Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Struktur Komunitas Ikan Padang Lamun Di Perairan Pantai Wael Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat Husain Latuconsina; Madehusen Sangadji; La Sarfan
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6 (2013): Publikasi Edisi Spesial
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.6.0.24-32

Abstract

Padang lamun merupakan ekosistem laut yang memiliki produktivitas primer tinggi sehingga berperan penting bagi komunitas ikan untuk mencari makan, areal pembesaran maupun alur ruaya antar habitat terdekat. Penelitian ini dilakukan di perairan pantai Wael-Teluk Kotania, Seram Bagian Barat. Data komunitas ikan dikoleksi dengan menggunakan Jaring Insang Dasar (Bottom Gillnet) dengan ukuran mata jaring 1,5 inchi yang diletakkan sejajar garis pantai pada hamparan padang lamun. Pengamatan dilakukan sebanyak 10 kali (masing-masing 5 kali mewakili siang dan malam hari) yang dilakukan selama pasang bergerak surut. Ikan yang tertangkap berjumlah 290 individu dari 44 spesies 28 famili. Struktur komunitas ikan berfluktuasi pada siang dan malam hari. Hasil penelitian juga menemukan keragaman dan komposisi jenis sangat komunitas ikan padang lamun dipengaruhi kehadiran ikan-ikan yang berasal dari ekosistem mangrove dan terumbu karang.
Komposisi dan Kepadatan Zooplankton di Teluk Ambon Dalam Anita Padang; Juferlin Adriaanzs; Madehusen Sangadji
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.9.1.39-46

Abstract

Zooplankton merupakan plankton hewani yang penting dalam rantai makanan di perairan. Keberadaan zooplankton  mempengaruhi kesuburan perairan tersebut. Teluk Ambon secara geomorfologi terbagi atas dua bagian yaitu Teluk Ambon Dalam (TAD) dan Teluk Ambon Luar (TAL).  Pesisir Teluk Ambon saat ini telah menjadi pusat kegiatan perekonomian dan pembangunan. Konsekuensinya muncul berbagai dampak yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas perairan, sehingga tujuan penelitian ini adalah mengetahui komposisi dan kepadatan zooplankton di perairan Teluk Ambon Dalam. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni  2012 terdiri atas 7 stasiun (Passo, Latta, Nania, Waiheru, Poka, Halong dan Galala). Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 2 kali dengan kedalaman 10 m setiap stasiun. Identifikasi sampel dilakukan pada Laboratorium  Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Ambon. Hasil penelitian ditemukan zooplankton sebanyak 30 jenis holoplakton yang digolongkan dalam 4 phylum yaitu Chaetognatha, Arthropoda, Coelenterata dan Protochordata dan 13 jenis meroplankton yang terdiri dari Molusca, Echinodermata, Annelida dan Larva Ikan.  Komposisi zooplankton tertinggi yaitu Arthropoda dengan nilai rata-rata 55% pada bulan Mei dan 72% pada bulan Juni. Kepadatan zooplankton tertinggi bulan Mei ditemukan pada stasiun Latta (31.878 ind/m3) dan terendah pada stasiun Halong (20.196 ind/m3), dan bulan Juni kepadatan tertinggi pada stasiun Latta (33.516 ind/m3 ) danterendah pada stasiun Halong (14.364 ind/m3).
Pemeliharaan teripang pasir (Holothuria scabra) di kurungan tancap Anita Padang; Erika Lukman; Madehusen Sangadji; Rochman Subiyanto
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.9.2.11-18

Abstract

Budidaya perikanan adalah usaha pemeliharaan dan pengembangbiakan ikan atau organisme air lainnya di darat maupun di laut. Budidaya teripang pasir (Holothuria scabra) merupakan salah satu kegiatan budidaya perikanan guna memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Kegiatan budidaya  teripang pasir dapat dilakukan di alam, yaitu di kurungan tancap atau pen-culture, sehingga dapat memanfaatkan pakan diatom bentik yang tersedia secara alami. Diatom bentik dapat dirangsang pertumbuhannya dengan pemberian kotoran ayam dan daun lamun Enhalus acroides. Penelitian ini bertujuan mengetahui laju pertumbuhan dan tingkat kelulusan hidup teripang pasir yang dipelihara di kurungan tancap. Penelitian dilakukan pada perairan pantai Desa Hunut pada bulan April-September 2015. Hasil penelitian mendapatkan laju pertumbuhan teripang pasir sebesar 0,14% dengan tingkat kelulusan hidup sebesar 92,86%. Parameter lingkungan meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, nitrit, amoniak dan fosfat mendukung pertumbuhan teripang pasir, sedangkan nitrat termasuk rendah sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan diatom bentik sebagai makanan teripang pasir.
Hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi ikan momar putih (Decapterus macrosoma Bleeker, 1851) di Perairan Pantai Selatan Pulau Haruku, Maluku Tengah Madehusen Sangadji
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.9.2.24-29

