Reny Prima Gusty
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Efektivitas Pemberian Mobilisasi Dini terhadap Tonus Otot, Kekuatan Otot, dan Kemampuan Motorik Fungsional Pasien Hemiparise Paska Stroke Iskemik Reny Prima Gusty
Ners Jurnal Keperawatan Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.171 KB) | DOI: 10.25077/njk.8.1.41-48.2012

Abstract

Dampak terbanyak dari stroke adalah timbulnya kelemahan pada anggota gerak yang dapat menyebabkan  menurunnya produktivitas dan kemampuan ekonomi masyarakat. Rehabilitasi dini dibutuhkan untuk mengurangi kelemahan yang terjadi dengan  cara melakukan mobilisasi dini paska serangan stroke akut. Tujuan penelitian untuk melihat efektivitas pemberian mobilisasi dini terhadap kekuatan otot, tonus otot, kemampuan motorik fungsional pada hemiparese paska stroke  iskemik. Jenis penelitian adalah quasi eksperimen dengan rancangan pretest posttest group. Subjek penelitian ini pasien hemiparese pasca stroke iskemik yang disebar di dua kelompok yaitu kelompok pertama diberi latihan mobilisasi 2x/hari berjumlah 10 orang dan kelompok kedua  3x/hari berjumlah 10 orang. Latihan dimulai pada hari ke 2 paska serangan stroke sampai hari ke 5. Analisa menggunakan uji t berpasangan dan tidak berpasangan dengan derajat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian didapatkan adanya peningkatan pada tonus otot,kekuatan otot,kemampuan fungsional motorik pada kedua kelompok dengan masing- masing kelompok nilai  p=0,000. Didapatkan  peningkatan lebih baik pada tonus otot, kekuatan otot (bahu,siku,pergelangan tangan,paha,lutut,pergelangan kaki) dan kemampuan motorik fungsional kelompok yang mendapat terapi 3x/hari daripada 2x/hari dengan nilai kemaknaan kekuatan otot pada bahu p= 0,016;  otot siku dengan p=0,037; otot pergelangan tangan p=0,042; otot lutut p=0,004 dan otot pergelangan kaki p=0,050.  peningkatan kemampuan miring ke sisi yang sehat p= 0,000; peningkatan kemampuan telentang ke duduk  p=0,000; menjaga keseimbangan duduk  p=0,007; dan kemampuan duduk ke berdiri dengan p=0,007. Saran agar terapi latihan mobilisasi dini dijadikan sebagai intervensi keperawatan mandiri bagi perawat yang dapat dilakukan sebanyak 2x/hari maupun 3x/hari sehingga dapat membantu mempercepat masa pemulihan kelemahan dan mencegah komplikasi lanjut.
Pemberian Latihan Rentang Gerak Terhadap Fleksibilitas Sendi Anggota Gerak Bawah Pasien Fraktur Femur Terpasang Fiksasi Interna Di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Reny Prima Gusty
Ners Jurnal Keperawatan Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.262 KB) | DOI: 10.25077/njk.10.2.176-196.2014

Abstract

Gangguan fleksibilitas sendi anggota gerak bawah merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien fraktur femur pasca operasi pemasangan fiksasi interna. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan ini dintaranya adalah melakukan latihan rentang geraksendi sedini mungkin. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pemberian latihan rentang gerak terhadap kelenturan sendianggota gerak bawah pada pasien fraktur femur terpasang fiksasi interna. Rancangan penelitian menggunakanQuasy Eksperiment dengan pendekatan Posttest Only Control Group. Sampel adalah pasien fraktur femur post fiksasi interna hari ke dua sebanyak 20 responden, dibagi dalam dua kelompok yaitu 10 responden mendapat latihan rentang gerak (eksperimen) dan 10 responden melakukan latihan rentang gerak tidak sesuai aturan penelitian (kontrol). Instrument menggunakan goniometer. Perlakuan Latihan gerak dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore hari selama 5 hari dengan durasi 15 menit. Data dianalisa dengan uji statistik Mann Whitney.Hasil penelitian pada kelompok eksperimen didapatkan rata-rata kelenturan sendi setelah diberikan latihan rentang gerak yaitu fleksi sendi panggul 68,5 derajat, fleksi sendi lutut 61 derajat, dorsofleksi pergelangan kaki 12,5 derajat dan plantarfleksi pergelangan kaki 47 derajat,sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan rata-rata fleksi sendi panggul 45,5 derajat, fleksi sendi lutut 15,5 derajat, dorsofleksi  1,5 derajat dan plantarfleksi 33,5 derajat. Berdasarkan uji statistik Mann Whitney didapatkan p=0,000 <0,05 yang menunjukkanada perbedaan derajat kelenturan sendi pada kelompok eksperimen dibanding dengan kelompok kontrol. Kesimpulan lebih besar peningkatan derajat kelenturan sendi pada kelompok eksperimen dibanding dengan kelompok kontrol. Disarankan lakukan latihan gerak sendi post operasi fiksasi hari kedua (sedini mungakin) sehingga dapat mencegah terjadinya kekakuan pada sendi pada pasien fraktur femur terpasang fiksasi interna. 
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kecendrungan Turnover Perawat di Rumah Sakit Islam “Ibnu Sina” Yarsi Sumbar Bukittinggi Reny Prima Gusty; Yulastri Arief
Ners Jurnal Keperawatan Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.508 KB) | DOI: 10.25077/njk.7.2.156-160.2011

