Penelitian ini bertujuan mengkaji relevansi Teori Sosial Kognitif Albert Bandura dengan pendidikan Islam melalui pendekatan kepustakaan yang bersifat deskriptif-analitis. Kajian menunjukkan bahwa konsep reciprocal determinism dan self-regulation, yang menekankan interaksi antara faktor personal, lingkungan, dan perilaku, memiliki kesesuaian dengan prinsip uswatun hasanah dalam Islam yang menempatkan keteladanan sebagai instrumen utama pembentukan akhlak dan karakter peserta didik. Namun demikian, terdapat perbedaan fundamental antara keduanya, sebab teori Bandura berakar pada paradigma empiris yang fungsional sementara pendidikan Islam bertumpu pada wahyu yang transendental dengan tujuan akhir membentuk insan kamil. Karena itu, teori Bandura dapat digunakan sebagai instrumen pedagogis yang mendukung praktik pendidikan Islam, tetapi tidak dapat menggantikan kerangka epistemologisnya. Implikasi praktis penelitian ini menegaskan pentingnya peran guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan hidup yang merefleksikan nilai-nilai Rasulullah SAW dengan memadukan kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan spiritual, terutama dalam menghadapi tantangan model keteladanan di era digital.