Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH KOMBINASI TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschatsa, Durch), TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera, Lam) DAN MINYAK KELAPA SEBAGAI PENGGANTI JAGUNG DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE DAGING, TULANG DAN KARKAS AYAM BROILER Sesilia Bona; Sutan Florida Getruida Dillak; Heru Sutedjo
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i1.721

Abstract

The experiment was carried out at the field Laboratory of Faculity of Animal Husbandry Nusa Cendana University for 5 weeks, Consisting of 1 week, for adaptation and 4 weeks for data collection, starting krom September 2 nd to October 8th, 2015. The aims of the experiment were to determine the effect of corn substitution with pumpkin flour, moringa flour and coconut oil combination on broiler meat, bone and carcass percentage. The experimental animals used were day old broiler chickens (DOC) Starin Abor CP 707, PT. Charoen Phokphand Jaya Farma Surabaya. The experimental method used was Completely Randomized Design with four treatmens and four replications. The ration tested consist of: R0= corn 60%: 40% concentrate; R1= corn 55%: + concentrate 40% + combination of pumpkin flour, Moringa flour and coconut oil 5%: R2 = 50% corn + concentrate 40% + combination of Pumpkin flour, Moringa flour and coconut oil 10%; R3 = Corn 45% + Concentrate 40% + Combination of Pumkin flour, Moringa flour and coconut oil 15%. The variables measured were broiler meat, bone and carcass. Result indicated that corn substitution with pumpkin flour, moringa flour, and coconut oil combination had no effect on percentage meal, bone and carcass. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa sebagai pengganti jagung dalam ransum terhadap persentase daging, tulang dan karkas ayam broiler. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler (DOC) Strain Abor CP 707, PT.Charoen Phokphand Jaya Farma Surabaya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ransum yang digunakan terdiri dari jagung, konsentrat, kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa dengan formula sebagai berikut: R0 = Ransum kontrol; R1 = jagung 55% : konsentrat 40% kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa 5%; R2= jagung 50%: konsentrat 40% : kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa 10%; R3 = jagung 45% : konsentrat 40% : kombinasi tepung labu kuning, tepung daun kelor dan minyak kelapa 15%; Variabel yang diukur antara lain persentase daging, tulang dan karkas ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan terhadap persentase daging, tulang dan karkas.
PENGARUH STRAIN PEJANTAN TERHADAP DAYA TETAS DAN BERAT DOC DARI INDUK AYAM PETELUR STRAIN CP 909 Ignassius Suhario Bandu; Heru Sutedjo; I gusti Ngurah Jelantik
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 2 No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v2i2.774

Abstract

This research aims was to determine the effect of different brodcock, i.e Bangkok, France and on egg production and quality of strain CP 909. The experiment was arranged in a completely randomized with three different strain of brodcock as male units so the total hens were 45 chickens. The treatments were Bk : laying hens crossbred with Bangkok and Pr : laying hens crossbred with French chicken. The measured parameter were egg weight, hatchability, DOC weight, and eggshell thickness. The obtained data was analyzed using analysis of variance and if there are significant effect then a multiple duncan range test was applied see differences in treatment result. The result of this research showed that the egg weight of Bangkok chicken stud is 62,259 g, French chicken 61, 51 g, and Sabu chicken 61,44 g. Hatchability of Bangkok stud 53, 60 %, French chicken 56,27 %, Sabu chicken 53, 20 %. DOC weight of Bangkok chicken stud 52, 99 %, French chicken 56, 15 g, Buras chicken 54, 34 g. Eggshell thickness of Bangkok chicken stud is 0,12 mm, French chicken 0,11 mm, Buras chicken 0,11 mm. The result of the statistic analysis shows this treatment had no significant effect for all the measured parameters (P > 0.05). It can be concluded that egg weight , eggshell thickness, hatchability and DOC weight of laying hens is not affected by the 3 strain of brodstock consisting of Bangkok chicken, French chicken, and Sabu chicken ABSTRAK Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pejantan dari strain Bangkok,Sabu dan Perancis terhadap produksi dan kualitas telur ayam strain CP 909. Penelitian ini menggunakan ayam petelur strain CP 909 sebagai induk dan ayam Bangkok sabu dan perancis sebagai pejantan.Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 strain pejantan sebagai perlakuan. Setiap strain pejantan digunakan 3 ekor pejantan, dan setiap pejantan mengawini 5 ekor ayam petelur CP 909 sehingga total induk yang digunakan adalah 45 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah BK: ayam petelur disilangkan dengan ayam Bangkok, SB:ayam petelur disilangkan dengan ayam sabu(buras) dan PR:ayam petelur disilangkan dengan ayam perancis. Parameter yang diukur adalah berat telur, daya tetas, berat DOC dan ketebalan kerabang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan jika terdapat pengaruh perlakuan maka dilakukan uji jarak berganda duncan untuk melihat perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa berat telur pejantan ayam Bangkok 62,25 g, ayam perancis 61,51 g dan ayam buras 61,44 g, daya tetas pejantan ayam Bangkok 53,60%, ayam perancis 56,27%, ayam buras 53,20%, berat DOC pejantan ayam Bangkok 52,99 g,ayam perancis 56,15 g, ayam buras 54,34 g;ketebalan kerabang pejantan ayam Bangkok 0,12 mm,ayam perancis 0,11mm,ayam buras 0,11 mm. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diukur (P>0,05).hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berat telur, tebal kerabang, daya tetas dan berat DOC ayam petelur tidak dipengaruhi oleh 3 strain pejantan yaitu Bangkok, perancis, dan buras.
DAMPAK FISIOLOGIS DARI CEKAMAN PANAS PADA TERNAK Heru Sutedjo
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 3 No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v3i1.791

