Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah Kulit Mangga di Kota Cirebon Farida Mardhatilla; Edy Hartono; Firman Hidayat
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2021): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.792 KB) | DOI: 10.35568/abdimas.v4i1.1056

Abstract

Mangga merupakan salah satu buah unggulan di Kabupaten Cirebon. Produksi Mangga pada tahun 2018 di Kabupaten Cirebon mencapai 554.767 kuintal. Tingginya produksi mangga di Kabupaten Cirebon merangsang pertumbuhan industri olahan mangga di Kabupaten Cirebon. Industri olahan mangga umumnya hanya menggunakan daging mangga, sehingga kulit dan biji mangga merupakan limbah dari industri tersebut. Limbah kulit mangga mencapai 10% dari total buah mangga. Kulit mangga memiliki kandungan pektin yang cukup tinggi, sehingga kulit mangga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan permen. Kandungan pektin pada kulit mangga selain dapat membentuk gel juga dapat menurunkan kolesterol. Pemanfaatan kulit mangga menjadi permen dilakukan oleh kelompok wanita tani “Srikandi” yang berlokasi di Kabupaten Cirebon. Pemanfaatan limbah kulit mangga ini memberikan nilai tambah dan dapat meningkatkan penghasilan. Keuntungan yang diperoleh pada 5 kali produksi permen adalah sebesar Rp 3. 500.000,-
Efektivitas Penerapan Good Dairy Farming Practice (GDFP) Pada Pendapatan Dan Tingkat Kesejahteraan Peternak Sapi Perah Rakyat Di Dataran Rendah Farida Mardhatilla; Zakiyah Amini
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2022.006.01.16

Abstract

Produksi susu sapi nasional yang rendah mengakibatkan tingginya impor susu di Indonesia. Sebanyak 3,6 juta ton atau 81% kebutuhan susu di Indonesia harus diimpor dari luar negeri (BPS,2018). Rendahnya produksi susu nasional diakibatkan oleh harga yang rendah sehingga peternak tidak berminat menggeluti usaha ini. Harga ditentukan oleh kualitas dan kuantitas susu. Kedua hal ini dapat diperoleh jika peternak menerapkan tatalaksana pengelolaan dengan benar. Tata laksana pengelolaan ternak sapi perah adalah Good Dairy Farming Sistem (GDFP). Tujuan penelitian ini untuk melihat keefektifan penerapan GDFP pada pendapatan dan kesejahteraan peternak. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon dengan jumlah responden 23 peternak. Metode yang digunakan adalah AHP untuk penerapan GDFP, IOFC untuk mengukur pendapatan serta koefesien korelasi pearson untuk mengukur hubungan penerapan GDFP dan pendapatan. Nilai rata – rata GDFP yang diperoleh adalah masuk dalam kategori baik (3,63).  Penerapan GDFP berpengaruh pada pendapatan peternak dengan nilai korelasi pearson sebesar 0.905. Semakin tinggi nilai GDFP maka akan semakin tinggi pula pendapatan peternak tersebut.Pendapatan rata-rata  yang diperoleh pada usaha ternak perah adalah Rp 1.427.759 per ekor/bulan. Peternak Kabupaten Cirebon termasuk dalam kategori sejahtera, karena rata – rata  pengeluaran perkapita/bulan peternak adalah Rp 691.252 atau melebihi Rp 381.372   
Penerapan Pertanian Sehat Desa Bantaragung Untuk Menjaga Kelestarian Ekosistem Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Ismail Saleh; Raden Eviyati; Farida Mardhatilla; Siti Wahana
JURNAL PRODIKMAS Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.392 KB) | DOI: 10.30596/jp.v3i1.2513

Abstract

Bantaragung village, Sindangwangi sub-district, Majalengka district is one of tourist destination in West Java. This village was located near to Gunung Ciremai National Park. The purpose of application of eco-friendly farming in this village was to preserve the ecosystem around Bantaragung village and Gunung Ciremai National Park. The effort to begin eco-friendly farming in Bantaragung village by investigate the interest of people about eco-friendly farming by using questionnaire, training to make organic fertilizer from rice straw, make a pilot field of organic farming, and focus group discussion (FGD) to discuss with the farmer about the next plan in applying eco-friendly farming in this village. The result of these extension activities was the interest of farmer to using organic fertilizer increased. The growth and yield of rice in pilot field was decreased due to infertile soil and the nutrient from organic fertilizer was still unavailable to plant. It was the common thing because in applying organic farming, the yield was decreased in the first planting season. The next plans of this extension was to apply rice straw-the wastes from previous planting to the soil in order to restore the nutrient that had been absorbed by plant.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHA TERNAK SAPI PERAH Ade Rizki Ramadhan; Dwi Purnomo; Farida Mardhatilla
Maduranch : Jurnal Ilmu Peternakan Vol 7, No 2 (2022): MaduRanch: Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan
Publisher : Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/maduranch.v7i2.1590

