This Author published in this journals
All Journal Media Pustakawan
Supriyanto Supriyanto
Perpustakaan Nasional

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Motivasi menulis bagi pustakawan Supriyanto Supriyanto
Media Pustakawan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v22i1.786

Abstract

Menulis apapun bentuknya dari kelas yang sederhana sampai yang rumit akan menghasilkan “sesuatu” yang bermakna bagi penulisnya maupun pembacanya. Bagi seseorang calon penulis menjadi penulis yang awalnya “nothing” menjadi “something”, dan bagi pembacanya merupakan “something” yang tidak terbantahkan. Berawal dari gagasan, oleh karena pembaca belum tentu penulis, tetapi penulis pastilah pembaca, sehingga sesuatu itu akan bermakna bagi gagasan berikut yang selalu  muncul kapan saja, di mana saja, untuk penulisan berikutnya. Terlebih bisa dilengkapi dengan “meneliti” hasilnya akan lebih obyektif, valid dan reliabel. Bagi pustakawan pekerjaan menulis tidaklah terbatas  pada golongan menengah dan atas saja, tetapi juga golongan bawah sekalipun dibenarkan untuk menulis, dengan kata lain “menulis adalah merupakan kemampuan yang harus dimiliki pustakawan sebagai tenaga profesional mulai dari jenjang pangkat/ jabatan terendah sampai tertinggi. Belum lagi penulisan karya ilmiah bukan saja menghasilkan sesuatu, tetapi juga perolehan angka kredit bagi kenaikan pangkat dan/atau jabatan pustakawan untuk meniti karier lebih baik.
Prosedur Pembentukan Perpustakaan Sekolah Supriyanto Supriyanto
Media Pustakawan Vol 19, No 3 (2012): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.038 KB)

Abstract

Belum banyak perpustakaan sekolah di Indonesia memiliki Surat Keputusan (SK) pembentukan perpustakaan sekolah. Mereka berasumsi bahwa keberadaan perpustakaan sekolah sama dengan keberadaan berdirinya sekolah. Tidak semua sekolah di Indonesia memiliki perpustakaan. Dari Jumlah Sekolah di Indonesia sebanyak 258.326 buah dan yang memiliki perpustakaan hanya 118.599 (46%) (Renstra Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010-2014). SK pembentukan perpustakaan dianggap penting karena sebagai sebuah institusi, perpustakaan sekolah memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan diri, baik dalam hal gedung/ruang, tenaga, koleksi, sarana dan prasarana maupun untuk kerjasama dengan pihak lain.Prosedur pembentukan perpustakaan pekolah ini membantu pengelola perpustakaan sekolah untuk mewujudkan keinginannya memiliki SK pembentukan perpustakaan sekolah. Selain memuat persyaratan pembentukan perpustakaan, dalam tulisan ini juga berisi proses pengajuan pembentukan perpustakaan sekolah. Pada bagian akhir dilengkapi dengan contoh SK pembentukan perpustakan sekolah. Syarat minimal pembentukan perpustakaan sekolah harus memiliki koleksi, gedung/ruang, sarana dan prasarana, tenaga serta anggaran. Sedangkan proses pembentukan perpustakaan, dimulai dengan surat permohonan pengajuan pembentukan perpustakaan, klarifikasi permohonan pembentukan perpustakaan, penerbitan SK pembentukan perpustakaan dan pemberitahuan pembentukan erpustakaan ke Perpustakaan Nasional RI.
Dukungan Strategis Kepustakawanan dalam Rangka Reformasi Birokrasi Kementerian/ Lembaga1 1 Supriyanto Supriyanto
Media Pustakawan Vol 20, No 2 (2013): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.691 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v20i2.933

