Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Manajemen Gizi Remaja di Sekolah Menengah Pertama Setia Budi Semarang Rahayu Winarti; Tamrin Tamrin
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 2 No 4 (2020): Jurnal Peduli Masyarakat, Desember 2020
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v2i4.376

Abstract

Remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Siswa sekolah menengah pertama biasanya berusia 13 – 15 tahun sehingga masuk dalam kategori remaja. Pada remaja yang sering mengkonsumsi makanan cepat saji biasanya mengalami overweight atau obesitas. Remaja yang mengalami obesitas cenderung menjadi bahan ejekan teman sebaya sehingga menimbulkan dampak gangguan psikososial seperti menarik diri dari lingkungan, deskriminasi atau tidak dilibatkan dalam kegiatan sekolah dan menyebabkan gangguan kesehatan fisik seperti gangguan ortopedik dan penyakit degeneratif yang menahun. Siswa SMP Setiabudi didapatkan data sering jajan di luar rumah yaitu jajanan cepat saji di sekitar sekolah misalnya mie instan, sosis dan fried chicken, karena terburu – buru tidak sarapan pagi atau bosan dengan menu yang disediakan di rumah. Tujuan dari kegiatan PKM ini adalah siswa mengetahui tentang makanan yang sehat dan bergizi serta manfaatnya bagi tubuh, meningkatkan perilaku siswa sekolah mengkonsumsi makanan sehat, dan mengetahui cara mengukur status gizi. Kegiatan Pengabdian ini dilakukan pada Siswa SMP Setia Budi kelas IX dengan jumlah 132 siswa, dengan memberikan penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah, tanya jawab dengan menggunakan media presentasi power point dan dikombinasi dengan menggunakan poster, diskusi, demonstrasi dan simulasi. Pendidikan kesehatan yang diberikan adalah tentang gizi seimbang pada remaja dengan mengkonsumsi makanan yang sehat sehingga mencegah terjadinya gizi lebih pada remaja, mengajarkan cara menghitung Indeks massa tubuh. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner, pengukur berat badan dan pengukur tinggi badan. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah setelah diberikan penyuluhan kesehatan pengetahuan siswa meningkat tentang makanan sehat dan bergizi, kesadaran untuk mengurangi mengkonsumsi makanan cepat saji, dan diketahui hasil pengukuran indeks massa tubuh terdapat 17% siswa yang mengalami obesitas.
Mengabdi Bersama Menuju Masyarakat Sehat Rahayu Winarti
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Peduli Masyarakat, Maret 2021
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v3i1.407

Abstract

Kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan dengan baik apabila didukung oleh peran serta masyarakat. Upaya kesehatan dapat dilaksanakan secara mandiri dan optimal untuk meningkatkan fungsi kehidupan dengan mengutamakan upaya peningkatan kesehatan, pencegahan secara berkesinambungan dengan tetap memperhatikan upaya pengobatan dan rehabilitasi. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman serta ketrampilan masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialaminya, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya komplikasi penyakit degeneratif dan pemeriksaan kesehatan untuk penyakit tidak menular terutama pada lansia. Kegiatan dilaksanakan kurang lebih selama 6 bulan dengan peserta yaitu kader posyandu kelurahan kedungpane dan warga masyarakat khususnya di RW 5. Metode kegiatan yang dilaksanakan adalah (1)Metode ceramah dengan sesi tanya jawab menggunakan media presentasi power point tentang penyakit degeneratif yaitu hipertensi, asam urat, gula darah dan kolesterol, (2)Mendemontrasikan cara pengukuran tekanan darah ke kader posyandu lansia (3)Melakukan pemeriksaan kesehatan gratis dan pendidikan kesehatan yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, asam urat, gula darah dan kolesterol secara gratis. Hasil Pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya kemandirian dan kesadaran masyarakat tentang bahaya komplikasi penyakit degeneratif melalui deteksi dini, skrining dan meningkatnya kemampuan kader posyandu lansia dalam melakukan pemeriksaan pengukuran tekanan darah . Warga yang hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan pemeriksaan gratis adalah 70 orang. Hasil kegiatan deteksi dini yaitu terdapat 50 orang yang tercatat mengalami hipertensi, 30 orang tercatat mengalami hipertensi dengan asam urat., 20 orang mengalami hipertensi dengan gula darah tinggi dan 20 orang mengalami peningkatan kolesterol.
HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RUANG BAITUL IZZAH I RSI SULTAN AGUNG Nur Azizah Magfiroh; Rahayu Winarti; Endang Supriyati
Journal of Nursing and Health Vol. 8 No. 2 (2023): Journal of Nursing and Health
Publisher : Yakpermas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52488/jnh.v8i2.250