Abstract

Sapi Perah adalah salah satu ternak penghasil protein hewani yang berupa daging dan susu. Permasalahan yang terjadi pada usaha ternak sapi perah di Indonesia secara umum masih dilakukan secara tradisional dengan skala usaha kecil. Tinggi rendahnya pendapatan usaha peternak sapi perah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah kepemilikan sapi perah, harga jual ternak, jumlah produksi susu, upah tenaga kerja, harga jual susu, harga bahan pakan, faktor obat-obatan serta faktor penjualan kotoran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dan yang paling berpengaruh terhadap pendapatan. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan interview seluruh anggota kelompok tani Maju Rukun yang beranggota 17 peternak. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis regresi linier berganda dengan uji F dan t, serta pengujian hipotesis. Hasil penelitian menujukkan bahwa faktor jumlah sapi perah, faktor harga jual ternak, faktor upah tenaga kerja, faktor harga susu, faktor harga pakan, dan faktor harga obat obatan, berpengaruh secara signifikan terhadap Pendapatan.
The Influence of Internal and External Farming Factors and the Impact of the Natural Stone Industry on the Condition of Irrigation and Water Networks in Cirebon Regency Tarhan Rohim Sobri; Ratna Ratna; Farida Mardhatilla; Siti Wahana
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 03 (2024): August Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMES
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts to produce rice require the support of adequate equipment and materials and attention to internal and external factors. Pollution of irrigation channels due to natural stone industry waste in rice fields is thought to reduce rice production. The study aims to analyze the influence of internal factors, external factors of farming, and the impact of the natural stone industry on irrigation channels and water. The research was conducted in October-September 2024 using a quantitative research design and survey method involving 256 farmers. The research data were collected through direct observation and interviews and then analyzed using the multiple linear regression analysis method through the IBM SPSS 23 application. The results showed that internal farming factors and the impact of the natural stone industry significantly affected the condition of irrigation and water networks. In contrast, external factors had no significant effect. The study proved that the impact of the natural stone industry has a positive and considerable influence on the Pollution of irrigation networks and water in the agricultural environment. For this reason, it is recommended that farmers in the area, in particular, collaborate with the government and natural stone industry business actors, as well as agricultural extension workers, to agree to contribute to improving the quality of irrigation networks and water. Penerapan Manajemen Proses Bisnispada Proses Bisnis Mengeksekusi dan Mengelola Rencana Penjualan Penulis: Vivin Naharani; Jeni Susyanti, SE, MM, BKP Surel: vivinkesra@gmail.com ; jenisusyanti@unisma ABSTRAK Proses bisnis merupakan perantara antara bisnis dengan informasi teknologi. Dengan adanya proses bisnis yang baik, dukungan teknologi informasi terhadap bisnis akan semakin jelas dan tepat. Proses bisnis melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dan membutuhkan sumber daya. Pengelolaan proses bisnis yang tepat dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Pentingnya peran proses bisnis dalam suatu organisasi atau perusahaan yang berguna untuk menggerakkan bisnis menjadi semakin berkembang sangat cepat dan pesat. Penelitian ini menggunakan metode Business Process Management (BPM) yang memungkinkan perusahaan dapat memiliki cetak biru proses bisnis dan dapat menilai apakah proses bisnis yang sekarang berjalan sudah efektif dan efisien serta manajemen dapat melihat secara detail dampak perubahan yang akan dilakukan baik dari sisi waktu dan biaya. Pada perhitungan simulasi proses saat ini yaitu prosedur standar pengendalian pelaksanaan pemasaran yang membutuhkan waktu 26.400 menit per bulan dengan biaya sejumlah 360.000.000 pertahun dan prosedur pengendalian kontrak pekerjaan jasa membutuhkan waktu 23.040 menit per bulan dengan biaya sejumlah 314.181.818,18 per tahun. Setelah dilakukan penerapan Business Process Management (BPM) untuk usulan proses bisnis yang baru yaitu prosedur pengelolaan pelaksanaan penjualan yang membutuhkan waktu 9,480 menit per bulan dengan biaya 129.272.727,27 per tahun dan prosedur pengelolaan penyelesaian pelanggan membutuhkan waktu 14,400 menit per bulan dengan biaya 196.363. 