Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Quarter-Life Crisis dan atas Perspektif Spiritualitas Søren Kierkegaard untuk Menghadapi Tekanan: Studi Atas Pemuda GPIB Maranatha Bandung Adua, Otniel Jonatan Panjinegara; Pakpahan, Binsar Jonathan
Jurnal Amanat Agung Vol 19 No 1 (2023): Jurnal Amanat Agung Vol 19 No. 1 Juni 2023
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v19i1.588

Abstract

Kategori usia emerging adult (18-30 tahun) membawa tekanan dalam hidup seperti pencapaian prestasi, pekerjaan, karier, hingga asmara dan keluarga. Tekanan-tekanan tersebut membawa krisis yang muncul dalam fenomena quarter-life crisis (QLC). Satu pendekatan untuk mengatasi QLC yang sudah diteliti dalam beberapa penelitian adalah penguatan spiritualitas mereka yang berada dalam kategori usia ini. Penelitian ini melakukan uji QLC yang diajukan Christine Hassler terhadap anggota Pelayanan Kategorial (Pelkat) Gerakan Pemuda (GP) GPIB Maranatha Bandung dan menggunakan pemikiran Søren Kierkegaard mengenai penderitaan sebagai tawaran spiritualitas atas tekanan dalam QLC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32 dari 49 responden yang valid menunjukkan fenomena QLC. Mereka juga mengungkapkan bahwa ekspektasi keluarga membawa tekanan bagi mereka, lalu mereka menyadari bahwa mereka harus mencari jalan keluar, dan mencari penyertaan Allah akan memampukan mereka keluar dari QLC. Tawaran pemikiran dari Kierkegaard adalah bahwa tekanan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak perlu dihindari dan orang Kristen memiliki tanggung jawab untuk menemukan makna dalam penderitaan dan mengelola tekanan-tekanan yang dialami.
Falsafah Tallu Lolona dan Perspektif Teologi Penciptaan Norman Wirzba sebagai Landasan Ekoteologi Kontekstual Binsar Jonathan Pakpahan; Hiskianta Septian Masseleng
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.227

Abstract

This article builds a contextual eco-theology based on the Toraja’s local wisdom of tallu lolona and Norman Wirzba's eco-theology to respond to the environmental crisis, especially in Toraja. Tallu lolona is the philosophy of the Toraja people which shows the relationship between humans, animals, and plants as fellow creatures. The relations between creations should form a harmony because no creature should be dominant than others. Meanwhile, Norman Wirzba emphasized that God is the creator and humans should not dominate other creations; they are responsible for protecting and caring for them. Through descriptive methods with the theology of creation, the research shows that the philosophy of tallu lolona combined with the emphasis on God is the creator and humans are only part of creation, strengthen the contextual eco-theology especially for the Toraja people. Humans must no longer abuse other creation purposes for their interests but must respect and care for them. Artikel ini membangun ekoteologi kontekstual berdasarkan falsafah Tallu Lolona dan ekoteologi Norman Wirzba untuk menjawab krisis lingkungan hidup khususnya di Toraja. Tallu Lolona merupakan falsafah masyarakat Toraja yang memperlihatkan hubungan manusia, binatang dan tumbuhan sebagai sesama ciptaan. Relasi antar ciptaan membentuk kerukunan dan harmoni karena tidak ada yang lebih dominan. Sementara Norman Wirzba memberi penekanan bahwa Tuhan adalah pencipta dan manusia tidak boleh mendominasi ciptaan lain, bahkan bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Melalui metode deskriptif dan pendekatan teologi penciptaan, penelitian menunjukkan bahwa falsafah Tallu Lolona yang dikombinasikan dengan penekanan bahwa Tuhan adalah pencipta dan manusia hanya bagian dari ciptaan, membuat bangunan ekoteologi kontekstual khususnya bagi masyarakat Toraja menjadi kuat. Manusia tidak boleh lagi menyalahgunakan tujuan ciptaan lainnya untuk kepentingan dirinya, namun harus menghargai bahkan merawatnya.