Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP ANGGOTA KELUARGA DENGAN TUBERKULOSIS (TBC) DI PUSKESMAS LORULUN KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR Alberthina L Putuhena; Yowan Embuai; Selpina Embuai
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 4, No 3 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v4i3.971

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di tingkat global, nasional, regional maupun lokal. Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tertinggi dengan menjadi 10 penyakit mematikan di dunia. Tuberkulosis (TBC) paru merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru dan hampir seluruh organ tubuh lainnya. Untuk Kabupaten Kepulauan Tanimbar Tahun 2014-2016, jumlah kasus tuberkulosis (TBC) Tahun 2014 Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebanyak 153 kasus, Tahun 2015 sebanyak 130 kasus, dan pada Tahun 2016 ada peningkatan kasus yaitu sebesar 173 kasus. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bagaimana Gambaran Pengetahuan, Keluarga Terhadap Anggota Keluarga Dengan Tuberkulosis (TBC) Di Wilayah Kerja Puskesmas Lorulun Kecamatan Wertambrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Metode penelitian ini menggunakan deskripsi dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah anggota keluarga yang salah satu anggota keluarganya terinfeksi TBC yang berada pada Desa Lorulun di wilayah kerja Puskesmas Lorulun Kecamatan Wertambrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penegetahuan keluarga tentang TBC belum baik. Saran peneliti bagi keluarga agar dapat memahami tentang penyakit ,sehingga keluarga dapat bersikap dan memandang baik kepada penderita.Kata Kunci : Pengetahuan Keluarga Terhadap Tuberkulosisi (TBC), Kepulauan Tanimbar 
Pengaruh Edukasi Skrining Neuropati dan Angiopati Perifer dengan Pendekatan Family Centered Care terhadap Resiko Foot Ulcer Pasien Diabetes Melitus Selpina Embuai; Westy Tahapary; Yowan Embuai
Jurnal Keperawatan Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.205 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v15i1.733

Abstract

Foot ulcer merupakan masalah yang sering dialami oleh sebagian besar pasien yang menderita DM. Sekitar 20% kejadian foot ulcer dipengaruhi oleh penyakit DM, 20% dipengaruhi oleh neuropati diabetic dan 30% pasien dipengaruhi oleh kedua kondisi tersebut. Upaya pencegahan foot ulcer perlu dilakukan yaitu dengan melakukan skrining resiko foot ulcer pada pasien DM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh edukasi skrining neuropati dan angiopati perifer dengan pendekatan family centered care terhadap upaya pencegahan foot ulcer pasien diabetes melitus. Penelitian yang digunakan adalah quasi-experimental dengan menggunakan teknik The Nonrandomized Control Group Pretest-posttest Design. Sampel penelitian adalah klien diabetes melitus sebanyak 50 responden yang terdapat di wilayah kerja puskesmas Air Salobar Kota Ambon, dibagi menjadi 2 kelompok (intervensi dan kontrol) dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan Garpu tala 128 Hz, pedoman pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan HbA1c, panduan pemeriksaan ipswich test, Tensimeter dan panduan pemeriksaan Ankle Brachial Indeks serta pengukuran arteri dorsalis pedis. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan. Uji yang digunakan adalah paired t-test. Hasilnya adalah terdapat pengaruh edukasi skrining neuropati dan angiopati perifer dengan pendekatan family centered care  terhadap resiko foot ulcer dengan penilaian neuropati menggunakan teknik Ipswich test dan garpu tala, penilaian angiopati menggunakan pemeriksan HbA1c, pengukuran ABI dan perhitungan frekuensi arteri dorsalis pedis dengan nilai signifikansi masing-masing 0,00 ( ). Edukasi skrining neuropati dan angiopati perifer dengan pendekatan family centered care terbukti berpengaruh terhadap resiko foot ulcer pada pasien Diabetes Mellitus.
HUBUNGAN RIWAYAT GENETIK, ASAP ROKOK, KEBERADAAN DEBU DAN STRES DENGAN KEJADIAN ASMA BRONKHIAL Selpina Embuai
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 2, No 1 (2020): April
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v2i1.419

Abstract

Asma merupakan gangguan inflamasi kronik pada saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya yang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius diberbagai negara di seluruh dunia. Berbagai faktor pencetus ditengarai dapat memicu serangan asma, antara lain adalah olahraga (exercise), alergen, infeksi, perubahan suhu udara yang mendadak, debu, atau pajanan terhadap iritan respiratorik seperti asap rokok, dan lain-lain. Terdapat juga faktor lain yang dapat memicu asma, seperti usia, jenis kelamin, genetik, sosio-ekonomi, dan faktor lingkungan.  Penelitian ini menggunakan metode Analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 64 pasien dengan menggunakan exhaustive sampling. Lokasi penelitian dilakukan di Rumkit Tk II Prof. Dr. J. A. Latumeten Kota Ambon pada bulan Juni sampai Juli 2019. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan chi-square test. Hasil penelitian menunjukan adalah terdapat adanya hubungan antara riwayat genetik, asap rokok, keberadaan debu dan stress dengan kejadian Asma (α 0.05). Kata Kunci: Asma Bronkhial, Riwayat Genetik, Asap Rokok, Debu, Stres
LITERATURE REVIEW EFEKTIFITAS PEMBERIAN TOPIKAL ASI TERHADAP KECEPATAN WAKTU LEPAS TALI PUSAT DIBANDING DENGAN PEMBERIAN ETHANOL DAN PERAWATAN KERING PADA BAYI BARU LAHIR Selpina Embuai; Moomina Siauta
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 3, No 3 (2021): Desember
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v3i3.659