Abstract

Turnover yang tinggi merupakan masalah dalam pengelolaan sumber daya manusia di rumah sakit. Angka turnover perawat di Rumah Sakit Islam "Ibnu Sina" Yarsi Sumbar Bukittinggi tiap tahun cenderung naik, data tahun 2009 dan 2010 adalah 21,3% dan 24,3%. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kecendrungan turnover perawat di Rumah Sakit Islam "Ibnu Sina" Yarsi Sumbar Bukittinggi. Jenis penelitian ini deskriptik analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study. Sampel berjumlah 75 orang. Pengambilan data mengunakan kuesioner. Analisis data menggunakan Chi Square. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 54,7% perawat memiliki kecendrungan turnover, terdapat hubungan  antara faktor eksternal yaitu ketersediaan lapangan kerja di institusi lain dengan kecendrungan turnover (p-value 0.039) dan tidak ada hubungan antara faktor internal organisasi (ukuran organisasi, kepemimpinan, kompensasi,  kepuasan kerja, pengembangan karir, bobot pekerjaan,  sentralisasi dan faktor individu karyawan ) dengan kecendrungan turnover. Untuk mengurangi turnover perawat diperlukan  perhatian pimpinan rumah sakit dalam  kajian ulang tentang program – program yang dapat mengurangi turnover perawat antara lain perbaikan  kepemimpinan dalam keperawatan, program pengembangan karir dan upaya dalam meningkatkan kepuasan kerja perawat.
Efektifitas Terapi Senam Stroke Terhadap Perbaikan Kemampuan Fungsional Pasien Paska Stroke Reny Prima Gusty
Ners Jurnal Keperawatan Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345 KB) | DOI: 10.25077/njk.8.1.7-15.2012

Abstract

: Senam stroke merupakan terapi fisik rutin dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr M Djamil Padang guna meningkatkan kemampuan fungsional pasien paska stroke. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektifitas terapi senam stroke 2x seminggu dan 3 x seminggu selama 4 minggu guna meningkatkan kemampuan fungsional pasien pasca stroke. Rancangan penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan pendekatan non random pretest-posttest tanpa kontrol. Sampel penelitian 22 orang responden yang mengalami stroke iskemia. Instrumen pengumpulan data  adalah lembaran pengukuran kemampuan fungsional yang berpedoman pada skala Indeks Barthel. Analisa data  menggunakan uji normalitas Shapiro-wilk, uji t berpasangan dan uji mann whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi senam stroke dapat meningkatkan kemampuan fungsional pasien paska stroke dengan rerata peningkatan pada senam stroke 2x dan 3x seminggu adalah 9,636 (p=0,000) dan 10,909 (p=0,000). Akan tetapi, perbedaan peningkatan kemampuan fungsional antara kedua kelompok partisipan tersebut secara statistik tidak signifikan (p value = 0,198). Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan agar manajemen RSUP DR. M. Djamil Padang membuat panduan untuk terapi ini dalam bentuk SOP, dan frekwensi terapi senam stroke tersebut dilakukan 3x seminggu agar perbaikan optimum kemampuan fungsional dapat dirasakan oleh pasien yang mengikuti terapi ini.
Pengaruh Pelatihan Berprilaku Caring Terhadap Kemampuan Caring Mahasiswa Praktek Profesi Fakultas Keperawatan Unand di RSUP Dr.M.Djamil Padang Reny Prima Gusty
Ners Jurnal Keperawatan Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.036 KB) | DOI: 10.25077/njk.9.2.203-211.2013

