Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : EPIGRAM (e-journal)

PEMBERIAN NAMA ANAK DALAM SUDUT PANDANG BAHASA Nur Rini; Sri Rahayu Zees; Pandiya Pandiya
Epigram Vol 15 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.118 KB) | DOI: 10.32722/epi.v15i2.1276

Abstract

AbstractName is an important part of someone’s life, it is an identity. However, nowadays a name likely does not reflect the owner’s origin or nation. In Indonesian culture context, naming children is a meaningful moment for parents. This qualitative study was intended to describe how parents name their children. It involved 80 respondents; they were Semarang City citizens who had children. The data were collected by distributing questionnaires and conducting interview. Most respondents were Javanese, Moslem, born between 1950s and 1960s, and graduated from high school. The respondents liked combining words from two or more different languages to form their children’ names. There were very few parents using Indonesian words only. The languages involved in forming names are Arabic, Javanese, English, Chinese, Sanskrit, Indonesian and Balinese. Moslems tend using Arabic to name their children. Almost all names had meanings. The meaning depends on the giver or the one who named the children. The same names might have different meanings.Key words: naming children, Javanese, name, Semarang parentsAbstrakNama memiliki arti yang penting bagi kehidupan seseorang, nama adalah identitas. Namun, terdapat kecenderungan, nama tidak menunjukkan daerah asal atau identitas bangsa pemilik nama. Dalam konteks budaya Indonesia, pemberian nama anak adalah sebuah momentum yang sangat berarti bagi orangtua. Penelitian kualitatif ini bertujuan menerangkan bagaimana orang tua memberi nama anak mereka dari sudut pandang bahasa. Responden penelitian ini adalah 80 warga kota Semarang yang memiliki anak. Data dikumpulkan dengan cara membagikan kuesioner dan wawancara mendalam. Sebagian besar responden bersuku Jawa, beragama Islam, lahir di tahun 1950an hingga 1960an dan lulusan sekolah menengah atas. Ditemukan bahwa para orangtua berkencendungan mengkombinasikan kata-kata dari dua atau lebih bahasa yang berbeda dalam membentuk nama anak mereka. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa Arab, bahasa Jawa, bahasa Inggris, bahasa Cina, bahasa Sanskerta, bahasa Indonesia, dan bahasa Bali. Orang tua yang memeluk agama Islam berkecenderungan kuat menggunakan bahasa Arab dalam penamaan anak mereka. Hanya beberapa saja yang menggunakan kata-kata bahasa Indonesia dalam penamaan anak-anak mereka. Hampir semua nama memiliki nama. Makna suatu nama tergantung dari makna yang diberikan oleh pemberi nama. Nama yang sama terkadang memiliki makna yang berbeda.Kata kunci: penamaan anak, nama anak suku Jawa, orang tua Semarang
Indonesian Students’ Listening Attitudes Tribekti Maryanto Agustinus; Nur Rini; Mitchell Clark
Epigram Vol 16 No 2 (2019)
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.144 KB) | DOI: 10.32722/epi.v16i2.1973

Abstract

Obviously listening improves speaking skills. Polytechnic graduates are to have business transaction skills. Meanwhile, the time allotment for English class sessions is limited. Therefore, the teachers are to promote students’ autonomous learning through listening. This study investigates how the students major in commerce at an Indonesian polytechnic complete listening tasks and attitudes toward the acquisition of listening skills. Training on how to complete the listening activities through shadowing was carried out with 43 students. A questionnaire was distributed to find out the students’ views on the suggested listening activities and their opinions to improve them. The study found students’ preferences in practicing listening; most employed 1 or 2 or 3 steps. Most include initial listening, reading, and one of the types of shadowing - silent shadowing with reading or synchronized shadowing or prosody shadowing. None of the students was interested in doing silent shadowing. They admitted that their listening most improved their pronunciation and enriched vocabulary. They expected more lecturer engagement in controlling their listening activity. By better understanding the students’ needs and opinions, strategies to encourage autonomous learning can be improved.