This Author published in this journals
All Journal Buletin Eboni
Suhartati Suhartati
Balai Penelitian Kehutanan Makassar

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pangi (Pangium edule REINW.) Sebagai Tanaman Serbaguna dan Sumber Pangan Ramdana Sari; Suhartati Suhartati
Buletin Eboni Vol 12, No 1 (2015): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.651 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5052

Abstract

Pangi (Pangium edule Reinw.) tumbuh subur di sebagian besar wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Tumbuhan pangi merupakan tanaman serbaguna yang hampir semua bagian dari tumbuhan ini memiliki manfaat. Produk-produk dari tumbuhan pangi telah dimanfaatkan oleh masyarakat seperti bumbu masak, makanan ringan, minyak goreng, pengawet ikan dan makanan, obat, racun ikan, pestisida alami dan kayu pertukangan. Pohon pangi juga berfungsi sebagai pencegah erosi pada lahan-lahan kritis dan telah ditanam sebagai pohon pelindung dan penghijauan di daerah aliran sungai. Selain asam sianida, beberapa kandungan kimia lain yang terdapat pada buah pangi antara lain vitamin C, ion besi, betakaroten, asam hidnokarpat, asam khaulmograt, asam glorat, dan tanin.
Mengenal Morfologi, Tipe Buah dan Biji pada Pohon Kayu Kuku (Pericopsis mooniana THW) Suhartati Suhartati; Nursyamsi Nursyamsi; Didin Alfaizin
Buletin Eboni Vol 12, No 2 (2015): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.661 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5060

Abstract

Kelestarian populasi dan produksi kayu kuku (Pericopsis mooniana) dapat ditunjang dengan tersedianya pengetahuan tentang morfologi, tipe buah dan biji sebagai pedoman untuk regenerasi. Selanjutnya, sebagai pedoman untuk upaya konservasi, reforestasi dan pembangunan hutan tanaman. Jenis ini termasuk Famili  Leguminoceae, Spesies  Pericopsis mooniana THW, dapat mencapai tinggi 24 - 40 m dan diameter 35 - 100 cm. Salah satu habitat jenis kayu kuku adalah Cagar Alam Lamedai, Sulawesi Tenggara. Habitat berupa dataran rendah, curah hujan ±1.000 mm, tanah podsolik dan alluvial. Kayu kuku memiliki berat jenis 0,87, kelas awet II, warna kayu cokelat muda, permukaan kayu licin. Kayu kuku  digunakan  untuk  perabot, vinir, geladak kapal, jembatan, bantalan kereta api, dan kusen. Pohon kayu kuku berbuah setiap tahun, buah masak bulan April - September. Buahnya bentuk polong, biji mirip kancing, berukuran sedang. Buah satu kilogram menghasilkan 320 gram biji, atau ±704 butir biji, total biji yang dapat dijadikan benih ±2.857 butir biji/kg buah. Biji kayu kuku bersifat ortodoks menyebabkan biji sulit berkecambah, sehingga memerlukan skarifikasi untuk mempercepat perkecambahannya. Diharapkan tulisan ini dapat menjadi informasi bagi pihak pemerintah, swasta dan masyarakat yang akan meregenerasi jenis kayu kuku, agar produktivitasnya meningkat, selanjutnya dapat menjadi komoditas ekspor.
Pertumbuhan Tanaman Mahoni (Swietenia macrophylla King) dan Suren (Toona sinensis) di Wilayah DAS Datara Kab. Gowa Nursyamsi Nursyamsi; Suhartati Suhartati
Buletin Eboni Vol 10, No 1 (2013): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.378 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5004

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) secara alamiah merupakan satuan hidrologis, sehingga dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Penutupan vegetasi hutan memegang peranan penting dalam pengaturan sistem hidrologi, terutama "efek spons" yang menyerap air hujan dan mengatur alirannya sehingga mengurangi banjir dan menjaga ketersediaan air di musim kemarau.  Fungsi tersebut akan hilang jika vegetasi di  wilayah  DAS yang lebih tinggi hilang atau rusak sehingga perlu direhabilitasi. Percobaan rehabilitasi dilakukan di DAS Mikro Datara yang secara administratif terletak di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Garasi dan Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa.  Berdasarkan iklim, ketinggian, topografi, karakter tanah dan kondisi sosial masyarakat, jenis tanaman penghasil kayu yang  dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan di DAS Datara Kabupaten Gowa,  antara lain: mahoni dan suren. Pada rehabilitasi lahan diterapkan perlakuan jarak tanam dan komposisi tanaman pokok.  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam dan komposisi  tanaman pokok belum  berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi  dan diameter batang tanaman suren dan mahoni hingga umur 30 bulan di lapangan.
Dampak Penurunan Daur Tanaman HTI Acacia Terhadap Kelestarian Produksi, Ekologis dan Sosial Suhartati Suhartati; Yanto Rahmayanto; Y. Daeng
Buletin Eboni Vol 11, No 2 (2014): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.83 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5045

