Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : MAJALAH ILMIAH GLOBE

PEMANFAATAN GIS UNTUK REKONTRUKSI KAWASAN STRATEGIS NASIONAL TROWULAN Subagio, Habib; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.754 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.121

Abstract

Penelitian ini mengintegrasikan beberapa hasil kegiatan dan penelitian terkait surveiarkeologis di Trowulan dengan GIS. Metode yang digunakan adalah melakukan set up datadata tersebut kedalam format spasial yang memiliki referensi geografis yang sama. Berbagai aplikasi analisis baik 2D maupun 3D dilakukan untuk menunjukkan representasi keadaan Trowulan dari awal penelitian sampai saat ini, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai input bagi pengambil kebijakan dalam mengambil langkah kedepan, terkait dengan rencana usulan wilayah Trowulan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) ataupun nominasi ’world heritage’. Upaya perlindungan dan konservasi kawasan ini menjadi prioritas utama untuk mengawal Trowulan dalam rangka penetapan kawasan tersebut sebagai KSN ataupun warisan budaya nasional dan dunia. GIS dapat digunakan sebagai instrumen dalam pengelolaan data dan informasi, sekaligus sistem pemantauan terkait dengan keseluruhan properti arkeologi yang ada di kawasan tersebut.Kata Kunci: Pemetaan, GIS, Kawasan Strategis Nasional, Arkeologi.ABSTRACTThis research integrating several related research activities and results of archaeological survey in Trowulan with GIS. The method used is to set up these data into a spatial format that has the same geographic references. Various applications both 2D and 3D analysis done to show a representation of the initial state Trowulan research to date, which is expected to be used as input for policy makers in taking the next step, is associated with the proposed plan area as a National Strategic Area Trowulan (KSN) or nominee the world heritage. The protection and conservation of this region a top priority in order to escort Trowulan determination as KSN region or national and world cultural heritage. GIS can be used as an instrument in the management of data and information, as well as the overall monitoring system associated with the existing archaeological properties in the area.Key Words: Mapping, GIS, National Strategic Area, Archeology
PELUANG DAN TANTANGAN EKONOMI GEOSPASIAL DI INDONESIA Amhar, Fahmi; Karsidi, Asep; Poniman, Aris; Wijoyo, Suharto
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.719 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.90

Abstract

Salah satu dari tujuan UU No. 4/2011 tentang Informasi Geospasial adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berbasis pemerataan dan keberlanjutan. Pemerataan selain berdimensi sosio-demografis juga geografis-finansial. Dan keberlanjutan selain memperhatikan aspek ketersediaan sumber daya alam juga dampak lingkungan. Tulisan singkat ini akan membahas 3 aspek dari sekian aspek ekonomi geospasial di Indonesia. Pertama menelaah gagasan bahwa bila Informasi Geospasial Dasar (IGD) yang menjadi domain Badan Informasi Geospasial (BIG) digratiskan, maka akan terjadi dampak positif ekonomi yang cukup signifikan, dan berbagai cabang ekonomi kreatif spasial akan tumbuh subur. Kedua menelaah aspek-aspek penguatan SDM yang diperlukan untuk menunjang tumbuhnya ekonomi geospasial. Dan ketiga ide pengaturan agar masyarakat tetap mendapatkan IGDyang paling berkualitas, di tengah keterbatasan sumberdaya BIG – meski mendapat mandat UU menjadi satu-satunya penyelenggara, namun pada saat yang sama ada inisiatif baik dari pemerintah daerah, swasta maupun masyarakat.Kata Kunci : Informasi Geospasial, Ekonomi, Tarif Gratis, Pemetaan Partisipatif.ABSTRACTOne of the purposes of Law No. 4/2011 on Geospatial Information is to increase economic growth based on equity and sustainability. Equalization in addition to socio-demographic dimension is also geographically-financial. And sustainability in addition to the aspect of the availability of natural resources also impacts to the environment. This short article will discuss three aspects of the geospatial aspects of Indonesias economy. The first examines the idea that if the Base Geospatial Information (IGD) which is the domain of the Geospatial Information Agency (BIG) is free, there will be a quite significant positive economic impact, and the various branches of creative spatial economy will flourish. The second examines aspects of strengthening human resources needed to support the geospatial economic growth. And the third idea is regulating so that people still get the most qualified geospatial information, among constraints of BIG - although received a legal mandate to be the sole provider, but at the same time there is a good initiative from the local government, private and public.Keywords : Geospatial Information, Economic, Free Charge, Patisipatory Mapping.
KAJIAN DETEKSI DEGRADASI HUTAN DENGAN DATA MODIS DAN LANDSAT DALAM MEMAHAMI SKENARIO PENERAPAN REDD Widjojo, Suharto; Darmawan, Mulyanto; Poniman, Aris; Maulia, Nita; Sutanto, Ari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.025 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.95

