Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

NILAI KARAKTER DALAM FOKLORE DORE DI JORONG KUBU TUNTUANGAN, KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATERA BARAT Dian Permata Sari; Benni Andika
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 1 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i1.24369

Abstract

This study aims to explain the character values in Foklore Dore in Jorong Kubu Tuntuangan Kanagarian Batipuah, Batipuah Baruah, Tanah Datar, West Sumatra using the Foklore approach. In this case the method used is descriptive qualitative. The data of this research are in the form of words, actions, behavior and activities carried out in the Foklore Dore in Jorong Kubu Tuntuangan Kanagarian Batipuah, Batipuah Baruah , Tanah Datar as a form of folk games found in Minangkabau. The research instrument was the researcher as a key instrument. Thus, the non-verbal Foklore can be used as a reference for shaping children's character education.Keywords: foklore dore, character value.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang nilai karakter dalam Foklore Dore di Jorong Kubu Tuntuangan Kenagarian Batipuah Kecamatan Batipuah Baruah Kabupaten Tanah Datar provinsi Sumatera Barat dengan pendekatan Folklore. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa perkataan, perbuatan, tingkah laku dan aktivitas yang dilakukan dalam Foklore Dore di Jorong Kubu Tuntuangan Kenagarian Batipuah  Kecamatan Batipuah Baruah Kabupaten Tanah Datar sebagai salah satu bentuk permainan rakyat yang terdapat di Minangkabau. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen kunci. Dengan demikian, folklore non lisan tersebut dapat dijadikan rujukan untuk membentuk pendidikan karakter anak.  Kata Kunci: foklore dore, nilai karakter. Authors: Dian Permata Sari : Institut Seni Budaya Indonesia AcehBenni Andika : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:________. (2012). Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran Karakter Cerdas Format Kelompok. Padang: Universitas Negeri Padang.Adisusilo, Sutarjo. (2012). Pembelajaran Nilai-Karakter. Jakrata: Raja Grafindo Persada.Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.Danandjaja, James. (2007). Folkloree Indonesia. Jakarta: Grafiti.Iskandarwassid, Dadang. (2009). Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa: Bandung. PT Remaja Rosdakarya.Moleong, J. Lexy. (2009). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakaya.Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.Prayitno & Afriva Khaidir. (2011). Model Pendidikan Karakter Cerdas. Padang: UNP Press.Sari, D. P. (2020). “Foklore Dore”. Hasil Dokumentasi Pribadi: 24 Agustus 2020, Batipuah Baruah.Syamsuddin, A.R. & Damaianti, Vismaia S (2006). Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Suwardi, Endraswara. (2013). Fokloree Nusantara Hakikat, Bentuk, dan Fungsi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Setiadi, E. M. (2006). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenanda Media Group.
MOTIF KEAKTORAN DALAM RITUAL TURUK LAGGAI MASYARAKAT SIBERUT MENTAWAI- SUMATERA BARAT Dian Permata Sari
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 18, No 2 (2016): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.266 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v18i2.96

Abstract

binatang yang dimiliki masyarakat Siberut, Mentawai. Tarian ini merupakan tari upacarapengobatan yang melibatkan Sikerei (dukun) dengan arwah Sikerei. Pemanggilan arwah ini berfungsi untuk membantu pengobatan pada masyarakat Sikerei yang sakit dengan jalan trance (kesurupan). Proses trance oleh Sikerei ini dekat dengan teori liminalitas Victor Turner dimana ada “jembatan” antara Sikerei sebagai penari, Sikerei yang trance dan kembali ke Sikerei sebagai penari.Turuk Laggai dibawakan oleh Sikerei (dukun) dengan menampilkan unsur vokal, mimik, dan gestur. Tiga unsur tersebut dekat dengan dramatisasi pada teater. Gerakan diam tanpa dialog atau dikenal dengan istilah pantomimterdapat pada ritual Turuk Laggai ini. Meski ada pembacaan mantra sebelum ritual dimulai, tapi yang menjadi perhatian adalah gerakan tiruan binatang. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bagaimana asal-usul dan motif keaktoran dalam ritual Turuk Laggai pada masyarakat Kepulauan Mentawai Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian dengan pendekatan etnografi.
Live To Learn, Pengembangan Keterampilan Cerita Bergambar Menggunakan Media Digital Untuk Murid SMPN 02 di Gampong Teureubeh, Jantho, Aceh Besar Nisa Putri Rachmadani; Yulfa Haris Saputra; Dian Permata Sari
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 2, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v2i1.42776