636,36 per tahun. Kata kunci: Proses Bisnis, Manajemen Proses Bisnis (BPM). ABSTRAK Proses bisnis merupakan perantara antara bisnis dan teknologi informasi. Dengan adanya proses bisnis yang baik maka dukungan teknologi informasi terhadap bisnis akan semakin jelas dan tepat. Proses bisnis melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dan membutuhkan sumber daya. Manajemen proses bisnis yang tepat dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Pentingnya peran proses bisnis dalam suatu organisasi atau perusahaan yang berguna untuk mendorong bisnis agar berkembang pesat dan pesat. Penelitian ini menggunakan metode Business Process Management (BPM) yang memungkinkan perusahaan memiliki cetak biru proses bisnis dan dapat menilai apakah proses bisnis yang ada saat ini sudah efektif dan efisien serta manajemen dapat melihat secara detail dampak perubahan yang akan dilakukan dari segi waktu dan biaya. Dalam perhitungan simulasi proses yang berjalan saat ini adalah prosedur standar pengendalian pelaksanaan pemasaran memakan waktu 26.400 menit per bulan dengan biaya Rp. 30.000.000,00 per bulan dan prosedur pembuatan kontrak jasa pekerjaan memakan waktu 23.040 menit per bulan dengan biaya Rp. 8.727.272,73 per bulan. Setelah penerapan Business Process Management (BPM) pada usulan proses bisnis baru, prosedur pengelolaan pelaksanaan penjualan membutuhkan waktu 9.480 menit per bulan dengan biaya Rp. 10.772.727,27 per bulan dan prosedur pengelolaan penyelesaian pelanggan memakan waktu 14.400 menit per bulan dengan biaya Rp. 5.454.545,45 per bulan. Kata Kunci: Proses Bisnis, Manajemen Proses Bisnis (BPM) PENDAHULUAN Proses bisnis sangat diperlukan oleh sebuah perusahaan karena merupakan jembatan antara bisnis dengan informasi teknologi. Dengan adanya proses bisnis yang baik, dukungan teknologi informasi terhadap bisnis akan semakin jelas dan tepat. Masalah yang sering kali muncul adalah perusahaan belum mengetahui apakah mereka sudah memiliki proses bisnis yang baik dan tepat bahkan proses ini berlangsung tanpa dokumentasi yang jelas sehingga dalam melakukan perbaikannya pun menjadi tidak jelas dan tidak tepat sasaran. Disisi lain, sistem informasi merupakan salah satu bagian perusahaan yang mempermudah proses bisnis. McLeod (2008) menyatakan bahwa sistem informasi adalah suatu sistem virtual yang memungkinkan manajemen mengendalikan operasi sistem fisik perusahaan. Susanto dalam Taufiq (2013) menyatakan bahwa sistem merupakan kumpulan dari subsistem apapun baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang berarti dan berguna. Disisi lain, menurut Bhatt dan Stump, 2001 dalam Siliwangi dan Vanany, 2012 bahwa sistem informasi jaringan tidak hanya mengotomasikan bisnis, tetapi juga mempertajam dan memperbaiki proses bisnis. Laudon dan Laudon, (2007) dalam Hartono, (2013) menyatakan bahwa dari sudut pandang sistem informasi manajemen hal terpenting yang perlu dipahami dari sebuah perusahaan adalah proses-proses binis yang berlangsung di dalamnya dalam rangka pelaksanaan tugas- tugas. Oleh karena itu, alur sistem informasi juga dapat dikatakan sebagai proses bisnis perusahaan. Dengan memperbaiki kinerja dari segi sistem informasi, maka juga akan memperbaiki proses bisnis perusahaan. Proses bisnis merupakan elemen utama fungsi bisnis dalam suatu organisasi. dan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dan membutuhkan sumber daya. Pengelolaan proses bisnis yang tepat dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan serta berguna untuk menggerakkan bisnis menjadi semakin berkembang sangat cepat dan pesat. Dalam proses bisnis, pemasaran juga dijadikan alat strategi perusahaan untuk mencapai targetnya. Definisi pemasaran menurut Kotler (2008) adalah kegiatan mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Memenuhi kebutuhan dengan cara menguntungkan. Lebih lanjut Alma (2009) mengemukakan bahwa pemasaran adalah proses manajemen untuk identifikasi, antisipasi, dan kepuasan pelanggan secara menguntungkan. Tjiptono (2011) mengemukakan bahwa bauran pemasaran jasa merupakan kumpulan alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karateristik jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Selanjutnya Sumarmi dan Soeprihanto (2010) menjelaskan bauran pemasaran (bauran pemasaran) adalah kombinasi dari variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yaitu produk, harga, promosi, dan distribusi. Dalam penelitian ini diambil studi