Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengendalian Populasi Bakteri Vibrio sp. Koloni Hijau pada Pemeliharaan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Menggunakan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L) Baref Agung Wicaksono; Sefti Heza Dwinanti; Purnomo Hadi
Intek Akuakultur Vol. 4 No. 1 (2020): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.731 KB) | DOI: 10.31629/intek.v4i1.1536

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun pepaya (Carica papaya L) dalam menekan populasi bakteri Vibrio sp. koloni hijau pada media pemelihara dan tubuh udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2018 di PT. SyAqua Indonesia Serang, Banten. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan terdiri dari konsentrasi ekstrak daun pepaya yaitu 30 mg/L, 45 mg/L dan 0 mg/L sebagai kontrol. Parameter yang diamati selama penelitian adalah kelangsungan hidup udang, kualitas air (pH, suhu, salinitas, amonia dan alkalinitas), profil kepadatan bakteri yang terdiri dari total bakteri Vibrio sp., total koloni hijau, total koloni kuning dan rasio koloni hijau terhadap total bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun pepaya mampu menekan populasi bakteri lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Konsentrasi tertinggi, 45 mg/L memberikan nilai proteksi terbaik terhadap vibriosis dengan nilai kelangsungan hidup mencapai 22,5% sedangkan kontrol hanya 9,5% dan P1 18,6%. Parameter kualitas air selama pemeliharaan masih dalam kondisi kisaran optimum.
UJI BEDA SENSITIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN LEVOFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO Dewi Ulfa Mei Saroh; Muslimin Muslimin; Purnomo Hadi
Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.227 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v5i4.14263

Abstract

Latar Belakang : Penyakit gonore merupakan penyakit menular seksual yang terus mengalami peningkatan di berbagai negara di dunia. Pengobatan lini pertama yang dianjurkan untuk mengobati penderita gonore adalah antibiotik seftriakson. Tingginya angka resistensi terhadap antibiotik seftriakson mengharuskan dokter mencari alternatif baru untuk pengobatan gonore. Levofloksasin merupakan salah satu obat alternatif untuk pengobatan gonore.Tujuan : Menilai perbedaan sensitivitas levofloksasin dengan setriakson pada kuman Neisseria gonorrhoeae.Metode : Penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional design. Sampel yang diambil sebanyak 60 pasien positif duh purulen. Setelah itu dilakukan pengecatan Gram dan didapatkan kuman diplococcus gram negatif. Sebanyak 29 sampel yang ditemukan kemudian dibiakkan pada Media Thayer Martin dan diinkubasi pada suhu 37° selama 48 jam. Setelah tumbuh koloni, dilakukan tes definitif yaitu tes oksidasi dan tes fermentasi glukosa. Setelah sebanyak 26 sampel dinyatakan positif Neisseria gonorrhoeae, koloni pada media Thayer Martin dibiakkan pada media Mueller Hinton untuk uji sensitivitas. Setelah inkubasi selama 24 jam, zona hambat telah terbentuk dan dapat diukur diameternya.Hasil : Jumlah sampel yang sensitif terhadap levofloksasin 19 (73%) dan resisten sebanyak 7 (27%) sampel. Pada seftriakson sebanyak 20 (77%) sampel mengalami resisten dan hanya 6 (23%) yang sensitif terhadap antibiotik seftriakson.Kesimpulan : Terdapat perbedan sensitivitas yang bermakna antara antibiotik seftriakson dan levofloksasin terhadap kuman Neisseria gonorrhoeae secara in vitro. Levofloksasin memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan seftriakson.
POLA KEPEKAAN OBAT ANTITUBERKULOSIS LINI PERTAMA PADA PASIEN TBC Suwanto, Yustiana Arie; Yekti Hediningsih; Purnomo Hadi
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 3 No. 3 (2024): Oktober: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v3i3.1681

Abstract

Tuberkulosis (TBC) sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Krisis TB dikarenakan penderita TBC mengalami resistensi obat anti tuberkulosis (OAT). Diagnosa TB terdapat 3 cara yakni pemeriksaan mikroskopis, biakan dan uji kepekaan Mycobacterium tuberculosis. Menurut Permenkes nomor 13 tahun 2013, uji resistensi OAT termasuk dalam program pengendalian dan pengobatan TB. Balai laboratorium kesehatan (Balabkes) Jawa Tengah ditunjuk sebagai salah satu laboratorium uji kepekaan OAT. Pengobatan TB yang adekuat dapat mengurangi angka kematian di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui pola kepekaan OAT pada pasien TB. Metode penelitian adalah observasional. Hasil penelitian adalah tingkat sensitivitas OAT lini pertama INH 0,1 (31%), INH 0.4 (45%) dan Pirazinamid (65%).