Idris Mboka
Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Kupang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Pendidikan

Makna Lirik Lagu Gawi “Ine Pare” Karya Frans Tuku (Analisis Semiotik Carles S. Peirce) Idris Mboka; Ilham Syah
Jurnal Pendidikan Vol 8 No 2 (2020): Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.309 KB) | DOI: 10.36232/pendidikan.v8i2.451

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi makna tanda ikon, indeks, dan simbol pada lirik lagu Gawi “Ine Pare” karya Frans Tuku. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotik Carles S. Pierce dengan menggunakan metode deskripsi kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan tanda berupa ikon, indeks dan simbol. Representasi makna ikon Gawi pada lirik lagu Gawi “ine pare” karya Frans Tuku adalah momentum mempererat hubungan tali persaudaraan antara sesama dan ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta dan leluhur. Representasi makna Ikon nggua pada lirik lagu Gawi “Ine Pare” karya Frans Tuku adalah pesta adat penyambutan musim tanam yang diselenggarakan pada saat memasuki musim penghujan. Representasi makna indeks personal; orang-orang yang terlibat pada saat ritual maupun pada saat melakukan tarian Gawi. Representasi makna simbol pada lirik lagu Gawi “Ine Pare” karya Frans Tuku secara umum merepresentasikan realitas sosial-budaya masyarakat etnik Lio. Mosalaki memegang peranan penting dalam adat istiadat yang diwarisi leluhur diantaranya nasalah sosial-budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Selain itu, makna simbol pada lirik lagu Gawi “ine Pare” karya Frans Tuku merepresentasikan masalah-masalah sosial yang terjadi seperti perbuatan yang melanggar norma adat istiadat seperti kecurangan dalam mencari nafka, perkawinan dini serta perkawinan sedarah.
Interferensi Frasa Bahasa Lio Dialeg K Kedalam Penggunaan Bahasa Indonesia di Pasar Maurole Kabupaten Ende Idris Mboka; Andi Irfan
Jurnal Pendidikan Vol 9 No 1 (2021): Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.304 KB) | DOI: 10.36232/pendidikan.v9i1.632

Abstract

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan beberapa interferensi diantaranya: Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia oleh penjual dan pembeli di pasar Maurole mengalami interferensi frasa bahasa Lio dialek-K. Adapun bentuk-bentuk interferensi yang dapat disimpulkan diantaranya: (a) Interferensi Frasa verba dengan struktur frasa (V+Adv) pada frasa beli sudah. Selain itu, terdapat struktur frasa verba+verba pada frasa beli kasi yang tergolong dalam bentuk polimerfemis. Sedangkan struktur frasa verba dalam bahasa Indonesia seharusnya menggunakan bentuk kata sudah + beli (Adv+V); (b) Interferferensi dalam bentuk frasa adverbial. Dalam struktur bahasa Lio dilek K ditemukan frasa (Adj+Adv) dalam kata kurang bisa. Sedangkan struktur frasa verba bahasa Indonesia seharunya digunakan dalam bentuk kata bisa + kurang (Adv+Adj); (c) Interferensi dalam bentuk frasa ajektifa. Struktrur frasa adjektiva dalam bahasa Lio dialek K adalah (Adj+Noun) pada kata besar + ikan cakalan. sedangkan struktur frasa adjektiva bahasa Indonesia adalah ikan cakalang + besar (Noun+Adj); (d) Interferferensi dalam bentuk frasa numberelia. Struktrur frasa numeralia dalam bahasa Lio dialek K adalah (Noun+numeralia) dengan kata ikan tujuh ekor, sedangkan struktur frasa numeralia bahasa Indonesia adalah tujuh + ekor ikan (Numeralia+Noun).