Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Kreasi Kerja Individu, Kreasi Kerja Kolaboratif, dan Kinerja Individu: Peran Job Burnout sebagai Mediator Syafira, Syifa; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 6, No 3 (2025): J-P3K
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v6i3.792

Abstract

Lingkungan kerja perusahaan rintisan yang dinamis, fleksibel, dan penuh tekanan menuntut karyawan untuk beradaptasi secara proaktif. Penelitian ini bertujuan memahami peran kreasi kerja individu dan kolaboratif terhadap kinerja individu, serta menguji job burnout sebagai mediator. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 326 karyawan perusahaan rintisan berusia 20–35 tahun dengan pengalaman kerja minimal satu tahun, melalui survei daring. Instrumen yang digunakan meliputi Individual Work Performance Questionnaire, Individual and Collaborative Job Crafting Scale, dan Oldenburg Burnout Inventory. Hasil menunjukkan bahwa kreasi kerja individu (β = .301, p .001) dan kolaboratif (β = .314, p .001) berperan positif signifikan terhadap kinerja individu. Keduanya juga berperan negatif terhadap job burnout (β = –.163 dan β = –.171, p .05). Namun, job burnout diketahui tidak berperan signifikan terhadap kinerja (β = .010, p = .853) dan tidak memediasi hubungan antara kreasi kerja dan kinerja (Z Sobel = –.189, p = .850). Artinya, kreasi kerja lebih berperan besar secara langsung terhadap kinerja individu dibandingkan melalui mediator burnout. Individu disarankan menyesuaikan pekerjaan sesuai kekuatan pribadi, sementara organisasi perlu menciptakan budaya kerja yang mendukung otonomi, fleksibilitas, pelatihan, dan dukungan psikologis yang selaras dengan nilai perusahaan.
The Relationship between Emotional Job Demands and Psychological Well-Being in Nursing Staff at Hospital X: Perceived Organizational Support as Moderator Neemauli, Elvina Veronica; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
International Journal of Science and Society Vol 6 No 2 (2024): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v6i2.1156

Abstract

Nurses are required to provide quality care and services to patients in a positive manner regardless of the conditions they experience, thus potentially affecting the psychological well-being of nurses. This study aims to determine the relationship between emotional job demands and psychological well-being with perceived organizational support as a moderator. The participants in this study are 102 nursing staff at Hospital X. The measuring instruments used were the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) which has been translated into Indonesian by Darydzaky & Radikun (2021), the Psychological Well-being Scale (PWBS) which has been translated into Indonesian by Alyani (2021), and the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) which has been translated into Indonesian by Limanda (2017). The results obtained showed that there is a relationship between emotional job demands and psychological well-being (r (173) = -0.31, p < 0.05), while perceived organizational support has no moderating effect on the relationship between emotional job demands and psychological well-being of nursing staff at Hospital X.
Beyond the Lesson Plan: How Job Satisfaction Fuels Organizational Citizenship Behavior in Teacher Aristaningrum, Ignatia Esti; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.15131