kasus di PT ABC yang memiliki salah satu proses bisnis yaitu mengakhiri dan mengelola rencana penjualan melalui prosedur Terintegrasi Sistem manajemen(IMS). Akan tetapi prosedur yang ada masih bersifat manual yang mengakibatkan aliran aktivitas dalam proses bisnis tersebut belum terukur. Penerapan Manajemen Proses Bisnis (BPM) melalui perangkat lunak Process Maker. Menurut Footen dan Faust (2008) BPM adalah metodologi yang berorientasi pada proses bisnis untuk memahami dan mengorganisir pekerjaan pada satu perusahaan. Ini difokuskan pada ketangkasan proses (ketangkasan proses) dan jarak penglihatan bisnis (visibilitas bisnis). BPM merupakan metode penyelarasan secara efisien suatu organisasi dengan keinginan dan kebutuhan organisasi tersebut. Lawler dan Barber (2008) BPM adalah satu pendekatan untuk mencapai tujuan bisnis, mengkoordinasikan proses-proses akhir dari perusahaan, menciptakan praktik terbaik, dan perangkat lunak perlengkapan, seperti dalam suatu sistem manajemen proses bisnis, untuk mendeskripsikan, peneliti, dan menambahkan efisiensi dari prosesproses terhadap tujuan bisnis. Menurut Garimella dkk (2008) BPM adalah kumpulan cara, alat dan teknologi yang digunakan untuk merancang, menetapkan, meneliti, dan mengendalikan. Disisi lain, Jeston dan Nelis (2008) BPM adalah pencapaian tujuan organisasi melalui perbaikan, pengelolaan dan pengendalian dari proses bisnis yang penting proses operasional bisnis BPM merupakan suatu pendekatan manajemen holistik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi bisnis melalui upaya untuk mencapai inovasi, komunikasi dan integrasi dengan teknologi. BPM berupaya melakukan perbaikan proses secara berkelanjutan atau disebut juga proses optimalisasi. Dan yang terakhir, Bizagi (2011) mengemukakannotasi pemodelan proses bisnis adalah notasi grafis yang menggambarkan logika dari langkah-langkah dalam suatu proses bisnis. Notasi ini telah dirancang khusus untuk mengkoordinasikan urutan proses yang mengalir antar partisipan atau aktor dalam kegiatan yang berbeda. PEMBAHASAN Pada fase ini memastikan bahwa strategi organisasi, visi, tujuan strategis, bisnis dan pendorong eksekutif harus dipahami dengan jelas oleh anggota tim proyek. Strategi ini harus dikomunikasikan dan disebarkan kepada para pemangku kepentingan yang terkait khususnya manajemen dan staf sampai menjadi akar dalam budaya organisasi. Tujuan dari strategi organisasi adalah untuk menjelaskan bagaimana strategi, proses manajemen dan proses interaksi serta hubungan antar individu dalam organisasi. Tabel 1. Analisis SWOT Kekuatan 1. Mendapat kepercayaan dari pemangku kepentingan (PT ABC) melalui pekerjaan pengugasan. 2. Komitmen yang kuat dari manajemen dalam peningkatan kinerja (kualitas layanan, hubungan pemangku kepentingan). 3. Memiliki sumber daya manusia dengan usia yang sebagian besar cukup produktif. 4. Hubungan kemitraan yang kuat Kelemahan 1. Tidak memiliki aset fisik. 2. Proses bisnis di internal perusahaan belum terintegrasi secara optimal sehingga koordinasi dan komunikasi kurang efektif. 3. Proses pengendalian pengelolaan perusahaan belum optimal. 4. Keterbatasan akses pendanaan di luar grup PT ABC Peluang 1. Pertumbuhan ekonomi tinggi, nilai tukar relatif stabil sehingga mendorong peningkatan kebutuhan listrik. 2. Program pemerintah dalam pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. 3. Peluang optimalisasi potensi pasar IPP. 4. Diversifikasi produk O&M Ancaman 1. Meningkatnya persaingan dari perusahaanperusahaan jasa O&M baik regional maupun global. 2. Perubahan regulasi (terutama ketenagakerjaan dan ketenagalistrikan) berdampak pada stabilitas bisnis. Berikut ini adalah beberapa langkah Manajemen Proses Bisnis(BPM) yang telah diterapkan: 1. ARSITEKTUR PROSES Fase ini merupakan fase dimana arsitektur dirancang proses. Arsitektur proses merupakan cara organisasi untuk menetapkan kumpulan aturan, prinsip, model untuk pelaksanaan BPM di seluruh organisasi. Arsitektur proses memberikan dasar untuk mendesain dan merealisasikan inisiatif dari proses BPM, dimana proses IT dan arsitektur bisnis harus sejalan dengan strategi organisasi. 