Abstract

Jenis Acacia sp., adalah salah satu jenis tanaman pokok yang dikembangkan pada Hutan Tanaman Industri (HTI)  untuk bahan baku pulp dan kertas. Permasalahan pada jenis tanaman tersebut adalah produktivitasnya masih rendah serta daurnya masih panjang. Untuk kesinambungan suplai kayu terhadap industri kertas, maka perusahaan HTI menurunkan daur tebang  jenis tanaman acacia  yaitu dari umur 6 -7 tahun menjadi  umur 4-5 tahun. Untuk mengetahui dampak daripada penurunan daur tersebut, maka dilakukan  kajian  HTI Acacia crassicarpa pada lahan gambut dan Acacacia mangium pada lahan mineral. Aspek yang dikaji adalah produksi dan kualitas kayu serta kondisi ekologis  dan  sosial. Aspek produksi dan kualitas kayu  yang diamati adalah  volume pohon, sifat kayu dan nilai finansial.  Aspek ekologis  yang diamati adalah kondisi tanah, iklim mikro dan biodiversitas, serta aspek sosial difokuskan pada serapan tenaga kerja terhadap pengelolaan HTI. Hasil kajian menunjukkan bahwa daur  optimal untuk  A. crassicarpa adalah umur 4-5 tahun dan A. Mangium adalah  umur 5-6 tahun, dan hasil analisis finansial menunjukkan tingkat keuntungan  terbesar pada daur tebang umur 4 tahun. Berdasarkan hasil pengujian sifat kayunya menunjukkan bahwa  kayu acacia termasuk kualitas pulp I - II untuk umur  4 hingga 6 tahun. Kondisi ekologis relatif sama pada tegakan acacia umur 4; 5 dan 6 tahun. Penyerapan tenaga kerja menunjukkan nilai terbesar pada daur 4 tahun. Penurunan daur, ditinjau dari azas pengelolaan hutan lestari, layak untuk dioperasionalkan pada pengelolaan HTI untuk bahan baku pulp dan kertas. Apabila penebangan dilakukan melebihi daur optimal tersebut, dapat menurunkan produktivitas hasil serta kuantitas maupun kualitas pulp.
Tumbuhan Porang: Prospek Budidaya Sebagai Salah Satu Sistem Agroforestry Ramdana Sari; Suhartati Suhartati
Buletin Eboni Vol 12, No 2 (2015): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.164 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5061

Abstract

Porang (Amorphophallus oncophyllus Prain) merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian yang  termasuk dalam famili Araceae (talas-talasan). Tumbuhan ini ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Pertumbuhannya membutuhkan naungan sehingga dapat dibudidayakan  sebagai tanaman sela pada hutan rakyat atau hutan tanaman. Oleh karena itu, pengembangan tumbuhan porang dapat dikelola sebagai salah satu bentuk sistem agroforestry. Umbi porang dapat diolah menjadi bahan pangan, sehingga memanfaatkan umbi porang merupakan salah satu diversifikasi pangan. Selain itu, umbi porang dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik, obat-obatan dan bahan baku industri. Namun keterbatasan informasi dan pengetahuan tentang budidaya porang dan pengolahannya,  sehingga belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Umbi porang mengandung kalsium oksalat yang menyebabkan rasa gatal dan zat konisin penyebab rasa pahit, sehingga perlu keterampilan mengenai cara  pengolahannya. Umbi porang yang sudah diolah  dapat  menjadi komoditas ekspor, sehingga diharapkan masyarakat dapat mengenal umbi porang dan produk olahannya.
Potensi Pengembangan Cempedak (Artocarpus integer Merr.) pada Hutan Tanaman Rakyat Ditinjau dari Sifat Kayu dan Kegunaannya Mody Lempang; Suhartati Suhartati
Buletin Eboni Vol 10, No 2 (2013): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5091.836 KB) | DOI: 10.20886/buleboni.5012

Abstract

Pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) merupakan salah satu  kebijakan  Kementerian Kehutanan untuk mengelola hutan agar memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Oleh karena itu, beberapa jenis tanaman yang bersifat serbaguna perlu dipertimbangkan untuk pengembangan HTR. Salah satu jenis pohon serba guna (JPSG) yang berpotensi adalah cempedak (Artocarpus integer Merr.). Di alam liar, cempedak  ditemukan  tumbuh pada hutan primer dan sekunder, pada tanah darat atau tanah  rawa. Tumbuh pada  ketinggian  1-700 m dpl, di daerah bercurah hujan tinggi (2.500-3.000 mm/tahun) atau tipe iklim A-B. Regenerasi cempedak dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif, akan tetapi pada umumnya masih dilakukan secara generatif (menggunakan  biji) karena perbanyakan secara vegetatif (dengan cara sambungan, cangkok dan okulasi) persentase tumbuhnya rendah. Kayu cempedak berwarna kuning, tekstur agak halus, berat jenis tinggi, penyusutan sedang, tergolong kayu kelas kuat II dan kelas awet II, sifat pengerjaan agak mudah sampai sulit, dan hasil pengerjaan pada umumnya baik. Kayu cempedak dapat   digunakan sebagai bahan bangunan rumah, perahu dan bangunan di laut, mebel, kerajinan, dan bahan baku industri.  Buah cempedak bermanfaat sebagai bahan pangan. Buah muda untuk sayur, sedangkan buah matang dapat dimakan segar atau diolah. Pemasaran buah masih bersifat lokal dan volume pemasaran kayu masih rendah.