Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Karakteristik Karkas Bandikut (Echymipera kalubu) di Kabupaten Manokwari: Carcass Characteristics of Bandikut (Echymipera kalubu) in Manokwari Regency Frandz Rumbiak Pawere; John Arnold Palulungan
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i1.72

Abstract

The research purpose is to investigate the characteristics of bandicoot’s (Echymipera kalubu) carcass in the Manokwari Regency, West Papua Province. Thirty-two (32) bandicoots, with the age of ± 4-month-old, were used for this study, the subjects consisted of 16 males and 16 females. The research method used was the exploration method. The results showed that the bodyweight of males and females bandicoot was 1709.38 ± 506.31 g and 976.63 ± 296.11 g (P<0.05). Carcass weight of males and females bandicoot was 1339 ± 449.53 g and 738.22 ± 233.50 g (P<0.05) respectively. Carcass percentage of males and females bandicoot was 77.15 ± 6.24 % and 75.10 ± 4.32 % (P>0.05). The weight cut forequarter of males and females bandicoot was 614.85±221.87 g and 311.67±101.83 g (P<0,05). The weight cut of the hindquarter of males and females bandicoot was 768.76±377.66 g and 397.89±142.18 g (P<0,05). Fore carcass percentages of males and females bandicoot were 45.48±2.20 % and 42.39±3.50 % (P<0,05). Hind carcass percentage of males and females bandicoot was 56.22±12.22 % and 53.63±6.82% (P>0,05). In conclusion, there are differences in body weight, carcass weight, fore carcass weight, rear carcass weight, and the percentage of fore carcass weight between male and female Echymipera kalubu. On the other hand, there is no difference in the percentage of carcass and rear carcass percentage between male and female Echymipera kalubu.
Aktivitas Urinasi dan Penampakan Ekor Berdiri Tegak Sebagai Indikator Tingkah Laku Kawin Rusa Timor (Cervus timorensis) Betina di Penangkaran Aro-M Manokwari: Urinating and an Upright-Tail Appearance as Indicators of the Female Timor Deer (Cervus timorensis) Mating Behavior in Aro-M Captive Facility, Manokwari Freddy Pattiselanno; Alfrida Gobay; Frandz Rumbiak Pawere
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.82

Abstract

Abstract A deeper knowledge regarding the biology of the reproduction of tropical deer in its natural habitat is limited. The appearance of a standing tail and increased urination behavior are sexual characteristics of female deer. This research aims to study the mating behavior of females based on urination activity and upright-tail appearance in female Timor deer. The results showed that the lowest urination frequency of female deer (12.37%) occurred between 10.0012.00, while the highest (22.22%) was between 08.00-10.00. The appearance of tails that stand upright most often occurs in 06.00 - 08.00 (26.55%), and the lowest (8.19%), observed at 12.00-14.00. This study concludes that urination activity and appearance of upright tails was an indicator of the sexual desire of female deer to be mated by the male. Keywords: Behavior; Captivity; Female deer; Mating; Urinating Abstrak Pengetahuan yang mendalam mengenai biologi reproduksi rusa tropik yang ditangkarkan pada habitat aslinya masih sangat terbatas. Penampakan ekor yang berdiri tegak dan tingkah laku urinasi yang meningkat merupakan ciri rusa betina yang sedang berahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku kawin berdasarkan aktivitas urinasi dan penampakan ekor berdiri tegak pada rusa timor betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi urinasi rusa betina terendah (12,37%) terjadi pada periode 10.00- 12.00 sedangkan yang paling tinggi (22,22%), pada periode 08.00-10.00. Penampakan ekor yang berdiri tegak paling sering terjadi pada periode 06.00–08.00 yaitu (26,55%), dan terendah (8,19%), teramati pada pukul 12.00-14.00 wit. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa aktivitas urinasi dan penampakan ekor berdiri tegak dapat digunakan sebagai indikator birahi rusa berina yang siap untuk dikawini pejantan. Kata kunci: Penangkaran; Rusa betina; Tingkah laku; Kawin; Urinasi
Hubungan Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan dan Bobot Karkas Bandikut (Echymipera rufescens) Di Kampung Manawi Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen: The Relationship between Body Measurement and Body Weight and Carcass Weight of Bandicoot (Echymiera rufescens) in Manawi Village, Angkaisera District, Yapen Isand Regency Sonei G. Bonai; Frandz Pawere; Hanike Monim
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.267