Abstract

Dalam studi ini data multi temporal satelit Landsat resolusi spasial 30 meter periodetahun 2003, 2006 dan 2009 dan data MODIS tahun 2003 dan 2008 digunakan untuk deteksi degradasi hutan wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur. Deteksi level degradasi hutan menggunakan metode deteksi perubahan (change detection) dan analisa fragmentasi (fragmentation analysis). Kategori fragmentasi ditentukan berdasar pengelompokkan hutan dengan klas edge, perforated dan patch, sementara hutan alami dikelompokkan atas dalam hutan core pada buffer 250 sampai 500 acre. Selanjutnya dilakukan analisa faktor dasar (baseline factor) untuk memahami penerapan REDD sebagai respon terjadinya degradasi hutan. Hasil analisa data MODIS 2003-2008 menunjukkan terjadinya kecenderungan perubahan penurunan luas hutan sebesar 23,5% (7.256.931 ha). Dari 23,5% tersebut, sekitar 70,0% (5.089.851,7 ha) berupa perubahan penurunan pada hutan alami dan sekitar30,0% (2.167.079,3 ha) berupa penambahan hutan yang terkategori degradasi. Sebaliknya terjadi pula penambahan pada areal bukan hutan sekitar 30% (2.167.079,3 ha). Sementara analisa dengan data Landsat menunjukkan hasil kebalikan, yaitu selama periode 2003 – 2009 terjadi kenaikan jumlah hutan alami sebesar 3,5% (961.313 ha). Dari jumlah 3,5% tersebut, sebesar 7,8% (1.519.694 ha) berupa penambahan pada luasan hutan alami, dan berupa penurunan hutan terkategori degradasi sebesar 6,8% (558.381 ha) dan penurunan atas area bukan hutan sebesar 3,7% (961.313 ha). Adaptasi REDD pada masyarakat Kalimantan timur tersebar pada kelompok hutan terdegradasi (Patch, Perforated dan Edge). Kata Kunci: Hutan Tropis Basah, MODIS, Landsat, REDD, Hutan TerdegradasiABSTRACTSThis study used multi-temporal satellite Landsat imageries with 30-meter spatialresolution period in 2003, 2006 and 2009 and MODIS data in 2003 and 2008 for detection of forest degradation in Kalimantan region, especially East Kalimantan. Detection of degradation level was done using change detection method and fragmentation analysis. Categories were determined by grouping of forest fragmentation by class of edge, perforated and patches, while natural forests in the forest cores were grouped on the buffer 250 to 500 acres. Further analysis was conducted on baseline factors to understand the application of REDD as a response to forest degradation. Analysis result of MODIS data in 2003-2008 shows a trend of decreased forest area by 23.5% (7,256,931 ha). Of 23.5%, approximately 70.0% (11,793,319 ha) were in the form of changes to a decrease in natural forest and approximately 30.0% (4,536,388 ha) of forests are categorized addition of degradation. In contrast, there were also addition to non-forest area of about 30% (7,252,525 ha). Meanwhile, Landsat data analysis shows the opposite result. For example, during the period 2003 – 2009 there was an increase of 3.5% (961,313 ha) of natural forests. Out of the total 3.5% of these, 7.8% (1,519,694 ha) were in the form of addition to the natural forest area, and a decrease in forest degradation as many as 6.8% (558,381 ha) and a decrease of nonforest area of 3.7% (961,313 ha). Adaptation of REDD in East Kalimantan communities scattered in groups of degraded forests (Patch, Perforated and Edge).Keywords: Tropical Rain Forest, MODIS, Landsat, REDD, Degraded Forest
RISIKO BANJIR PADA LAHAN SAWAH DI SEMARANG DAN SEKITARNYA Hartini, Sri; Hadi, M. Pramono; Sudibyakto, Sudibyakto; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.572 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.218

