari tepi jalan. Metode analisis digunakan analisis regresi linear berganda dengan kebisingan (Y, dBA) sebagai variabel terikat dan variabel bebas antara lain volume lalu lintas (X1, kendaraan/jam), kecepatan sepeda motor (X2, km/jam), kecepatan kendaraan ringan (X3, km/jam), kecepatan kendaraan berat (X4, km/jam) dan jarak pengukuran kebisingan (X5, meter). Berdasarkan uji asumsi klasik, hanya variabel bebas X5 (jarak pengukuran kebisingan)yang memenuhi uji tersebut. Model persamaan dari hasil analisis regresi linear sederhana yaitu Y = 83,797 - 0,713X5 dengan nilai r2 adalah 0,858. Model tersebut berarti bahwa jarak berpengaruh terhadap kebisingan.
POTENSI ENERGI TAHUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) BERDASARKAN SIMULASI WAKTU DI SUNGAI KEDUNG PASANG KABUPATEN PACITAN Muhammad Abi Rafdi; Raden Roro Rintis Hadiani; Solichin Solichin
Matriks Teknik Sipil Vol 6, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.969 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v6i1.36613

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) adalah salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan serta relatif mudah untuk direalisasikan. Sejak tahun 1994, di Desa Nawangan, Kabupaten Pacitan terdapat PLTMH yang telah beroperasi, namun energi yang dihasilkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pada saat musim kering terjadi, dan komponen PLTMH yang mengalami kerusakan telah menyebabkan penurunan tingkat efisiensi dan keandalan. Untuk mengatasi masalah tersebut akan dikaji ulang perhitungan potensi energi berdasarkan simulasi waktu operasional dan musim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya potensi energi tahunan PLTMH berdasarkan debit andalan Q80, Q70, Q50 dan Q30, perbedaan potensi energi antara sebelum dan sesudah simulasi waktu serta memperoleh waktu operasi efektif PLTMH. Setelah merekapitulasi data hujan dan menguji konsistensi data hujan dengan metode analisis kurva linier massa ganda, evapotranspirasi dihitung menggunakan software Cropwat, debit sepanjang tahun dihitung dengan metode F.J Mock, kemudian debit andalan dihitung dengan metode Basic Year. Perhitungan potensi energi didapatkan dari pengolahan hasil survey kondisi eksisting PLTMH yaitu pengukuran bangunan eksisting serta tinggi jatuh (head) dan kemudian dihitung dengan rumus potensi energi secara fisika. Berdasarkan perhtiungan, diperoleh nilai potensi energi tahunan PLTMH berdasarkan debit andalan Q80, Q70, Q50, dan Q30 beruturut-turut sebesar 116342,516 kWh; 121531,367 kWh; 130339,711kWh dan 128310,412 kWh. Setelah potensi energi dihitung menggunakan simulasi waktu operasional, diperoleh nilai potensi energi beruturut-turut 92856,543 kWh; 98054,552 kWh; 115669,809 kWh dan 104217,597 kWh. Sedangkan potensi energi berdasarkan simulasi musim diperoleh 92128,858 kWh; 97770,770 kWh; 105573.01 kWh dan 103134,641 kWh. Untuk waktu operasional efektif PLTMH ditetapkan berdasarkan perhitungan energi dari debit andalan Q80 dengan simulasi waktu operasional yaitu PLTMH aktif pada 15 hari ke 1-13 (1 Januari - 15 Juli) kemudian dinonaktifkan pada 15 hari ke 14-22 (16 Juli-30 November) untuk keperluan maintenance, dan diaktifkan kembali pada 15 hari ke 23-24 (1-31 Desember).
ANALISIS KEKERINGAN HIDROLOGI BERDASARKAN STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) DI DAERAH ALIRAN SUNGAI TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI Warakesthi Rahayu Wicaksanti; Raden Roro Rintis Hadiani; Setiono Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 7, No 3 (2019): SEPTEMBER
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.208 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v7i3.36498

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Tirtomoyo merupakan daerah yang memiliki tanah berjenis kapur yang rentan terhadap bencana kekeringan ketika musim kemarau. Untuk mengurangi dampak kekeringan, maka perlu mengenali karakteristiknya lebih awal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekeringan hidrologi dengan menghitung indeks kekeringan dan debit bulanan yang kemudian dihubungkan untuk mendapatkan prediksi kekeringan. Indeks kekeringan digunakan untuk pemetaan kriteria kekeringan.Penelitian kekeringan ini dilakukan pada tahun 2008-2017. Indeks kekeringan dianalisis dengan Metode Standardized Precipitation Index (SPI). Metode SPI merupakan metode indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan tinggi hujan terhadap kondisi normalnya dalam satu periode yang panjang. Sedangkan debit bulanan dianalisis dengan Metode Global Rainfall-Runoff Model (GR2M). Nilai indeks kekeringan dan debit bulanan dihubungkan kedalam sebuah grafik. Grafik hubungan ini bertujuan untuk menghitung debit bulanan dengan berdasarkan nilai indeks yang didapatkan. Selain itu, klasifikasi dari indeks kekeringan SPI digunakan untuk pemetaan persebaran kriteria kekeringan dengan menggunakan software ArcGIS.Hasil analisis diperoleh nilai indeks kekeringan SPI terkecil yaitu -1,71 dengan kriteria sangat kering pada Agustus 2016 dan indeks terbesar yaitu 2,19 dengan kriteria amat sangat basah pada Desember 2014. Sedangkan debit bulanan GR2M terkecil diperoleh 0,002 m3/detik pada November 2008 dan debit bulanan terbesar 0,426 m3/detik pada Februari 2009. Dari grafik hubungan indeks kekeringan SPI dengan debit bulanan diperoleh grafik linier dengan persamaan  , dengan  adalah debit bulanan GR2M dan  adalah indeks kekeringan SPI. Kemudian untuk pemeteaan persebaran kriteria kekeringan diperoleh bahwa kekeringan tidak terjadi pada tahun 2008, 2009 dan 2015, namun kekeringan terparah terjadi pada Agustus 2016.
POTENSI BANJIR BERDASARKAN PERIODE ULANG 5 TAHUNAN DI DAS WURYANTORO Nuansah Fidiawan; Raden Roro Rintis Hadiani; Setiono Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36896

