Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

EARLY DETECTION OF HEARING IMPAIRMENTS TRAINING: ENHACING COMMUNITY HEARING HEALTH DEGREES IN PACITAN, EAST JAVA Puguh Setyo Nugroho; Rosa Falerina; Rizka Fathoni Perdana; Zakiyatul Faizah; Azhar Nur Fathoni; Agde Muzaky Kurniawan; Danial Habri Arsy
Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services) Vol. 7 No. 4 (2023): JURNAL LAYANAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jlm.v7i4.2023.490-502

Abstract

Humans are social beings who always communicate with other individuals. The ear as a hearing organ has a big role in the communication process. Disorders of the ear will cause disturbances in individual communication and socialization with other individuals in society. Efforts to maintain and improve hearing health are the responsibility of all parties, especially doctors in primary health services as the spearhead of efforts to detect early public health, so that the quality of these doctors must be maintained. Pacitan, one of the districts in the province of East Java, has a mountainous area, that accessibility is quite difficult and remote. The availability of human resources and health infrastructure in Pacitan, which is quite limited, requires the ability to carry out early detection and management of hearing loss in the community. Therefore, community service activities were carried out in the form of training on early detection and management of hearing impairments for doctors throughout Pacitan district. The activity was attended by 47 general practitioners who were delegates from health facilities. The pre test results obtained an average value of 45.23 and the post test was 68.55. There is an increase in knowledge before and after the activity.
Clinicopathological profile of nasopharyngeal carcinoma in 2016-2019 at Dr. Soetomo General Hospital Susetiyo, Karindra Amadea; Kusumastuti, Etty Hary; Yusuf, Muhtarum; Falerina, Rosa
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 52 No. 1 (2022): VOLUME 52, NO. 1 JANUARY - JUNE 2022
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v52i1.474

Abstract

ABSTRACTBackground:.The number of nasopharyngeal carcinoma (NPC) cases is increasing and causing death, placing this cancer in fifth place as the cause of death in Indonesia. The initial clinical symptoms that are less specific often cause patients coming with advanced stage conditions. Therefore, the study of clinical and pathological profiles of NPC patients are required. Objective: To find out the clinicopathological profile of  NPC patients in Dr. Soetomo General Hospital in 2016-2019. Methods: This study was descriptive research with a retrospective study using medical records of NPC patients in Dr. Soetomo General Hospital from 2016 to 2019. Results:  192 NPC patients that meet the criteria were divided according to their age, gender, histopathological classification, stage, and post-therapy response. Out of 192 patients, 22 patients had post-therapy response based on histopathological data. Conclusion: NPC patients in Dr. Soetomo General Hospital in 2016-2019 were found in the range of 14-77 years old, most patients were in the age group 41-≤50 years old (66 patients, 34%). There were more male than female patients (73%). The most common clinical symptoms experienced by patients were a lump on the neck (82%), local ear complaints (79%), and local nasal complaints (75%). The most common histopathological subtype was non-keratinizing squamous cell carcinoma undifferentiated in 181 patients (94%). The highest stage of patients was IV A in 122 patients (64%). In 18 (82%) from 22 patients, based on histopathology examination had good criteria on therapy response. ABSTRAKLatar belakang: Angka kasus karsinoma nasofaring yang (KNF) kian meningkat dan dapat menyebabkan kematian, menempatkan kanker ini pada urutan ke lima di Indonesia. Gejala klinis awalnya yang kurang spesifik seringkali menyebabkan penderita datang dengan kondisi stadium lanjut. Oleh karena itu, profil penderita KNF secara klinis dan gambaran histopatologinya perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Mengetahui profil klinikopatologi penderita KNF di RSUD Dr. Soetomo tahun 2016-2019. Metode: Penelitian secara deskriptif dengan studi retrospektif menggunakan rekam medis penderita KNF di RSUD Dr. Soetomo tahun 2016-2019. Hasil:  Sebanyak 192 penderita KNF yang memenuhi kriteria dibagi berdasarkan kategori usia, jenis kelamin, klasifikasi histopatologi, stadium, dan respon pasca terapi. Dari 192 penderita ditemukan sebanyak 22 penderita memiliki data respon pasca terapi berdasarkan histopatologi. Kesimpulan: Penderita KNF di RSUD Dr.Soetomo tahun 2016-2019 ditemukan pada rentang usia 14-77 tahun dengan penderita terbanyak pada rentang usia 41- 50 yaitu 66 (34%) serta lebih banyak terjadi jenis kelamin laki-laki yaitu 140 (73%). Gejala klinis yang paling banyak dialami penderita adalah benjolan pada leher 158 (82%), keluhan lokal telinga 151 (79%), dan lokal hidung 144 (75%). Subtipe histopatologi terbanyak adalah nonkeratinizing squamous cell carcinoma undifferentiated yaitu 181 (94%) penderita. Stadium terbanyak penderita adalah IV A yaitu 122 (64%) penderita. Sebanyak 18 (82%) dari 22 penderita berkriteria baik pada respon terapi berdasarkan histopatologi.
Dampak Intervensi Edukasi Terhadap Pengetahuan Tenaga Kesehatan Tentang Skrining Pendengaran di Puskesmas Kawedanan, Magetan Falerina, Rosa; Nugroho, Puguh Setyo; Perdana, Rizka Fathoni; Rosalina, Elsa; Rachmadhan, Hayyu Fath
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 5 No. 9 (2025): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v5i9.32445