Abstract

Budaya bercerita merupakan salah satu cara terbaik dalam mempengaruhi tumbuh kembang anak terhadap literasi. Salah satu unsur kebudayaan bercerita di Indonesia yang masih berlangsung dan ceritanya berkembang di setiap daerah adalah cerita rakyat. Cerita rakyat memiliki pesan moral dan nilai-nilai yang dapat kita terapkan di kehidupan kita sehari-hari. Seiring dengan perkembangan teknologi, budaya bercerita semakin jarang dilakukan oleh orang tua modern. Hal ini membawa pengaruh kurangnya pengetahuan anak mengenai cerita rakyat yang ada di daerahnya, tak terkecuali di SMPN 02 Gampong Teurebeh. Di tengah menjamurnya teknologi seperti televisi, games dan gadget dengan beragam fitur menarik. Salah satu cara tersebut adalah dengan mengkreasikan cerita rakyat yang didapat secara lisan dapat dituangkan dengan menggambarkan cerita tersebut secara visual. Selain dapat menarik perhatian anak untuk mengetahui cerita rakyat dengan menumbuhkan minat baca anak, hal ini juga dapat mengembangkan kreativitas seni gambar dan lukis. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk menjadikan kreativitas seni anak sebagai salah satu media pendidikan yang harus terus dikembangkan. Dalam melaksanakan program ini akan dilakukan beberapa tahap, yaitu persiapan, pelatihan, dan pameran. Pada tahapan pelatihan, materi yang ditawarkan adalah pengertian dan jenis cerita rakyat, ilustrasi cerita bergambar dengan metode sketsa, dan digitalisasi ilustrasi cerita bergambar. Tahapan terakhir adalah pameran, di mana karya para siswa SMPN 02 Gampong Teurebeh, Jantho, Aceh Besar dikemas dalam bentuk zine cerita rakyat bergambar dan menampilkan karya scene per scene dari masing-masing siswa.
ELEMEN DRAMATISASI DAN RESPON ESTETIS SANDIWARA KELILING GELANGGANG LABU KECAMATAN PEUSANGAN KABUPATEN BIREUN Dian Permata Sari; Rahmawati Rahmawati; Fajri Tomi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.39697

Abstract

The development of the Sandiwara Keliling Gelangang Labu in Kabupaten Bireun began to recede because not all the younger generation followed the history of the play. Sandiwara Keliling Gelangang Labu are in the form of performances with improvised concepts that tell stories from the people of Aceh and are staged from one village to another within one week. This study aims to explain the elements of dramatization and aesthetic response to the play around Gelanggang Labu in the village of Gelanggang Labu, Peusangan District, Kabupaten Bireun using the dramaturgical approach of Erving Goffman which carries the dramaturgy of social interaction. around. This study used a qualitative descriptive method where the subject of this study focused on dramatization elements and aesthetic responses to the Sandiwara Keliling Gelangang Labu. Data collection technidues observation, interviews and documentation.  Then 3 stages of data analysis techniques namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions/verification. At the stage of research results will predict the aspects of dramatization, namely the manuscript, performers, director, make-up, fashion, lights, stage, sound system, and also the audience.Keywords: sandiwara keliling, dramatization, aesthetic respon. AbstrakPerkembangan sandiwara keliling Gelangang Labu di Kabupaten Bireun mulai surut dikarenakan tidak semua generasi muda mengikuti sejarah kemunculan Sandiwara tersebut. Sandiwara keliling gelanggang labu berbentuk pertunjukan dengan konsep improvisasi yang mengisahkan cerita-cerita rakyat Aceh dan di pentaskan dari satu desa ke desa lainnya dalam waktu satu minggu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang elemen dramatisasi dan respon estetis sandiwara keliling Gelanggang Labu di desa Gelanggang Labu Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireun dengan pendekatan dramaturgi Erving Goffman yang mengusung dramaturgi interaksi sosial.Gelanggang Labu berangkat dari alur serta cerita yang disuguhkan secara improvisasi sesuai peristiwa di lingkungan sekitar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana subjek penelitian ini terfokus pada elemen dramatisasi dan respon estetis sandiwara keliling gelanggang labu. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya  3 tahap teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pada tahap hasil penelitian akan menerangka aspek-aspek dalam dramatisasi yaitu manuskrip, pemain, sutradara, tata rias, mode, lampu, panggung, sistem suara, dan juga pemirsa.Kata Kunci: sandiwara keliling, dramatisasi, respon estetis. Authors:Dian Permata Sari : Institut Seni Budaya Indonesia AcehRahmawati : Institut Seni Budaya Indonesia AcehFajri Tomi : Institut Seni Budaya Indonesia AcehReferences:Derlega, V. J., Metts, S., Petronio, S., & Margulis, S. T. (1993). Self-Disclosure. New York: Sage Publications, Inc.Dewa, B. (2022).  “Sejarah Sandiwara Keliling Gelanggang Labu di Peusangan Bireun”.Hasil Wawacara Pribadi: 24-27 Oktober 2022, Bireun.Endraswara, S. (2013). Fokloree Nusantara Hakikat, Bentuk, dan Fungsi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life London. London:Allen Lane.Herdianto, F., Yusnelli, Y., & Antara, F. (2021). Komposisi Musik Badondong Baibo dalam Musik Instrmental. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 115-124.Jones, E. E., & Pittman, T. S. (1982). Toward a general theory of strategic self-presentation. Psychological perspectives on the self, 1(1), 231-262.Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (Eds.). (2009). Encyclopedia of Communication Theory (Vol. 1). Sage.Novi, (2022). “Bentuk Pemanggungan Sandiwara Keliling Gelanggang Labu”. Hasil WawancaraPribadi, 24-27 Oktober 2022,  Bireun.Pramono, K. H. (2021). Konsep Sandiwara Ki Hadjar Dewantaradan Implikasinyapada Pembelajaran Teater. Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema, 18(2), 134-145.Varianda, M., Nazar, S., & Muliati, R. (2021). Tari Balega Di Tanah Manang Karya Susas Rita Lovariantidalam Kajian Dramaturgi Tari. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 377-395.
Analysis of the Drama 'Orang-Orang Setia' by Iswadi Pratama as the Initial Work of an Actor Syahputra, Andi; Susandro, Susandro; Sari, Dian Permata
Creativity And Research Theatre Journal Vol 5, No 2 (2023): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v5i2.4109