Abstract

Lahan sawah di wilayah Semarang dan sekitarnya berada pada dataran rendah pesisir yang rawan banjir, baik yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi maupun rob. Analisis risiko banjir diperlukan karena banjir merupakan ancaman bagi lahan sawah. Banjir dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas lahan sawah, bahkan lahan sawah akan rusak dan tidak dapat ditanami padi jika tergenang banjir secara permanen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko banjir genangan pada lahan sawah berdasarkan kondisi bahaya dan kerentanannya. Lingkup penelitian mencakup analisis bahaya, kerentanan, dan risiko banjir genangan pada lahan sawah. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta Sistem Lahan, citra penginderaan jauh resolusi tinggi, data curah hujan, debit sungai, tinggi pasang air laut, data statistik Potensi Desa (PODES), data statistik pertanian dan laporan banjir. Analisis kerawanan banjir merupakan gabungan antara kerawanan banjir genangan yang disebabkan oleh hujan dan rob. Analisis kerentanan banjir menggunakan data statistik PODES 2008 dan laporan kejadian banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir genangan rob merupakan ancaman dan berisiko pada pengurangan lahan sawah di wilayah ini. Selama periode 1994 – 2009 lahan sawah telah berkurang seluas 8.508,50 ha. Sebagian lahan sawah yang tergenang rob secara permanen telah dialihfungsikan ke penggunaan lain.Kata kunci: banjir genangan, rob, sawah, risikoABSTRACTPaddy field in Semarang and its surrounding areas are situated in low-lying flood-prone coastal area, whether caused by heavy rainfall and high tide. Flood risk analysis is required because flooding in this area is considered as a threat to the paddy field. Floods can lead to reduction of the paddy fields‟ productivity, even damaging and cannot be planted with rice if flooded occurred permanently. This study aimed to analyze the risk of flood inundation in paddy fields based on hazard and vulnerability factors. The scope of the research includes analysis of hazards, vulnerabilities, and risks of flood inundation in the paddy fields. The data used in this study consisted of topographic and land systems maps, high-resolution satellite remote sensed imageries, rainfall data, river discharge, tides, and statistical data of Village Potential (PODES), statistical data of agriculture and flood reports data. The analysis of flood vulnerability is a combination of flood vulnerability caused by high rainfall and tides. The flood vulnerability analysis conducted by using PODES 2008 statistical data and flood incidencereports. The results showed that the tidal flood inundation is the main threat and provide risk on the reduction of the paddy fields in this area. During the period of 1994 – 2009, the paddy field has been reduced by 8,508.50 hectares. Some of the paddy fields that have been flooded permanently due to tides have been converted to other uses.Keywords: flood inundation, tidal flood, paddy field, risk
SURVEI CEPAT TERINTEGRASI UNTUK PEMANTAUAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGATASI BANJIR DI SUNGAI BEKASI Poniman, Aris; Hartini, Sri; Suprajaka, Suprajaka; Nugratama, Sony
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.868 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.72

