Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pelatihan Tehnik Pemanduan Dan Pembuatan Paket Wisata Sebagai Suatu Kemasan Atraksi Wisata Pada Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara Muhammad Fauzan Noor; Tien Rahayu Tulili; Rini Koen Iswandari
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2019): Plakat: Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v1i2.2965

Abstract

Desa Pela terletak di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, merupakan suatu desa yang didiami oleh etnis Banjar. Potensi Alam yang terdapat di desa ini sangat menarik untuk dikunjungi. Kita bisa menyaksikan Sunset di Tanjung Tamanoh, Hewan langka Mamalia pesut yang sering muncul di perairan danau Semayang dekat desa Pela. Ada pula Habitat Bekantan, ada pula atraksi ski air yang ditarik dengan kapal motor ces, kita juga bisa melihat Museum Pela serta olahan khas dari ikan sungai. Desa Pela sangat membutuhkan Sumber daya manusia yang terlatih dalam memberikan pelayanan kepada para wisatawan, baik dari segi bahasa dalam berkomunikasi maupun dalam tehnik pemanduan dalam setiap kegiatan kunjungan dari wisatawan. Mereka belum memiliki teknik memandu yang benar sehingga kurang mampu menjelaskan serta  memberi petunjuk tentang potensi kepariwisataan yang ada ditempat mereka. Hal ini membuat potensi yang ada disekitar mereka tidak dapat di maksimalkan. Target / luaran dari hasil yang diinginkan adalah masyarakat mampu menjadi pemandu wisata yang baik sehingga mampu melayani para wisatawan yang datang ketempat mereka. Serta membuat  paket wisata yang menampilkan potensi yang ada di Desa Pela akan membuat para calon pengunjung tertarik untuk mampir dan berkunjung kesana. Hal ini tentu saja diharapkan dapat membantu pendapatan masyarakat setempat dari sisi ekonomi.
PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP FASILITAS KAMPUNG KETUPAT WARNA WARNI SAMARINDA Muhammad Fauzan Noor; I Wayan Lanang Nala; Firda Aisyiyah; Dini Zulfiani
Jurnal Riset Inossa Vol. 2 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.298 KB)

Abstract

Destinasi Kampung Ketupat Warna Warni yang berlokasi di Kecamatan Samarinda Seberang,merupakan destinasi wisata baru yang berbasis masyarakat. Hampir sebagian besar warganyamembuat ketupat untuk dijual dan yang lebih uniknya lagi di setiap depan rumah warga banyakketupat yang sudah selesai tergantung dengan rapi. Mereka tidak perlu menjualnya ke pasarmelainkan para pembeli yang datang langsung ke kampung ini. Beragam fasilitas baik utama,pendukung dan penunjang mewarnai keberadaan desa ini. Pengunjung memberikan persepsipenilaian yang beragam terhadap fasilitas kampung ini dengan harapan agar peningkatan danpengembangan fasilitas dapat terwujud. Metode yang digunakan adalah dengan melakukanwawancara terhadap pengurus kelompok sadar wisata (POKDARWIS) serta warga pembuatketupat, selain itu penulis juga menyebarkan angket kepada 100 orang pengunjung secara acak.Agar persepsi yang diperoleh nanti benar-benar mewakili pemikiran dari pengunjung. Hasil kajianmenunjukan bahwa akses jalan dan area berfoto merupakan fasilitas utama yang harus di benahi danditingkatkan lagi, selain fasilitas pendukung dan penunjang lainnya. Perlunya wadah untuk belajarmembuat olahan dari daun kelapa bagi pengunjung merupakan salah satu referensi sebagai bagiandari wisata edukasi, serta tata letak lokasi desain kuliner yang khas dari olahan ketupat agarmembuat wisatawan datang berkunjung dan bertahan lebih lama serta dapat membelanjakanuangnya lebih banyak lagi.
Pelatihan Mencanting Dan Mewarnai Pada Kegiatan Membatik Bagi Pokdarwis di Kampung Ketupat Warna Warni, Kec. Samarinda Seberang Muhammad Fauzan Noor; Winarti Winarti; Dini Zulfiani
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2023): Plakat: Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v5i1.10414

