Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HUBUNGAN HARGA DIRI DENGAN PHUBBING PADA REMAJA Ivanka, Nadine; Widi Astuti, Niken
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27863.2024

Abstract

Pada tahun 2019 sebanyak 3.706.811 orang Indonesia melakukan phubbing sehingga, Indonesia menempati urutan ke 11 sebagai negara dengan phubbing terbanyak di dunia (Cecilia, 2019). Generasi yang saat ini merupakan generasi yang memiliki peluang yang tinggi untuk melakukan phubbing adalah generasi Z karena, generasi ini sangat akrab dengan gadget (Youarti et al., 2020). Remaja akan memasuki tahap kelima yaitu ego-identity versus role confusion di mana remaja berusaha untuk mengembangkan pemahaman yang jelas tentang identitasnya dengan merefleksikan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Keberhasilan menavigasi tahap ini menghasilkan rasa kohesif terhadap diri sendiri, sementara kesulitan dapat menyebabkan identity crisis (Benson, 2012). Berdasarkan fenomena tersebut peneliti ingin mengetahui hubungan harga diri dengan phubbing pada remaja. Harga diri adalah harga diri menurut Coopersmith adalah penilaian yang dibuat oleh individu terhadap dirinya sendiri, yang menunjukkan sejauh mana individu percaya bahwa mereka memiliki kemampuan, penting, sukses, dan berharga (dalam Sarandria, 2012) dan phubbing adalah tindakan seseorang yang menggunakan ponselnya ketika sedang bercakap-cakap dengan orang lain, memprioritaskan ponselnya di atas komunikasi interpersonal (Karadaǧ et al., 2015). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non eksperimen dengan sample pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling dan secara online. Terdapat 306 responden remaja pada penelitian ini. Pada penelitian ini menggunakan alat ukur Coopersmith Harga diri Scale dengan nilai cronbach's alpha α = 0.908 untuk mengukur harga diri dan phubbing scale dengan nilai cronbach's alpha sebesar α = 0.837 untuk mengukur phubbing. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dengan phubbing pada remaja dengan koefisien korelasi sebesar 0.217. Yang berarti semakin tinggi harga diri maka akan semakin rendah tingkat phubbing, begitupun sebaliknya. Penelitian ini diharapkan bisa menambahkan pengembangan ilmu pada psikologi pendidikan. Kemudian penelitian ini dapat menjadi referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat berkontribusi untuk menambahkan wawasan mengenai harga diri dan phubbing pada remaja.  
Psychological Well-Being Dewasa Awal dengan Disabilitas Fisik yang Mengalami Perceraian Orang Tua Putri, Asia Nawita; Niken Widi Astuti
Psikodinamika: Jurnal Literasi Psikologi Vol 5 No 1 (2025): Vol 5 No 1 (2025): PSIKODINAMIKA : Jurnal Literasi Psikologi, Januari 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36636/psikodinamika.v5i1.6008

Abstract

Psychological well-being is an individual's ability to make meaning of life, have a satisfied life,a view of the problems that occur in life and a balance between positive and negative feelings.The consequences of parental divorce that occur and physical disabilities experienced by earlyadults can affect the achievement of psychological well-being. The purpose of this study was todetermine the description of psychological well-being in early adults with physical disabilitieswho experienced parental divorce in childhood. This study uses qualitative methods with datacollection techniques in the form of observation and interviews. There are three participants inthis study. Based on the results of the analysis, one of the three participants did not have goodpsychological well-being because only three of the six dimensions were fulfilled.
GAMBARAN SELF-REGULATION GURU PAUD DALAM MENGAJAR Theresia Margaretha; Niken Widi Astuti
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.166

Abstract

Penelitian ini melihat gambaran self-regulation pada guru PAUD dalam mengajar. Menurut Brown (2000), Self-regulation adalah kapasitas untuk merencanakan dan mengendalikan tindakan secara fleksibel sesuai dengan harapan yang telah ditetapkan (Pichardo et al., 2014). Partisipan dari penelitian ini adalah Guru PAUD yang tercatat aktif mengajar di satuan pendidikan PAUD yang terdiri atas 200 Responden. Analisis data menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Alat ukur yang digunakan adalah the self-regulation questionnaire (SRQ) yang dikembangkan Brown, Miller, dan Lawendowski (1999). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa guru PAUD memperlihatkan self-regulation dengan nilai rata - rata yang cukup baik, yaitu 3.86 dengan kategorisasi yang tergolong sedang sebanyak 135 partisipan, rendah 35 partisipan dan tinggi sejumlah 30 orang.
HUBUNGAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA REMAJA Chintya Romansa; Niken Widi Astuti
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.188