Abstract

Providing the best services is an obstacle for educational institutions in Indonesia considering the diversity of the the nation's society. To improve education, this difficulty needs to be carefully handled, with a special emphasis on human resource management. In keeping with the claim made by Partono Prasetio et al. (2017) that an essential element is organizational effectiveness. To achieve their goals, organizations need to offer their clientele exceptional services. Administrators must motivate teachers to go above and beyond the call of duty in addition to urging them to fulfill their legal obligations if they are to successfully manage schools at this uncertain time (Somech and Oplatka,2014). Organizational citizenship behavior (OCB) and organizational commitment (OC) have grown in importance as employee indicators to improve organizational performance. Based on quantitative research, the study was non-experimental utilizing a survey method for collecting data. The response or result Job Satisfaction was analyzing was the value of the Organizational Citizenship Behavior, which was predicted using the linear regression method. The study's premise states that organizational commitment acts as a mediator in the association between job satisfaction and organizational citizenship behavior. 175 Teachers from School X, an Indonesian SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama), contributed the data which was gathered.  The Pearson correlation coefficient indicates that there is a significant correlation (r (173) = 0.416, p = <0.001) between Job Satisfaction and Organizational Citizenship Behavior. This relationship is partially mediated by Organizational Commitment, which is 39.5%. These results imply that schools can benefit strategically from investing in creating a favorable work environment that increases job satisfaction.  Schools can foster a more committed and supportive teaching staff by carrying out their share of the social collaboration.  In the end, this results in higher OCBs, which is advantageous for both students and the school community.Memberikan layanan terbaik merupakan kendala bagi institusi pendidikan di Indonesia mengingat keberagaman masyarakat Indonesia. Dalam rangka meningkatkan pendidikan, kesulitan ini perlu ditangani dengan hati-hati, dengan penekanan khusus pada manajemen sumber daya manusia. Sesuai dengan pernyataan yang dibuat oleh Partono Prasetio dkk. (2017) bahwa elemen penting adalah efektivitas organisasi. Untuk mencapai tujuan mereka, organisasi perlu menawarkan layanan yang luar biasa kepada pelanggan mereka. Administrator harus memotivasi guru untuk melakukan lebih dari sekadar menjalankan tugas mereka, selain mendorong mereka untuk memenuhi kewajiban hukum mereka, jika mereka ingin berhasil mengelola sekolah di masa yang tidak menentu ini (Somech dan Oplatka,2014). Perilaku kewargaan organisasi (OCB) dan komitmen organisasi (OC) semakin penting sebagai indikator karyawan untuk meningkatkan kinerja organisasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, non-eksperimental dengan menggunakan metode survei untuk mengumpulkan data. Respon atau hasil dari kepuasan kerja yang dianalisis adalah nilai dari perilaku kewargaan organisasional, yang diprediksi dengan menggunakan metode regresi linier. Premis penelitian ini menyatakan bahwa komitmen organisasi berperan sebagai mediator dalam hubungan antara kepuasan kerja dan perilaku kewargaan organisasi. 175 guru dari Sekolah X, sebuah SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama) di Indonesia, menyumbangkan data yang dikumpulkan.  Koefisien korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan (r(173) = 0.416, p = <0.001) antara Kepuasan Kerja dan Perilaku Kewargaan Organisasi. Hubungan ini secara parsial dimediasi oleh Komitmen Organisasi, yaitu sebesar 39,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa sekolah dapat memperoleh keuntungan secara strategis dengan berinvestasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan yang meningkatkan kepuasan karyawan. Sekolah juga dapat meningkatkan komitmen staf dan memberikan dukungan dengan melakukan tugas mereka dalam kerja sama sosial.  Pada akhirnya, OCB yang lebih besar akan terjadi, yang akan menguntungkan siswa dan komunitas sekolah secara keseluruhan
Teacher Engagement: Confirmatory Factor Analysis (CFA) in Measuring Preschool Teacher Engagement Behaviorally, Emotionally and Cognitively Rusydi, Indriani; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i3.15508

Abstract

Currently, student engagement is still a hot topic of discussion.   Previous studies show that students who are involved in the learning process tend to achieve better results. Student engagement in learning cannot be separated from the teacher's involvement in teaching.   This study aims to test the construct validity of the preschool teacher engagement measuring tool in terms of behavior, emotions and cognition developed by Pedler et al. (2020) Participants in this research were early childhood teachers with at least 1 year of teaching experience and numbered around 230 people. The measurement method uses self-report with 4 Likert scales. The total number of question items in this questionnaire is 23.   The data were analyzed using confirmatory factor analysis techniques with STATA version 13 software. Through the confirmatory factor analysis procedure, a Teacher Involvement Scale was obtained that matched the model, namely the Teacher Involvement Scale is a tool for measuring teacher involvement which consists of 3 factors, namely behavioral, emotive and cognitive factors. Apart from that, a shorter number of items was obtained, namely 12 items which also had good internal reliability, overall and for each factor or dimension. Thus, the Teacher Involvement Scale can be used to measure teacher involvement in teaching students in the classroom.Saat ini keterlibatan siswa masih merupakan topik yang hangat diperbincangkan.  Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran cenderung mencapai hasil yang lebih baik. Keterlibatan siswa dalam belajar tidak terlepas dari keterlibatan gurunya dalam mengajar.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk alat ukur keterlibatan guru prasekolah dari segi perilaku, emosi, dan kognitif  yang dikembangkan oleh Pedler et al. (2020) Partisipan dari penelitian ini adalah guru anak usia dini dengan pengalaman mengajar minimal 1 tahun dan berjumlah sekitar 230 orang. Metode pengukuran menggunakan self-report dengan 4 skala Likert. Total aitem pertanyaan dalam kuisioner ini berjumlah 23 buah.  Data dianalisis menggunakan teknik analisis faktor konfirmatori dengan software STATA versi 13.  Melalui prosedur analisis faktor konfirmatori didapatkan Skala Keterlibatan Guru yang cocok dengan modelnya, yaitu Skala Keterlibatan Guru merupakan alat ukur keterlibatan guru yang terdiri dari 3 faktor, yaitu faktor perilaku, emotif dan kognitif. Selain itu, diperoleh jumlah aitem yang lebih singkat, yaitu berjumlah 12 item yang juga memiliki reliabilitas internal yang baik, secara keseluruhan maupun tiap faktor atau dimensinya. Dengan demikian Skala Keterlibatan Guru dapat digunakan untuk mengukur Keterlibatan Guru dalam mengajar siswa di kelas.
Pengaruh Continuous Learning Terhadap Employee’s Task & Contextual Performance Pada Long List Talent PT XYZ Kuswandi, Novianta; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i6.15831

