Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Distribusi Spasial Penumpang dan Efiseinsi Boarding Akibat Ketidakpastian Posisi Berhenti Kereta: Studi Kasus Stasiun Kiaracondong Bandung Mohammad Ivan Yanuar; Dewanti Dewanti; Taqia Rahman
Sistem dan Teknik Transportasi Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/stti.v3i1.6144

Abstract

Ketidakjelasan posisi berhenti kereta di peron stasiun antarkota kerap menghambat kelancaran proses naik-turun penumpang. Kondisi ini terjadi di Stasiun Kiaracondong Bandung, yang belum memiliki penanda titik henti kereta yang akurat, sehingga penumpang lebih memilih menunggu di bagian tengah peron karena dianggap lokasi paling fleksibel. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola sebaran penumpang di peron menggunakan pendekatan entropi Shannon, serta menganalisis pengaruh tingkat kemerataan sebaran tersebut terhadap durasi boarding. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap 60 kedatangan kereta antarkota (20 rangkaian, tiga periode pengamatan) di peron 4, 5, dan 6. Setiap peron dibagi menjadi sepuluh zona pengamatan (Z1–Z10) untuk mencatat jumlah penumpang menunggu, sementara waktu boarding diukur dengan stopwatch sejak pintu kereta dibuka hingga penumpang terakhir naik. Nilai entropi ternormalisasi (H′) dihitung untuk setiap observasi dan dikorelasikan dengan waktu boarding menggunakan uji Spearman. Hasil menunjukkan penumpang cenderung terkonsentrasi di zona tengah peron (Z4–Z7 menampung 59,8% penumpang), dengan nilai H′ berkisar 0,6832–0,9485 (rata-rata 0,8773). Uji Spearman menunjukkan korelasi negatif signifikan antara entropi dan waktu boarding (ρs = −0,594; p = 0,000; n = 60), yang berarti semakin merata sebaran penumpang, semakin singkat waktu boarding. Analisis regresi menunjukkan jumlah penumpang hanya menjelaskan 18,4% variasi waktu boarding, sehingga sebaran spasial penumpang terbukti menjadi faktor penjelas signifikan di luar volume penumpang. Temuan ini menegaskan ketidakpastian posisi berhenti kereta berkontribusi nyata terhadap inefisiensi boarding, sehingga penyediaan penanda posisi kereta yang presisi perlu menjadi prioritas perbaikan layanan operasional stasiun.
Data-Driven Techno-Behavioral Segmentation of Post-Pandemic Tourists Using TwoStep Cluster Analysis Radinal; Sigit Priyanto; Dewanti Dewanti
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 8 No. 2 (2026): February-April
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v8i2.2950

Abstract

Post-pandemic tourism is characterized by increasing behavioral heterogeneity as digital technologies reshape travel planning and mobility practices, challenging traditional demographic-based segmentation. This study develops a techno-behavioral, data-driven segmentation framework within the Smart Tourism Ecosystem perspective by conceptualizing digital adoption as a mediating mechanism between socio-demographic attributes and travel behavior. Using survey data from 805 domestic tourists in Yogyakarta, Indonesia, TwoStep Cluster Analysis (log-likelihood distance; BIC-based cluster selection) identifies two distinct segments: Digital Leisure Travelers (DLT) and Budget-Conscious Digital Natives (BDN). The clustering solution demonstrates fair quality (Silhouette = 0.32). Predictor-importance and validation tests indicate that income, education, generational cohort, and digital application use are the strongest discriminators, while itinerary intensity differs significantly between clusters (p < 0.001; η² = 0.10). The findings highlight that widespread digital engagement produces differentiated mobility outcomes shaped by socio-economic capacity, emphasizing the need for segment-sensitive and inclusive smart tourism strategies.
Konfirmasi Multi-Aktor terhadap Kebutuhan Infrastruktur Stasiun Barang untuk Pengadopsian Piggyback Transportation Yeremia Andy Putra; Dewanti Dewanti; Suryo Hapsoro Tri Utomo
Sistem dan Teknik Transportasi Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/stti.v3i1.6196

Abstract

Sistem logistik di Pulau Jawa masih sangat bergantung pada angkutan jalan, sehingga menghadapi persoalan kemacetan, biaya operasional, pembatasan kendaraan, dan pengendalian over dimension over loading. Penelitian ini bertujuan mengonfirmasi kebutuhan infrastruktur stasiun barang untuk pengadopsian piggyback transportation berdasarkan perspektif pengguna jasa, regulator, dan operator perkeretaapian, serta mengaitkannya dengan persepsi awal pasar logistik. Penelitian menggunakan desain metode campuran berurutan. Tahap pertama berupa survei eksploratori terhadap 50 operator truk dan perusahaan logistik di koridor Jakarta–Jawa Barat yang dipilih secara purposive dan dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Tahap kedua berupa wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap enam informan kunci dari APTRINDO, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, dan PT Kereta Api Indonesia, yang dianalisis melalui koding tematik, matrix coding query, dan framework matrix menggunakan NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 24,5% armada responden berpotensi dialokasikan ke layanan piggyback, tetapi minat tersebut masih bersifat bertahap dan bergantung pada kepastian jadwal, tarif, keamanan muatan, serta kualitas pelayanan. Ramp pemuatan, akses jalan masuk stasiun, dan holding area menjadi tiga fasilitas prioritas, masing-masing dipilih oleh 26% responden. Temuan wawancara mengonfirmasi bahwa kebutuhan kritis tidak hanya mencakup fasilitas fisik, tetapi juga verifikasi beban gandar dan clearance, sistem pengikatan kendaraan, slot perjalanan, standar operasional prosedur, digitalisasi layanan, serta regulasi dan pembagian tanggung jawab antarpihak. Secara praktis, implementasi awal perlu didahului audit teknis, penyesuaian fasilitas terminal, penyusunan prosedur operasi, dan pembentukan kerangka regulasi yang terkoordinasi. Penelitian menyimpulkan bahwa kesiapan piggyback transportation merupakan persoalan multidimensi yang menuntut kesiapan pasar, infrastruktur, operasi, dan kelembagaan secara simultan sebelum pelaksanaan pilot project.