Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Teknik Pencucian Mempengaruhi Angka Kuman Pada Peralatan Makan: Studi Literatur Aulia Mulya; Rahmawati Rahmawati; Erminawati Erminawati
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 18 No. 1, Januari 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkl.v18i1.283

Abstract

Tableware is one of the most important factors in the spread of disease, the non-hygiene and microorganism’s container Tableware can spread disease through food. Therefore, the washing process with the right method is very important in efforts to reduce bacterial numbers, especially in tableware. The purpose of this research was to know the correlation between tableware washing method in food processing place with the bacterial numbers in tableware. This research was an analytical research with literature study method using 5 journals studied. The results of the 5 journals studied showed that 35.5% of 121 TPMs (food processing place) carried out tableware washing with inappropriate techniques 56,9% of 258 observed tableware sample contain ineligible microorganisms. 3 of the studied journal claimed there was no significant correlation between washing technic variable with the bacterial numbers variable in tableware as the P value = 1000 while 2 other studied journal claimed there was a correlation between washing technic variable with the bacterial numbers variable in tableware. Based on the research results from the studied journal, efforts can be made to pay more attention to hygiene and not ignoring the proper washing techniques as suggested, such as flushing, rinsing and sanitizing to avoid the bacterial numbers that exceed the standard.
Efektivitas bakteri acetobacter sp. Dalam mereduksi biological oxygen demand limbah cair industri tahu maharso maharso; rahmawati rahmawati; isnawati isnawati
Jurnal Skala Kesehatan Vol 7 No 2 (2016): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.271 KB) | DOI: 10.31964/jsk.v7i2.182

Abstract

Limbah cair industri tahu bersifat ofensif dan mampu memberikan akibat buruk pada lingkungan ambiennya. Dalam waktu singkat lingkungan penerima limbah ini akan menjadi septik dan berbau. Hal itu dikarenakan limbah cair ini bersifat asam, mempunyai temperatur dan bahan organik yang tinggi, serta kandungan oksigen terlarut nol ppm. Hampir semua zat organik yang masuk ke dalam badan air akan segera diuraikan oleh bakteri dekomposer. Zat organik tersebut dapat berupa karbohidrat, lemak, ataupun protein. Di antara senyawa-senyawa tersebut, protein dan lemaklah yang jumlahnya paling besar (Nurhasan dan Pramudyanto, 1987), yang mencapai 40% - 60% protein, 25 - 50% karbohidrat, dan 10% lemak (Sugiharto, 1987). Acetobacter adalah genus dari bakteri asam asetat yang ditandai dengan kemampuan untuk mengubah etanol menjadi asam asetat dengan adanya oksigen (an aerob fakultative). Pada penelitian eksperimen semu ini dilakukan perlakuan terhadap whey dengan menambahkan Acetobacter xy.dalam dosis 4% dan 8% dari volume whey, pengaturan pH, serta fermentasi dalam suasana an aerob fakultative selama 5 hari dan 7 hari. Kemudian dihitung efektivitas Acetobacter xy. dalam menurunkan parameter BOD limbah cair tahu (whey). Pada Corrected model pengaruh semua variable independen baik dosis, waktu fermentasi, dan Dosis*waktu fermentasi secara bersama-sama terhadap variable dependen (BOD5) adalah significan berarti model adalah valid. Nilai intercept menunjukan tanpa perlu dipengaruhi keberadaan variable independen maka variable dependen (BOD) dapat berubah. Dosis (P=0,002), waktu fermentasi (P=0,000) dan interaksi keduanya (P-0,000) (dosis*waktu fermentasi) juga signifikan mempengaruhi nilai BOD, walaupun untuk efektivitas di lapangan harus juga melihat atau membandingkan dengan standar BOD yang bisa dibuang kelingkungan. Dengan R Squared = .831 (Adjusted R Squared = .751) menunjukan korelasi yang kuat karena mendekati 1. Perlakuan dan pengaturan berbagai faktor diatas menghasilkan efektivitas Acetobacter xy. yang terbaik adalah pada perlakuan dosis Acetobacter xy. 8% dan lama fermentasi selama 5 hari, yaitu mereduksi BOD sebesar 32%. Efektivitas sebesar ini tidak sebaik penurunan BOD secara alami di alam terbuka, yaitu sebesar 75% selama 5 hari. Hal itu diperkirakan karena Acetobacter xy. hanya efektive menguraikan kandungan karbohidrat dan bukan pada kandungan protein dan lemak dalam limbah cair tahu (whey) melalui proses an-aerob (fakultative). Sedangkan proses penurunan BOD di alam bebas terjadi secara aerobic dan an-aerob untuk semua unsur bahan organik. Disarankan pemanfaatan Acetobacter xy. untuk mereduksi BOD dikombinasikan dengan metode lain yang efektive mengurai protein dan lemak. Pemanfaatan Acetobacter xy dalam pengolahan limbah cair tahu (whey) masih dapat dipilih apabila tujuannya untuk mendapatkan produk sampingan berupa lapisan nata de soya
Efektivitas Sanitary Candida Kit Dalam Mengatasi Cemaran Candida, sp PADA BAK Toilet Sekolah Di SDN Kota Banjarbaru isnawati isnawati; maharso maharso; rahmawati rahmawati
Jurnal Skala Kesehatan Vol 8 No 1 (2017): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.898 KB)