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan panjang-bobot dan faktor kondisi ikan momar putih Decapterus macrosoma diperairan pantai Selatan Pulau Haruku. Pengambilan contoh ikan dilakukan sebanyak lima kali dengan jarak waktu dua minggu sekali pada bulan Mei-Juli 2016. Contoh ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan mini purse seine yang didaratkan di Desa Oma. Analisis contoh dilakukan di Laboratorium Iktiologi, Universitas Darussalam Ambon. Jumlah ikan yang diperoleh sebanyak 669 ekor, terdiri atas 366 ekor ikan jantan dan 303 ekor ikan betina. Kisaran panjang total tubuh ikan jantan adalah 125-321 mm, dan ikan betina adalah 145-320 mm. Kisaran bobot tubuh adalah 15,083-301,719 g untuk jantan dan 24,665-294,363 g untuk betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik ikan jantan maupun ikan betina memilki tipe pertumbuhan Hiperalometrik atau alometrik positif, artinya pertambahan bobot tubuh ikan lebih cepat daripada pertambahan panjang tubuh. Nilai faktor kondisi ikan jantan relatif lebih besar bila dibandingkan dengan faktor kondisi ikan betina pada setiap kisaran panjang tubuh.
Nisbah Kelamin dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Lolosi Merah (Ptrocaesio tile Cuvier, 1830) di Perairan Pulau Pombo, Kab Maluku Tengah Madehusen Sangadji
JUSTE (Journal of Science and Technology) Vol. 2 No. 2 (2022): JUSTE
Publisher : LLDIKTI WIlayah XII Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1173.58 KB) | DOI: 10.51135/justevol2issue2page166-174

