Resa Junias
Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MAKNA KEBANGKITAN YESUS BERDASARKAN SURAT-SURAT PAULUS Resa Junias; Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 4, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v4i2.51

Abstract

Abstract: Basically, Jesus was willing to offer himself to come down to earth to teach the gospel to every human being and was willing to be tortured, crucified, and died to atone for human sins. The purpose of this research is to answer the question: What does God want about His resurrection? How important is the resurrection of Jesus for the lives of believers? What effect will the resurrection of Jesus Christ have on the lives of believers? The answer was: (1) His bodily resurrection and eternity. Everything is possible because Christ, after He rose from the dead, did not die again, in other words, He lives and continues to live. The resurrection of Christ happened a transfer of power, Christ went from being ruled by death to being ruler over death. (2) Without the resurrection, Christian faith is not possible. His disciples are only symbols of defeat and destruction. Without the resurrection, Jesus' position as Messiah and King would be inexplicable. Without the resurrection, the outpouring of the Holy Spirit would leave an inexplicable mystery. Without the resurrection, the source of the disciples' testimony was lost. (3) The impact of the resurrection of Jesus Christ for the lives of believers is that as long as man is in God, whatever he does, all his efforts in God, will receive a reward or reward from God. Abstrak: Pada dasarnya Yesus rela mempersembahkan diri-Nya untuk turun ke bumi guna mengajarkan injil bagi setiap manusia dan rela disiksa, serta disalibkan, dan mati bagi menebus dosa manusia. Tujuan penelitian ini menjawab pertanyaan: Apakah yang Tuhan inginkan tentang kebangkitan-Nya? Bagaimana pentingnya kebangkitan Yesus untuk kehidupan orang percaya? Apa dampak kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan orang percaya? Jawabnya adalah: (1) Kebangkitan tubuhnya dan berlanjut dalam kekekalan. Semuanya dapat terjadi karena Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi, dengan kata lain, Ia hidup dan terus hidup. Kebangkitan Kristus terjadi peralihan kekuasaan, Kristus beralih dari dikuasai oleh maut menjadi penguasa atas maut. (2) Tanpa kebangkitan, iman Kristen tidak mungkin muncul. Murid-murid-Nya hanyalah simbol kekalahan dan kehancuran. Tanpa kebangkitan, posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja tidak akan terjelaskan.  Tanpa kebangkitan, pencurahan Roh Kudus akan meninggalkan misteri yang tidak dapat dijelaskan. Tanpa kebangkitan, sumber kesaksian murid-murid hilang. (3) Dampak kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan orang percaya adalah  selama manusia ada di dalam Tuhan, apapun yang ia kerjakan, semua jerih payahnya dalam Tuhan, akan mendapat balasan atau upah dari Tuhan.
Musik Menurut Alkitab dan Implikasinya Dalam Ibadah Kristen Resa Junias; Niomey Selen S. Onibala; Sofia Margareta
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 2 (2021): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.812 KB) | DOI: 10.55649/skenoo.v1i2.12

Abstract

Musik gerejawi menjadi benar maknanya bila dipahami berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam firman Allah. Dengan memiliki pemahaman yang benar akan makna, tujuan, siapa, dan bagaimana serta kapan musik gerejawi itu dilakukan, maka penyembahan kita kepada Allah melalui musik dan nyanyian akan membangun iman dan memuliakan Allah. Musik dan nyanyian gerejawi mutlak didasari oleh kehendak Allah. Musik gerejawi bukan merupakan pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap gereja sebagai respon atas karya penebusan Allah dalam hidupnya. Musik dan nyanyian gerejawi bukan dalam rangka sebagai pengantar antar unsur yang satu dengan unsur lainnya dalam sebuah susunan acara liturgi, dan bukan pula dalam rangka suatu aktivitas kegiatan bersama yang menyenangkan untuk menyanyikan lagu-lagu kesayangan. Perjumpaan dengan Allah melalui karya pemeliharaan-Nya pada setiap waktu, itulah yang menjadi motor yang menggerakkan musik dan nyanyian pujian kepada Allah.
Makna Mengampuni dalam Matius 18:21–22: Kajian Biblika dan Implikasinya bagi Umat Kristen Masa Kini Alvin Budiman Kristian; Resa Junias
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 9 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/h4n3de68

