Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal IMAJI

Resistensi Orde Baru: Foto Soeharto Tersenyum dan Teks “Pie Kabare? Enak Jamanku To?” Pamungkas, Satrio
IMAJI Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bukan persoalan benar dan salah, atau juga yang berkuasa dan yang tidak, namun rangkaian persoalan-persoalan sosial seperti menjahit dengan benang-benang yang penuh warna untuk merangkai suatu budaya. Kebudayaan pada suatu negara memang berbeda-beda, tapi memang itulah yang disebut budaya; patah, lalu menyambung; punah, lalu tumbuh; hancur, lalu terbangun; kosong, lalu mengisi; tiada, lalu ada, dan seterusnya, ataupun sebaliknya. Melihat kondisi sosial Indonesia, yang sulit lepas dari kisah-kisah Orde Baru yang kali ini menjadi subordinat, lalu bergerak kembali mencoba resistensi, seperti melihat benang-benang yang putus ingin mencoba terjahit kembali ke dalam rajut-rajut politik Indonesia. Senyum Soeharto dan teks “Pie Kabare? Enak Jamanku To?” hadir dan mengisi ruang-ruang keresahan sosial untuk mencoba berbaur dan menyapa kembali, seolah yang terbuang ini adalah masa dan kondisi yang terbaik.
Persona Jordan Belfort: Leonardo DiCaprio dalam Film The Wolf of Wall Street Pamungkas, Satrio
IMAJI Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi merupakan suatu penyajian kembali, namun makna yang sama tidak terulang kembali dalam teks yang terartikulasi. Psikoanalisis dapat digunakan dalam mengamati teks film. Arketip persona, sebagai konsep kritis psikoanalisis, mampu membuka suatu pikiran yang baik dan tidak baik, tergantung dari konstruksi sosial yang direpresentasikan dalam teks film. Bahkan, ia bisa membantu setiap individu melihat individu lain dengan tanda dan kode yang ditampilkan. Pemaknaan tentang kode dan tanda dapat dibongkar secara intertekstual, sehingga bukan hanya memandang satu kondisi, namun dapat memunculkan lebih dari satu kondisi yang menghasilkan produksi makna secara konkrit dengan latar belakang pemikiran kritis dan teoretis. Pengamatan soal persona tokoh yang diperankan oleh seorang aktor dapat menghasilkan makna baru yang mengisi atau mengganti makna yang sebelumnya ada pada tokoh tersebut.
Televisi di Indonesia dan Mitos Rating-Share Pamungkas, Satrio
IMAJI Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Televisi merupakan kebudayaan populer yang merepresentasikan teks, yang di dalamnya banyak makna baru yang berjuang mengisi dan juga hilang dari makna yang sebelumnya. Sebagai bentuk budaya populer, televisi sangat berpengaruh terhadap setiap makna yang disampaikan (encode) dan juga harus mengevaluasi bagaimana makna itu bisa diterima (decode) oleh penontonnya. Sebagian besar yang terjadi, televisi sangat terpengaruh oleh hasil riset kuantitatif yang didapat. Hasil riset itu (rating-share) begitu kuat dalam mengkonstruksi produksi tayangan yang ada pada setiap televisi. Persoalannya adalah data hasil riset tersebut. Data itu menjadi pertanyaan besar, bersumber dari mana, dan teknis pengumpulannya seperti apa. Namun data tersebut begitu dipercaya, layaknya berhala yang memiliki kekuatan yang mempengaruhi segala macam proses produksi tayangan. Rating-share menjadi mitos yang sudah melekat di benak televisi yang ada di Indonesia.