1.Tujuan Keseluruhan Standarisasi proses bisnis di internal Meningkatkan keunggulan perusahaan di industri ketenagalistrikan. ✓ Memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya Teknologi Informasi sebagai sarana pendukung utama. Prinsip-prinsip umum Meningkatkan daya saing ✓ dibatasi standar internasional. Mendukung upaya ✓ Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan. Meningkatkan komunikasi antara unit dan personal. Pedoman & Model Produk yang Relevan Melibatkan seluruh penanggung jawab proses bisnis dalam pelaksanaan dan pengelolaan rencana Pedoman Organisasi Terkait Komitmen kuat dari manajemen dalam peningkatan kinerja (kualitas layanan, hubungan pemangku kepentingan). ✓ Memiliki sumber daya manusia dengan usia yang sebagian besar cukup produktif. Memiliki hubungan kemitraan yang 5. Pedoman Proses Fokus terhadap perspektifproses ujung ke ujung. ✓ Setiap proses memiliki penanggung jawab. Mengutamakan otomatisasi di setiap aktivitas, namun tetap mengutamakan Pedoman Informasi yang Relevan ✓ Mengevaluasi dari proses bisnis sebelumnya atau yang sedang berjalan saat ini Melibatkan seluruh manajemen Pedoman Teknologi yang Relevan Menggunakan aplikasi berbasis web Menerapkan konsepserver mirroring sebagai langkah awal dalam penangananPemulihan bencana LANDASAN PELUNCURAN Dalam tahap ini, akan diidentifikasi cakupan dan batasan-batasan proyek, menentukan kriteria perancangan dan menginisiasi proyek. Poin utamanya adalah sebagai berikut: ✓ Pemilihan dimana BPM di dalam organisasi akan dimulai. Persetujuan dari tujuan proses dan, atau kunjungan dimana setelah proses ✓ Pembentukan dan pengembangan proyek yang dipilih. Kekuatan pendorong yang melatar belakangi proses inovasi dalam lebar proyek terbagi tiga, yaitu: Harus Berubah Menginginkan Perubahan Dapat Berubah Kekuatan pendorong yang melatar belakangi proyek pengembangan di PT ABC Services adalah Can Change, dimana setiap lapisan dalam organisasi, terutama para pemimpin dalam organisasi telah memasuki tingkat kematangan yang baik. Gambar 2 berikut ini akan menggambarkan Matriks Seleksi Proses. 3. MEMAHAMI Pada fase ini, tim proyek telah memahami secara cukup mengenai keadaan atau lingkungan dari proses bisnis yang sedang berjalan. Hal ini dimaksudkan agar fase inovasi dapat dilakukan. Menentukan prioritas proses di masa yang akan datang sebagai dasar pengukuran perbaikan serta seleksi di fase Innovate mengacu pada American Productivity and Quality Center (APQC) merupakan organisasi yang menyediakan referensi praktik manajemen terkemuka. Gambar 1. Kategori 3.0 Memasarkan dan Menjual Produk dan Layanan 4. INOVASI Yang terlibat dalam fase ini bukan hanya tim proyek dan bisnis tetapi melibatkan para pemangku kepentinganbaik internal maupun eksternal. Ketika berbagai pilihan proses baru diketahui maka dapat dilakukan simulasi. Dalam fase ini dibuat metrik tambahan yang digunakan untuk mengukur metrik yang sebelumnya ditetapkan pada fasememahami. Matriks Seleksi Proses Masa Depan, proses ini dibuat untuk menjelaskan adanya beberapa perubahan dan penambahan pada proses saat ini atau yang sedang berjalan. Gambar 2.Matriks Seleksi ProsesProsedur Standar Pengendalian Pelaksanaan Penjualan Gambar 3.Matriks Seleksi Proses Masa DepanMengelolaHunianPelanggan ORANG BERKEMBANG Dalam kerangka kerja BPM, fase ini merupakan fase yang sangat kritis. Fase ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua aktivitas, peran atau tugas, dan pengukuran kinerja telah sesuai dengan strategi organisasi dan tujuan proses. Matriks Kemampuan Manusia Masa Depanini dapat digunakan untuk analisis keterampilan dan akan memberikan informasi yang berguna tentang penyebab penyimpangan proses yang terjadi di masa yang akan datang. Matriks Kemampuan Manusia Masa Depanini dapat digunakan untuk analisis keterampilan dan akan memberikan informasi yang berguna tentang penyebab penyimpangan proses yang terjadi di masa yang akan datang. Berikut ini adalah Gambar TentangMatriks Kemampuan Manusia Masa Depan. Gambar 4.Matriks Kemampuan Manusia Masa Depan. Fase ini terdiri dari pengembangan semua komponen untuk proses implementasi baru. Hal ini juga melibatkan pengujian perangkat lunak dan perangkat keras. Hasil dari analisa dan evaluasi-evaluasi sebelumnya bertujuan untuk membentuk suatu kerangka Business Process Management System dengan peningkatan kinerja yang dapat membawa keuntungan lebih bagi organisasi. SkemaProses bisnis Sistem manajemenadalah sebagai berikut: 1. Integrasi(Sistem Internal), 2.Otomatisasi ( Proses), 3.Kolaborasi. Keputusan berikutnya adalah pendekatan apa yang ingin diadopsi untuk membuat atau membeli berbagai komponen perangkat lunak. Membeli produk siap pakai yang dapat dikonfigurasi yaitu menggunakan aplikasi ProcessMaker dengan biaya yang efektif dan mudah untuk menggunakan manajemen proses bisnis (BPM) dan aplikasi perangkat lunak alur kerja. 