Abstract

Each farm animal species has its own physiological comfort zone, in which energy expenditure was at minimal level, constant and independent ofambient temperature. When ambient temperature increased and resulted in excessive amount of head load, animal would try to maintain body thermal balance by modifying behavior, feed and water intake pattern, and certain physiological processes. Heat stress consistently resulted in decreased feed intake and increased water intake. Besides that, heat stress also has effects on animal physiology both through its direct effect and indirect effect due to decreased feed intake. Physiological changes due to heat stress included changing in nutrients digestibility and metabolism, increased production of free radicals, decreased concentration of Na+, K+ and Cl-, increased concentration of cortisol and decreased concentration of thyroxine, increased risk of alkalosis and, eventually, affected the responses of cell mediated immunity and humoral immunity. ABSTRAK Setiap spesies ternak memiliki suatu zona nyaman fisiologis, yaitu keadaan dimana pelepasan energi berada pada tingkat minimal, konstan dan bebas dari pengaruh suhu lingkungan. Bila suhu lingkungan meningkat dan menyebabkan tambahan beban panas yang berlebihan bagi ternak maka ternak akan berusaha mempertahankan keseimbangan panas tubuhnya dengan melakukan perubahan-perubahan tingkah laku, pola konsumsi pakan dan air serta perubahan fisiologis tertentu. Cekaman panas secara konsisten menyebabkan penurunan konsumsi pakan dan peningkatan konsumsi air. Di samping itu, cekaman panas juga berdampak pada fisiologi ternak baik melalui pengaruh langsungnya maupun pengaruh tidak langsung sebagai akibat penurunan konsumsi pakan. Perubahan-perubahan fisiologis akibat cekaman panas meliputi perubahan kecernaan zat makanan dan metabolisme, peningkatan produksi radikal bebas, penurunan konsentrasi Na+, K+ dan Cl-, peningkatan konsentrasi cortisol dan penurunan thyroxine, peningkatan potensi terjadinya alkalosis dan, pada akhirnya, berpengaruh buruk terhadap tanggapan kekebalantermediasi sel maupun tanggapan kekebalan humoral.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KROKOT (Portulaca oleracea Linn) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING AYAM BROILER Wilhelmus Mau Tulanggalu; Heru Sutedjo; Grace Maranatha
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 4 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v4i1.808