Abstract

Perilaku Caring perawat menjadi jaminan akan layanan perawatan bermutu,  karena Caring merupakan  intisari  keperawatan yang mengandung arti responsive antara perawat dengan klien. Oleh sebab itu fakultas keperawatan Unand berupaya   melakukan  pelatihan caring untuk membuat mahasiswa lebih siap memberikan pelayanan  keperawatan yang berkualitas ketika praktek profesi dan menghasilkan lulusan yang siap kerja.Penelitian bertujuan  melihat  Pengaruh Pelatihan Caring terhadap kemampun caring Mahasiswa Praktek Profesi Fakultas Keperawatan Unand. Jenis penelitian Quasi Esperimen pretest posttest one group design. Subjek penelitian Mahasiswa praktek profesi di RSUP Dr M Djamil Padang  berjumlah 22 orang dan tersebar di Sembilan ruang perawatan yaitu saraf, paru, interna pria, interna wanita, high care unit (HCU), bedah wanita, bedah pria, trauma centere dan ruang pemulihan. Instrumen menggunakan queationer dengan melihat 8 kemampuan caring  yaitu mendengar klien dengan penuh perhatian, memberi rasa aman,memberi sentuhan, membina hubungan saling percaya,tanggung jawab,pemberian informasi, sensitive terhadap klien, dan menghormati klien. Mahasiswa diberi pelatihan selama 2 hari dengan metode bedside teaching. Analisa data diolah dengan menggunakan uji  Marginal Homogenity untuk melihat Pengaruh Pelatihan Caring terhadap kemampun caring Mahasiswa Praktek Profesi Fakultas Keperawatan Unand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan berprilaku caring pada mahasiswa praktek profesi Fakultas Keperawatan Unand setelah diberi pelatihan dengan nilai p=0,000. Saran Menggunakan pendekatan pelatihan caring dalam kelompok kecil lebih bisa meningkatkan kemampuan psikomotor mahasiswa di lahan praktek. Dan dapat digunakan oleh bagian profesi sebagai sarat kelulusan utama
Pengaruh Mobilisasi Dini Pasien Pasca Operasi Abdomen Terhadap Penyembuhan Luka Dan Fungsi Pernafasan Reny Prima Gusty
Ners Jurnal Keperawatan Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.808 KB) | DOI: 10.25077/njk.7.2.106-113.2011

Abstract

Luka dan nyeri akibat pembedahan luka membuat pasien malas bergerak sehingga banyak luka operasi yang mengalami keterlambatan penyembuhan serta terjadi komplikasi gangguan pernafasan. Mobilisasi dini merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat penyembuhan luka pasca bedah serta optimalnya fungsi pernafasan. Jenis penelitian ini adalah Quasi-eksperimental dengan pendekatan  posttest control group design. Tujuan penelitian  untuk mengetahui  pengaruh mobilisasi dini pasca pembedahan abdomen  terhadap penyembuhan luka operasi  abdomen dan fungsi pernafasan. Sampelnya  40 pasien pasca operasi abdomen yang dirawat diruang IRNA Bedah RSUP DR. M. Djamil Padang. Analisa menggunakan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan  penyembuhan luka dan fungsi pernafasan  pasien post operasi abdomen antara kelompok yang tidak melakukan mobilisasi dini sesuai prosedur (kontrol) dengan kelompok yang melakukan mobilisasi dini sesuai prosedur perlakuan  untuk bedah mayor dengan p = 0.000.  tidak terdapat perbedaan  pada fungsi pernafasan pasien post operasi abdomen  antara kelompok kontrol dengan perlakuan untuk bedah minor dengan p= 0,067 dan terdapat perbedaan bermakna penyembuhan luka pasien post operasi abdomen antara kelompok kontrol dengan perlakuan untuk bedah minor dengan p= 0,000.  Diharapkan RS menyediakan sarana dan prasana untuk kelancaran penyuluhan mobilisasi dini pasca pembedahan dan perawat melakukan intervensi mobilisasi dini dalam setiap pemberian asuhan keperawatan pada pasien post operasi abdomen  guna mempercepat penyembuhan luka & peningkatan fungsi pernafasan. 
Pengaruh Pelatihan Komunikasi Asertif pada Perawat Pelaksana yang Mengalami Konflik Interpersonal terhadap Kinerjanya dalam Memberikan Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Solok Reny Prima Gusty; Yulastri Arief
Ners Jurnal Keperawatan Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.84 KB) | DOI: 10.25077/njk.8.2.147-153.2012

