Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN HARGA DIRI DENGAN PHUBBING PADA REMAJA Ivanka, Nadine; Widi Astuti, Niken
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27863.2024

Abstract

Pada tahun 2019 sebanyak 3.706.811 orang Indonesia melakukan phubbing sehingga, Indonesia menempati urutan ke 11 sebagai negara dengan phubbing terbanyak di dunia (Cecilia, 2019). Generasi yang saat ini merupakan generasi yang memiliki peluang yang tinggi untuk melakukan phubbing adalah generasi Z karena, generasi ini sangat akrab dengan gadget (Youarti et al., 2020). Remaja akan memasuki tahap kelima yaitu ego-identity versus role confusion di mana remaja berusaha untuk mengembangkan pemahaman yang jelas tentang identitasnya dengan merefleksikan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Keberhasilan menavigasi tahap ini menghasilkan rasa kohesif terhadap diri sendiri, sementara kesulitan dapat menyebabkan identity crisis (Benson, 2012). Berdasarkan fenomena tersebut peneliti ingin mengetahui hubungan harga diri dengan phubbing pada remaja. Harga diri adalah harga diri menurut Coopersmith adalah penilaian yang dibuat oleh individu terhadap dirinya sendiri, yang menunjukkan sejauh mana individu percaya bahwa mereka memiliki kemampuan, penting, sukses, dan berharga (dalam Sarandria, 2012) dan phubbing adalah tindakan seseorang yang menggunakan ponselnya ketika sedang bercakap-cakap dengan orang lain, memprioritaskan ponselnya di atas komunikasi interpersonal (Karadaǧ et al., 2015). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non eksperimen dengan sample pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling dan secara online. Terdapat 306 responden remaja pada penelitian ini. Pada penelitian ini menggunakan alat ukur Coopersmith Harga diri Scale dengan nilai cronbach's alpha α = 0.908 untuk mengukur harga diri dan phubbing scale dengan nilai cronbach's alpha sebesar α = 0.837 untuk mengukur phubbing. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dengan phubbing pada remaja dengan koefisien korelasi sebesar 0.217. Yang berarti semakin tinggi harga diri maka akan semakin rendah tingkat phubbing, begitupun sebaliknya. Penelitian ini diharapkan bisa menambahkan pengembangan ilmu pada psikologi pendidikan. Kemudian penelitian ini dapat menjadi referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat berkontribusi untuk menambahkan wawasan mengenai harga diri dan phubbing pada remaja.  
Psychological Well-Being Dewasa Awal dengan Disabilitas Fisik yang Mengalami Perceraian Orang Tua Asia Nawita Putri; Niken Widi Astuti
Psikodinamika: Jurnal Literasi Psikologi Vol 5 No 1 (2025): Vol 5 No 1 (2025): PSIKODINAMIKA : Jurnal Literasi Psikologi, Januari 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36636/psikodinamika.v5i1.6008

Abstract

Psychological well-being is an individual's ability to make meaning of life, have a satisfied life,a view of the problems that occur in life and a balance between positive and negative feelings.The consequences of parental divorce that occur and physical disabilities experienced by earlyadults can affect the achievement of psychological well-being. The purpose of this study was todetermine the description of psychological well-being in early adults with physical disabilitieswho experienced parental divorce in childhood. This study uses qualitative methods with datacollection techniques in the form of observation and interviews. There are three participants inthis study. Based on the results of the analysis, one of the three participants did not have goodpsychological well-being because only three of the six dimensions were fulfilled.
Hubungan Gaya Kelekatan dengan Kejelasan Konsep Diri pada Mahasiswa Yvonne Chika Junata; Niken Widi Astuti
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/8pgfg916

Abstract

Masa dewasa muda ditandai oleh proses eksplorasi identitas yang intens, sehingga diperlukan kejelasan konsep diri untuk membantu individu menavigasi tuntutan akademik, sosial, dan emosional. Salah satu faktor yang berperan dalam pembentukan kejelasan konsep diri adalah gaya kelekatan yang terbentuk dari pengalaman relasional awal dengan pengasuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kelekatan dan kejelasan konsep diri pada mahasiswa di Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 383 mahasiswa usia 18–25 tahun yang diperoleh dengan teknik criterion-based sampling. Instrumen penelitian terdiri dari Revised Adult Attachment Scale (RAAS) sedangkan kejelasan konsep diri diukur dengan Self Concept Clarity Scale. Hasil menunjukkan terdapat hubungan positif signifikan antara gaya kelekatan aman dengan kejelasan konsep diri, sedangkan gaya kelekatan tidak aman berhubungan negatif dengan kejelasan konsep diri. Dengan urutan dari tertinggi hingga terendah yaitu gaya kelekatan aman, menghindar, cemas, dan ambivalen. Secara keseluruhan, gaya kelekatan memegang peran penting dalam pembentukan kejelasan konsep diri mahasiswa. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan relasi yang aman untuk mendukung perkembangan identitas yang sehat pada dewasa muda.
Peranan Panti X Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Anak Asuh Geby Septiana; Niken Widi Astuti; Willy Tasdin
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 4 No. 9 (2023): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v4i9.2211

Abstract

Pendidikan karakter adalah membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan karakter, dan hasilnya tercermin dalam tindakan nyata seseorang (Lickona, 1991). Tujuan pendidikan karakter untuk membantu anak berkembang secara fisik dan mental, dari fitrahnya menuju kemanusiaan dan peradaban yang lebih baik (Hadisi, 2015). Penelitian ini bertujuan untuk melihat peranan panti asuhan dan mendeskripsikan dalam menanamkan pendidikan karakter. Jenis penelitian menggunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini melibatkan dua pengasuh dan dua anak asuh di Panti X. Hasil observasi menunjukan bahwa ada beberapa karakter anak asuh yang masih belum sesuai dengan lima Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu nilai religius, nilai nasionalisme, nilai kemandirian, nilai gotong royong, dan nilai integritas. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran panti dalam upaya menanamkan pendidikan karakter melalui kegiatan, program, pembelajaran, pemahaman, serta aturan dan tata tertib yang dapat mengembangkan nilai-nilai karakter anak asuh. Berdasarkan analisis dapat diambil kesimpulan bahwa peran panti X dengan memberikan bimbingan dan dukungan yang dapat terwujud dengan berbagai faktor pendukung seperti keterlibatan pengurus panti asuhan yang bersedia dalam membimbing anak panti, kesadaran anak pada perilaku dan lingkungan panti yang mendukung.