Abstract

Latar Belakang: Infeksi tali pusat merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas di negara-negara dengan tingkat insiden setinggi 55-197 per 1000 kelahiran hidup (Ganatra dan Zaidi, 2010 dikutip dalam Allam, 2015). Tiap tahun sekitar 3,3 juta kematian neonatal terjadi di seluruh dunia. Oestergaard et al (2011) melaporkan bahwa, lebih dari 30% disebabkan oleh infeksi. Beberapa dari infeksi tersebut dimulai dari infeksi tali pusat. Daerah tali pusat mendukung pertumbuhan mikroorganisme berbahaya atau beberapa menguntungkan (commensals) sedangkan yang lain berbahaya (misalnya Clostridium tetani). Data kejadian omphalitis di negara-negara berpenghasilan rendah umumnya langka, data yang tersedia memperkirakan risiko berkisar antara 2 dan 77 per 1.000 kelahiran hidup dalam pengaturan rumah sakit, dengan tingkat kematian antara 1% dan 15% tergantung pada definisi omphalitis yang digunakan. (Mir, et al. 2011 dikutip dalam Allam, 2015)Tujuan: Menggambarkan pengaruh efektifitas dari pemberian topical ASI terhadap kecepatan waktu lepas tali pusat dibandingkan dengan pemberian ethanol dan rawat kering pada bayi baru lahirMetode: Sumber artikel yang digunakan didapat dari pencarian melalui Google Scholar, Doaj, Ebscho, Pro Quest, journal of nursing science mulai tahun 2010 sampai dengan 2019. Setelah didapatkan, kemudian dilakukan penilaian artikel sampai tahap pembuatan literature review.Hasil: Review ini menghasilkan efektivitas dari dari pemberian topical ASI terhadap kecepatan waktu lepas tali pusat dibandingkan dengan pemberia ethanol dan rawat kering pada bayi baru lahir.Kesimpulan: Pemberian Topikal Asi pada tali pusat dapat mempercepat waktu terlepasnya tali pusat dan mengurangi angka kejadian infeksi pada tali pusat jika dibandingkan dengan perawatan dengan menggunakan ethanol dan perawatan kering
UPAYA MELANCARKAN BAB PADA ANAK DENGAN MELAKUKAN FOOT MASSAGE, PENGATURAN DIET DAN TOILET TRANING Selpina Embuai
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 1, No 3 (2019): Desember
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v1i3.258

Abstract

ABSTRACTConstipation is a medical condition characterized by difficulty defecating as a result of hardened feces. Constipation is often characterized by anxiety symptoms when defecated by pain during bowel movements. Constipation can cause stress for sufferers due to discomfort. In the Jakarta area, the prevalence of constipation in school-age children is 4.4%. Whereas in Denpasar by 15%. Foot massage therapy, diet control and toilet training can make it easier for sufferers who experience constipation. The research method used is in the form of case studies. The use of samples with purposive sampling with 5 children experiencing constipation. The research was conducted in September to October 2019. The research location was in the working area of the RIjali puskesmas in Ambon city. Results: constipation can be resolved according to the results of evaluation of interventions carried out in children with constipation by doing foot massage, dietary arrangements and toilet training. Conclusion: foot massage, diet control and toilet training are effective in overcoming constipation in children.Keywords: Constipation, Foot Massage, Diet Control and Toilet TrainingABSTRAK Konstipasi adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan kesulitan buang air besar sebagai akibat dari feses yang mengeras. Konstipasi sering ditandai dengan gejala cemas ketika defekasi oleh rasa nyeri pada saat buang air besar. Konstipasi dapat menimbulkan stres bagi penderita akibat ketidaknyamanan. Di daerah Jakarta, prevalensi konstipasi pada anak usia sekolah sebesar 4,4%. Sedangkan di Denpasar sebesar 15%.  Terapi Foot massage, Pengaturan diet dan toilet training ini dapat mempermudah penderita yang mengalami konstipasi. Metode Penelitian yang digunakan berbentuk studi kasus. Penggunaan sampel dengan purposive sampling dengan 5 anak yang mengalami konstipasi. Penelitian ini dilakukan pada September sampai oktober 2019. Lokasi penelitian di wilayah kerja puskesmas RIjali kota Ambon. Hasil : konstipasi dapat teratasi sesuai dengan hasil evaluasi intervensi yang dilakukan pada anak dengan konstipasi dengan melakukan foot massage, pengaturan diet dan toilet training. Kesimpulan : foot massage, pengaturan diet dan toilet training efektif mengatasi konstipasi pada anak. Kata Kunci : Konstipasi, Foot Massage, Pengaturan Diet Dan Toilet Training
PENGEMBANGAN PRODUK DAUN KELOR MELALUI FORTIFIKASI DALAM UPAYA PENANGANAN STUNTING Selpina Embuai; Moomina Siauta
MOLUCCAS HEALTH JOURNAL Vol 2, No 3 (2020): Desember
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/mhj.v2i3.718