Abstract

Pendahuluan Pentingnya mutu pelayanan pada pasien di rumah sakit adalah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan yang didalamnya terdiri dari pemeriksaan, perawatan informasi, laboratorium dan pelayanan rekam medis sehingga kepuasan terpenuhi. Didapatkan hasil bahwa masih ada pasien yang menyampaikan terkait dengan tentang daya tanggap (respon) yang terlambat dari perawat, kurang ramahnya perlakuan perawat terhadap pasien, dan mengeluh terhadap dekorasi ruangan, maka dilakukan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan mutu pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien di ruang Baitul Izzah I RSI Sultan Agung Semarang.  Metode : Jenis penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 85 responden. Dengan kriteria inklusi pasien yang bisa membaca dan menulis, pasien dengan lama perawatan 3-6 hari, dan pasien baru masuk rumah sakit dan pertama kali dirawat di rumah sakit. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan di analisa menggunakan uji rank spearman. Hasil : Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara mutu pelayanan dalam dimensi berwujud (tangible) dengan tingkat kepuasan pasien p value 0,000 dengan nilai rho 0,401, kehandalan (reliability) dengan tingkat kepuasan pasien p value 0,000 dengan nilai rho 0,377, daya tanggap (responsiveness) dengan tingkat kepuasan pasien dengan nilai p value 0,000 dengan nilai rho 0,400, jaminan (assurance) dengan tingkat kepuasan pasien dengan p value 0,000 dengan nilai rho 0,393,  dan empati (emphaty) dengan tingkat kepuasan pasien dengan nilai p value 0,000 dengan nilai rho 0,380. Kesimpulan : Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada hubungan mutu pelayanan keperawatan dengan tingkat kepuasan pasien di Ruang Baitul Izzah I RSI Sultan Agung Semarang. Kata Kunci : Mutu Pelayanan, Kepuasan Pasien
PENGARUH PENERAPAN PERENCANAAN PASIEN PULANG TERHADAP KEPUASAN DI RUMAH SAKIT UNGARAN Rahayu Winarti; Niken Sukesi
Journal of Nursing and Health Vol. 8 No. 3 (2023): Journal of Nursing and Health
Publisher : Yakpermas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52488/jnh.v8i3.306

Abstract

Pendahuluan Pelayanan Kesehatan yang baik terhadap pasien, salah satu indikatornya adalah kepuasan pasien. Pelayanan penting yang dapat menjadi faktor penentu kepuasan pasien adalah pelayanan persiapan pemulangan. Manajemen Perencanaan Pasien Pulang (Discharge Planning) akan menghasilkan sebuah hubungan yang terintegrasi yaitu antara keperawatan yang diterima pada waktu di rumah sakit dengan keperawatan yang diberikan setelah pasien pulang. Kegagalan untuk memberikan dan mendokumentasikan perencanaan pulang akan beresiko terhadap beratnya penyakit, ancaman hidup, dan disfungsi fisik. Dalam perencanaan pulang diperlukan komunikasi yang baik terarah, sehingga apa yang disampaikan dapat dimengerti dan berguna untuk keperawatan di rumah. Tujuan Penelitian adalah mengidentifikasi pengaruh intervensi manajemen perencanaan pasien pulang pada kepuasan pasien. Metode jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan quasi eksperimen design dengan rancangan penelitian one-group pre test-post test design without control dengan consecutif sampling. Analisis data univariat berbentuk distribusi frekuensi karakteristik responden yatu usia, jenis kelamin, tingkat Pendidikan dan pekerjaan. Sedangkan analisis bivariat menggunakan Uji T Independent. Hasil penelitian menunjukkan hasil uji t efektifitas discharge planning dengan tingkat kepuasan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran dengan nilai asymp.sig sebesar 0,000, nilai ini lebih kecil dari nilai signifikan 0,05 artinya terdapat pengaruh penerapan discharge planning terhadap kepuasan pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat kepuasan pasien sebelum discharge planning tidak puas 11 orang (36,6%) dan puas 19 orang (63,4%) dan tingkat kepuasan pasien setelah discharge planning meningkat menjadi 26 orang (87 %) dan ketidakpuasan berkurang menjadi 4 orang (13 % ) Kata Kunci: Kepuasan Pasien, Perencanaan Pasien Pulang
Penerapan Terapi Ankle Pump Exercise Dengan Elevasi Kaki 30 Derajat terhadap Derajat Edema pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rs Roemani Muhammadiyah Semarang Siti Kurniatun; Rahayu Winarti
Journal of Medical Practice and Research Vol 2 No 1 (2026): June: Essentia: Journal of Medical Practice and Research
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/ybk1xg52