Abstract

Banjir merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun di berbagai wilayah di Indonesia. Meluapnya aliran sungai yang mengakibatkan terjadinya banjir tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya intensitas curah hujan dan lamanya durasi hujan yang terjadi di kawasan tersebut. Data BNPB tahun 1995-2015 menunjukkan daerah yang sering mengalami banjir adalah Propinsi Jawa tengah. Berdasarkan penelitian Prema Mulyani tahun 2013, DAS Wuryantoro yang terletak di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah berpotensi terjadi banjir periode ulang 5 tahunan (Q5) yang diakibatkan oleh hujan 2 harian. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pada bulan apa terjadi banjir yang meleihi Q5, (2) mengetahui pada tahun berapa terjadi banjir yang melebihi Q5, (3) mengetahui prediksi pada bulan apa terjadi banjir yang melebihi Q5 dari tahun 2015-2018, (4) mengetahui prediksi tahun berapa terjadi banjir yang melebihi Q5 dari tahun 2015-2018, (5) Mengetahui cara pengaplikasian system informasi geografis yang diterapkan pada DAS Wuryantoro untuk mengetahui kawasan berpotensi banjir. Perhitungan debit banjir menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetik Soil Conservation Service (SCS). Simulasi prediksi banjir dilakukan dengan metode Jaringan Syaraf Tiruan (JST) Backpropagation menggunakan software Matlab. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi banjir yang melebihi Q5 terjadi pada tahun 2003, 2004, 2006, 2007, 2009, 2010, 2012 dan 2013 dengan debit masing-masing sebesar 325,248 m3/detik, 324,558 m3/detik, 412,322 m3/detik, 471,225 m3/detik, 422,566 m3/detik, 343,175 m3/detik, 514,735 m3/detik dan 414,865 m3/detik. Debit bulanan yang berpotensi banjir melebihi Q5 terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, November dan Desember dengan debit masing-masing sebesar 553,175 m3/detik, 478,859 m3/detik, 349,537 m3/detik, 323,334 m3/detik, 333,637 m3/detik, 506,416 m3/detik. Hasil prediksi menunjukkan bahwa potensi banjir yang melebihi Q5 terjadi pada tahun 2015 dan tahun 2017 dengan debit masing-masing sebesar 415,719 m3/detik dan 372,423 m3/detik. Prediksi debit bulanan yang berpotensi banjir melebihi Q5 terjadi pada bulan Januari, Februari, April, Mei, November dan Desember dengan debit masing-masing sebesar 540,209 m3/detik, 523,220 m3/detik, 386,191 m3/detik, 368,809 m3/detik, 397,626 m3/detik, 603,010 m3/detik.
MENGISI DATA HUJAN YANG HILANG DENGAN METODE AUTOREGRESSIVE DAN METODE RECIPROCAL DENGAN PENGUJIAN DEBIT KALA ULANG (STUDI KASUS DI DAS BAKALAN) Riswandha Dwi Kurniawan; Raden Roro Rintis Hadiani; Setiono Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36912

Abstract

Ketersediaan data curah hujan masih rendah, masih kurang lengkap dan kurang akurat, dalam praktik sesungguhnya sering ditemukan data yang tidak lengkap karena adanya kekosongan/kehilangan data hujan. Kelengkapan data hujan merupakan bagian terpenting dalam perencanaan dan perancangan bangunan-bangunan hidraulik, perencanaan manajemen keairan dan manajemen sumber daya air. Maka dari itu perlu dilakukan model hidrologi untuk mengisi data hujan yang hilang. Pada penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bakalan yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Diawali dengan eliminasi data dengan metode sampling, kemudian melakukan pengisian data hujan kembali dengan metode Reciprocal dan model Autoregressive. Parameter untuk menilai model dengan melihat debit banjir kala ulang hasil perhitungan. Hasil penelitian menunjukkan korelasi rata-rata data hujan asli dengan data hujan tiruan metode Reciprocal dan model Autoregressive sebesar 0,806 dan 0,786. Debit banjir maksimum kala ulang 5 tahun (Q5), 20 tahun (Q20), 50 tahun (Q50) berturut-turut sebesar 253,383 m3/dt, 340,709 m3/dt, 411,614 m3/dt. Korelasi debit banjir maksimum dengan data hujan tiruan metode Reciprocal dan model Autoregressive sebesar 0,999 dan 0,998. Dengan pengujian debit bajir kala ulang diketahui bahwa metode Reciprocal merupakan metode paling sesuai untuk model pengisian data hujan, karena mendekati perhitungan data hujan asli.