Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

SOSIALISASI PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN EM4 KEPADA ANGGOTA GABUNGAN KELOMPOK TANI (GAPOKTAN) “DARMA SARI” KELURAHAN SIDOKUMPUL KABUPATEN LAMONGAN Gading Wilda Aniriani; Marsha Savira Agatha Putri; Eko Sulistiono; Rizky Rahadian Wicaksono; Nur Lathifah Syakbanah; Muhammad Hanif
Jurnal Abditani Vol. 5 No. 1 (2022): April
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/abditani.v5i1.101

Abstract

Sidokumpul adalah sebuah kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan. Penduduk Sidokumpul sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan petambak. Pada musim penghujan lahan tersebut berfungsi sebagai tambak yang dimanfaatkan petani untuk budidaya ikan, sedangkan pada musim kemarau untuk usahatani padi monokultur atau padi dikombinasikan dengan ikan atau udang windu. Untuk mendukung program peningkatan produktivitas usahatani di lahan sawah tambak di Kabupaten Lamongan, perlu dilakukan sosialisasi pembuatan dan penggunaan EM4 kepada petani sawah-tambak yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari persiapan kegiatan (survey lokasi, permohonan ijin, pengurusan administrasi, persiapan alat bahan dan akomodasi) pada 13 Juni 2021 hingga pelaksanaan kegiatan (penyuluhan pembuatan dan penggunaan EM4, sesi diskusi/ tanya jawab serta pemberian door prize kepada peserta penyuluhan sebagai bentuk evaluasi tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan) pada 28 Juni 2021 yang bertempat di Sekretariat Gapoktan “Darma Sari” Kelurahan Sidokumpul. Peserta penyuluhan ini adalah anggota Gapoktan “Darma Sari” dan petani yang berdomisili disekitar Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Lamongan. Kegiatan penyuluhan berjalan lancar dan terlaksana dengan baik, para peserta terlihat antusias dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan pada waktu yang akan datang dan menjalin kerja sama lebih lanjut untuk pengujian efektivitas penggunaan EM4 di lahan sawah salah satu anggota Gapoktan.
Enhancing Community Knowledge on Homemade Biolarvicide from Citrus aurantifolia Against Dengue Vector in Sukoanyar Village Lamongan Nur Lathifah Syakbanah; Eko Sulistiono; Marsha Savira Agatha Putri; Gading Wilda Aniriani; Rizky Rahadian Wicaksono; Muhammad Hanif; Danang Eka Riantara Romadhon; Tri Madiyaningsih
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2025): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/abdimas.v8i1.5621

Abstract

Community education and routine use of insecticides are implemented by the government to reduce dengue vectors. Chemical insecticides and larvicides kill mosquitoes faster and optimally, but massive use in the long term will cause resistance effects. Limonoids and flavonoids in Citrus aurantifolia could be substitute temephos in abate. The study aims to enhance community knowledge on homemade biolarvicide from lime leaves and peels (Citrus aurantifolia) powder against dengue vector in Sukoanyar Village, Lamongan. Target of community education is women who are members of PKK in the Sukoanyar Village, Lamongan. The activities consist of educational sessions about dengue vector control, vector resistance, lime (Citrus aurantifolia) as biolarvicide, and distribution of trifold brochure media. Then, cognitive test sessions were conducted in pre-tests and post-tests. Results showed that the community was very enthusiastic about making powdered lime leaves and peels (Citrus aurantifolia) as homemade biolarvicide. Moreover, women in Sukoanyar Village have good knowledge (85,5%) about dengue vector control and biolarvicides then increasing to 90,9% during post-test. It was concluded that community knowledge improved regarding dengue vector control and the use of homemade biolarvicide from powdered lime leaves and peels (Citrus aurantifolia) in tea bags as substitute for abate.
Impact of Unqualified Housing on Childhood Pneumonia: A Spatial Study in Urban and Rural of Bojonegoro, Indonesia Nur Lathifah Syakbanah; Salwa Nabilah; Muhammad Hanif; Marsha Savira Agatha Putri; Adisti Risma Putri Azzahra Arismaya; Eka Lailatun Nafisah; Yudied Agung Mirasa
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 1 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i1.247