Abstract

The presentation of Rahman's character in Iswadi Pratama's drama Orang Setia uses Stanislavsy's acting method which he calls the system. Stanislavsky's system is an acting method created to understand characters scientifically so that they can be presented by actors on stage. In Stanislavsky's acting method, there are three parts that he calls the "triad" of musicians, namely the first creative work of the actor centered on the mind (brain), the second creative work of the actor with his emotions (heart), and the third work of the actor with his body (action). The triad becomes the center of the presenter's creative work to realize the character of Rahman in the drama Orang Setia by Iswadi Pratama so that the acting presented can give a natural impression, not contrived. More than that, the behavior presented can be measured as in everyday life, especially by ordinary audiences.
METODE PELATIHAN BERNYANYI DAN BERCERITA PADA GURU-GURU TK/PAUD SE-ACEH BESAR DALAM MENDIDIK KREATIVITAS SENI PADA ANAK KABUPATEN ACEH BESAR Andika, Benni; Andiko, Benny; Sari, Dian Permata
Batoboh Vol 5, No 2 (2020): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v5i2.1303

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk mengajarkan metode pelatihan bernyanyi dan bercerita pada guru-guru TK/Paud di Aceh Besar, agar dapat mendidik akan dalam meningkatkan kreativitas seni pada anak. Menciptakan seniman-seniman cilik melainkan menawarkan sejumlah pengalaman yang bermanfaat untuk mengasah  pribadi yang apresiasif dan kreatif melalui pendidikan seni. Kegiatan Seni yang akan didapatkan anak usia dini nantiknya akan memberikan dampak yang baik bagi keberlangsungan seni dan budaya. Anak-anak usia dini merupakan salah satu pendukung dalam mempertahankan seni yang berkembang saat ini,  menjadi pilihan media penyampaian nasehat dalam nilai-nilai moral. Pelatihan sistem pembelajaran guru dalam mendidik anak akan dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga akan memberi dampak yang positif untuk menjadikan guru dalam membimbing dan mengajarkan anak didik dalam wilayah berkesenian dan meningkatkan kreativitas anak. Diharapkan pelatihan ini dapat berkontribusi tidak hanya terhadap pengembangan materi pendidikan seni saja, namun pada kemampuan guru TK/PAUD dalam hal pengetahuan seni serta berkreativitas khususnya seni Bernyanyi dan  Bercerita terhadap perkembangan guru dan anak dengan mengemas bahan ajar pendidikan seni dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak.
Digitalisasi Tari Guel: Inovasi Kolaboratif Bersama Sanggar Genali Menuju Sanggar Mandiri dan Berdaya Saing: Pengabdian Permata, Magfiah Murni Bintang; Setiawan, Indra; Sari, Dian Permata
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4052