Abstract

Perairan  pulau Pombo merupakan bagian dari perairan selat Haruku, yang memiliki ekosistem terumbu karang yang merupakan habitat bagi ikan dan biota laut lainnya. Salah satu jenis ikan karang dari family Caesionidae yang hidup diperairan ini adalah ikan lolosi merah (Pterocaesio tile). Penangkapan ikan lolosi sebagai ikan konsumsi dengan berbagai ukuran baik yang sudah matang maupun belum matang gonad dapat berdampak terhadap kelestarian sumberdaya ikan lolosi di masa depan. Sejauh ini belum ada penelitian tentang pendugaan ukuran matang gonad sebagai salah satu indikasi untuk pengaturan alat tangkap (ukuran mesh size) yang selektif dan sebagai dasar dalam pengelolaan sumberdaya ikan lolosi  secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ukuran pertama kali matang gonad ikan lolosi merah di perairan pulau Pombo. Pengambilan Sampel ikan dilakukan 1 kali dalam sebulan selama dua bulan yaitu dari bulan Februari sampai Maret. Penangkapan ikan lolosi menggunakan jaring insang dasar ukuran mata jaring 1,75 inci. Semua contoh ikan lolosi  yang dikumpulkan diukur panjang total menggunakan mistar logam dan bobot tubuh individu menggunakan timbangan digital. Ukuran pertama kali ikan matang gonad dihitung menggunakan persamaan Spearman - Karber. Hasil penelitian pada ikan lolosi merah menunjukkan nisbah kelamin ikan lolosi merah jantan dan  betina seimbang (1 : 1), jumlah ikan lolosi merah jantan yang matang gonad lebih sedikit dibandingkan dengan ikan lolosi merah betina, ukuran  rata - rata pertama kali matang gonad pada  panjang tubuh 178,19 mm dengan kisaran panjang 172,92 – 183,61 mm pada ikan betina, dan panjang tubuh 200,74 mm  dengan kisaran panjang 196,07 – 205,52 mm pada ikan jantan.
Nisbah Kelamin dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Layang Putih (Decapterus Macrosoma Bleeker,1851) yang Tertangkap di Perairan Latuhalat Madehusen Sangadji; Anita Padang; Jahra Wasahua; Dinisha Karepesina
Jurnal Agrohut Vol. 14 No. 2 (2023): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v14i2.263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biologi reproduksi ikan layang putih (Decapterus macrosoma Bleeker, 1851) meliputi Nisbah Kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2022 di perairan Latuhalat dengan pengambilan sampel sebanyak 2 kali dalam sebulan dan dilanjutkan di Laboratorium Iktiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Darussalam Ambon. Jumlah sampel selama penelitian sebanyak 264 ekor terdiri atas 127 jantan dan 137 betina. Hasil analisa mendapatkan nisbah kelamin ikan jantan dan betina adalah 1,00:1,08 atau 1:1. Hasil uji chi square yaitu X² hitung < X² tabel artinya ikan layang putih jantan dan betina berada dalam kondisi seimbang atau 1:1. Ikan jantan yang diperoleh pada TKG III dan IV sebanyak 56,69%, sedangkan TKG I dan II sebanyak 43,31%. Ikan betina pada TKG III dan IV sebanyak 55,47% dan TKG I dan II sebanyak 44,53%. Hal ini menggambarkan bahwa ikan layang putih jantan dan betina yang tertangkap pada TKG III dan IV lebih banyak dari TKG I dan II. Perhitungan Spearman Kraber menunjukkan rata-rata pertama kali matang gonad ikan layang putih jantan pada panjang tubuh 222 mm dan betina 205 mm. Diharapkan adanya perhatian terhadap intensitas penangkapan ikan dan faktor kondisi ikan layang putih sebagai informasi dasar pengelolannya.
Biologi Reproduksi Ikan Momar Putih, Decapterus macrosoma, Bleeker 1851 di Perairan Selat Haruku Maluku Tengah Sangadji, Madehusen; Sofyan, Yenni
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.59-63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan nisbah kelamin, kematangan gonad  yang meliputi  tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, dan indeks kematangan gonad ikan momar putih. Pengambilan contoh ikan dilakukan sebanyak lima  kali dengan jarak waktu dua minggu sekali pada bulan Mei – Juli 2016. Contoh ikan diperoleh dari hasil tangkapan  nelayan jaring mini  purse seine yang  didaratkan di Desa Oma. Analisis contoh dilakukan di Laboratorium  Iktiologi ,Universitas Darussalam Ambon. Nisbah kelamin dianalisis dengan uji chi-square , sedangkan ukuran pertama kali matang gonad dihitung dengan metode Spearman –Karber. Hasil memperlihatkan bahwa nisbah kelamin jantan : betina adalah 1,21 : 1,00. Panjang pertama kali matang gonad adalah 189,98 mm (jantan) dan 200,91 mm ( betina ). Indeks kematangan gonad berkisar 0,2417- 3,7804% untuk ikan jantan dan 0,2525 – 4, 0491% untuk ikan betina.
Pengaruh Lama Perendaman Jaring Insang Dasar Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Demersal di Perairan Telaga Indah, Huamual Belakang, Seram Bagian Barat Tuasikal, Tahir; Sangadji, Madehusen
Jurnal Agrohut Vol. 15 No. 2 (2024): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v15i2.341