Abstract

The aim of the experiment was to know the effect of adding portulaca flour, in commercial ration on the physical quality of broiler meat. 100 DOC broiler chickens were used in the experiment and were alloted in the completely randomized design with four treatments and each treatment replicated five times. The four treatments used in this experiment were: R0= commercial ration; R1= commercial ration + 2,5% portulaca flour, R2= commercial ration + 5% portulaca flour; R3= commercial ration + 7,5% portulaca flour. Variables measured were: pH, water holding capacity, cooking losses, and tenderness. Data were analyzed from butchering 15 broilers of every treatment. Therefore, the total number of butchered were 60 broilers. Data was analysed by using Analysis of Variance (ANOVA) followed by Duncan test. Result showed that adding of portulaca flour was not significantly effect on pH but was significantly effect (P<0,05) on water holding capacity, cooking losess and tenderness. It can be concluded that the adding of portulaca flour on levels 2,5%; 5% and 7,5% did not change pH, but increases water holding capacity, decreased cooking losess and tenderness of meat improves. The best meat quality was approved by the adding of portulaca flour on levels 7,5%. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung krokot dalam ransum terhadap kualitas fisik daging ayam broiler. Materi yang digunakan adalah 100 ekor DOC ayam broiler. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari: R0 = ransum komersial; R1 = ransum komersial + 2,5% tepung krokot; R2 = ransum komersial + 5% tepung krokot; R3 = ransum komersial + 7,5% tepung krokot. Variabel yang diukur adalah pH, daya ikat air, susut masak dan keempukkan. Data diperoleh dari pemotongan 15 ekor ayam broiler dari tiap perlakuan, sehingga total pemotongan sebanyak 60 ekor. Analisa data menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan ika terdapat perbedaan antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penambahan tepung krokot berpengaruh tidak nyata terhadap ph tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya ikat air, susut masak dan keempukan. Disimpulkan bahwa ransum penelitian tidak mempengaruhi pH namun, meningkatkan daya ikat air, menurunkan susut masak, dan daging ayam broiler lebih empuk. Kualitas daging yang baik dicapai oleh ayam broiler yang mendapat tepung krokot pada level 7,5% dari ransum komersial.
PENGARUH PENGGANTIAN DEDAK PADI DENGAN TEPUNG BONGGOL PISANG TERFERMENTASI TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN PROTEIN DAN ENERGI TERNAK BABIPENGARUH PENGGANTIAN DEDAK PADI DENGAN TEPUNG BONGGOL PISANG TERFERMENTASI TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN PROTEIN DAN Stepanus Umbu Mehangtana; Heru Sutedjo; Ni Nengah Suryani
JURNAL NUKLEUS PETERNAKAN Vol 5 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/nukleus.v5i2.846

Abstract

The aim of the study is to evaluate effect of substituting rice bran with fermented banana corm (FBC) in the diet on intake and digestibility of protein and energy in pigs. There were 12 starter landrace crossbred (6 weeks old) with 11-21 kg, average. 15.42kg (CV 25.42%) initial body weight used in the trial. Block design of 4 treatments with 3 replicates procedure was applied. The 4 treatment diets were formulated as R0: control diet (0% FBC); R1: diet containing FBC substituting 33.3% rice bran; R2: diet containing FBC substituting 66.7% rice bran; and R3: diet containing FBC substituting 100% rice bran. The results showed that effect of treatment is not significant (P>0.05) on either intake or digestibility of protein and energy in pigs; and there is no significant (P>0.05) difference between R0 with R1, R2 and R3 but there is significant (P<0.05) difference between R1 with R2 and R3 on intake energy. The conclusion is that fermented banana corm can substitute 100% (21% of the diet) rice bran in starter diet. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggantian dedak padi dengan tepung bonggol pisang kepok terfermentasi (TBPKF) dalam ransum terhadap konsumsi dan kecernaan protein dan energi. Penelitian ini menggunakan 12 ekor anak babi peranakan Landrace fase starter (umur 6 minggu), dengan bobot badan berkisar antara 11-21 kg dengan rata-rata 15,42kg (KV 25,69%). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Masing-masing perlakuan diberi R0 : Ransum kontrol 0% Tepung Bonggol Pisang Kepok terfermentasi. R1: Ransum mengandung TBPKF sebagai pengganti 33,3% dedak padi. R2: Ransum mengandung TBPKF sebagai pengganti 66,7% dedak padi. R3: Ransum mengandung TBPKF sebagai pengganti 100% dedak padi. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi protein, kecernaan protein dan kecernaan energi; tidak ada perbedaan antara R0 dengan R1, R2 dan R3, namun ada perbedaan nyata (P<0.05) antara R1 dibandingkan R2 dan R3, terhadap konsumsi energi. Kesimpulanya bahwa tepung bonggol pisang kepok terfermentasi dapat menggantikan dedak padi sampai 100% (21% dalam ransum).