Abstract

Kampung ketupat is an educational-based tourist spot, namely education on making ketupat shells which is very familiar in this tourist spot because most of the people rely on the expertise to make diamond shells where later the results of the manufacture will be sold to collectors and appreciated by those who buy it. from that in this ketupat village it became an educational tour that taught how to make ketupat shells. The tourist attraction in this ketupat village needs creation and innovation so that it becomes an attraction for visitors, the lecturers of the Samarinda State Polytechnic (POLNES) are trying to help carry out development in this ketupat village by teaching how to print and color on cloth in the form of a diamond motif where later it will be used as a product for souvenirs or souvenirs for visitors. The purpose of this development is to help the Tourism Awareness Group (Pokdarwis) in this ketupat village to make it more attractive to tourists. The implementation of this service involves the community in Ketupat village to help more in the development of tourist villages, but the problem that must be faced is that the participants must still be monitored in cutting and coloring in making batik cloth because this requires carefulness and neatness in preparing it. so, it takes training really to proficient.Kampung ketupat merupakan tempat wisata yang berbasis edukasi,yakni edukasi pembuatan tempurung ketupat yang sangat familiar di tempat wisata ini karna kebanyakan masyarakatnya mengandalkan keahlian membuat tempurung ketupat yang di mana nanti hasil dari pembuatannya itu akan di jual kepada pengepul dan di hargai oleh orang yang membeli maka dari itu di kampung ketupat ini menjadi wisata edukasi yang mengajarkan bagaimana cara membuat tempurung ketupat. Daya tarik wisata di kampung ketupat ini perlu kreasi dan inovasi agar menjadi daya tarik bagi pengunjung, para dosen Politeknik Negeri Samarinda (POLNES)mencoba membantu melakukan pengembangan di kampung ketupat ini dengan mengajarkan bagaimana cara mencanting dan mewarnai di kain dengan bentuk motif ketupat yang di mana nantinya akan di jadikan produk bagi souvenir atau cinderamata bagi pengunjung. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk membantu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di kampung ketupat ini agar lebih menarik wisatawan. Pelaksanaan pengabdian ini dengan melibatkan masyarakat yang ada di kampung ketupat agar lebih membantu dalam perkembangan kampung wisata,tetapi permasalahan yang harus di hadapi yaitu peserta yang masih harus terus di awasi dalam mencanting dan mewarnai dalam pembuatan kain batik karna hal ini membutuhkan kejelian dan kerapian dalam menyusunnya sehingga butuh pelatihan yang betul-betul hingga mahir. 
Penguatan Ikon Kuliner Iwak Basumap sebagai Strategi Branding Desa Wisata melalui Pendampingan Partisipatif Berbasis Uji Cita Rasa Muhammad Fauzan Noor; Dini Zulfiani
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2026): MEI-JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/56627j70

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat ikon kuliner lokal Iwak Basumap sebagai strategi branding Desa Wisata Sangkuliman melalui pendekatan pendampingan partisipatif berbasis uji cita rasa. Kegiatan dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan potensi ikan lokal sebagai produk unggulan desa serta keterbatasan kapasitas masyarakat dalam standardisasi pengolahan dan pengemasan kuliner. Metode pelaksanaan menggunakan desain pelatihan partisipatif yang dipadukan dengan workshop praktik memasak, panel blind test, diskusi reflektif, dan penyusunan rencana aksi selama dua hari. Peserta kegiatan berjumlah sekitar 30 orang yang terdiri dari Pokdarwis, PKK, Karang Taruna, pelaku UMKM kuliner, dan pengelola homestay. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta berdasarkan data pre–post test, keterlibatan aktif dalam proses produksi, serta terbentuknya pemetaan preferensi sensori terhadap lima jenis ikan (patin, haruan, repang, jelawat, dan baung). Uji cita rasa menghasilkan validasi awal produk Iwak Basumap sebagai kandidat ikon kuliner desa, yang kemudian ditindaklanjuti dengan komitmen integrasi ke paket wisata dan menu homestay. Secara keseluruhan, program ini berhasil membangun fondasi penguatan branding kuliner desa melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan kurasi produk berbasis potensi lokal. Ke depan, diperlukan pendampingan lanjutan terutama pada aspek standardisasi, uji pasar, dan strategi pemasaran untuk memperluas dampak ekonomi.
Peningkatan Kapasitas Barista dan Inovasi Mocktail Berbasis Bahan Lokal pada Desa Wisata Sangkuliman melalui Pelatihan Partisipatif Muhammad Fauzan Noor; I Wayan Sudarmayasa; Dini Zulfiani
Indonesia Berdampak: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ddjdez87

