Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Role of Communication in Mount Kelud Eruption Disaster Management Program (Case Study in Ngantru Village, Ngantang District, Malang) Inggrida, Jedda Ayu; Sukesi, Keppi; Cahyono, Edi Dwi
HABITAT Vol 28, No 2 (2017)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.246 KB) | DOI: 10.21776/ub.habitat.2017.028.2.7

Abstract

Mount Kelud erupted on February 13, 2014 causing severe damage to public and private facilities in 8 villages in Ngantang, a district in Malang. Post-eruption, the social system was severely damaged, while the local society attempted to survive the disaster. This study aimed to analyze the role of communication in disaster management assisted by the existence of social capital in the aspect of cultivation of crops and agricultural infrastructure. The method used was descriptive qualitative supported by scoring data. Thfindings revealed that the role of communication was to bridge the gap in every aspect of social capital. Besides that, communication functioned as a liaison from every aspect of social capital that was used as disaster management during Mount Kelud eruption The type of communication used was interpersonal communication, where members shared activities and information face-to-face or face-to-face activities on disaster management in Mount Kelud.
"Decision to Migrate" of Female Migrant Workers in Sendang Biru, Malang Regency Keppi Sukesi; Henny Rosalinda; Yahya; Wahyu Handayani; Jedda Ayu Inggrida; Elok Anggraini; Rany Purnama Hadi; Rozaila Farcha
Salasika Vol 5 No 2 (2022): Salasika (Indonesian Journal of Gender, Women, Child, and Social Inclusion's Stud
Publisher : Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender & Anak Indonesia (ASWGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36625/sj.v5i2.111

Abstract

This paper aims to analyse the decision to migrate among the female villagers in a fishery village in East Java, Indonesia. Based on data from BP2MI, until November 2021, Malang Regency is a pocket for Indonesian female migrant workers. However, in Sendang Biru Hamlet, Tambakrejo Village, Sumbemanjing Wetan District, Malang Regency, East Java Province, only a few women choose to migrate. Using the mixed methods of quantitative and qualitative approaches, this study investigated the causes of international migration of women in the village. The quantitative data are derived from 204 household surveys while the qualitative data are analysed using the interview transcripts from semi-structured interviews with 21 current Indonesian female migrant workers and their left-behind families. The study has arrived at some interpretative points that the Sendang Biru Hamlet is a unique coastal area with specific community characteristics where women were given more access and opportunities in a productive public area by utilizing coastal resources as the main economic income. Therefore, migration is not the only favoured option for the female villagers to improve the living standard.
ANALISIS PENGETAHUAN PETANI TERHADAP INOVASI SOLAR DRYER PADA KLASTER BIOFARMAKA KOMODITAS KUNYIT (STUDI DI DESA TAROKAN KABUPATEN KEDIRI) Jedda Ayu Inggrida; Augi Ahmad; Della Afdhila Sari; Remigo Hera Yolando Chamdjoko
JURNAL AGRIMENT Vol 8 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/jurnalagriment.v8i1.2441

Abstract

Biofarmasi termasuk dalam produk obat yang diolah secara tradisional maupun modern yang berasal dari bahan alam seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, salah satunya adalah kunyit yang merupakan tanaman rempah-rempah yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku obat. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pengumpulan data primer dan sekunder dimana data primer diperoleh langsung dari informan dengan menggunakan wawancara terpimpin dan observasi. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan bahwa Desa Tarokan telah menghasilkan 10-tonbiofarmaka dalam satu kali masa panen. Data tingkat pengetahuan responden dianalisis dengan menggunakan skala Likertdengan menggunakan sistem skoring. Hasil menunjukkan bahwa skor lapang pada pengetahuan dan adopsi berada pada kategori sedang, hasil menjelaskan bahwa kebanyakan petani mengetahui inovasi solar dryer dari sistematika pembuatan solar dryeritu sendiri sampai proses pengeringannya, akan tetapi dalam proses adopsi inovasi tersebut minim dikarenakan dalam pembuatan alatnya sendiri yang tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan petani.Untuk proses adopsi masuk ke dalam tahapan trial atau uji coba dan belum sepenuhnya masuk ke dalam tahap adopsi.
Rural Social Capital in Organic Farmer Institutions in Rice Organic Farming Jedda Ayu Inggrida; Fadli Mulyadi; Septian Maulana Purnama
HABITAT Vol. 34 No. 2 (2023): August
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.habitat.2023.034.2.17