Abstract

Abstract Bandicoot (Echypera rufescens) is an alternative source of animal protein and a source of germplasm for humans, especially local communities in Papua. These animals are obtained by hunting and/or setting traps in the community's closest habitat. The aim of this research was to determine the relationship between body measurements and body weight and carcass weight by utilizing 32 bandicoots, 16 males and 16 females, with a live weight range of 400 - 2000 grams in Yapen Island Regency, Papua. The study was conducted by using an explorative study and the data were analyzed using multiple correlations and regression. The carcass was obtained by slaughtering the head, removing the blood, and then removing the hair by burning (singeing). The average body weight of male bandicoots was 1403 grams and that of females was 598.75 grams, while the average carcass weights of males and females were 1050.06 grams and 415 grams, respectively. The average heart girth of male bandicoots is 23.03 cm and that of females is 17.81 cm, while the average body length of male and female bandicoots is 25.19 cm and 18.91 cm, respectively. The average percentage of male bandicoot carcasses was 73.99 cm and that of females was 69.22 cm. The correlation coefficient between body weight and body measurements was 0.911 while the carcass weight and body measurements were 0.901. The correlation between body weight and carcass of male bandicoots were 0.911 and 0.901. The correlation between body weight and carcass of female bandicoot were 0.702 and 0.747. The regression equation for male bandicoots to estimate body weight (BB) and carcass weight (BK) were BB = (-1705, 594+84,432 X1 +46,234X2) and (BK = -432,092 +71,545 X1 +33,127X2). The female bandicoot regression equations to estimate body weight (BB) and carcass weight (BK) were: (BB = -509,134+39,437 X1 +21,443X2) and (BK= -436,703 +31,720 X1 +15,164X2). Keywords: Bandicut (Echypera rufescens); Carcass length; Carcass weight; Carcass; Heart girth; Live weight; Singeing Abstrak Bandikut (Echypera rufescens) merupakan salah satu sumber alternatif protein hewani dan sumber plasma nutfa bagi manusia khususnya masyarakat lokal yang berada di Papua. Hewan ini diperoleh dengan cara berburu dan/atau pemasangan jerat di habitat terdekat masyarakat. Penelitian tentang hewan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ukuran-ukuran tubuh dengan bobot badan dan bobot karkas dengan memanfaatkan 32 ekor bandikut masing-masing 16 ekor jantan dan 16 ekor betina dengan kisaran berat hidup 400 - 2000 gram. Karkas diperoleh dengan cara bagian kepala disembelih, dikeluarkan darah kemudian dilakukan penghilangan bulu dengan cara dibakar (singeing). Karkas terdiri dari daging, tulang dan lemak setelah kepala, isi rongga dada dan perut, kaki belakang bagian bawah dan kaki depan bagian bawah serta ekor dikeluarkan. Rata-rata bobot badan bandikut jantan adalah 1403 gram dan betina adalah 598,75 gram, sedangkan rata-rata bobot karkas jantan dan betina masing-masing adalah 1050,06 gram dan 415 gram. Rata-rata lingkar dada bandikut jantan adalah 23,03 cm dan betina adalah 17,81 cm, sedangkan rata-rata panjang badan bandikut jantan dan betina berturut-turut adalah 25,19 cm dan 18,91 cm. Rata-rata persentase karkas bandikut jantan adalah 73,99 cm dan betina adalah 69,22 cm. Koefisien korelasi antara bobot badan dengan ukuran-ukuran tubuh adalah 0,911 sedangkan antara bobot karkas dengan ukuran-ukuran tubuh adalah 0,901. Korelasi bobot badan dan karkas bandikut jantan adalah 0,911 dan 0.901. Korelasi bobot badan dan karkas bandikut betina adalah sebesar 0,702 dan 0,747. Persamaan regresi bandikut jantan untuk menduga bobot badan (BB) dan bobot karkas (BK) adalah BB = (-1705, 594+84,432 X1 +46,234X2 dan BK = -432,092 +71,545 X1 +33,127X2. Persamaan regresi bandikut betina untuk menduga bobot badan (BB) dan bobot karkas (BK) adalah BB = -509,134+39,437 X1 +21,443X2 dan BK= -436,703 +31,720 X1 +15,164X2. Kata kunci: Bandicut (Echypera rufescens); Berat karkas; Berat potong; Karkas; Lingkar dada; Panjang karkas.
PENILAIAN PRODUKTIVITAS TERNAK DAN KESESUAIAN POTENSI PAKAN TERNAK DI KAWASAN AGRO-EKOLOGIS Makarius Bajari Bajari; Deny Anjelus Iyai; Johan Frederik Koibur; Lukas Yowel Sonbait; Frandz Rumbiak Pawere
Jambura Journal of Animal Science Vol 5, No 1 (2022): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v5i1.15380

Abstract

The purpose of this study was to determine the portrait of livestock production in the neighborhood environment as a basis for livestock commodity development and animal husbandry development, to determine the needs and potential of animal husbandry development in Waropen Regency.The method was done using descriptive study by using desk study and reference review. The object of observation was livestock production and forages yielded from crops. The results of the studyshowed that portrait of livestock production is not optimal yet, marked by the low number of livestock production on each district of several commodities. Animal feed needs to be intensified. Thus technical assistance needs to be provided. 
Manajemen Pakan Sebagai Penunjang Konservasi Eksitu Kasuari (Casuarius sp.) di Taman Burung dan Taman Anggrek Biak Edwin Galfani Abidondifu; Frandz Rumbiak Pawere; Freddy Pattiselanno
JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Kehutanan Papuasia
Publisher : Fakultas Kehutanan UNIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46703/jurnalpapuasia.Vol8.Iss2.349