Abstract

Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk terus berinovasi dan meningkatkan kinerjanya. Salah satu kunci utama untuk mencapai hal tersebut adalah dengan memiliki karyawan yang memiliki kinerja tinggi. Kinerja karyawan dapat diukur dari dua aspek, yaitu task performance dan contextual performance. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh continuous learning, dalam hal ini on the job training, terhadap employee’s task dan contextual performance. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian akan menganalisis data primer yang diperoleh dari hasil survei menggunakan kuesioner kepada responden. Data yang telah terkumpul akan dianalisis secara deskriptif melalui uji regresi menggunakan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa Terdapat hubungan antara Continuous Learning Terhadap Task Performance dan Contextual Performance. Continuous learning dapat meningkatkan employee’s task & contextual performance pada long list talent PT XYZ. Oleh karena itu, perusahaan perlu mendorong karyawannya untuk mengikuti continuous learning.
Bagaimana Peran Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Resiliensi Terhadap Burnout yang Diakibatkan Tuntutan Kerja Kuantitatif Marua, Sarah; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v11i3.8240

Abstract

Along with the increasing workload of employees, the higher the risk that employees will experience job stress and eventually become burnout. Job demands that are too high can cause burnout in employees. Therefore, high job demands need to be balanced with the availability of work resources that can help employees carry out their work well to reduce job stress, ultimately preventing burnout in employees. This study aims to determine whether job resources in the form of transformational leadership styles and personal resources in the form of resilience could buffer the negative effects of quantitative job demands so that employees could avoid burnout. This research is survey research by distributing online questionnaires through social media. With a convenient sampling technique, 131 participants were obtained as employees working in Serang, Banten Province. The results of moderated regression analysis using the Macro Process Hayes model 1 in the SPSS program showed that neither transformational leadership styles nor resilience could reduce the harmful effects of quantitative work demands to prevent employee burnout. Therefore, to avoid burnout in employees, quantitative job demands must be maintained or limited so that they are not too high beyond the employee's capacity. Seiring dengan meningkatnya beban kerja karyawan, semakin tinggi resiko karyawan akan mengalami stres pekerjaan yang akhirnya menjadi burnout. Tuntutan kerja yang terlalu tinggi dapat menimbulkan burnout pada karyawan. Oleh karena itu, tuntutan kerja yang tinggi  perlu diimbangi dengan tersedianya sumberdaya kerja yang dapat membantu karyawan melaksanakan pekerjaannya dengan baik sehingga dapat mengurangi stres pekerjaan yang akhirnya dapat mencegah timbulnya burnout pada karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sumberdaya kerja berupa gaya kepemimpinan transformasional dan sumberdaya pribadi berupa resiliensi dapat menjadi buffer efek negatif dari tuntutan kerja kuantitatif sehingga karyawan terhindar dari burnout. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan menyebarkan kuesioner secara daring melalui media sosial. Dengan teknik convenient sampling diperoleh partisipan sebanyak 131 orang yang bekerja di Serang, Provinsi Banten. Dengan analisis regresi moderasi menggunakan Macro Process Hayes model 1 dalam program SPSS, hasil analisis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional maupun resiliensi tidak dapat mengurangi efek negatif dari tuntutan kerja kuantitatif untuk mencegah timbulnya burnout pada karyawan. Implikasi studi ini adalah untuk mencegah timbulnya burnout pada karyawan, maka tuntutan kerja kuantitatif perlu dijaga atau dibatasi agar tidak terlalu tinggi melebihi kapasitas karyawan sehingga karyawan tidak menjadi terlalu stres dalam bekerja yang pada akhirnya burnout dapat dicegah.
The Effect of Quantitative Job Demands on Psychological Well-Being of Neuroscience Nurse: Social Support as Moderator Dewi, Rahmi Khrisna Rasasti; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i3.15883

