Heni Muflihah
Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Perubahan Berat Badan Selama Pengobatan Tuberkulosis Paru Ladies Nursyfah; Heni Muflihah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5843

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis (MTB). TB patients usually experience malnutrition, which is characterized by weight loss (BB). Leptin levels that regulate body weight change during TB treatment. The purpose of this study was to determine the difference in changes in body weight after the initial and advanced stages of treatment in patients. This study used an analytic observational method with a cross-sectional design with secondary data on adult pulmonary TB patients at the Cidempet Health Center, Indramayu Regency using a purposive sampling technique. Data on body weight during TB treatment were analyzed descriptively and differences in body weight were analyzed using the dependent T test. The results of this study were obtained from a total of 138 subjects who had an average weight at diagnosis of 48.92 kg, after initial treatment 49.48 kg and after further treatment had an average of 51.29 kg. There is a difference in changes in body weight at the end of the initial stage of treatment compared to the advanced stage with a p-value of 0.000 (<0.005). The conclusion of this study is that the increase in body weight of TB patients after the initial stage of treatment is higher than the increase in body weight after the advanced stage of treatment. Keywords: Treatment, Tuberculosis, Weight Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB). Pasien TB biasanya mengalami malnutrisi, yang ditandai dengan penurunan berat badan (BB). Kadar leptin yang mengatur BB mengalami perubahan selama pengobatan TB. Tujuan penlitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perubahan BB setelah pengobatan tahap awal dan tahap lanjutan pada pasien. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan data sekunder penderita TB paru dewasa di Puskesmas Cidempet, Kabupaten Indramayu menggunakan teknik purposive sampling. Data BB selama pengobatan TB dianalisis secara deskriptif dan perbedaan BB dianalisis menggunakan uji T test dependent. Hasil penelitian ini didapatkan dari total subjek sebanyak 138 orang memiliki rata – rata BB pada saat diagnosis 48,92 kg, setelah pengobatan awal 49,48 kg dan setelah pengobatan lanjutan memiliki rata – rata 51,29 kg. Terdapat perbedaan perubahan BB pada akhir pengobatan tahap awal dibandingkan tahap lanjutan didapatkan nilai p-value sebesar 0,000 (<0,005). Kesimpulan penelitian ini adalah peningkatan BB pasien TB setelah pengobatan tahap awal lebih tinggi daripada peningkatan BB setelah pengobatan tahap lanjutan. Kata kunci: Berat badan, Pengobatan, Tuberkulosis
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru dengan Komorbid Diabetes Mellitus di RSUD Al Ihsan Bandung Tahun 2020 Rini Nur Islami Dinan; Julia Hartati; Heni Muflihah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6795