7.MELAKSANAKAN Fase ini merupakan fase dimana semua proses perbaikan yang telah dirancang dan dikembangkan akan dijalankan. Keputusan untuk implementasi akan berdampak pada banyak aspek dalam proyek seperti bagaimana proses dirancang atau didesain ulang, bagaimana pengembangan dan pengujian dapat dilakukan, dan sebagainya. Implementasi Skenario Implementasi Skenario Dentuman Besar Perubahan yang diusulkan diperkenalkan dalam satu perbaikan besar ✓ Keuntungan - cepat untuk diterapkan ✓ Kerugian - tingginya risiko gangguan terhadap bisnis Tabel 2. Skenario Implementasi Paralel Perubahan yang diusulkan dimulai langkah demi langkah, dengan peluncuran perubahan berikutnya akan dimulai tanpa menunggu proses sebelumnya selesai. ✓ Keuntungan - implementasi yang relatif cepat, dan kemampuan untuk memanfaatkan pembelajaran dari implementasi sebelumnya sangat berharga. ✓ Kerugian - sumber daya tambahan akan diperlukan untuk membantu penerapan yang tumpang tindih, dan koordinasi dari peluncuran simultan ini akan tinggi dan berpotensi kompleks. Menyampaikan Perubahan yang diusulkan diperkenalkan demi sesaat, dengan setiap peluncuran hanya dimulai setelah perubahan yang sebelumnya telah selesai. ✓ Keuntungan - kualitas, sebagai pelajaran yang diperoleh dari bentuk sebelumnya, dapat menjadi bahan pertimbangan dan pelaksanaan pada perubahan selanjutnya. ✓ Kerugian - kurangnya kecepatan, karena hal ini pelaksanaannya tergantung pada keadaan, memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan Kombinasi Kombinasi dari eksekusi disebut diatas, mungkin sebuah percobaan kecil dan kemudian membangun eksekusi untuk lebih besar ✓ Keuntungan - enyediakan organisasi dengan manfaat yang menyesuaikan roll-out ke situasi tertentu, fleksibel namun tetap memungkinkan penanganan secara efektif. KESIMPULAN Alma, Buhari. 2009.Manajemen Pemasaran Hasil penelitian berdasarkan penerapan Business Process Management (BPM) pada proses binis mengeksekusi dan mengelola rencana penjualan di Divisi Niaga PT ABC Services dengan mengubah proses manual menjadi digital. Pada prosedur standar pengendalian pelaksanaan penjualan atau pada prosedur pengelolaan pelaksanaan penjualan menghasilkan efisiensi waktu dari yang sebelumnya 26.400 menit menjadi 9.480 menit perbedaannya sebesar 64% dan efisiensi biaya operasional dari yang sebelumnya Rp.30.000.000,- per bulan menjadi Rp.10.772.727, 27 per bulan perbedanya sebesar 64%. Dan pada prosedur pengendalian kontrak pekerjaan jasa atau pada prosedur pengelolaan penyelesaian pelanggan menghasilkan efisiensi waktu dari yang sebelumnya 23.040 menit menjadi 14.400 menit perbedaannya sebesar 38% dan efisiensi biaya operasional dari yang sebelumnya Rp.8.727.272,73 per bulan menjadi Rp.5.454.545 ,45 per bulan perbedaannya sebesar 38%. DAFTAR PUSTAKA dan Pemasaran Jasa. Penerbit Alfabeta, Bandung. Bizagi. 2011.BPMN 2.0 - Proses Bisnis Pemodelan Notasi Bizagi Process Modeler. Bizagi. Footen, John dan Joey Faust. 2008.Itu Perusahaan Media Berorientasi Layanan: SOA, BPM, dan Layanan Web dalam Sistem Media Profesional, Focal Press, Oxford AS. Garimella, K., Less, M., dan Williams, B. 2008. Dasar-dasar BPM untuk Boneka. Perangkat Lunak AG Edisi Khusus. Wiley Publishing, Inc., Indianapolis. Hartono, Bambang. 2013,Sistem Informasi Manajemen Berbasis Komputer. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Jeston, John dan Johan Nelis. 2008.Bisnis Manajemen Proses: Pedoman Praktis untuk Implementasi yang Berhasil. Elsevier Ltd, Oxford. Kotler, Philip. 2008.Manajemen Pemasaran Edisi 12 Jilid 2. Penerbit Indeks, Jakarta. Lawler, JP, dan Howell-Barber, H. 2008. Arsitektur Berorientasi Layanan: Strategi, Metodologi, dan Teknologi SOA, Grup Taylor dan Francis, Boca Raton, Florida. McLeod, Raymond. 2008.Sistem Informasi Manajemen. Penerbit Salemba Empat. Jakarta. Rahmaji, Danang. 2013.Kegiatan Penerapan Sistem Penetapan Biaya Berbasis untuk Menentukan Harga Pokok Produksi PT. Cilebes Mina Pratama, Jurnal EMBA, Vol. 1 No. Universitas Sam Ratulangi Manado. Sumarni, Murti dan John Soeprihanto. 2010, Pengantar Bisnis (Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan) Edisi ke 5. Penerbit Liberty, Yogyakarta. Susanto, Azhar. 2013.Sistem Informasi Akuntansi. Penerbit Lingga Jaya, Bandung. Tjiptono, Fandy. 2011.Pemasaran Jasa. Penerbit Bayumedia, Malang. Taufiq, Rohmat. 2013.Sistem Informasi Manajemen, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Produk Sayuran Secara Online Di Cirebon Fikri Fajar; Yayat Rahmat HIdayat; Farida Mardhatilla
Paradigma Agribisnis Vol 6 No 1 (2023): Paradigma Agribisnis
Publisher : lembaga penelitian universitas swadaya gunung jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jpa.v6i1.8396