Abstract

Social capital is one of the seven fundamental capitals provided to groups or communities. Social capital is used to facilitate interpersonal interactions within a community or group. But nonetheless, only a small number of particular farmer groups, like the Sekar Putih Farming Group, have adopted organic farming methods to produce organic rice. One of the innovators and leaders in the production of organic rice is the Sekar Putih Farmer Group, who interpret the need for cohesiveness in interpersonal relationships. In theory, farmer groups are created because of the members' shared vision, mission, and goals as well as their shared work, which upholds the group's cohesiveness. 25 farmers were used as respondents with data collection using interview techniques, quantitative descriptive and scoring as data analysis methods. The results obtained are the formation of dynamics in farmer institutions, 37% of members have experienced conflicts but conflicts make the group more developed and conflicts can be controlled through equal empowerment. Social capital owned by the group has a high score, bonding social capital shows the togetherness of farmers in every cultivation process carried out and the distribution of information evenly to all group members. For bridging, it is shown by the number of training and empowerment programs that are often held and the Sekar Putih Group gets the opportunity to improve hard and soft skills in the cultivation process and information on market opportunities. In linking social capital, there is high trust in the acquisition of information related to fertilizers, pesticides and markets, this is inseparable from the communication that occurs among group members, both individually and in groups, relationships and interactions that are established can provide many positive sides.
Pengembangan Ekonomi Petani Bunga Rosella Dalam Peningkatan Pemasaran Produk Olahan Rosella Kecamatan Semen Dwi Retno Adriani; Fadli Mulyadi; Jedda Ayu Inggrida; Aulia Nadhirah; Septian Maulana Purnama; Wuwun Risvita
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 4 (2023): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i4.10711

Abstract

Industri makanan dan minuman merupakan industri hilir dari sektor pertanian yang berpeluang menyerap tenaga kerja dan pemakaian produk dalam negeri, salah satunya adalah tanaman bunga rosella memiliki potensi besar menjadi bahan baku inovasi dalam industri makanan dan minuman. Salah satu sentra produksi bunga rosella berada di Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, yang mana umumnya rosella hanya dipasarkan dalam bentuk bunga kering dan kurang memiliki diversifikasi produk. Selain itu terbatasnya pengetahuan, keterampilan dan fasilitas produksi menyebabkan kelompok tani tidak memiliki motivasi dalam mengembangkan produk olahan bunga rosella. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat akan memberikan pelatihan manajemen usaha dan pendampingan usaha kepada kelompok tani dengan tujuan meningkatkan nilai jual bunga rosella serta meningkatkan nila jual melalui diversifikasi produk berupa minuman siap konsumsi dan tea bag siap seduh. Hasil kegiatan lain adalah memperoleh izin usaha dan pengembangan pelatihan terkait promosi serta pemasaran produk olahan bunga rosella baik secara offline maupun online dengan membuat e-commerce pada situs-situs penjualan.
ANALISIS PENGETAHUAN PETANI TERHADAP INOVASI SOLAR DRYER PADA KLASTER BIOFARMAKA KOMODITAS KUNYIT (STUDI DI DESA TAROKAN KABUPATEN KEDIRI) Jedda Ayu Inggrida; Augi Ahmad; Della Afdhila Sari; Remigo Hera Yolando Chamdjoko
JURNAL AGRIMENT Vol. 8 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/jurnalagriment.v8i1.2441

Abstract

Biofarmasi termasuk dalam produk obat yang diolah secara tradisional maupun modern yang berasal dari bahan alam seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, salah satunya adalah kunyit yang merupakan tanaman rempah-rempah yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku obat. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pengumpulan data primer dan sekunder dimana data primer diperoleh langsung dari informan dengan menggunakan wawancara terpimpin dan observasi. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan bahwa Desa Tarokan telah menghasilkan 10-tonbiofarmaka dalam satu kali masa panen. Data tingkat pengetahuan responden dianalisis dengan menggunakan skala Likertdengan menggunakan sistem skoring. Hasil menunjukkan bahwa skor lapang pada pengetahuan dan adopsi berada pada kategori sedang, hasil menjelaskan bahwa kebanyakan petani mengetahui inovasi solar dryer dari sistematika pembuatan solar dryeritu sendiri sampai proses pengeringannya, akan tetapi dalam proses adopsi inovasi tersebut minim dikarenakan dalam pembuatan alatnya sendiri yang tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan petani.Untuk proses adopsi masuk ke dalam tahapan trial atau uji coba dan belum sepenuhnya masuk ke dalam tahap adopsi.