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas barista pemuda dan Pokdarwis Desa Wisata Sangkuliman serta mendorong inovasi mocktail berbasis bahan lokal sebagai bagian penguatan daya tarik wisata desa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif yang dikemas dalam workshop praktik, diskusi interaktif, simulasi mini café desa, dan evaluasi kinerja peserta selama dua hari kegiatan. Peserta kegiatan berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari pemuda dan unsur Pokdarwis, dengan instrumen pelatihan meliputi peralatan manual brew, mesin espresso, bahan mocktail lokal, serta lembar observasi dan penilaian performa. Hasil kegiatan menunjukkan seluruh peserta mampu menguasai keterampilan dasar penyeduhan kopi dan pelayanan minuman, serta berhasil menghasilkan lima varian mocktail berbasis bahan lokal desa. Observasi kegiatan juga mencatat peningkatan kepercayaan diri peserta, keterlibatan aktif selama pelatihan, serta munculnya inisiatif pengembangan usaha minuman desa. Secara kuantitatif, program menghasilkan sepuluh SDM terlatih dengan proyeksi potensi omzet kedai mencapai Rp750.000 per hari, sedangkan secara kualitatif kegiatan memperkuat kesiapan Pokdarwis dalam diversifikasi produk wisata. Dengan demikian, pelatihan partisipatif barista dan mocktail terbukti menjadi langkah awal yang efektif dalam penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan pengalaman wisata berbasis minuman lokal di Desa Wisata Sangkuliman.
Peningkatan Daya Saing Produk Souvenir UMKM Desa Wisata Sangkuliman melalui Pelatihan dan Pendampingan Desain Kemasan Partisipatif Muhammad Fauzan Noor; Andi Farid Hidayanto; Dini Zulfiani
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i3.18018

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM Desa Wisata Sangkuliman dalam merancang desain kemasan produk souvenir yang lebih informatif, menarik, dan memiliki identitas visual yang kuat. Kegiatan dilatarbelakangi oleh kondisi awal mitra yang masih menggunakan kemasan sederhana, belum memiliki branding yang jelas, serta rendahnya pemahaman terkait labelisasi produk. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pelatihan dan pendampingan partisipatif selama dua hari yang meliputi pelatihan klasikal, workshop praktik desain menggunakan aplikasi sederhana, diskusi kelompok, simulasi pembuatan dummy kemasan, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Peserta kegiatan berjumlah 10 orang yang terdiri dari pelaku UMKM dan pemuda desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 52 pada pre-test menjadi 81 pada post-test. Selain itu, dihasilkan lima dummy desain kemasan untuk produk unggulan desa, yaitu madu kelulut, kue semprit, kacang goyang, roti balok, dan kerupuk ikan belida. Observasi dan kutipan peserta juga menunjukkan perubahan persepsi bahwa kemasan dipahami sebagai identitas produk dan alat komunikasi nilai. Program ini disimpulkan efektif pada tahap penguatan kapasitas awal pelaku UMKM, meskipun masih diperlukan pendampingan lanjutan untuk memastikan implementasi kemasan pada produksi nyata dan penguatan aspek pemasaran.
Penguatan Standar Pengelolaan Homestay Desa Wisata melalui Pendampingan Partisipatif Berbasis Inovasi Layanan Kreatif Muhammad Fauzan Noor; Dini Zulfiani
Sejahtera: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2026): Mei
Publisher : PT Cendekia Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This community service program aims to strengthen homestay management standards in Sangkuliman Tourism Village thru participatory assistance based on innovative creative services. The focus of the activities is directed toward improving the competencies of homestay managers in aspects of service standards, hospitality, creative housekeeping skills, and the preparation of village homestay profiles. The implementation method used an interactive training and mentoring approach over two days, involving around 10 participants from homestay owners, Pokdarwis, Karang Taruna, and the community. The activities included lectures, hospitality simulations, napkin folding and towel art practices, as well as assistance in compiling homestay profiles with pre-test and post-test evaluation instruments. The results showed an increase in understanding of homestay standards from 55% to 85%, hospitality from 60% to 88%, towel art skills from 20% to 90%, and the ability to compile homestay profiles from 30% to 85%. The program outputs also included the documentation of 10 homestay units, the compilation of one village homestay profile document, achieving ≥80% participant competence, and the initial formation of a service SOP draft. Overall, this program effectively enhances the readiness of homestay services and strengthens the initial capacity of village tourism managers, although the sustainability of the impact requires further assistance and regular monitoring.