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan komunikasi apertif pada perawata pelaksana yang mengalami konflik interpersonal terhadap kinerjanya dalam melaksanakan asuhan keperawatan di IRNA RSUD Solok. Jenis penelitian ini adalah Quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest – posttest. Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 24 orang. Konflik interpersonal diukur dengan kuesioner dan kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan diukur menggunakan lembaran observasi. Data diolah dengan menggunakan uji marginal homogenity. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kejadian konflik interpersonal dan peningkatan kinerja pada responden dengan p =0,00 ( p < 0,05 ), ini menunjukkan terdapat pengaruh dari pelatihan komunikasi asertif terhadap kinerjanya dalam memberikan asuhan keperawatan diruangan rawat inap. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk memberikan pelatihan komunkasi asertif kepada seluruh perawat sehingga perawat bisa menerapkan dilingkungan kerja sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, untuk peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian ini dengan cara lain dalam mengelola konflik organisasi. 
Efektivitas Pemberian Mobilisasi Dini terhadap Tonus Otot, Kekuatan Otot, dan Kemampuan Motorik Fungsional Pasien Hemiparise Paska Stroke Iskemik Reny Prima Gusty
Ners Jurnal Keperawatan Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.171 KB) | DOI: 10.25077/njk.8.2.%p.2012

Abstract

Dampak terbanyak dari stroke adalah timbulnya kelemahan pada anggota gerak yang dapat menyebabkan  menurunnya produktivitas dan kemampuan ekonomi masyarakat. Rehabilitasi dini dibutuhkan untuk mengurangi kelemahan yang terjadi dengan  cara melakukan mobilisasi dini paska serangan stroke akut. Tujuan penelitian untuk melihat efektivitas pemberian mobilisasi dini terhadap kekuatan otot, tonus otot, kemampuan motorik fungsional pada hemiparese paska stroke  iskemik. Jenis penelitian adalah quasi eksperimen dengan rancangan pretest posttest group. Subjek penelitian ini pasien hemiparese pasca stroke iskemik yang disebar di dua kelompok yaitu kelompok pertama diberi latihan mobilisasi 2x/hari berjumlah 10 orang dan kelompok kedua  3x/hari berjumlah 10 orang. Latihan dimulai pada hari ke 2 paska serangan stroke sampai hari ke 5. Analisa menggunakan uji t berpasangan dan tidak berpasangan dengan derajat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian didapatkan adanya peningkatan pada tonus otot,kekuatan otot,kemampuan fungsional motorik pada kedua kelompok dengan masing- masing kelompok nilai  p=0,000. Didapatkan  peningkatan lebih baik pada tonus otot, kekuatan otot (bahu,siku,pergelangan tangan,paha,lutut,pergelangan kaki) dan kemampuan motorik fungsional kelompok yang mendapat terapi 3x/hari daripada 2x/hari dengan nilai kemaknaan kekuatan otot pada bahu p= 0,016;  otot siku dengan p=0,037; otot pergelangan tangan p=0,042; otot lutut p=0,004 dan otot pergelangan kaki p=0,050.  peningkatan kemampuan miring ke sisi yang sehat p= 0,000; peningkatan kemampuan telentang ke duduk  p=0,000; menjaga keseimbangan duduk  p=0,007; dan kemampuan duduk ke berdiri dengan p=0,007. Saran agar terapi latihan mobilisasi dini dijadikan sebagai intervensi keperawatan mandiri bagi perawat yang dapat dilakukan sebanyak 2x/hari maupun 3x/hari sehingga dapat membantu mempercepat masa pemulihan kelemahan dan mencegah komplikasi lanjut.