Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGOLAHAN LIMBAH KACA MENJADI PRODUK SENI KALIGRAFI GAMPONG JALIN KOTA JANTHO Hatmi Negria Taruan; Reza Sastra Wijaya; Yulfa Haris Saputra
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i2.516

Abstract

Limbah sering dikenal dengan sampah yang merupakan suatu bahan buangan hasil proses produksi industry dan rumah tangga dimana kehadirannya tidak diinginkan. Salah satu limbah yang adalah limbah kaca. Limbah kaca banyak terdapat ditemukan di tempat-tempat industri kaca seperti akuarium, pabrik botol minuman, pengolahan lemari kaca dan lain sebagainya. Desa jalin adalah salah satu kawasan di kota jantho aceh besar yang memiliki potensi kunjungan wisata alam yang ramah bagi seluruh kalangan. Oleh karena itu alangkah baiknya Kawasan ini dapat sekaligus dijadikan sebagai tempat pengolahan benda seni sebagai penambah daya tarik, salah satunya pengolahan limbah kaca. limbah kaca tersebut diolah dan dimanfaatkan agar menjadi suatu barang yang bernilai ekonomis. Salah satu cara mengolah limbah kaca menjadi produk seni kaligrafi yang bernilai ekonomis bagi masyarakat di kota jalin Jantho, Aceh Besar. Langkah dalam melakukan pengabdian masyarakat ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama identifikasi masalah dan tahap kedua penyusunan program. Dalam penyusunan program terdiri dari beberapa tahapan antara lain : Persiapan kepada masyarakat, Pengenalan souvenir-souvenir yang  menghasilkan produk yang kita inginkan dan cara pembuatannya, Mengajarkan kepada masyarakat cara mengolah bahan dan membuat produk di kampung Jalin. Cesspit is often known as rubbish which is a cesspit material produced by industrial and home industry production processes where its presence is undesirable. One cesspit that is glass cesspit. Glass cesspit is found in many places in the glass industry such as aquariums, beverage bottle factories, glass cabinet processing and so on. The jalin vilage  is one of the regions in the  Aceh Besar  jantho city that has the potential for friendly natural tourist visits for all walks of life. Therefore it would be nice this area can also be used as a place of processing of art objects as an addition to attraction, one of which is the treatment of glass cesspit. The glass cesspit is processed and utilized to become an economically valuable item. One way to process glass cesspit into calligraphy art products that are of economic value to people in the intertwined city of Jantho, Aceh Besar. This step in conducting community service consists of two stages, the first stage is the identification of problems and the second stage is the preparation of the program. In the preparation of the program consists of several stages, among others: Preparation to the community, introduction of souvenirs that produce the products we want and how to make them, teach the community how to process ingredients and make products in the village of Jalin
Live To Learn, Pengembangan Keterampilan Cerita Bergambar Menggunakan Media Digital Untuk Murid SMPN 02 di Gampong Teureubeh, Jantho, Aceh Besar Nisa Putri Rachmadani; Yulfa Haris Saputra; Dian Permata Sari
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 2, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v2i1.42776

Abstract

Budaya bercerita merupakan salah satu cara terbaik dalam mempengaruhi tumbuh kembang anak terhadap literasi. Salah satu unsur kebudayaan bercerita di Indonesia yang masih berlangsung dan ceritanya berkembang di setiap daerah adalah cerita rakyat. Cerita rakyat memiliki pesan moral dan nilai-nilai yang dapat kita terapkan di kehidupan kita sehari-hari. Seiring dengan perkembangan teknologi, budaya bercerita semakin jarang dilakukan oleh orang tua modern. Hal ini membawa pengaruh kurangnya pengetahuan anak mengenai cerita rakyat yang ada di daerahnya, tak terkecuali di SMPN 02 Gampong Teurebeh. Di tengah menjamurnya teknologi seperti televisi, games dan gadget dengan beragam fitur menarik. Salah satu cara tersebut adalah dengan mengkreasikan cerita rakyat yang didapat secara lisan dapat dituangkan dengan menggambarkan cerita tersebut secara visual. Selain dapat menarik perhatian anak untuk mengetahui cerita rakyat dengan menumbuhkan minat baca anak, hal ini juga dapat mengembangkan kreativitas seni gambar dan lukis. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk menjadikan kreativitas seni anak sebagai salah satu media pendidikan yang harus terus dikembangkan. Dalam melaksanakan program ini akan dilakukan beberapa tahap, yaitu persiapan, pelatihan, dan pameran. Pada tahapan pelatihan, materi yang ditawarkan adalah pengertian dan jenis cerita rakyat, ilustrasi cerita bergambar dengan metode sketsa, dan digitalisasi ilustrasi cerita bergambar. Tahapan terakhir adalah pameran, di mana karya para siswa SMPN 02 Gampong Teurebeh, Jantho, Aceh Besar dikemas dalam bentuk zine cerita rakyat bergambar dan menampilkan karya scene per scene dari masing-masing siswa.
Eksperimentasi Material sebagai Metode Practice-Based Research pada Karya Rajah Isi Bentuk Yulfa Haris Saputra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4787

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji proses eksperimentasi material sebagai metode practice-based research dalam penciptaan karya seni Rajah Isi Bentuk. Berangkat dari asumsi bahwa material memiliki kapasitas epistemik, penelitian ini menempatkan plastik, benang, cat warna, dan cat bening bukan sekadar medium teknis, tetapi sebagai agen pembentuk pengetahuan artistik. Metode penelitian menggunakan practice-based research dengan tahapan eksperimen studio, observasi proses, dokumentasi visual, pencatatan reflektif, dan validasi sejawat. Data dianalisis melalui pendekatan reflektif-interpretatif dengan menautkan temuan visual pada teori materialitas dan praktik seni kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) interaksi material membentuk estetika multimatra yang melibatkan dimensi optis, taktil, dan spasial; (2) karakter material menghasilkan logika visual otonom yang turut mengarahkan keputusan artistik; (3) proses eksperimentasi berfungsi sebagai mekanisme produksi pengetahuan embodied yang tidak dapat dicapai melalui analisis konseptual semata; dan (4) material beroperasi sebagai aktor epistemik yang berkontribusi pada pembentukan makna simbolik dan struktur visual karya. Penelitian ini menegaskan bahwa eksperimentasi material dapat berfungsi sebagai metode riset yang sah dalam praktik seni, sekaligus memperluas diskursus materialitas dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Temuan ini berimplikasi pada penguatan posisi practice-based research sebagai pendekatan epistemologis dalam kajian seni yang menjembatani proses kreatif, refleksi teoritis, dan produksi pengetahuan berbasis praktik.
Perubahan Makna Simbolik Batu Nisan Aceh Pasca Kolonial: Kajian Semiotika Budaya Iskandar Iskandar; Yulfa Haris Saputra; Amris Albayan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5149

Abstract

This study examines the shift in the symbolic meaning of Acehnese gravestones in the postcolonial context. Although their visual forms have largely remained unchanged, the community’s interpretation of the symbols carved upon them has shifted significantly. Symbols that once embodied religious and social values are now often reinterpreted merely as aesthetic ornaments. Using Charles Sanders Peirce’s cultural semiotic approach, this research analyzes how the same signs are read differently by societies over time. Field observations, visual documentation, and in-depth interviews with local cultural figures and historians were conducted. The findings reveal a paradigm shift from a transcendent worldview to a materialistic-aesthetic one, where meaning is seen as inherent in material form. This study contributes to a deeper understanding of how material cultural symbols are reinterpreted within Acehnese modernity.