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode survei penginderaan jauh geografis secara cepat danterintegrasi untuk pemantauan dan pengambilan keputusan dalam mengatasi bencana banjir. Lokasi penelitiandifokuskan di sepanjang Sungai Bekasi sampai Sungai Cikeas sebagai bagian dari DAS Bekasi. Peta Rupabumi danpeta citra penginderaan jauh tegak multi resolusi digunakan sebagai informasi geospasial utama, dilengkapi dengansurvei lapangan meliputi susur sungai menggunakan perahu karet dan survei darat serta wawancara denganpenduduk di sekitar bantaran sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sepanjang bantaran Sungai Bekasi diDAS Hilir dan Sungai Cikeas di DAS Tengah dan Hulu telah banyak digunakan untuk berbagai penggunaan lahan,yaitu permukiman, kawasan industri, pemakaman, lapangan golf, gedung perkantoran, rumah sakit, dan fasilitasumum lainnya. Dengan semakin berkurangnya lahan bervegetasi di wilayah DAS Hulu dan Tengah, memperbesaraliran permukaan, dan berakibat seringnya terjadi banjir di sepanjang sempadan sungai Bekasi Bagian Hilir.Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Multi Resolusi, Banjir, Survei Cepat Terintegrasi, Pengambilan Keputusan.ABSTRACTThis research aims to apply a method of integrated geographic remote sensing rapid survey for flood disastermonitoring and decision making in order to find a solution in the case of flood occurence. The research sites had beenfocused along the Bekasi River to Cikeas River. Topographic maps and remote sensing imagery map at small andlarge scales were used as the primary geospatial information, and supplemented by field surveys along the river usingrubber boats, land cover/ land use surveys and interviews around the riverbanks. The results showed that the floodplains along rivers in the lower watershed of Bekasi and Cikeas in the middle and upper watershed has been widelyused for a variety of land uses, such as settlements, industrial areas, cemeteries, golf courses, office buildings, andother public facilities. The decreasing amount of vegetated land in the upper and middle watershed resulted inincreasing of run off and more frequent flooding along the river banks down stream of Bekasi River.Keywords: Remote Sensing, Multi Resolution, Flood, Rapid Integrated Survey, Decision Making.
PERSEPSI PETANI TERHADAP BANJIR DI LAHAN SAWAH: STUDI KASUS DI KABUPATEN KENDAL DAN KABUPATEN DEMAK, PROVINSI JAWA TENGAH Hartini, Sri; Hadi, M Pramono; Sudibyakto, Sudibyakto; Poniman, Aris
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.465 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.134

Abstract

Ancaman banjir pada lahan sawah dapat menyebabkan berkurangnya luas panen dan produksi beras. Banjir genangan di wilayah pantura Jawa Tengah ini disebabkan oleh tingginya curah hujan dan/atau pasang air laut (rob). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi petani terhadap banjir genangan pada lahan sawah. Persepsi masyarakat petani yang digali mencakup persepsi mengenai kejadian banjir pada lahan sawah baik yang disebabkan karena hujan atau rob, atau gabungan antara keduanya, dan dampaknya terhadap produksi padi. Persepsi petani merupakan dasar perilaku adaptasi yang dilakukan petani. Adaptasi mencakup segala usaha yang dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi risiko, dari risiko pengurangan produksi padi hingga hilangnya seluruh lahan sawah karena tergenang secara permanen. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara, dengan sampel terpilih dan terbatas pada petani di wilayah yang terkena banjir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa petani di wilayah penelitian telah melakukan adaptasi guna mengurangi risiko kerugian karena banjir sesuai dengan persepsi dan kapasitasnya yang diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur penahan banjir dan/atau modifikasi bentuk pola tanam.Kata Kunci: Sawah, Banjir Genangan, Persepsi ABSTRACTFlood inundation over the paddy field threatens the rice production by degrading the harvest area and rice production. Flood inundation in the area of study occurs due to high rainfall and/or sea water tide. This research aims to study farmers’ perception towards the flood inundation over the paddy field. Farmers’ perception investigated includes perception towards the occurrences of flood inundation resulted from rainfall and/or sea water tide and the impact to the rice production. The farmers’ perception is the based of farmers adaptation behaviour. Meanwhile, the adaptation investigated includes any efforts that have been carried out to reduce the risks, from the reduction of rice production into the lost of paddy field due permanent inundation. This research carried out by doing field observation and interview, with sample selected purposively inclusively to farmers in the flooded area. The result shows that the farmers have been performed adaptation based on their perception and capacity by building flood control and modification of crop calendars.Keyword: Paddy Field, Flood Inundation, Perception