Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengetahuan Ekologi Lokal dalam Konservasi Pohon di Blok Pemanfaatan KPHL Batutegi Adia Pajar Pamungkas; Christine Wulandari; Dian Iswandaru; Rudi Hilmanto
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 5 No. 1 (2022): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v5i1.19758

Abstract

Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Batutegi Provinsi Lampung merupakan hutan negara yang terdiri atas beberapa blok pengelolaan, di antaranya adalah blok pemanfaatan. Pada blok ini, petani hutan melakukan kegiatan pemanfaatan lahan dengan pola agroforestri. Konservasi pohon dapat dikatakan sebagai salah satu tindakan petani hutan dalam melakukan pengelolaan lahan yang lestari dan salah satunya melalui praktek pengetahuan dan kearifan lokal. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis peran local ecological knowledge (LEK) gapoktan cempaka dalam konservasi pohon di blok pemanfaatan. Penelitian ini menggunakan metode wawancara terbuka terhadap 55 responden yang merupakan anggota gapoktan cempaka dan observasi lapangan, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan Agroecological Knowledge Toolkit (AKT) 5. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa LEK petani hutan dikelompokkan berdasarkan 3 aspek konservasi, yaitu a) perlindungan meliputi karakteristik lahan garapan, fungsi tegakan dan faktor yang mempengaruhi (faktor alam dan manusia); b) pengawetan meliputi habitat satwa, budidaya tanaman, istilah dan alat yang digunakan; dan c) pemanfaatan meliputi jenis dan bagian pohon yang dipanen, metode dan waktu pemanenan. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan petani hutan Gapoktan Cempaka tetap menerapkan Local Ecological Knowledge (LEK) dalam kegiatan pengelolaan lahan, dikarenakan memiliki dampak terhadap pengelolaan lahan yang berkelanjutan.
IDENTIFIKASI SIFAT KAYU GERGAJIAN PADA INDUSTRI PENGGERGAJIAN (STUDI KASUS: WILAYAH SEKITAR KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN (KPH) PESAWARAN) Siska Dewi Mauly Nasution; Susni Herwanti; Christine Wulandari; Indra Gumay Febryano
Journal of People, Forest and Environment Vol. 5 No. 1 (2025): Mei
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v5i1.10345

Abstract

Industri penggergajian kayu di Indonesia memainkan peran penting dalam pemanfaatan sumber daya hutan dan mendukung perekonomian lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sifat kayu gergajian yang digunakan dalam industri sawmill di Kabupaten Pesawaran, khususnya di Kecamatan Way Ratai dan Kecamatan Gedong Tataan. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pemilik industri, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri sawmill di wilayah ini memanfaatkan berbagai jenis kayu dari hutan rakyat, termasuk bayur (Pterospermum javanicum), durian (Durio zibethinus), jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia macrophylla), dan jabon (Neolamarckia cadamba). Identifikasi kayu yang diamati meliputi sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara fisis, kayu memiliki variasi dalam berat jenis, kadar air, dan arah serat yang memengaruhi stabilitas dan ketahanannya. Dari aspek mekanis, kayu diklasifikasikan berdasarkan kelas kuatnya, dari kelas I (sangat kuat) hingga kelas V (kurang kuat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu dengan kelas kuat antara tertinggi yaitu kayu jati yang tergolong dalam kelas II sedangkan kayu sengon, waru dan jabon tergolong kelas kuat rendah yaitu III- IV sehingga hal tersebut yang menentukan penggunaannya dalam konstruksi dan industri mebel. Sifat kimia kayu memiliki kandungan selulosa dan lignin, juga berpengaruh terhadap daya tahan kayu terhadap serangan organisme perusak, sehingga penelitian ini dapat menjadi acuan bagi industri pengolahan kayu dalam memilih bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pengelolaan hutan rakyat. 
Model perilaku stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) berdasarkan variabel demografi, lingkungan, dan tata kelola menggunakan Structural Equation Modelling Decci Sandriyana; Dyah Wulan Sumekar; Christine Wulandari; Samsul Bakri; Jhons Fatriyadi Suwandi; Endro Prasetyo Wahono
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v18i1.2433