Abstract

The development of digital technology and changes in cultural consumption patterns have made traditional performing arts face significant challenges. Guel Dance, a Gayo cultural heritage, is also under pressure due to a lack of documentation, limited promotion, and low digital literacy among rural arts communities. This community service activity aims to digitize Guel Dance through audio-visual documentation, digital publication, and capacity building at the Genali Studio. The program, which took place from November 11–15, 2025, included initial discussions, task allocation, digitalization training, the complete and collaborative recording of Guel Dance with Munalo Dance, and the development and documentation of new costumes. The results show that digitalization not only strengthens cultural preservation but also opens up creative economic opportunities, expands public reach, and increases the studio's independence and competitiveness. Amid globalization and technological advances, traditional performing arts are increasingly under pressure from changing cultural consumption patterns. Guel Dance is also threatened by the shift in interest of the younger generation towards digital entertainment. Therefore, a digitalization program is crucial to bridge tradition with the demands of the digital era. Through digital media, Guel Dance can be well documented, promoted innovatively, and increase its economic value, strengthen cultural identity, and encourage cross-generational interaction.
Lokakarya Representasi Kalimat Sufistik Nisan Sultan Malik Al-Saleh dalam Mural untuk Penguatan Visual Budaya Dayah Manbaul Kota Jantho: Pengabdian Setiawan, Indra; Saputra, Yulfa Haris; Husni, Teuku Muhammad; Sari, Dian Permata; At- Thariq, Ahmad Faza; farisyi, Salman
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4054

Abstract

This community service activity aims to represent the Sufi sentences engravedon the tombstone of Sultan Malik Al-Saleh in the form of a mural as a medium for strengthening visual culture in the Manbaul Dayah environment, Jantho City. The Sufi values ​​contained in the tombstone reflect the spiritual depth and local wisdom that are important to be passed on to the younger generation, especially the students at the dayah. Through a participatory workshop method involving the community service team and students, this activity was carried out in three main stages: (1) Dissemination related to visual arts in the realm of education, visual arts in Acehnese cultural history and mura art. (2) mural visual design and collaborative workshop process at the dayah. The results of this community service activity show that murals not only function as aesthetic elements, but also as educational media that can strengthen the understanding of cultural and spiritual values ​​in dayah education. This activity contributes to strengthening local cultural identity and increasing appreciation for the historical heritage
Transformasi Mitos dan Kontra-Mitos dalam Kaba Tjindua Mato dan Sandiwara Cindua Mato: Kajian Intertekstual: Penelitian Sari, Dian Permata
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6262

Abstract

Tulisan ini mengkaji konstruksi mitos dan kontra-mitos dalam Kaba Tjindua Mato karya Syamsuddin Sutan Rajo Endah serta transformasinya dalam Sandiwara Cindua Mato karya Wisran Hadi melalui pendekatan intertekstual. Fokus utama penelitian adalah menelusuri bagaimana mitos-mitos tentang kekuasaan, legitimasi, dan moralitas dibangun dalam teks kaba, serta bagaimana teks modern melakukan pembacaan ulang terhadap konstruksi tersebut. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan menitikberatkan pada relasi antar-teks, terutama dalam bentuk transformasi, penyimpangan, dan reinterpretasi makna. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kaba Tjindua Mato menampilkan mitos sebagai perangkat legitimasi sosial-politik yang meneguhkan otoritas kerajaan dan nilai adat Minangkabau. Sebaliknya, Sandiwara Cindua Mato menghadirkan kecenderungan kontra-mitos melalui dekonstruksi nilai heroisme, kritik terhadap kekuasaan, serta penekanan pada realitas sosial yang lebih problematis. Dengan demikian, relasi intertekstual antara kedua karya tersebut tidak hanya memperlihatkan kesinambungan tradisi, tetapi juga menunjukkan adanya pergeseran ideologis dari penguatan mitos menuju pembacaan kritis terhadapnya. Kajian ini menegaskan bahwa teks sastra tradisional dan modern saling berkelindan dalam membentuk wacana budaya yang dinamis dalam masyarakat Minangkabau.