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by infection with the bacterium Mycobacterium tuberculosis. In TB patients with Diabetes Mellitus (DM), chronic hyperglycemia impairs immunity and causes prolonged treatment. The aim of this study was to analyze the relationship between DM comorbidities and the success of pulmonary TB treatment. This cross-sectional study used secondary data from the TB information system (SITB) and medical records. The subjects of this study were pulmonary TB patients undergoing treatment at Al Ihsan Hospital during 2020. The inclusion criteria included a minimum age of 19 years, pulmonary TB, and completion of treatment. Research data included TB DM status and treatment outcomes. The end result of complete treatment includes cured and complete. Total TB patients were 1319 people with adult pulmonary TB as many as 634 people who met the inclusion criteria. Most of the pulmonary TB patients were male, 360 people (56.78%) and adults (20-59 years) 455 people (71.77%). Pulmonary TB patients with comorbid DM were 12 people (1.89%) and 622 people without DM (98.11%). There are 10 out of 12 TB DM patients who have incomplete treatment outcomes. There is no relationship between DM comorbidities and the success of pulmonary TB treatment with a P value of 2.517 (P value > 0.05). The conclusion of this study is that there is no relationship between DM comorbidities and treatment success rates. Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada penderita TB dengan Diabetes Melitus (DM), hiperglikemia kronis merusak imunitas dan menyebabkan lamanya pengobatan.Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan komorbid DM dengan keberhasilan pengobatan TB Paru. Penelitian cross sectional ini menggunakan data sekunder sistem informasi TB (SITB) dan rekam medik. Subjek penelitian ini adalah pasien TB paru yang menjalani pengobatan di RSUD Al Ihsan selama tahun 2020. Kriteria inklusi meliputi usia minimal 19 tahun, TB paru, dan menyelesaikan pengobaan. Data penelitian meliputi status TB DM and hasil akhir pengobatan. Hasil akhir pengobatn lengkap meliputi sembuh dan lengkap. Total pasien TB sebanyak 1319 orang dengan TB paru dewasa sebanyak 634 orang yg memenuhi krikteria inklusi. Sebagian besar pasien TB paru memiliki jenis kelamin laki-laki 360 orang (56.78%) dan usia dewasa (20-59 tahun) 455 orang (71.77%). Pasien TB paru dengan komorbid DM 12 orang (1.89%) dan tidak DM 622 orang (98.11%). Terdapat 10 dari 12 orang pasien TB DM memiliki hasil akhir pengobatan tidak lengkap. Tidak terdapat hubungan antara komorbid DM dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan P value 2.517 (P value > 0.05). Simpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan komorbid DM dengan angka keberhasilan pengobatan.
Studi Literatur: Peran Status Gizi pada Hasil Akhir Pengobatan Tuberkulosis Paru Anak Clarisa Alfatihah Erman; Heni Muflihah; Ismawati
Jurnal Riset Kedokteran Volume 4, No.1, Juli 2024, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v4i1.4398

Abstract

Abstract. This literature study was conducted to collect literature on the role of nutritional status in the final outcome of childhood tuberculosis (TB) treatment. The method used is a literature study that collects several previous studies to determine the role of nutritional status in the final outcome of childhood tuberculosis treatment. The results of this study show that nutritional status plays a role in bacterial sterilization through immune system function and absorption of anti-tuberculosis drugs (OAT). Thus, poor nutritional status can lead to failure of pediatric TB treatment due to decreased immunity and inhibition of OAT absorption. Abstrak. Studi literatur ini dilakukan untuk mengumpulkan literatur mengenai peranan status gizi pada hasil akhir pengobatan Tuberkulosis (TB) anak. Metode yang digunakan adalah dengan studi literatur yang mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu untuk mengetahui peranan status gizi pada hasil akhir pengobatan Tuberkulosis anak. Hasil dari studi ini menunjukkan status gizi berperan pada sterilisasi bakteri melalui fungsi sistem kekebalan tubuh dan penyerapan obat anti tuberkulosis (OAT). Dengan demikian, status gizi kurang dapat menyebabkan kegagalan pengobatan TB anak karena penurunan kekebalan tubuh dan terhambatnya penyerapan OAT.
Hubungan Antara Karakteristik Pasien dan Keberhasilan Pengobatan pada Pasien TB Paru dengan DM Tipe 2 di RSP Dr. H. A. Rotinsulu Tegar Aria Yuda; Heni Muflihah; Miranti Kania Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10545