Abstract

Gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan global yang berdampak luas pada kualitas hidup individu, mulai dari hambatan perkembangan bicara pada anak, penurunan prestasi akademik pada remaja, hingga isolasi sosial dan peningkatan risiko jatuh pada lansia. Deteksi dini melalui layanan primer sangat penting, namun pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan di lini pertama masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas edukasi dan pelatihan skrining gangguan pendengaran bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Kawedanan, Kabupaten Magetan. Metode yang digunakan adalah pelatihan dengan pendekatan kombinasi seminar daring dan workshop luring. Sebanyak 61 tenaga kesehatan dari berbagai profesi mengikuti kegiatan ini. Pengetahuan peserta dievaluasi menggunakan pretest dan posttest, dengan analisis statistik untuk mengukur peningkatan pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor pretest sebesar 68,03 dan meningkat menjadi 97,05 pada posttest. Uji statistik menunjukkan adanya peningkatan signifikan (p < 0,01), yang menandakan kegiatan edukasi dan pelatihan efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta mengenai skrining gangguan pendengaran. Edukasi dan pelatihan berbasis kombinasi metode dapat meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan tentang deteksi dini gangguan pendengaran. Kegiatan ini perlu dilaksanakan secara berkelanjutan agar tenaga kesehatan di layanan primer mampu berperan aktif dalam deteksi dini dan penatalaksanaan awal gangguan pendengaran, sehingga kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan.
KARAKTERISTIK PASIEN MIKROTIA DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS AIRLANGGA PERIODE 2018-2021 Tadika, Renanda Sekar; Falerina, Rosa; Budi, Agus Santoso; Perdana, Rizka Fathoni
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 4 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mikrotia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Adanya gangguan pendengaran dan kelainan bentuk wajah pada penderita mikrotia menimbulkan banyak stigmatisasi dari orang-orang di sekitarnya. Hal ini tentu memengaruhi kondisi psikologisnya sehingga diperlukan penanganan yang tepat bagi pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien mikrotia di RS Universitas Airlangga periode 2018-2021. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan desain retrospektif. Populasi yang digunakan adalah rekam medis pasien mikrotia di Rumah Sakit Universitas Airlangga periode 2018-2021. Hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin pasien terbanyak adalah laki-laki (69,2%). Mayoritas pasien menderita mikrotia unilateral (55,1%), derajat III (83,3%) dengan tipe tuli konduksi (95,71%). Sementara itu, paling banyak riwayat penyakit ibu pasien mengonsumsi obat-obatan teratogenik (42,3%). Kasus mikrotia ini lebih banyak terjadi pada pria dan terjadi pada telinga kanan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, yang terbanyak adalah konsumsi obat teratogenik selama masa kehamilan. Kata kunci: anotia, faktor risiko, gangguan pendengaran, mikrotia DOI : 10.35990/mk.v6n4.p385-394