Abstract

Ikan demersal merupakan ikan dasar (karang) yang bernilai ekonomis tinggi memiliki pangsa pasar ekspor luas, dengan harga yang tinggi. Kebutuhan dan permintaan pasar yang terus mengalami peningkatan sehingga membutuhkan kontinuitas bahan baku. Untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat , menyebabkan intensitas penangkapan semakin meningkat. Peningkatan intensitas penangkapan terjadi hampir di seluruh wilayah perairan indonesia termasuk di perairan Laut dusun Telaga Indah, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat. Intensitas penangkapan menyebabkan ikan Demersal mengalami penurunan ukuran stok yang tertangakap dari segi ukuran individu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, pengaruh waktu perendaman jaring insang dasar (Bottom gillnet) terhadap hasil tangkapan ikan demersal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2018 bertempat diperairan dusun Telagah Indah. Pengambilan sampel ikan dilakukan setelah melakukan pengoperasian jaring yang didapatkan dari hasil tangkapan yang mana dalam pengoperasiannya di lakukan tiga kali sehari yaitu: Pagi, Siang, dan Malam, Analisis data pengaruh waktu perendaman jaring insang dasar terhadap hasil tangkapan ikan demersal dengan menerapkan metode eksprimen. Analisis yang digunakan adalah Analisis Varian (Anova) dengan penggunaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang sesuai dengan asumsi yang digunakan pada saat penelitian. Tiga taraf perlakuan yang digunakan adalah : Hasil tangkapan pada pagi hari, pada siang hari, dan hasil tangkapan pada malam hari. Satuan percobaan pada penelitian ini adalah alat tangkap jaring insang dasar, sedangkan respon yang di ukur adalah berat dan jumlah individu hasil tangkapan pada setiap kali operasi penangkapan. Berdasarkan hasil yang telah diuji dengan menggunakan uji ANOVA didapatkan nilai Fhitung = 3.9323 > Ftabel = 3,354 pada α 0,05, hal ini menunjukkan bahwa waktu penangkapan berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan dengan alat tangkap Bottom Gill Net. Sementara itu uji lanjutan dengan mempergunakan Uji t Student untuk melihat perbedaan waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan menunjukkan bahwa pada waktu malam berbeda nyata dengan waktu siang (2,5953 >2,2621) pada α 0,05 dan tidak berbeda nyata dengan waktu pagi (0,3701 < 2,2621) pada α 0,05. Sedangkan pada waktu pagi berbeda nyata dengan waktu siang (3,6839 > 2,2621) pada α 0,05.
Hubungan Panjang Bobot dan Faktor Kondisi Ikan Lolosi (Caesio caerulaureus Lacepede,1801) di Perairan Pulau Pombo, Maluku Tengah Sangadji, Madehusen; Pattiasina, Lutfi; Padang, Anita; Sofyan, Yenni
Jurnal Agrohut Vol. 14 No. 1 (2023): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v14i1.213

Abstract

Ikan lolosi (Caesio caerulaureus) adalah salah satu spesies ikan karang yang bernilai ekonomis, yang banyak ditangkap oleh nelayan jaring insang dan dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi oleh masyarakat yang bermukim di Kecamatan Salahutu. Intensifnya penangkapan ikan Lolosi setiap tahun diperairan pulau Pombo, dihawatirkan akan menurunkan populasinya di alam dalam jangka panjang. Kondisi ini diperburuk dengan belum adanya upaya pengelolaan untuk pemanfaatan berkelanjutan. Minimnya informasi ilmiah tentang biologi populasi ikan lolosi, khususnya hubungan panjang - bobot dan faktor kondisi menyebabkan penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan panjang - bobot dan faktor kondisi dari ikan Lolosi diperairan pulau Pombo. Pengambilan sampel ikan dilakukan satu kali dalam sebulan yaitu dari bulan Februari sampai Maret 2019. Penangkapan ikan Lolosi menggunakan Jaring insang dasar ukuran mata jaring 1,75 inci. Semua sampel ikan lolosi yang dikumpulkan diukur panjang total menggunakan mistar logam dan bobot tubuh individu menggunakan timbangan digital. Selama penelitian dikumpulkan 109 ekor yang terdiri atas 64 ekor ikan jantan dan 45 ekor ikan betina. Hubungan panjang bobot adalah W=0.0000009L^3.489 untuk betina dan W=0.0000005L^3.5955 untuk jantan dan pola pertumbuhan ikan jantan dan betina allometric positif. Factor kondisi relative beragam 1,0606 – 1,0294. Ikan lolosi jantan dan betina mempunyai kondisi yang baik.
The Relationship between Length and Weight and Condition Factors of Lompa Fish (Thryssa baelama) in Kabauw Village Waters Sangadji, Madehusen; Padang, Anita; Wasahua, Jahra; Kastela, M. Udhafi
Jurnal Agrohut Vol. 15 No. 1 (2024): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v15i1.306

Abstract

The biology of the Lompa fish (Thryssa baelama, Forskall, 1975) in the waters of Kabauw Beach, Central Maluku is not yet known. This research aims to analyze fish size, the relationship between length weight and condition factors of Lompa fish. A total of 628 fish samples were collected using cast net fishing gear, from October – November 2023. The results showed that the total length of the fish ranged from 6 – 6.5 cm and body weight ranged from 1,703 – 13,072 grams. The relationship model for the length and weight of male fish W = 0.0102L2.8294 and female fish W = 0.0119L2.7501, and the combination of male and female W = 0.0111L2.7885. The condition factor (K) of male Lompa fish (Thryssa baelama) ranges between 0.695 – 1.3728 (0.993 ± 0.0779) and for females ranges between 0.7912 – 1.3783 (1.0056 ± 0.0807).