Abstract

Chronic kidney disease is frequently associated with fluid imbalance leading to peripheral edema, which negatively affects patient comfort and functional capacity. This study aimed to evaluate the effectiveness of ankle pump exercise combined with 30° leg elevation in reducing edema severity among patients undergoing hemodialysis. An empirical case study design with a one group pretest–posttest approach was applied to five patients diagnosed with chronic kidney disease and lower extremity edema at Roemani Muhammadiyah Hospital, Semarang. Data were collected through structured clinical observation using standardized edema grading before and after a three-day intervention protocol consisting of dorsiflexion and plantarflexion movements followed by leg elevation. The findings demonstrated a consistent reduction in edema degree across all participants, with clinical improvement observed both in measurement scale and categorical severity. The results suggest that the intervention facilitates venous return and reduces interstitial fluid accumulation through mechanical and gravitational mechanisms. This study highlights the clinical relevance of simple, non-pharmacological interventions as supportive strategies in managing edema among chronic kidney disease patients.
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Peningkatan Tekanan Darah pada Pasien Pre Fiber Optik Bronchoscopy (FOB) di RSP DR. ARIO WIRAWAN SALATIGA Rahayu Winarti; Fitrianingsih Fitrianingsih
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v8i2.657

Abstract

Background: FOB supporting survey is an interrogation option to establish the diagnosis and as a therapeutic in pulmonology medicine. Excessive anxiety and increased blood pressure became one of the obstacles to his examination. The study aims to determine the relationship between anxiety levels and increased blood pressure of Pre-Fiber Optic Bronchoscopy patients at RSP dr. Ario Wirawan Salatiga City. Method: This research is Correlative Descriptive Research using quantitative methods with a cross-sectional approach and observational approach to 32 respondents. This research used Non Probalility Sampling Technique with Consecutive sampling approach. The research instrument used Hamiltons Anxiety Rating Scale (HARS). Bivariate analysis of the Spearman Rank correlation test used in this research. Results: The majority of respondents had anxiety as much as 17 (53.1%). Increased blood pressure occurred in 18 respondents (56.25%). The results of the Spearman p value rank correlation test is 0.000 with a correlation of 0.953 mean that there is a very strong correlation with the direction of a positive relationship between anxiety levels and increased blood pressure of pre-FOB patients at IBS RSPAW Salatiga. Conclusion: There is a significant relationship between Anxiety Levels and Increased Blood Pressure of pre-FOB patients at IBS RSPAW Salatiga so that the higher the level of anxiety, the increase in blood pressure will occur.
Pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Terhadap Tingkat Kualitas Tidur Pasien Chronic Kidney Disease di Ruang Hemodialisa RSD KRMT Wongsonegoro Semarang Septa Dwi Ariyanti; Rahayu Winarti; Menik Kustriyani
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.22459

