Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Efficient: Indonesian Journal of Development Economics

Analisis Tax Buoyancy pada Asean-5 Tahun 2002-2016 Setyoningrum, Dewi; Purwanti, Evi Yulia
Efficient: Indonesian Journal of Development Economics Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/efficient.v3i2.39295

Abstract

The fiscal deficit in developing countries is a major problem that has prompted government efforts to increase tax revenues. There is a positive relationship between tax and PDB. With tax buoyancy, the total response of tax revenue to changes in PDB can be measured by policy changes in the tax or administrative system. This study aims to identify analysis of tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand) in 2002-2016. The analysis method in this study uses panel data regression analysis. Panel data regression analysis with the Commond Effect Model method is used to analyze the influence of the share of manufacturing sector, share of agricultural sector, share of import sector, share of service sector, budget deficit, corruption, and tax reform to tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand in 2002-2016. The data used in this research is secondary data. The panel data regression results show that share of manufacturing sector, share of import sector, share of service sector, budget defici, corruption, and tax reform have a significant effect to tax buoyancy. The share of manufacturing sector with a coefficient of 1.30 as dominant factor affecting tax buoyancy. While for the share of agricultural sector has a coefficient -0.60 and insignificant effect on tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand) in 2002-2016. Defisit fiskal di negara-negara berkembang adalah masalah besar yang mendorong upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan pajak. Ada hubungan positif antara pajak dan PDB. Dengan apung pajak, total respons penerimaan pajak terhadap perubahan dalam PDB dapat diukur dengan perubahan kebijakan dalam sistem perpajakan atau administrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi analisis daya apung pajak di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tahun 2002-2016. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel. Analisis regresi data panel dengan metode Commond Effect Model digunakan untuk menganalisis pengaruh pangsa sektor manufaktur, pangsa sektor pertanian, pangsa sektor impor, pangsa sektor jasa, defisit anggaran, korupsi, dan reformasi pajak terhadap kemampuan pajak di Negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand pada tahun 2002-2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Hasil regresi data panel menunjukkan bahwa pangsa sektor manufaktur, pangsa sektor impor, pangsa layanan sektor, defisiensi anggaran, korupsi, dan reformasi pajak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap daya apung pajak. Pangsa sektor manufaktur dengan koefisien 1,30 sebagai faktor dominan yang mempengaruhi pajak apung. Sedangkan untuk pangsa sektor pertanian memiliki koefisien -0,60 dan pengaruh tidak signifikan tentang daya apung pajak di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tahun 2002-2016.
Analisis Tax Buoyancy pada Asean-5 Tahun 2002-2016 Setyoningrum, Dewi; Purwanti, Evi Yulia
Efficient: Indonesian Journal of Development Economics Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/efficient.v3i2.39295

Abstract

The fiscal deficit in developing countries is a major problem that has prompted government efforts to increase tax revenues. There is a positive relationship between tax and PDB. With tax buoyancy, the total response of tax revenue to changes in PDB can be measured by policy changes in the tax or administrative system. This study aims to identify analysis of tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand) in 2002-2016. The analysis method in this study uses panel data regression analysis. Panel data regression analysis with the Commond Effect Model method is used to analyze the influence of the share of manufacturing sector, share of agricultural sector, share of import sector, share of service sector, budget deficit, corruption, and tax reform to tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand in 2002-2016. The data used in this research is secondary data. The panel data regression results show that share of manufacturing sector, share of import sector, share of service sector, budget defici, corruption, and tax reform have a significant effect to tax buoyancy. The share of manufacturing sector with a coefficient of 1.30 as dominant factor affecting tax buoyancy. While for the share of agricultural sector has a coefficient -0.60 and insignificant effect on tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand) in 2002-2016. Defisit fiskal di negara-negara berkembang adalah masalah besar yang mendorong upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan pajak. Ada hubungan positif antara pajak dan PDB. Dengan apung pajak, total respons penerimaan pajak terhadap perubahan dalam PDB dapat diukur dengan perubahan kebijakan dalam sistem perpajakan atau administrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi analisis daya apung pajak di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tahun 2002-2016. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel. Analisis regresi data panel dengan metode Commond Effect Model digunakan untuk menganalisis pengaruh pangsa sektor manufaktur, pangsa sektor pertanian, pangsa sektor impor, pangsa sektor jasa, defisit anggaran, korupsi, dan reformasi pajak terhadap kemampuan pajak di Negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand pada tahun 2002-2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Hasil regresi data panel menunjukkan bahwa pangsa sektor manufaktur, pangsa sektor impor, pangsa layanan sektor, defisiensi anggaran, korupsi, dan reformasi pajak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap daya apung pajak. Pangsa sektor manufaktur dengan koefisien 1,30 sebagai faktor dominan yang mempengaruhi pajak apung. Sedangkan untuk pangsa sektor pertanian memiliki koefisien -0,60 dan pengaruh tidak signifikan tentang daya apung pajak di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tahun 2002-2016.
Pengaruh Otomasi terhadap Eksistensi Kurva Phillips di Negara Open Economy OECD Damayanti, Dhia Alifia; Purwanti, Evi Yulia
Efficient: Indonesian Journal of Development Economics Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/efficient.v4i1.42473