Abstract

Penelitian yang penulis buat bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh demokratis dengan motivasi belajar pada remaja. Pola asuh demokratis menurut Baumrind adalah dimana orang tua menuntun anaknya dalam bertindak dan memilih dan motivasi belajar adalah keinginan seseorang untuk meningkatkan semangat belajar dari diri sendiri atau dari luar untuk melakukan kegiatan belajar hingga mencapai satu tujuan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif non eksperimental, pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 320 orang. Penelitian ini menggunakan instrumen pola asuh Authoritative yang diperoleh dari Bagian Riset dan Pengukuran fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara untuk mengukur pola asuh demokratis, dan menggunakan Academic Motivation Scale-Short Indonesian Language Version untuk mengukur motivasi belajar. Dikarenakan data pola asuh bersifat nominal sehingga tidak memungkinkan adanya uji korelasi, peneliti menggunakan uji beda untuk mengukur kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan hasil terdapat hubungan antara pola asuh demokratis dengan motivasi belajar.
Peranan Panti X Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Anak Asuh Septiana, Geby; Widi Astuti, Niken; Tasdin, Willy
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 4 No. 9 (2023): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v4i9.2211

Abstract

Pendidikan karakter adalah membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan karakter, dan hasilnya tercermin dalam tindakan nyata seseorang (Lickona, 1991). Tujuan pendidikan karakter untuk membantu anak berkembang secara fisik dan mental, dari fitrahnya menuju kemanusiaan dan peradaban yang lebih baik (Hadisi, 2015). Penelitian ini bertujuan untuk melihat peranan panti asuhan dan mendeskripsikan dalam menanamkan pendidikan karakter. Jenis penelitian menggunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini melibatkan dua pengasuh dan dua anak asuh di Panti X. Hasil observasi menunjukan bahwa ada beberapa karakter anak asuh yang masih belum sesuai dengan lima Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu nilai religius, nilai nasionalisme, nilai kemandirian, nilai gotong royong, dan nilai integritas. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran panti dalam upaya menanamkan pendidikan karakter melalui kegiatan, program, pembelajaran, pemahaman, serta aturan dan tata tertib yang dapat mengembangkan nilai-nilai karakter anak asuh. Berdasarkan analisis dapat diambil kesimpulan bahwa peran panti X dengan memberikan bimbingan dan dukungan yang dapat terwujud dengan berbagai faktor pendukung seperti keterlibatan pengurus panti asuhan yang bersedia dalam membimbing anak panti, kesadaran anak pada perilaku dan lingkungan panti yang mendukung.
Hubungan Self-Compassion terhadap Kemampuan Menerima Kritik Akademik pada Mahasiswa di Jabodetabek Madeline Gaby Sie; Niken Widi Astuti
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Terbit
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.37041

Abstract

This study aims to examine the relationship between self-compassion and the ability to accept academic criticism among undergraduate students in the Jabodetabek region. A correlational quantitative approach was employed involving 421 active S1 students selected through purposive sampling. Self compassion was measured using the SelfCompassion Scale (SCS) by Neff (2023), while the ability to accept academic criticis m was assessed with the Feedback Orientation Scale (FOS) by Linderbaum & Levy (2010). Data analysis using Spearman’s Rho revealed a weak negative correlation). These findings indicate that higher levels of self compassion are associated with a slightly lower orientation toward actively seeking and valuing academic feedback. The results suggest that students with very high self compassion have achieved strong self acceptance, reducing their perceived need for external validation through criticism. This study recommends that self compassion enhancement programs in universities be integrated with training on actively seeking and utilizing constructive academic feedback.
DAMPAK KETERGANTUNGAN PENGGUNAAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PADA MAHASISWA DI INDONESIA Rafi Swarna Erlangga Putra; Niken Widi Astuti
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Terbit
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.37423

Abstract

The rapid development of Artificial Intelligence (AI) has facilitated students in completing academic tasks; however, it has also increased the risk of dependency that may affect their critical thinking skills. This study aims to examine the influence of AI dependency on critical thinking skills among university students in Indonesia. A quantitative research approach was employed, involving 408 students aged 18–23 years selected using purposive sampling. AI dependency was measured using the Dependence on Artificial Intelligence (DAI) Scale, while critical thinking skills were assessed using the Critical Thinking Questionnaire (CThQ). The Spearman correlation test indicated a strong and significant positive relationship between AI dependency and critical thinking skills (r = 0.759, p = 0.000). Furthermore, a simple linear regression analysis revealed that the regression model was significant (F = 585.152, p = 0.000), and that AI dependency contributed 59% (R² = 0.590) to the variance in critical thinking skills. The regression coefficient also demonstrated a significant positive effect (B = 0.371; β = 0.768; t = 24.190; p = 0.000). These findings suggest that the higher the students’ dependency on AI, the higher their critical thinking skills. Therefore, digital literacy and proper education regarding the use of AI are needed to ensure that the technology supports the development of students’ cognitive quality.