Abstract

Unhealthy housing poses significant risks for children's respiratory health, such as pneumonia. Indoor and outdoor environmental factors can vary between urban and rural areas. Spatial vulnerability mapping is a potential tool for developing an early warning system for policymaking in pneumonia control. The purpose of this study was to determine the spatial vulnerability of unqualified housing factors among childhood pneumonia in both urban and rural areas of Bojonegoro, Indonesia. This study employed a cross-sectional design with spatial analysis to determine the correlation and distribution map of eight housing factors of childhood pneumonia in comparison between urban and rural areas. 60 mothers of under-five children as samples for interview and housing factors assessment. Six (54.5%) and four (28.6%) villages had high prevalence cases in urban and rural areas, respectively. Concentrated in the city center and home industries of Bojonegoro sub-district, then livestock and agriculture area of Sukosewu sub-district. Humidity in urban (P=0.03; PR=16.50) and rural (P=0.04; PR=12.60), lighting in urban (P=0.01; PR=23.00) and rural (P=0.04; PR=12.60), house occupancy density in urban and rural (P=0.04; PR=12.60), and ventilation area in rural (P=0.03; PR=25.00) were correlated to childhood pneumonia. Six urban and four rural villages exhibited a high prevalence of pneumonia cases. Unqualified humidity, lighting, house occupancy density, and ventilation area impact childhood pneumonia. It is recommended to improve natural or mechanical housing ventilation, adjust the total housing occupants, and update national healthy housing standards. The use of spatial analysis effectively identified housing-related risk factors for pneumonia, providing critical insights for developing targeted interventions in Bojonegoro.
Evaluasi Pelaksanaan Inspeksi Sanitasi Madrasah Al Munawwaroh di Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan Muhammad Hanif; Rizky Rahadian W; Gading Wilda Aniriani; Eko Sulistiono; Marsha Savira Agatha P; Nur Latifah Syakbanah; Denaya Andrya P
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : CV. Armas Suan Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

School is a social interaction system of an entire organization consisting of personal interactions linked together in an organic relationship. It was observed that many of the quality of school buildings and sanitation facilities in Kembangbahu Lamongan Village did not meet environmental health requirements. So it becomes a factor causing disease and even transmission of disease between students or teachers at school. The aim of this research is to analyze the health quality of the school environment and health complaints at Madrasah Al Munawwaroh Kembangbahu Lamongan according to the Republic of Indonesia Minister of Health Decree No. 1429/2006. This research was conducted descriptively about a situation objectively. The population of this study was the total number of Al Munawwaroh Madrasah in Kembangbahu Village, by applying a total sampling technique of 3 school. Data analysis used the School Environmental Health Inspection Form modified from Minister of Health Decree No. 1429/2006 is then calculated using a formula and analyzed and then presented descriptively. The research results show that the majority of schools meet the requirements for location, building construction, building space, room air quality, lighting, ventilation, noise, school sanitation facilities, sports and worship facilities, courtyards and the presence of mosquito larvae
Mikrobiologi Lingkungan: Studi tentang Mikroorganisme pada Ekosistem Muhammad Hanif; Rizky Rahadian Wicaksono; Lusia Eka Putri; Misnarliah; Resky Dwiyanti Risa.B
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman mikroorganisme yang terdapat pada berbagai ekosistem (tanah, air, dan udara) serta menganalisis peran ekologisnya dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Studi ini menggunakan metode deskriptif-kuantitatif dengan pengambilan sampel di tiga lokasi berbeda: tanah pertanian organik, danau air tawar, dan area vegetasi alami. Isolasi mikroorganisme dilakukan menggunakan media selektif (Nutrient Agar, Sabouraud Dextrose Agar, dan BG-11 medium) diikuti dengan pengamatan morfologi koloni, uji biokimia, dan identifikasi molekuler berbasis gen 16S rRNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme dominan yang ditemukan meliputi Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Rhizobium sp., Nitrosomonas sp., Actinomyces sp., dan Chlorella vulgaris. Mikroba-mikroba tersebut berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik, siklus biogeokimia (terutama nitrogen dan karbon), serta bioremediasi polutan organik dan anorganik. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa keanekaragaman mikroba tertinggi ditemukan pada ekosistem tanah dengan indeks keanekaragaman Shannon sebesar 3,12, diikuti oleh air (2,74) dan udara (1,89). Hasil studi ini menegaskan bahwa mikroorganisme merupakan komponen kunci dalam menjaga stabilitas ekosistem dan kualitas lingkungan. Temuan ini juga membuka peluang pemanfaatan mikroorganisme dalam bidang bioteknologi lingkungan seperti biofertilizer, bioremediasi, dan bioindikator ekologis.
Studi Kualitatif Implementasi Biosafety Dan Biosecurity Pada Laboratorium Mikrobiologi Rizky Rahadian Wicaksono; Muhammad Hanif
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1396