Abstract

Permasalahan Buang Air Besar Sembarangan menjadi tantangan serius di Provinsi Lampung. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, namun hasil yang diperoleh belum optimal, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui variabel yang mempengaruhi perilaku ODF. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh variabel demografi, lingkungan, dan tata kelola terhadap perilaku ODF dengan menggunakan SEM pada masyarakat di Provinsi Lampung. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder pada variabel demografi, variabel lingkungan, serta pada variabel tata kelola yang dikumpulkan dari tahun 2015-2022 di Provinsi Lampung. Model SEM yang dikembangkan mengidentifikasi hubungan yang kompleks. Hasil penelitian ini yaitu variabel demografi berpengaruh signifikan terhadap perilaku ODF dengan p-value 0.049, variabel demografi berpengaruh signifikan terhadap tata kelola sanitasi dengan p-value 0.001, variabel lingkungan berpengaruh signifikan terhadap perilaku ODF dengan p-value 0.041, variabel lingkungan juga berpengaruh signifikan terhadap tata kelola dengan p-value 0.000, variabel tata kelola berpengaruh signifikan terhadap perilaku ODF dengan p-value 0.036, variabel demografi melalui variabel tata kelola tidak berpengaruh terhadap perilaku ODF dengan p-value sebesar 0.116, dan variabel lingkungan melalui variabel tata kelola berpengaruh terhadap perilaku ODF dengan p-value sebesar 0.037. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menyusun kebijakan dan program yang lebih efektif untuk mengurangi praktik BABS di Provinsi Lampung.   Abstract: The issue of Open Defecation remains a serious challenge in Lampung Province. Various efforts have been made to address this issue through sanitation programs, but the results have not been optimal, necessitating research to identify the characteristics that impact ODF behavior. The purpose of this research is to analyze the influence of demographic, environmental, and governance variables on ODF behavior using SEM in the society of Lampung Province. This research examined secondary data on demographic, environmental, and governance variables, collected from 2015–2022 in Lampung Province. The developed SEM model identifies complex relationships. The research results show that demographic variables significantly influence ODF behavior with a p-value of 0.049, demographic variables significantly influence sanitation governance with a p-value of 0.001, environmental variables significantly influence ODF behavior with a p-value of 0.041, environmental variables also significantly influence sanitation governance with a p-value of 0.000, governance variables significantly influence ODF behavior with a p-value of 0.036, demographic variables through governance variables do not significantly influence ODF behavior with a p-value of 0.116, and environmental variables through governance variables significantly influence ODF behavior with a p-value of 0.037. The results of this research can be used to develop more effective policies and programs to eliminate open defecation in Lampung Province.
Sustainability Assessment of Homegarden Agroforestry Based on RAPFISH in Reducing Community Dependence on Forest Products Radian Anwar; Christine Wulandari; Pitojo Budiono; Samsul Bakri Indra Gumay Febryano; Teguh Endaryanto
Jurnal Relevansi : Ekonomi, Manajemen dan Bisnis Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Relevansi: Ekonomi, Manajemen dan Bisnis
Publisher : LPPM STIE KRAKATAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61401/relevansi.v10i1.430

Abstract

Homegarden agroforestry represents an alternative land-use system with the Homegarden agroforestry is a land-use system surrounding residential areas that integrates various types of plants, including forestry species, food crops, horticultural plants, and medicinal plants within a single household-based management unit. This system is characterized by high plant diversity and a multi-strata structure resembling a forest ecosystem, functioning to meet household food needs, increase income, and maintain environmental sustainability. The increasing pressure on the Wan Abdul Rachman Grand Forest Park area due to community activities in utilizing forest resources has prompted the need to evaluate the sustainability of homegarden agroforestry systems as a community-based conservation strategy. This study aims to analyze the sustainability status of homegarden agroforestry and to formulate development strategies to reduce community dependence on forest resources. The research was conducted from January to March 2026 in Cilimus Village, Pesawaran Regency, using a quantitative approach through the Rapid Appraisal for Agroforestry Systems (RAP-AFS) method based on Multidimensional Scaling (MDS). Data were collected through interviews, questionnaires, and field observations involving 90 respondents. The analysis was carried out across five dimensions of homegarden agroforestry management, namely ecological, economic, social, institutional, and technological dimensions. The results indicate that the sustainability index of homegarden agroforestry in Gapoktanhut SHK Lestari is 65.50, which falls into the moderately sustainable category. Partially, the ecological (58.14), social (78.35), institutional (85.64), and technological (58.18) dimensions are classified as moderately to highly sustainable, while the economic dimension (47.17) is still categorized as less sustainable. These findings highlight the need for income diversification, improved market access, and the adoption of innovations to strengthen the socio-ecological resilience of the community. Furthermore, strengthening institutional capacity and implementing adaptive land management strategies through homegarden agroforestry are essential to support long-term sustainability and to reduce pressure on forest resources
Evaluation of the Sustainability of Cash Crop-Based Agroforestry Systems in a Multidimensional Perspective Adraisna Airansi; Christine Wulandari; Samsul Bakri; Dewi Agustina Iryani; Pitojo Budiono
Jurnal Relevansi : Ekonomi, Manajemen dan Bisnis Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Relevansi: Ekonomi, Manajemen dan Bisnis
Publisher : LPPM STIE KRAKATAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61401/relevansi.v10i1.434

Abstract

This study aimed to evaluate the sustainability of commercial crop-based agroforestry systems in Bogorejo Village, Lampung, using a Multidimensional Scaling (MDS) approach. A quantitative approach was used, involving 43 respondents, including farmers and stakeholders. Data were collected through surveys and interviews (October–November 2025) and analyzed using MDS with ordination and leverage techniques across the ecological, economic, social, institutional, and technological dimensions. The ecological dimension was highly sustainable (76.97), while the institutional (70.89), economic (64.84), technological (63.31), and social (56.02) dimensions were moderately sustainable. Sustainability is strongly influenced by deforestation, income trends, mutual cooperation, cooperative involvement, and fertilizer use. The sustainability of agroforestry systems depends on the interaction of ecological, economic, social, institutional, and technological factors, requiring adaptive management strategies focused on sensitive attributes. The study is limited to one village with a small sample size, which restricts generalization. It contributes by providing a multidimensional sustainability assessment and identifying key attributes for policy and sustainable agroforestry management in the region.