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting is a condition where toddlers whose height for age is below the standard. Toddlers who have low body weight based on age are caused by insufficient intake of nutrients in the long term. Stunting can have a negative impact on cognitive and motor development and increase the risk of overnutrition, non-communicable diseases and reduce productivity in adulthood. The prevalence of stunting in the world in under-fives in 2020 has decreased significantly by 22% (4). The results of the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) show that the prevalence of stunting in children under five in Indonesia has decreased by 6.4% from 37.2% (in 2013) to 30.8%. Various efforts have been made by the government to prevent and overcome stunting. One of them is by using Moringa leaves. Moringa is called the most economical plant and contains very good nutritional value so that it can be used as an alternative in overcoming nutritional problems. In addition, the use of Moringa can be used as biscuits which of course can be used as additional food for toddlersPurpose: Describing evidence based (review of facts) in the form of a literature review on Moringa Leaf Product Development Through Nutrification in the Handling of StuntingMethod:The method used in this Literature review begins with selecting a topic, then determining keywords to search for journals using English and Indonesian through several databases, including Google Scholar, Ebscho, Pro Quest, and journal of nursing science. This search is limited to journals from 2011 to 2021. The English keywords used are “Moringa Leaves and Stunting”. For Indonesian use the keywords "Leaves of Moringa, Stunting, Fortification".Results: This review resulted in the effectiveness of Moringa leaves through fortification for stunting prevention in toddlersConclusion: Moringa leaves have enormous benefits in meeting the nutritional adequacy rate for toddlers. Fortification is very useful and is recommended so that it can be carried out by all circles of society to prevent stunting in toddlersKeywords : Moringa Leaf, Fortification, Stunting, Toddler ABSTRAK Latar Belakang:Stunting merupakan suatu kondisi dimana balita yang tinggi badan untuk usia berada dibawah standar. Balita yang memiliki berat badan rendah berdasarkan usia disebabkan oleh asupan zat gizi yang tidak mencukupi dalam jangka panjang. Stunting dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif, motorik dan meningkatkan risiko kelebihan gizi, penyakit tidak menular serta mengurangi produktivitas pada saat dewasa. Prevalensi stunting di dunia pada balita pada tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar 22%. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi stunting pada balita di Indonesia mengalami penurunan sebesar 6.4% dari 37.2% (Tahun 2013) menjadi 30.8%. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah guna mencegah dan mengatasi stunting. Salah satu diantaranya adalah dengan memanfaatkan daun kelor. Kelor disebut seb.agai tanaman paling ekonomis dan mengandung nilai gizi yang sangat baik sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif dalam mengatasi permasalahan gizi. Selain itu, pemanfaatan kelor dapat dijadikan biskuit yang tentunya dapat dijadikan sebagai makanan tambahan untuk balita. Tujuan:Menggambarkan evidence based (telaah fakta) dalam bentuk literature review tentang Pengembangan Produk Daun Kelor Melalui Nutrifikasi Dalam Upaya Penanganan Stunting. Metode:Metode yang di gunakan dalam Literature review ini diawali dengan pemilihan topik, kemudian ditentukan keyword untuk pencarian jurnal menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia melalui beberapa database antara lain Google Scholar, Ebscho, Pro Quest, dan journal of nursing science. Pencarian ini dibatasi untuk jurnalnya mulai tahun 2011 sampai dengan tahun 2021. Keyword Bahasa Inggris yang digunakan adalah “Moringa Leaves and Stunting”. Untuk bahasa Indonesia menggunakan kata kunci “Daun Kelor, Stunting, Fortifikasi Hasil:Review ini menghasilkan efektivitas dari daun kelor melalui fortifikasi untuk pencegahan stunting pada balita Kesimpulan:Daun kelor memiliki manfaat yang sangat besar dalam memenuhi angka kecukupan gizi pada balita. Fortifikasi sangat bermanfaat dan dianjurkan agar dapat dilakukan oleh semua kalangan masyarakat guna mencegah stunting pada balita Kata Kunci : Daun Kelor, Fortifikasi, Stunting, Balita