Abstract

The Phillips curve, one of the basic theories of economics which introduced by A.W Phillips (1958), explains about trade-off between inflation rate and unemployment rate. The changing of economic conditions provoke an issue of whether the simple Phillips curve is still valid. The entry of automation and openness, create a presumption that they are the cause of low inflation rate and the weakening of Phillips curve theory in developed countries. The purpose of this study is to see the effect of automation which proxied by robot density on the existence of Phillips curve in 16 open economy countries which included in OECD for 2015 – 2018. This study uses a static panel data method. The result shows that in the period of 4 years, there is a negative effect of unemployment rate on inflation rate and a positive effect of automation on inflation rate. Then the output gap and trade openness has a positive effect on inflation. Overall, the Phillips curve is still valid despite the use of automation and its the effect on inflation rate is still at an early stage and can continue to develop for the next period. Kurva Phillips, salah satu teori dasar ilmu ekonomi yang dikenalkan oleh A.W Phillips (1958), menjelaskan trade-off antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Perubahan kondisi ekonomi menimbulkan masalah apakah kurva Phillips sederhana masih valid. Masuknya otomasi dan keterbukaan, menimbulkan anggapan bahwa keduanya penyebab rendahnya tingkat inflasi dan melemahnya teori kurva Phillips di negara maju. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh otomasi yang diproksikan dengan kepadatan robot terhadap eksistensi kurva Phillips di 16 negara ekonomi terbuka yang termasuk dalam OECD tahun 2015 - 2018. Penelitian ini menggunakan metode data panel statis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 4 tahun terdapat pengaruh negatif tingkat pengangguran terhadap tingkat inflasi dan otomasi berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi. Kemudian output gap dan trade openness berpengaruh positif terhadap inflasi. Secara keseluruhan, kurva Phillips masih berlaku ditengah padatnya otomasi dan pengaruhnya terhadap tingkat inflasi masih dalam tahap awal dan dapat terus berkembang untuk periode berikutnya.
Analisis Tax Buoyancy pada Asean-5 Tahun 2002-2016 Setyoningrum, Dewi; Purwanti, Evi Yulia
Efficient: Indonesian Journal of Development Economics Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/efficient.v3i2.39295