Abstract

ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) is a significant global health challenge, often leading to various complications, including sleep disorders, which can seriously impact patients' quality of life. Hemodialysis, a life-sustaining treatment for end-stage CKD, itself contributes to sleep problems in 50-80% of patients. These sleep problems include quantitative and qualitative aspects, such as sleep duration, sleep latency, sleep efficiency, and general sleep disturbances, which cause discomfort and affect daily activities. The prevalence of PGK in Indonesia is quite high, with a large number of patients undergoing routine hemodialysis treatment (2-3 times a week for 3-4 hours). Addressing sleep disorders in CKD patients undergoing hemodialysis is very important. Non-pharmacological interventions are often preferred to avoid the dependence associated with long-term medication use. Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) has emerged as a promising non-drug treatment that combines energy medicine with spiritual elements, such as tapping on specific meridian points and prayer. SEFT aims to improve sleep quality by promoting relaxation, reducing anxiety, and balancing the body's energy flow. This technique involves three main steps: Set-Up, Tune-In, and Tapping. The Set-Up phase neutralizes negative thoughts, the Tune-In phase focuses on discomfort with sincere prayer, and the Tapping phase involves light tapping on 18 major meridian points to stimulate energy flow and induce relaxation. This process can stimulate the pituitary gland to release endorphins, which produce a calming effect and feelings of happiness. A quantitative research design with a one-group pre-test post-test approach was used to evaluate the effectiveness of SEFT. A total of 88 hemodialysis patients at RSD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang were recruited using purposive sampling. Sleep quality data were collected using PSQI, an instrument with validated reliability and sensitivity. Statistical analysis using the Wilcoxon test showed that 0 respondents (0%) had negative ranks, meaning there was no decrease from pre-test to post-test, while 53 respondents (27%) had positive ranks, meaning there was an increase from pre-test to post-test. It was also found that there were 35 respondents with tied values (equality) who did not experience an increase or decrease in sleep quality after receiving SEFT therapy. The sign p-value = 0.000 or p 0.05, so 0.000 α (0.05), meaning that Ho was rejected and Ha was accepted, indicating that there was an impact of SEFT therapy on sleep quality in CKD patients. These findings support the hypothesis that SEFT can effectively improve sleep quality in CKD patients undergoing hemodialysis by increasing relaxation, calmness, and reducing sleep disturbances. This study concludes that SEFT is an effective non-pharmacological intervention to improve sleep quality in this patient population, although professional implementation is crucial for optimal results. Keywords : Renal Failure, Hemodialysis, SEFT Therapy, Sleep Quality. ABSTRAK   Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan tantangan kesehatan global yang signifikan, seringkali menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan tidur, yang dapat berdampak serius pada kualitas hidup pasien. Hemodialisis, suatu perawatan penunjang kehidupan untuk CKD stadium akhir, sendiri berkontribusi terhadap masalah tidur pada 50-80% pasien. Masalah tidur ini mencakup aspek kuantitatif dan kualitatif, seperti durasi tidur, latensi tidur, efisiensi tidur, dan gangguan tidur secara umum, yang menyebabkan ketidaknyamanan dan memengaruhi aktivitas sehari-hari. Prevalensi PGK di Indonesia cukup tinggi, dengan sejumlah besar pasien menjalani perawatan hemodialisis rutin (2-3 kali seminggu selama 3-4 jam). Mengatasi gangguan tidur pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis sangatlah penting. Intervensi nonfarmakologis seringkali lebih disukai untuk menghindari ketergantungan yang terkait dengan penggunaan obat jangka panjang. Teknik Kebebasan Emosional Spiritual (SEFT) muncul sebagai pengobatan non-obat yang menjanjikan yang menggabungkan pengobatan energi dengan unsur-unsur spiritual, seperti tapping pada titik meridian tertentu dan doa. SEFT bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur dengan mendorong relaksasi, mengurangi kecemasan, dan menyeimbangkan aliran energi tubuh. Teknik ini melibatkan tiga langkah utama: Set-Up, Tune-In, dan Tapping. Fase Set-Up menetralkan pikiran negatif, fase Tune-In berfokus pada ketidaknyamanan dengan doa yang tulus, dan fase Tapping melibatkan tapping ringan pada 18 titik meridian utama untuk merangsang aliran energi dan menimbulkan relaksasi. Proses ini dapat merangsang kelenjar pituitari untuk melepaskan endorfin, yang menghasilkan efek menenangkan dan perasaan bahagia. Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan one-group pre-test post-test untuk mengevaluasi efektivitas SEFT. Sebanyak 88 pasien hemodialisis di RSD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang direkrut menggunakan purposive sampling. Data kualitas tidur dikumpulkan menggunakan PSQI, sebuah instrumen yang tervalidasi reliabilitas dan sensitivitasnya. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa negatif ranks 0 responden (0%) yaitu tidak terdapat penurunan pre test ke post test, diketahui juga bahwa positif ranks 53 responden (27%) yaitu ada peningkatan pre test ke post test. Diketahui juga ada ties nilai (persamaan) 35 responden yang tidak mengalami peningkatan atau penurunan tingkat kualitas tidur setelah diberikan terapi SEFT. Nilai sign p-value = 0,000 atau p 0,05 sehingga 0,000 α (0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada dampak antara terapi SEFT pada kualitas tidur pada pasien CKD. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa SEFT dapat secara efektif meningkatkan kualitas tidur pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis dengan meningkatkan relaksasi, ketenangan, dan mengurangi gangguan tidur. Studi ini menyimpulkan bahwa SEFT merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk meningkatkan kualitas tidur pada populasi pasien ini, meskipun implementasi profesional sangat penting untuk hasil yang optimal. Kata Kunci:  Chronic Kidney Disease (CKD), Hemodialisa, Terapi SEFT, Kualitas Tidur.
Pelatihan Manajemen Stres pada Penderita Penyakit Kronis di Kelurahan Beringin Semarang Rahayu Winarti; Machfud Saifudin; Meirita Pranawati; Raidha Febria Handayani; Wahyu Griyaningsih; Tri Dian Herlambang Sakti; Niken Sukesi; Wahyuningsih Wahyuningsih
Compromise Journal Community Proffesional Service Journal Vol. 1 No. 4 (2023): Compromise Journal : Community Proffesional Service Journal
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/compromisejournal.v1i4.154

