Hari Poerwanto
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Humaniora

ASIMILASI, AKULTURASI, DAN INTEGRASI NASIONAL Hari Poerwanto
Humaniora Vol 11, No 3 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.789 KB) | DOI: 10.22146/jh.668

Abstract

Sejak lama, para ahli antropologi tertarik pada peristiwa pertemuan dua kebudayaan atau Iebih, terutama sejauh manakah hal tersebut dapat menyebabkan perubahan, baik sosial maupun budaya. Sementara itu, juga disadari bahwa berubahnya unsur-unsur suatu kebudayaan tidak selalu dapat diartikan sebagai kemajuan, namun dapat pula dianggap sebagai kemunduran suatu masyarakat. Untuk memahami pertemuan dua kebudayaan atau lebih di kalangan suku-suku bangsa dan kebudayaan di Indonesia yang beranekawarna, perlu dikaji berbagai bentuk interaksi sosial mereka . Kelompok sosial dan lembaga kemasyarakatan di kalangan berbagai suku bangsa tersebut adalah bentuk struktural dari masyarakat, dan dinamikanya tergantung pada pola perilaku warganya dalam menghadapi suatu situasi tertentu .
Analisis Komparasi Lintas Budaya Hari Poerwanto
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.293 KB) | DOI: 10.22146/jh.744

Abstract

Disamping bersifat akademik, berbagai kajian tentang kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia memiliki tujuan praktis. Secara akademik dimaksudkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan salah satu manfaat praktis adalah untuk kepentingan pembangunan dalam arti luas. Pada masa penjajahan, pengetahuan mengenai suku-bangsa dan kebudayaan di Indonesia pernah diterapkan guna menguasai dan mengatur anak negeri. Karenanya, setelah kemerdekaan pengetahuan tentang keanekaragaman sukubangsa dan kebudayaan di Indonesia merupakan bahan penting untuk integrasi nasional dan pembangunan di Indonesia. Secara teoretik, Swartz (1968) berpendapatbahwa sejarah merupakan serangkaianperistiwa unik dan spesifik yang pernah terjadi, dan tidak akan pernah terulang kembali. Berbagai peristiwa unik dan spesifik harus dikaji lebih jauh secara kritis, dan bukan hanya sekedar untuk menjelaskan sesuatu yang descriptive integration. Seorang peneliti harus mengetes dan memperbarui teorinya, termasuk pula mengupayakan suatu generalisasi guna mendukung argumentasinya melalui berbagai fakta empirik dan keteraturan-keteraturan lainnya. Tanpa didukung oleh suatu referensi yang berkaitan dengan dalil-dalil umum atau general laws yang ada, maka seseorang itu hanya membuat kiasan belaka. Penelitian komparasi lintasbudaya merupakan komponen yang valid untuk melakukan generalisasi dari masyarakat dan kebudayaan manusia yang tersebar luas di muka bumi.
Teori Konflik dan Dinamika Hubungan antarsuku-Bangsa Hari Poerwanto
Humaniora No 6 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1313.1 KB) | DOI: 10.22146/jh.1861

Abstract

Kelompok dan lembaga sosial adalah bentuk struktural dari masyarakat. Dalam menghadapi situasi tertentu, dinamikanya akan tergantung pada pola-pola perilaku para warganya. Dinamika suatu masyarakat tercermin dalam perkembangan dan perubahan yang terjadi, yaitu akibat hubunganorang-perorangan, antar kelompok maupun antara oranq-perorangan dengan kelompok. Berbagai bentuk interaksi sosial yang ditandai oleh terjadinya kontak dan komunikasi, merupakan aspek penting untuk mempelajari proses-proses sosial. Apabila terjadi suatu perubahan yang menyebabkan goyahnya sendi-sendi kehidupan yang ada, pengetahuan tentang proses-proses sosial akan dapat dipakai guna memahami perilaku yang akan muncul (Gillin dan Gillin, 1954). Konflik merupakan salah satu bentuk dan proses-prosesĀ  sosial yang terpenting.
Suku Bangsa dan Ekspres Kesukubangsaan Hari Poerwanto
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1864.278 KB) | DOI: 10.22146/jh.2046