Abstract

The fiscal deficit in developing countries is a major problem that has prompted government efforts to increase tax revenues. There is a positive relationship between tax and PDB. With tax buoyancy, the total response of tax revenue to changes in PDB can be measured by policy changes in the tax or administrative system. This study aims to identify analysis of tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand) in 2002-2016. The analysis method in this study uses panel data regression analysis. Panel data regression analysis with the Commond Effect Model method is used to analyze the influence of the share of manufacturing sector, share of agricultural sector, share of import sector, share of service sector, budget deficit, corruption, and tax reform to tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand in 2002-2016. The data used in this research is secondary data. The panel data regression results show that share of manufacturing sector, share of import sector, share of service sector, budget defici, corruption, and tax reform have a significant effect to tax buoyancy. The share of manufacturing sector with a coefficient of 1.30 as dominant factor affecting tax buoyancy. While for the share of agricultural sector has a coefficient -0.60 and insignificant effect on tax buoyancy in ASEAN-5 countries (Indonesia, Philippines, Malaysia, Singapore, and Thailand) in 2002-2016. Defisit fiskal di negara-negara berkembang adalah masalah besar yang mendorong upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan pajak. Ada hubungan positif antara pajak dan PDB. Dengan apung pajak, total respons penerimaan pajak terhadap perubahan dalam PDB dapat diukur dengan perubahan kebijakan dalam sistem perpajakan atau administrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi analisis daya apung pajak di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tahun 2002-2016. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel. Analisis regresi data panel dengan metode Commond Effect Model digunakan untuk menganalisis pengaruh pangsa sektor manufaktur, pangsa sektor pertanian, pangsa sektor impor, pangsa sektor jasa, defisit anggaran, korupsi, dan reformasi pajak terhadap kemampuan pajak di Negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand pada tahun 2002-2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Hasil regresi data panel menunjukkan bahwa pangsa sektor manufaktur, pangsa sektor impor, pangsa layanan sektor, defisiensi anggaran, korupsi, dan reformasi pajak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap daya apung pajak. Pangsa sektor manufaktur dengan koefisien 1,30 sebagai faktor dominan yang mempengaruhi pajak apung. Sedangkan untuk pangsa sektor pertanian memiliki koefisien -0,60 dan pengaruh tidak signifikan tentang daya apung pajak di negara-negara ASEAN-5 (Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand) pada tahun 2002-2016.
Pengaruh Otomasi terhadap Eksistensi Kurva Phillips di Negara Open Economy OECD Damayanti, Dhia Alifia; Purwanti, Evi Yulia
Efficient: Indonesian Journal of Development Economics Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/efficient.v4i1.42473

Abstract

The Phillips curve, one of the basic theories of economics which introduced by A.W Phillips (1958), explains about trade-off between inflation rate and unemployment rate. The changing of economic conditions provoke an issue of whether the simple Phillips curve is still valid. The entry of automation and openness, create a presumption that they are the cause of low inflation rate and the weakening of Phillips curve theory in developed countries. The purpose of this study is to see the effect of automation which proxied by robot density on the existence of Phillips curve in 16 open economy countries which included in OECD for 2015 – 2018. This study uses a static panel data method. The result shows that in the period of 4 years, there is a negative effect of unemployment rate on inflation rate and a positive effect of automation on inflation rate. Then the output gap and trade openness has a positive effect on inflation. Overall, the Phillips curve is still valid despite the use of automation and its the effect on inflation rate is still at an early stage and can continue to develop for the next period. Kurva Phillips, salah satu teori dasar ilmu ekonomi yang dikenalkan oleh A.W Phillips (1958), menjelaskan trade-off antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Perubahan kondisi ekonomi menimbulkan masalah apakah kurva Phillips sederhana masih valid. Masuknya otomasi dan keterbukaan, menimbulkan anggapan bahwa keduanya penyebab rendahnya tingkat inflasi dan melemahnya teori kurva Phillips di negara maju. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh otomasi yang diproksikan dengan kepadatan robot terhadap eksistensi kurva Phillips di 16 negara ekonomi terbuka yang termasuk dalam OECD tahun 2015 - 2018. Penelitian ini menggunakan metode data panel statis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 4 tahun terdapat pengaruh negatif tingkat pengangguran terhadap tingkat inflasi dan otomasi berpengaruh positif terhadap tingkat inflasi. Kemudian output gap dan trade openness berpengaruh positif terhadap inflasi. Secara keseluruhan, kurva Phillips masih berlaku ditengah padatnya otomasi dan pengaruhnya terhadap tingkat inflasi masih dalam tahap awal dan dapat terus berkembang untuk periode berikutnya.