Abstract

Stress can worsen disease and reduce quality of life in patients with chronic diseases. This is because a chronic illness that is suffered for a long time will disrupt all aspects of life, including financial problems, career, role disorders, and including psychosocial problems. The aim of this community service is to increase the knowledge and abilities of chronic disease sufferers regarding stress management through training activities.The results of a preliminary study through interviews with cadres, residents and community health center officers show that mental health services are not yet optimal, especially for people with chronic illnesses. People, especially those suffering from chronic diseases, do not yet know about stress management techniques and there is no special program from the Community Health Center for health services for patients experiencing psychosocial problems. Health services are only provided to patients with serious mental disorders. The activity method used to overcome the problem is 1) Education through counseling to community groups suffering from chronic diseases and about psychosocial problems such as stress and ways to reduce and overcome it. 2) Training and Demonstration, after being given education through partner counseling, demonstrations of deep breathing and muscle relaxation are given. 3) Evaluation to determine the extent of the program's success and to ensure the sustainability of the program. Evaluation activities will be carried out using instruments to measure the partner's level of knowledge and skills. Activities continued with consolidation with the community health center and village government for the sustainability of the mental health service program, including the psychosocial early detection program.The results of the education were that participants' knowledge about stress management increased by almost 95%, participants were able to carry out deep breathing and progressive muscle relaxation techniques independently and stated their attitude that they would apply them at home.
Penerapan Terapi Benson untuk Mengurangi Nyeri pada Pasien Post Operasi Fraktur di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan Indah Permata Sari; Dwi Retnaningsih; Rahayu Winarti
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i4.882

Abstract

Post-fracture surgery patients generally experience acute pain due to damage to bone, muscle, and soft tissue affected by surgical trauma. Untreated pain can cause mobility disorders, anxiety, and even slow the healing process. Pain management can be carried out pharmacologically and non-pharmacologically. One effective non-pharmacological intervention is Benson relaxation therapy, a breathing relaxation technique combined with elements of belief or positive affirmations to create a sense of calm and comfort. The purpose of this case study is to determine the application of Benson relaxation therapy in reducing pain in post-fracture surgery patients at Kajen Regional Hospital, Pekalongan Regency. The method used is a descriptive case study approach, involving four post-fracture surgery patients who experienced pain with a scale of 4–6 (moderate pain). The instruments used include the Benson relaxation SOP, a Numeric Rating Scale (NRS) pain observation sheet, and a respondent consent form (informed consent). This case study was conducted in the inpatient ward of Kajen Regional Hospital, Pekalongan Regency, from September 8–13, 2025. Results showed a decrease in the average pain scale from 4–6 to 2–4 after 15 minutes of Benson relaxation therapy. Conclusion: Benson relaxation therapy effectively reduces pain intensity in post-fracture surgery patients and can be recommended as a non-pharmacological intervention in pain management in the ward.  
Pengaruh Health Education Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) terhadap Pengetahuan dan Praktik Deteksi Dini Kanker Payudara di PP Darul Amanah Sukorejo Kendal Risjcha bunga winata; Rahayu Winarti
The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research Vol. 4 No. 1 (2026): The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/tjghpsr.v4i1.1032

Abstract

Breast cancer is one of the diseases with the highest incidence rates among women and can cause death if not detected early. Breast self-examination (SADARI) is a simple method for detecting breast abnormalities early on. However, the knowledge and practice of breast self-examination (SADARI) among adolescent girls are still low. The purpose of this research is to determine the effect of health education on breast self-examination (BSE) on the knowledge and practice of early breast cancer detection at Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo Kendal. Quantitative research method with a quasi-experimental design and a one group pretest-posttest design. A sample of 50 respondents with total sampling. Ethics test no: 03/EC-LPPM/UWHS/I-2026. Data analysis used the Wilcoxon test. The results showed that there is an influence of health education on knowledge with a p-value of 0.001 and on the practice of early breast cancer detection with a p-value of 0.001. It can be concluded that health education can enhance the awareness, understanding, and ability of adolescents to perform breast self-examination (SADARI) independently as an early detection effort for breast cancer, making it important to continue this practice sustainably.