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis (MTB). One factor that complicates treatment is the presence of comorbidities in pulmonary TB patients, including diabetes mellitus (DM). TB patients with diabetes mellitus comorbidities (TB-DM) are known to often experience treatment failure. This study aims to analyze the relationship between patient characteristics and treatment success in DM-TB patients. This study was a cross-sectional study. The study subjects were type 2 DM-TB patients at RSP Dr. H.A. Rotinsulu for the period 2022-2023. The data used is in the form of secondary data taken from the medical record of DM-TB patients at RSP Dr.H.A. Rotinsulu. The study sample was taken using purposive sampling totaling 130 people. Characteristics include age, gender, and ownership of the National Health Insurance (JKN). The final result of treatment after 6 months cured or complete is categorized as successful. The relationship of patient characteristics with treatment success was analyzed using the chi-square test. The results showed that most of the type 2 TB-DM patients at RSP Dr. H.A Rotinsulu were adults (19-60 years) as many as 84 people (71.8%), male as many as 72 people (61.5%), had JKN as many as 100 people (85.5%), and succeeded in treatment as many as 70 people (59.9%). There was a significant association between age and treatment success (p < 0.05), but no significant association between sex and JKN ownership and treatment success (p > 0.05). The conclusion of this study is that adulthood is associated with the success of DM-TB treatment. Productive age tends to have high motivation and healing spirit that can increase the success of treatment. Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB). Salah satu faktor yang menyulitkan pengobatan adalah adanya penyakit penyerta pada pasien TB paru, diantaranya diabetes mellitus (DM). Pasien TB dengan penyakit penyerta diabetes mellitus (TB-DM) diketahui sering mengalami kegagalan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik pasien dengan keberhasilan pengobatan pada pasien TB-DM. Penelitian ini merupakan studi cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien TB-DM tipe 2 di RSP Dr. H.A. Rotinsulu periode 2022-2023. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diambil dari rekam medik pasien TB-DM di RSP Dr.H.A. Rotinsulu.Sampel penelitian diambil menggunakan purposive sampling berjumlah 130 orang. Karakteristik meliputi usia, jenis kelamin, dan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hasil akhir pengobatan setelah 6 bulan sembuh atau lengkap dikategorikan berhasil. Hubungan karakteristik pasien dengan keberhasilan pengobatan dianalisis menggunakan chi-square test. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien TB-DM tipe 2 di RSP Dr. H.A Rotinsulu berusia dewasa (19 – 60 tahun) sebanyak 84 orang (71.8%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 72 orang (61.5%), memiliki JKN sebanyak 100 orang (85.5%), dan berhasil dalam pengobatan sebanyak 70 orang (59.9%). Terdapat hubungan bermakna antara usia dan keberhasilan pengobatan (p < 0,05), namun tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dan kepemilikan JKN dengan keberhasilan pengobatan (p > 0,05). Simpulan penelitian ini adalah usia dewasa berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB-DM. Usia produktif cenderung memiliki motivasi dan semangat penyembuhan yang tinggi yang dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Studi Literatur: Peran Imunisasi BCG dan Riwayat Kontak dalam Perjalanan Penyakit Tuberkulosis Anak Haura Maulidayanthi; Heni Muflihah; Samsudin Surialaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10962

Abstract

Abstract. This literature study was conducted to collect theories regarding the role of BCG immunization and contact history in the course of childhood tuberculosis (TB) disease. The method used was through a literature study that collected several previous studies and theories to determine the role of BCG immunization and contact history in the course of childhood TB disease. The results of this study indicate that BCG immunization plays a role in increasing the immune response to prevent pulmonary TB infection in children under 5 years of age with an effectiveness of less than 50%. The immune response generated by vaccination can also prevent the spread of TB infection to extra-pulmonary sites. Contact with TB patients can increase exposure to Mycobacterium tuberculosis (MTB) bacteria in children through droplets. Therefore, BCG immunization increases defense against TB infection, while a history of contact increases exposure to TB infection. Abstrak. Studi literatur ini dilakukan untuk mengumpulkan teori mengenai peranan imunisasi BCG dan riwayat kontak dalam perjalanan penyakit tuberculosis (TB) anak. Metode yang digunakan adalah melalui studi literatur yang mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu dan teori untuk mengetahui peranan imunisasi BCG dan riwayat kontak dalam perjalanan penyakit TB anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa imunisasi BCG berperan dalam meningkatkan respon imun untuk mencegah infeksi TB paru anak pada usia di bawah 5 tahun dengan efektivitas kurang dari 50%. Respon imun yang dihasilkan vaksinasi juga dapat mencegah penyebaran infeksi TB ke ekstra paru. Kontak dengan penderita TB dapat meningkatkan paparan bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) pada anak melalui droplet. Oleh karena itu, imunisasi BCG meningkatkan pertahanan terhadap infeksi TB, sedangkan riwayat kontak meningkatkan paparan infeksi TB.