Permasalahan utama dalam studi ini adalah rendahnya capaian literasi sains suku dayak di Indonesia menunjukkan bahwa soal evaluasi yang ada belum sepenuhnya mengukur kemampuan berpikir ilmiah dan kritis melalui asesmen nasional dan internasional, yang menunjukkan perlunya penguatan kualitas instrumen berbasis etnosains di budaya local. Selama ini, sebagian besar soal literasi sains di sekolah masih mengacu pada model nasional atau internasional seperti PISA, yang belum sepenuhnya bersifat kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas instrumen tes literasi sains berbasis etnosains suku dayak di Kalimantan Tengah sebagai upaya menghadirkan alat ukur yang kontekstual dan relevan dengan budaya lokal. Melalui pendekatan etnosains, konsep ilmiah dapat dikaitkan dengan pengetahuan lokal, sehingga siswa lebih mudah menalar fenomena sains yang dekat dengan lingkungannya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu menguji kualitas instrumen yang dikembangkan. Responden penelitian ini adalah siswa SMA kelas X, XI dan XII dari MAN 1 Pulang Pisau, SMAN 2 Kahayan Tengah dan SMAN 1 Pulang Pisau dengan total 257 siswa. Analisis data yang dilakukan adalah perhitungan uji validitas konstruk melalui Multidimensional Scaling (MDS), reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha, serta analisis tingkat kesukaran, daya beda, dan efektivitas distraktor. Hasil analisis menunjukkan nilai stres sebesar 0,00068 (0,68%) dan DAF 0,99 yang menandakan kecocokan model sangat baik. Berdasarkan model konfigurasi MDS diketahui 90% soal valid. Reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,753 menunjukkan bahwa instrument memiliki reliabilitas tinggi. Berdasarkan tingkat kesukaran, 65% butir tergolong mudah, 25% sedang, dan 10% sukar. Daya beda menunjukkan 80% butir berkategori sangat baik, 10% baik, dan 10% jelek. Sementara itu, efektivitas distraktor menunjukkan 20% butir efektif dan 80% kurang efektif. Secara keseluruhan, instrumen ini dinyatakan valid dan reliabel, namun masih memerlukan penyempurnaan pada aspek distraktor dan proporsi tingkat kesukaran agar lebih representatif dalam mengukur kemampuan literasi sains siswa berbasis etnosains Kalimantan Tengah.