Abstract

Salah satu upaya konservasi yang dapat dilakukan dalam menjaga keseimbangan populasi kasuari di luar habitat alaminya adalah melalui konservasi ex-situ, yakni penangkaran. Aspek manajemen pakan termasuk dalam teknik penangkaran yang memainkan peranan penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha penangkaran. Penelitian ini dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Taman Burung dan Taman Anggrek Biak, Provinsi Papua, antara tanggal 6 Januari – 22 Maret 2022. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi. Pengamatan secara intensif dilakukan terhadap praktek pemberian pakan burung kasuari. Hasil pengamatan dianlisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan pakan kasuari yang diberikan pada TBTA Biak adalah pisang kapok, pisang mas, dan papaya. Waktu pemberian pakan yaitu pukul 08:00-09:00 WIT. Tempat penyimpanan pakan yaitu di dalam gudang menggunakan keranjang untuk mempermudah pengambilan pakan. Dengan pemyimpanan pakan terbuka di dalam ruangan dan tidak menggunakan zat kimia atau freezer. Pemberian pakan dilakukan sekali sehari dengan jumlah konsumsi pakan 1.729,43 gr/ekor/hari bagi kasuari yang dikandangkan dan 4.617 gr/ekor/hari bagi kasuari yang diumbar. Diversifikasi pakan perlu dilakukan dengan menambahkan jenis pakan alami sehingga keseimbangan nutrisi pakan dapat terpenuhi. Jumlah konsumsi pakan sangat dipengaruhi oleh aktivitas kasuari dan ketersediaan ruang untuk beraktivitas.
COMMUNITY EMPOWERMENT THROUGH NUTRITION EDUCATION: THE ROLE OF EGG CONSUMPTION IN PREVENTING STUNTING IN KAMPUNG MEYES, NORTH MANOKWARI Widodo, Aluisius; Hartini, Sri; Monim, Hanike; Rahardjo, Dwi Djoko; Suawa, Elfira K.; Randa, Sangle Y.; Pawere, Frandz R.; Koibur, Johan F.
Jurnal Abdisci Vol 3 No 4 (2026): Vol 3 No 4 Tahun 2026
Publisher : Ann Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62885/abdisci.v3i4.938

Abstract

Abstract: Background. Stunting is a chronic form of malnutrition resulting in children being shorter than their age due to prolonged nutrient deficiency and frequent infections. It often begins before birth and continues through early childhood, caused by a lack of essential nutrients such as protein, iron, zinc, and vitamins. Eggs, as an affordable and highly nutritious source of animal protein, are recommended to help prevent stunting in vulnerable communities. Aim. To increase the knowledge and awareness of the Kampung Meyes community about stunting and the importance of consuming eggs, as well as to provide practical education on safe egg preparation for pregnant women, breastfeeding mothers, and toddlers. Methods. The activity was conducted on May 12, 2025, in North Manokwari District, involving 40 participants through leaflet distribution, interactive discussions, and egg provision. Results. The program received enthusiastic responses from children, parents, and community leaders, confirming that combining nutrition education with direct interventions effectively improves understanding and supports national stunting reduction efforts. Conclusions. The results highlight the effectiveness of culturally relevant, action-based learning and suggest the need for continued community guidance. Implication. Integrating this educational model into local health posts, schools, and family welfare groups could ensure sustainable improvements in nutrition and family food security.
The influence of the addition of granulated sugar on the organoleptic quality of dendeng ground meet deer (Cervus timorensis) Seseray, Daniel Y.; Jandit, Oktovianus; Monim, Hanike; Chrysostomus, Hieronymus Y.; Randa, John S.; Sumpe, Iriani; Pawere, Frandz R.; Yoku, Onesimus; Indey , Seblum
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 15 No. 4 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v15i4.611

Abstract

This study evaluated sucrose at concentrations of 0, 5, 10, 15, and 20% (w/w) in ground deer meat dendeng (DGDR) to inform SME-oriented formulation. The products were dried at 60°C for 24 hours. They were then assessed by 30 semi-trained panelists (1–5 hedonic) in a within-panelist repeated-measures design. Ordinal data were analyzed using a Friedman omnibus test with Holm-adjusted Wilcoxon signed-rank comparisons. Results are reported as medians. The color increased significantly at ≥10% compared to 0%. Taste improved with sugar, producing a smoother sweet–spice balance. Aroma remained characteristic across levels. Tenderness showed a non‑significant softening at ≥15%. Overall acceptability increased with sugar, with 10–20% exceeding the control (p < 0.05). Five percent showed a trend upward, indicating an early plateau at 5% or higher. Sucrose thus functions as a practical lever to elevate appearance and liking without compromising aroma under the specified process. A formulation of 12–15% is recommended as the default. Levels of 15–20% suit markets seeking darker colors and slightly sweeter profiles. Future work should pair hedonic outcomes with instrumental measurements of color, texture, and volatility. It should also include shelf-life studies and evaluate clean-label preservation options or partial sucrose substitution.