Abstract

Jauh sebelum masa kolonial, tidak ada satu istilah kata pun yang mencakup wilayah kepulauan negara Republik Indonesia. Pada awal kedatangan Belanda untuk berdagang, kawasan ini disebut Indie atau India, yang diterjemahkan dan bahasa Inggns Indies. Serupa dengan kata tersebut, muncul pula istilah lain ialah Achter-India (Hindia-Belakang) yang berbeda dengan Voor-Indie, (Hindia Muka) atau India sekarang. Akan tetapi, sampai dengan abad XVII, sebutan Achter-Indie mencakup wilayah lebih luas dibandingkan dengan kawasan Asia Tenggara dewasa ini, yaitu ditambah Tibet di barat laut dan wilayah Cina Selatan di bagian timur-laut; termasuk seruruh wilayah di Laut Cina dan Teluk Bengali. Sampai dengan akhir abad XIX, istilah yang lazim dipakat adalah Indische Archipel atau Kepulauan Indie. Secara resmi, baru pada 1910 seluruh wilayah daerah jajahan Belanda di Indonesia disebut dengan Nederlandsch-lndie. Penduduk pribumi yang berada di sana disebut dengan Inlanders atau bumiputera.Bagi kaum nasionalis, istilah Inlanders dinilai mengandung konotasi menghina karena seolah-olah orang Jawa atau Sunda merupakan natives atau aborigines dan Negeri Belanda. Sebelum muncul kata Indonesia yang disetujui oleh kaum nasionalis, Eduard Douwes Dekker pernah mengusulkan 'Insulinde', yaitu sebagai alternatif pengganti kata Inlanders, dan sebulan tersebut juga kurang dapat diterima. Akhirnya, pada 1920-an ditemukan istilah yang dapat diterima, ialah 'Indonesia'. Seiring dengan itu, muncul juga istilah 'Nusantara".
BEBERAPA MASALAH IDENTIFIKASI DIRI ORANG CINA - INDONESIA DAN YINHUA DALAM KAITANNYA DENGAN ASIMILASI Hari Poerwanto
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1914.603 KB) | DOI: 10.22146/jh.2078

Abstract

Ada pendapat yang mengatakan bahwa mengklasifikasikan seseorangdi Indonesia sebegai orang Cina, merupakan sesuatu yang amat sukar(Skinner, 1963: 67; Suryadinata, 1986: 2); dan sebalik nya ada pula yang berpendapat bahwa hal itu bukan sesuatu yang sulit. Willmott (1961: 15) berpendapat bahwa tidak ada sedikit keraguanpun dalam mengklasifikasikan seseorang itu apakah termasuk sebagai orang Cina. Sebelum Perang Dunia II sebagian besar laki -laki Cina di Indonesia telah melakukan perkawinan dengan wanita bumiputera . Anak-anak dari hasil perkawinan campuran tersebut, hampir dapat dipastikan menjadi Cina. Keturunan mereka memiliki nama Cina dan lebih terasimilasi serta terakulturasi ke dalam keluarga Cina. Hadirnya dua pandangan yang berlawanan itu menunjukkan ada kompleksitas permasalahan yang dihadapkan kepada orang Cina di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan masalah identifikasi diri, terlebih dikaitkan dengan gagasan jika asimilasi dalam rangka integrasi nasional. Lebih lanjut Leo Suryadinata menilai bahwa masalah mengklasifikasikan apakah seseorang itu termasuk orang Cina atau bukan adalah lebih terkait pada identifikasi diri dan identifikasi sosial daripada didasarkan status kewaraanegaraan, latar belakang budaya maupun ras.