Penelitian ini menginvestigasi bagaimana pelaku usaha tahu di Tana Toraja memahami serta menerapkan sistem pengendalian biaya sebagai praktik sosial dan moral yang tumbuh dari nilai budaya, hubungan sosial, serta keyakinan spiritual masyarakat setempat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis etnologi dalam kerangka paradigma interpretif, penelitian ini menempatkan aktivitas ekonomi bukan sebagai tindakan teknis semata, melainkan sebagai bagian dari praktik budaya yang penuh makna. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi yang melibatkan partisipasi peneliti, serta penelusuran berbagai dokumen produksi pada tiga unit usaha tahu di Kecamatan Makale. Analisis data mengikuti model Miles, Huberman, dan Saldana melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan makna secara berulang. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengendalian biaya dijalankan melalui mekanisme sosial, antara lain melalui jaringan kepercayaan dengan pemasok, pembagian kerja berbasis nilai kekeluargaan, pemanfaatan bahan bakar alternatif, serta berbagai inovasi produksi yang bersumber dari kearifan lokal. Sistem pencatatannya sederhana dan digunakan lebih sebagai sarana refleksi daripada kewajiban administratif. Pelaku usaha juga menghadapi sejumlah tantangan seperti kenaikan harga kedelai dan terbatasnya modal, namun mereka meresponnya melalui strategi penyesuaian yang didasarkan pada nilai moral dan keyakinan spiritual. Efisiensi dimaknai sebagai hidup sederhana, bekerja dengan sungguh-sungguh, menjadi keberlanjutan usaha keluarga, serta memelihara rasa syukur atas rasa syukur. Penelitian ini memperkaya pemahaman tentang akuntansi biaya melalui perspektif humanistik dan etnologis, serta menawarkan kontribusi bagi pengembangan teori akuntansi interpretif dan pendampingan UMKM berbasis nilai budaya lokal.