Abstract

Forgiveness is a central teaching of Christianity, but its practice often faces challenges due to interpersonal conflict, retaliation, and the phenomenon of cancel culture. Therefore, an examination of Matthew 18:21–22 is crucial for understanding the meaning of forgiveness in Jesus' teachings and its relevance for the church today. This research uses qualitative methods with a biblical approach through historical-contextual and linguistic analysis of the text of Matthew 18:21–22. The results show that forgiveness is not merely a moral requirement, but a relational principle aimed at restoring community and building reconciliation. The phrase "seventy times seven" emphasizes that forgiveness must be a limitless attitude. This research contributes to demonstrating that forgiveness has spiritual and social dimensions that are relevant for the church in addressing conflict and polarization in modern society.   Pengampunan merupakan ajaran utama dalam kekristenan, tetapi praktiknya sering menghadapi tantangan akibat konflik interpersonal, budaya pembalasan, dan fenomena cancel culture. Karena itu, kajian terhadap Matius 18:21–22 penting untuk memahami makna pengampunan dalam ajaran Yesus dan relevansinya bagi gereja masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian biblika melalui analisis historis-kontekstual dan linguistik terhadap teks Matius 18:21–22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengampunan bukan sekadar tuntutan moral, melainkan prinsip relasional yang bertujuan memulihkan komunitas dan membangun rekonsiliasi. Frasa “tujuh puluh kali tujuh kali” menegaskan bahwa pengampunan harus menjadi sikap hidup tanpa batas. Penelitian ini berkontribusi dalam menunjukkan bahwa pengampunan memiliki dimensi spiritual dan sosial yang relevan bagi gereja dalam menghadapi konflik dan polarisasi di tengah masyarakat modern.
PENYESALAN ILAHI: KAJIAN EKSEGETIS TERHADAP KEJADIAN 6:6 Suryowati Wang; Resa Junias; Merlin Chintia Katupu; Jundriwan Yalaling
Sesawi Vol 6, No 2 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v6i2.283

Abstract

Konsep “penyesalan Ilahi” dalam Kejadian 6:6 telah lama menjadi bahan perdebatan dalam teologi karena tampaknya bertentangan dengan sifat Allah yang Mahatahu dan tidak berubah. Latar belakang kajian ini berangkat dari pentingnya memahami bagaimana teks-teks Alkitab menggambarkan respons emosional Allah terhadap tindakan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna istilah Ibrani nacham dalam konteks Kejadian 6:6 serta mengevaluasi implikasi teologisnya. Pendekatan yang digunakan adalah eksegetis tekstual dengan metode analisis tematik, linguistik, historis, sastra, teologis, dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesalan Ilahi bukanlah perubahan dalam hakikat Allah, melainkan ekspresi dari relasi yang dinamis antara Allah dan manusia. Allah menunjukkan kepedulian moral yang mendalam terhadap ciptaan-Nya tanpa mengubah esensi kekal-Nya. Kajian ini memperkaya pemahaman tentang karakter Allah dalam Perjanjian Lama dan menegaskan pentingnya membaca teks secara kontekstual dan intertekstual dalam studi teologi.
KONSTRUKSI IDENTITAS KRISTEN DALAM SURAT PAULUS: ANALISIS TEOLOGIS ATAS GALATIA, EFESUS, DAN ROMA DI TENGAH KRISIS SPIRITUALITAS ZAMAN INI Sonny Herens Umboh; Resa Junias; Parlan Antonius Barutu
Sesawi Vol 6, No 2 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v6i2.319

Abstract

Artikel ini menganalisis konstruksi identitas Kristen dalam surat-surat Paulus, khususnya Galatia, Efesus, dan Roma, sebagai respons teologis terhadap krisis spiritualitas yang melanda umat Kristen di era kontemporer. Di tengah arus sekularisasi, relativisme moral, dan fragmentasi komunitas iman, umat Kristen kerap kehilangan orientasi akan jati diri rohaninya. Melalui pendekatan teologi biblika dan hermeneutika kontekstual, artikel ini mengeksplorasi bagaimana Paulus membentuk pemahaman identitas yang berakar pada relasi dengan Kristus, kesatuan tubuh Kristus, dan transformasi hidup melalui pembaruan akal budi. Identitas Kristen bukan sekadar status teologis, melainkan realitas eksistensial yang menuntut integrasi antara iman dan kehidupan. Dengan menelaah struktur naratif dan doktrinal dalam ketiga surat tersebut, artikel ini menunjukkan bahwa konstruksi identitas Kristen Paulus tidak hanya menjawab persoalan internal gereja mula-mula, tetapi juga memberikan jawaban relevan terhadap pergumulan spiritual umat Kristen masa kini. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual bagi gereja dan individu dalam membina identitas rohani yang kokoh, kontekstual, dan transformatif di tengah dunia yang terus berubah.