Abstract

“SDM Perpustakaan atau tenaga perpustakaan (Pustakawan) sejak Keputusan MENPAN No. 18 Tahun 1988 sudah diakui sebagai jabatan fungsional, oleh karenanya mempunyai peluang guna mendukung kinerja kementerian/lembaga umumnya, yaitu  informasi tentang visi dan misinya, melalui dukungan kepustakawanan yang rasional dan proporsional. Bahkan dengan hadirnya UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pustakawan sudah masuk dalam kelompok profesi. Sudah sepantasnya pustakawan itu sendirilah yang seharusnya membangun profesonalismenya. Perlu dibangun adanya keserasian dan keselarasan antara pangkat, jabatan, usia, masa kerja, diklat dan kompetensinya. Artinya pustakawan akan populer tatkala mampu berperan secara rasional dan proporsional mendukung tugas pokok dan fungsinya dari lembaga yang menaunginya dimana saja pustakawan bekerja. Untuk itu diperlukan kesiapan kompetensi SDM perpustakaan, sehingga perpustakaannya kredibel sebagai lembaga yang memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan pengelolaan informasi. Bukan sekedar memenuhi syarat-syarat formal, tetapi dukungan implementasinya terhadap kinerja dalam rangka mendukung reformasi birokrasi kementerian/lembaga pada khususnya.
Motivasi menulis bagi pustakawan Supriyanto Supriyanto
Media Pustakawan Vol 22, No 1 (2015): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.226 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v22i1.785

Abstract

Menulis apapun bentuknya dari kelas yang sederhana sampai yang rumit akan menghasilkan “sesuatu” yang bermakna bagi penulisnya maupun pembacanya. Bagi seseorang calon penulis menjadi penulis yang awalnya “nothing” menjadi “something”, dan bagi pembacanya merupakan “something” yang tidak terbantahkan. Berawal dari gagasan, oleh karena pembaca belum tentu penulis, tetapi penulis pastilah pembaca, sehingga sesuatu itu akan bermakna bagi gagasan berikut yang selalu  muncul kapan saja, di mana saja, untuk penulisan berikutnya. Terlebih bisa dilengkapi dengan “meneliti” hasilnya akan lebih obyektif, valid dan reliabel. Bagi pustakawan pekerjaan menulis tidaklah terbatas  pada golongan menengah dan atas saja, tetapi juga golongan bawah sekalipun dibenarkan untuk menulis, dengan kata lain “menulis adalah merupakan kemampuan yang harus dimiliki pustakawan sebagai tenaga profesional mulai dari jenjang pangkat/ jabatan terendah sampai tertinggi. Belum lagi penulisan karya ilmiah bukan saja menghasilkan sesuatu, tetapi juga perolehan angka kredit bagi kenaikan pangkat dan/atau jabatan pustakawan untuk meniti karier lebih baik.
Karakteristik Pustakawan Profesional Di Tengah Isu Sertifikasi Supriyanto Supriyanto
Media Pustakawan Vol 19, No 2 (2012): Maret
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.678 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v19i2.858

Abstract

Pustakawan sejak hadir dengan Keputusan MENPAN No. 18 Tahun 1988 sampai hari ini belumlah populer, masih kalah populer sama artis ataupun profesi-profesi lain. Sesungguhnya peraturan perundang-undangan tentang perpustakaan dan pustakawan sudah cukup memadai. Sudah sepantasnya pustakawan itu sendirilah yang harus membangun karakter dan pencitraan profesinya. Perlu dibangun adanya keserasian dan keselarasan antara pangkat, jabatan, usia, masa kerja, diklat dan kompetensinya. Artinya pustakawan akan populer tatkala mampu berperan secara rasional dan proporsional mendukung tugas pokok dan fungsinya dari lembaga yang menaunginya dimana saja pustakawan bekerja. Bukti pengakuan tertulis atas kompetensi kerja yang dikuasainya adalah sertifikasi, sehingga pustakawan layak memperoleh rekognisi baik dari segi karier maupun penghasilan yang memadai, dan itu bukan isu atau mimpi tapi realita guna menciptakan perpustakaan yang humanis