Abstract

Persaingan dalam bisnis menuntut para pelaku usaha untuk mampu memahami kondisi pasar, kebutuhan konsumen, dan strategi yang efektif untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Dalam upaya mengatasi persaingan yang semakin ketat dalam bisnis pertanian, terutama pada pemasaran produk sayuran, penting untuk menemukan cara baru guna memenangkan persaingan dan mempertahankan keuntungan. Salah satu cara yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan yaitu dengan efisiensi pada rantai pasok dengan cara penjualan atau pemasaran sayuran secara online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor electronic word of mouth (e-WOM), lifestyle, dan diskon terhadap keputusan pembelian produk sayuran secara online di Cirebon serta menganalisis faktor mana yang paling dominan memengaruhi keputusan pembelian. Penelitian menggunakan metode kuantitatif. Data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Sampel berjumlah 70 responden dan merupakan konsumen yang pernah melakukan pembelian sayuran secara online. Metode sampling yang digunakan yaitu nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Metode analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa electronic word of mouth (e-WOM), lifestyle, dan diskon secara parsial maupun simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Faktor lifestyle merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian.
Analisis Komparatif Usahatani Pisang Cavendish Menggunakan Sistem Irigasi Tetes Dan Konvesional (Kasus di Desa Mekarjaya Kecamatan Kabupaten Indramayu) Arsy Al Dzismi; Dwi Purnomo; Farida Mardhatilla
Paradigma Agribisnis Vol 6 No 2 (2024): Paradigma Agribisnis
Publisher : lembaga penelitian universitas swadaya gunung jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jpa.v6i2.9032