Abstract

Laboratorium mikrobiologi memiliki peran penting dalam diagnosis penyakit, penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Aktivitas laboratorium melibatkan berbagai agen biologis yang berpotensi menimbulkan risiko infeksi bagi petugas, masyarakat, maupun lingkungan apabila tidak dikelola sesuai prinsip biosafety dan biosecurity. Biosafety bertujuan melindungi petugas laboratorium, masyarakat, dan lingkungan dari paparan agen biologis melalui penerapan praktik laboratorium yang aman, penggunaan alat pelindung diri (APD), pengendalian teknik, serta prosedur operasional standar. Sementara itu, biosecurity bertujuan mencegah kehilangan, pencurian, penyalahgunaan, atau pelepasan agen biologis yang dapat membahayakan keamanan publik. Keberhasilan implementasi kedua prinsip tersebut dipengaruhi oleh kebijakan institusi, kompetensi sumber daya manusia, ketersediaan sarana prasarana, budaya keselamatan kerja, dan sistem pengawasan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menggambarkan upaya peningkatan budaya keselamatan laboratorium. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala laboratorium, analis laboratorium, dosen atau peneliti, serta petugas penjamin mutu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung terhadap aktivitas laboratorium, dan telaah dokumen berupa SOP, kebijakan, serta catatan pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi biosafety telah berjalan melalui penggunaan APD, penerapan SOP, pengelolaan limbah infeksius, serta pelatihan keselamatan kerja secara berkala. Namun, masih ditemukan beberapa kendala, antara lain kepatuhan penggunaan APD yang belum konsisten, keterbatasan fasilitas tertentu, dan belum optimalnya dokumentasi evaluasi risiko. Implementasi biosecurity telah diterapkan melalui pembatasan akses laboratorium, pencatatan penggunaan bahan biologis, dan pengamanan ruang penyimpanan, meskipun masih diperlukan penguatan sistem pengawasan serta peningkatan kesadaran seluruh personel laboratorium. Implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi telah dilaksanakan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek budaya keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur, peningkatan kompetensi petugas, serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.
Edukasi Sanitasi Dan Pengelolaan Air Bersih Untuk Meningkatkan Kesehatan Lingkungan Rizky Rahadian Wicaksono; Muhammad Hanif; Marwan Ahmad Manoko; Rezqiqah Aulia Rahmat
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i2.1137

Abstract

ABSTRACT Sanitation and the availability of clean water are crucial factors in maintaining environmental health and preventing various environmental-related diseases. Lack of public knowledge about the importance of sanitation and clean water management can increase the risk of diseases such as diarrhea, skin diseases, and gastrointestinal infections. This community service activity aims to increase public knowledge and awareness about the importance of sanitation and clean water management through environmental health education activities. Implementation methods included health education, interactive discussions, demonstrations of simple clean water treatment, and assessments of knowledge levels before and after the activity. The results of the activity indicate an increase in public knowledge about the importance of environmental sanitation and clean water management. Environmental health education has proven effective in raising public awareness to maintain environmental cleanliness and use clean water safely. Keywords: Environmental Sanitation, Clean Water, Health Promotion, Public Health ABSTRAK Sanitasi dan ketersediaan air bersih merupakan faktor penting yang berperan dalam menjaga kesehatan lingkungan dan mencegah berbagai penyakit berbasis lingkungan. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan pengelolaan air bersih dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit seperti diare, penyakit kulit, serta infeksi saluran pencernaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan pengelolaan air bersih melalui kegiatan edukasi kesehatan lingkungan. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, demonstrasi pengolahan air bersih sederhana, serta evaluasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya sanitasi lingkungan dan pengelolaan air bersih. Edukasi kesehatan lingkungan terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan air bersih secara aman. Kata Kunci: Sanitasi Lingkungan, Air Bersih, Promosi Kesehatan, Kesehatan Masyarakat