Abstract

Air merupakan media transmisi yang sangat baik bagi organisme termasuk agen penyakit (Achmadi, 2011) seperti jamur jenis candida, sp. Air bisa tercemar oleh jamur(Lyon, 2006) demikian juga saluran pencernaan(Simatupang, 2009). Candida,sp“The Silent Epidemiologi” adalah golongan khamir,dan sekitar 17 spesies dilaporkan dapat menginfeksi manusia (Wahyuningsih, 2012). Infeksi Candida, sp sering terjadi (Annaissie, 2007). Candida, sp juga hidup di bak air toilet umum pasar tradisional (Isnawati, 2009), demikian juga pada bak toilet sekolah.Cemaran candida, sp dapat diturunkan dengan penambahan Cupri Sulfat(CuSO4) (Isnawati, 2009).Sanitary Candida Kit dengan variasi model, dosis CuSO4 efektif diharapkan dapat mengatasi cemaran Candida sp pada air Bak toilet di SDN Kota Banjarbaru dengan metode eksperimental dan dianalisis efektifitas penurunannya. Terjadi penurunan Candida, sp di bak air toilet SDN 1 Loktabat Utara, sedangkan di di dua SDN lainya yaitu SDN 1 Sei. Besar dan SDN 2 Guntung Payung tetap tidak ditemukan cemaran Candida, sp.dan SCK mampu mempertahankan kondisi air tanpa cemaran Candida, sp. Pemeliharaan kebersihan toilet mutlak dilakukan untuk mengurangi cemaran candida, sp pada bak toilet SDN Kota Banjarbaru. Perlu penyempurnaan alat agar dapat dimanfaatkan oleh sekolah secara luas Kata Kunci : Sanitary Candida Kit, sekolah, CuSO4
Analisis Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga Terhadap Stunting Pada Balita Halimah Halimah; Imam Santoso; Rahmawati Rahmawati; Erminawati Erminawati
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 19 No 2 (2022): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 19 No. 2, Juli 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.934 KB) | DOI: 10.31964/jkl.v19i2.359

Abstract

Stunting is not only caused by chronic nutrition, but also infectious diseases related to environmental sanitation. The state of sanitation greatly affects the health of the occupants of the house, including the nutritional status of children. Stunting toddlers will have a lower level of intelligence and get sick more easily. The purpose of this study was to determine the relationship between household environmental sanitation with the incidence of stunting in toddlers. This research is analytic,the number of samples was 42 respondents consisting of 21 stunting toddlers and 21 normal toddlers. Statistical analysis using the Gamma correlation test, with the results showing the relationship between the variables of clean water facilities of 0.011 < α (0.05) and the relationship of family latrine variables of 0.002 < α (0.05) it can be stated that there is a relationship between clean water facilities and family latrines with stunting in toddlers. For the community, it is hoped that improvements to clean water facilities such as providing waterproof walls with a depth of 3 meters from the ground surface and family latrine facilities by closing the latrine floor that is not tight.
Hubungan Risiko Kontaminasi Sarana Air Bersih Dan Kualitas Bakteriologis Air Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Liang Anggang Mela Andriyani; Noraida Noraida; Rahmawati Rahmawati
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 19 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 19 No. 1, Januari 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.982 KB) | DOI: 10.31964/jkl.v19i1.438

Abstract

In Indonesia, the number of diarrhea sufferers in 2017 was 4,274,790 patients and in 2018 there were 4,504,524 sufferers. South Kalimantan is ranked 16th out of 34 provinces with a prevalence of diarrhea cases of 8.6%. This study aims to determine the relationship between the risk of contamination of clean water facilities and the bacteriological quality of water with the incidence of diarrhea in children under five in the working area of Puskesmas Liang Anggang. This type of research is an analytical observational case-control design with a retrospective approach. Comparison of case samples with controls 1:1. The case samples were 42 samples so that the total sample was 84 children. Data analysis using chi-square test. The highest results were obtained, namely at a low risk of contamination as much as 50% and those that did not meet the bacteriological quality requirements as much as 59.5%. The results of statistical tests showed that there was no relationship between the risk of contamination of clean water facilities and the incidence of diarrhea in children under five (p 0.827 > 0.05) and there was no relationship between the bacteriological quality of water and the incidence of diarrhea in children under five (p 0.120 > 0.05). For further researchers to be able to examine other factors with a larger sample and a wider scope so as to increase the accuracy of research results.
PERBANDINGAN KADAR ALANINE AMINOTRANSFERASE BERDASARKAN FREKUENSI TRANSFUSI DARAH PASIEN TALASEMIA β MAYOR DI RSD BANJARBARU Rahmawati; Neni Oktiyani; Yayuk Kustiningsih; Jujuk Anton Cahyono
Jurnal Karya Generasi Sehat Vol. 1 No. 1 (2023): Edisi Desember Tahun 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkgs.v1i1.95

Abstract

Talasemia merupakan kelainan darah bawaan yang diakibatkan adanya gangguan sintesis hemoglobin di dalam sel darah merah yang mengharuskan mereka untuk mendapatkan transfusi secara rutin. Transfusi yang berulang-ulang dapat menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh terutama organ hati, sehingga menyebabkan kadar Alanine Aminotransferase meningkat. Penelitian bertujuan mengetahui perbandingan kadar ALT berdasarkan frekuensi transfusi darah pada penderita talasemia β mayor di RSD Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survei analitik. Teknik pengambilan menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian sebanyak 9 orang (30%) subjek penelitian memiliki kadar ALT diatas normal. Hasil pemeriksaan kadar ALT transfusi darah 2 minggu sekali kisaran 15-70 U/L, 3 minggu sekali kisaran 30-51 U/L, dan 4 minggu sekali kisaran 12-41 U/L. berdasarkan Uji One Way Anova didapatkan signifikansi (p = 0,044) yang berarti terdapat perbedaan bermakna paling tidak antar 2 kelompok. Kesimpulan ada perbedaan yang bermakna antara kadar ALT dengan frekuensi transfusi darah.