Abstract

Nurses in a hospital need to provide the best possible service to patients. To provide the best service, nurses need to maintain their psychological well-being in prime condition. However, heavy work demands cause high levels of stress and burnout which can reduce the psychological well-being of nurses. Therefore, it is necessary to ensure that the psychological well-being of nurses is maintained so that they can serve patients as well as possible by providing social support to nurses in carrying out their work. This research aims to determine how much the role of quantitative work demands can interfere with the psychological well-being of nurses at Hospital. This research is a correlational study using survey methods for data collection. The sampling for this research was carried out using a convenience sampling technique, with a total sample of 102 nurses. Data analysis used multiple regression techniques using JAMOVI software version 2. The results of the study showed a significant negative relationship between quantitative job demands and psychological well-being (r = -0.28, p < 0.05). A significant positive relationship between social support and psychological well-being (r = 0.20, p 0.05. While social support did not moderate the relationship between quantitative job demands and psychological well-being b = 0.01, p > 0.05 Thus, it can be concluded that quantitative work demands need to be ensured not to be too high beyond the limits of nurses' abilities so that nurses' psychological well-being is maintained.Perawat di suatu rumah sakit perlu memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada pasien. Agar dapat memberi pelayanan terbaik, perawat perlu menjaga kondisi kesejahteraan psikologisnya dalam kondisi prima. Namun Tuntutan kerja yang berat beresiko menimbulkan tingkat stress dan burnout yang tinggi yang dapat menurunkan kesejahteraan psikologis pada perawat. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar kesejahteraan psikologis perawat tetap terjaga agar dapat melayani pasien dengan sebaik-baiknya dengan cara memberikan dukungan sosial kepada perawat dalam melaksanakan pekerjaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peran tuntutan kerja kuantitaif dapat mengganggu kesejahteraan psikologis pada perawat di Rumah Sakit X dan peran dukungan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis atau menghambat efek negatif dari tuntutan kerja kuantitatif terhadap kesejahteraan psikologis perawat. Penelitian ini merupakan studi korelasional menggunakan metode survei untuk pengumpulan datanya. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan teknik convenient sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 102 perawat. Analisis data menggunakan teknik regresi berganda menggunakan perangkat lunak JAMOVI versi 2. Hasil penelitian menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara tuntutan kerja kuantitatif dan kesejahteraan psikologis (r = -0,28, p < 0.05). Hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis (r = 0,20, p 0.05. Sedangkan dukungan sosial tidak memoderatori hubungan antara tuntuan kerja kuantitatif dan kesejahteraan psikologis b = 0,01, p > 0.05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tuntutan kerja kuantitatif perlu diupayakan tidak terlalu tinggi di luar batas kemampuan perawat agar kesejahteraan psikologis perawat tetap terjaga.
Exploratory Factor Analysis of Teacher’s Engagement Scale for Early Child Teacher Dian Sari, Cut Ira; Radikun, Tulus Budi Sulistyo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.15253

Abstract

Teacher engagement is an important factor for teachers to have, which can influence student engagement and student success in the educational process at school. Teacher engagement in this research comes from the student engagement construct, including definitions of behavioral engagement, emotional engagement, and cognitive engagement. This research aims to explore the initial development of the Teacher Engagement Scale specifically for early childhood teachers. This research uses exploratory factor analysis (EFA) method, to see whether the Teacher Engagement Scale items can reflect the construct of teacher engagement. The participants in this research were early childhood teachers with a minimum of 1 year teaching experience. There would be around 230 -245 participants to be involved in this research. The measurement method uses self-report with 4 Likert scales. There are 23 question items in this questionnaire. EFA in this research produces two factors that can explain the construct of teacher engagement. EFA also found that the items from the emotional dimension may not represent that dimension.Teacher engagement atau keterlibatan guru menjadi salah satu faktor penting untuk dimiliki guru, yang dapat mempengaruhi student engagement dan keberhasilan siswa dalam proses pendidikannya di sekolah. Teacher engagement dalam penelitian ini berasal dari konstruk student engagement, meliputi definisi dari behavioral engagement, emotional engagement, serta cognitive engagement. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengembangan awal dari Teacher Engagement Scale yang dikhususkan untuk guru anak usia dini. Metode penelitian ini menggunakan analisis faktor eksploratori atau Exploratory Factor Analysis (EFA), sehingga dapat diketahui apakah aitem-aitem Teacher Engagement Scale tersebut dapat mencerminkan konstruk teacher engagement. Partisipan dari penelitian ini adalah guru anak usia dini dengan lama mengajar minimal 1 tahun dan berjumlah sekitar 230 -245 orang. Metode pengukuran menggunakan self-report dengan 4 skala Likert. Total aitem pertanyaan dalam kuisioner ini berjumlah 23 buah. EFA pada penelitan ini menghasilkan dua faktor yang dapat menjelaskan konstruk dari teacher engagement tersebut. EFA juga menemukan bahwa aitem-aitem dari dimensi emosional kemungkinan belum mewakili dimensi tersebut.