Abstract

This research aims to determine the comparison of income and Break Even Point in Cavendish Banana farming which uses Drip and Conventional Irrigation Systems. The sampling technique uses the census method (total sample). Samples were taken from all members of the population from 10 Cavendish Banana farmers with a Drip Irrigation system and 10 farmers with a Conventional System. The results of research on Drip Irrigation systems with an average cost per hectare of Rp. 35.892.000,00 and conventional systems 35,092,000. The average income per hectare of farmers from the Drip Irrigation system is IDR. 761,600,000 and the Conventional system is Rp. 513,000,000 The average income per hectare of Cavendish banana farmers with a drip irrigation system is IDR. 740,185,000 and conventional farming systems, namely Rp. 478,500,000. The BEP value for Cavendish banana production from the drip irrigation system is 2,600 kg, and the conventional system is 2,900 kg. The BEP value for the price of Cavendish banana farming for the drip irrigation system is IDR 6,700/kg, and the conventional system is IDR 8,500/kg. The safe limit for reducing the price of Cavendish bananas for drip irrigation systems is 52.13%, and for conventional systems the price reduction is 29,17%. From the results, there are differences in costs, income, and BEP in Cavendish banana farming with a drip irrigation system and Cavendish banana farming with a conventional farming system. Keywords: Comparative, Cavendish Banana, drip irrigation, conventional irrigation
Analisis Komparatif Usahatani Pisang Cavendish Menggunakan Sistem Irigasi Tetes Dan Konvesional (Kasus di Desa Mekarjaya Kecamatan Kabupaten Indramayu) Arsy Al Dzismi; Dwi Purnomo; Farida Mardhatilla
Paradigma Agribisnis Vol 6 No 2 (2024): Paradigma Agribisnis
Publisher : lembaga penelitian universitas swadaya gunung jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jpa.v6i2.9032

Abstract

This research aims to determine the comparison of income and Break Even Point in Cavendish Banana farming which uses Drip and Conventional Irrigation Systems. The sampling technique uses the census method (total sample). Samples were taken from all members of the population from 10 Cavendish Banana farmers with a Drip Irrigation system and 10 farmers with a Conventional System. The results of research on Drip Irrigation systems with an average cost per hectare of Rp. 35.892.000,00 and conventional systems 35,092,000. The average income per hectare of farmers from the Drip Irrigation system is IDR. 761,600,000 and the Conventional system is Rp. 513,000,000 The average income per hectare of Cavendish banana farmers with a drip irrigation system is IDR. 740,185,000 and conventional farming systems, namely Rp. 478,500,000. The BEP value for Cavendish banana production from the drip irrigation system is 2,600 kg, and the conventional system is 2,900 kg. The BEP value for the price of Cavendish banana farming for the drip irrigation system is IDR 6,700/kg, and the conventional system is IDR 8,500/kg. The safe limit for reducing the price of Cavendish bananas for drip irrigation systems is 52.13%, and for conventional systems the price reduction is 29,17%. From the results, there are differences in costs, income, and BEP in Cavendish banana farming with a drip irrigation system and Cavendish banana farming with a conventional farming system. Keywords: Comparative, Cavendish Banana, drip irrigation, conventional irrigation
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Produk Sayuran Secara Online Di Cirebon Fajar, Fikri; HIdayat, Yayat Rahmat; Mardhatilla, Farida
Paradigma Agribisnis Vol 6 No 1 (2023): Paradigma Agribisnis
Publisher : lembaga penelitian universitas swadaya gunung jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jpa.v6i1.8396

Abstract

Persaingan dalam bisnis menuntut para pelaku usaha untuk mampu memahami kondisi pasar, kebutuhan konsumen, dan strategi yang efektif untuk memanfaatkan peluang yang tersedia. Dalam upaya mengatasi persaingan yang semakin ketat dalam bisnis pertanian, terutama pada pemasaran produk sayuran, penting untuk menemukan cara baru guna memenangkan persaingan dan mempertahankan keuntungan. Salah satu cara yang dapat dipertimbangkan untuk dilakukan yaitu dengan efisiensi pada rantai pasok dengan cara penjualan atau pemasaran sayuran secara online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor electronic word of mouth (e-WOM), lifestyle, dan diskon terhadap keputusan pembelian produk sayuran secara online di Cirebon serta menganalisis faktor mana yang paling dominan memengaruhi keputusan pembelian. Penelitian menggunakan metode kuantitatif. Data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Sampel berjumlah 70 responden dan merupakan konsumen yang pernah melakukan pembelian sayuran secara online. Metode sampling yang digunakan yaitu nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Metode analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa electronic word of mouth (e-WOM), lifestyle, dan diskon secara parsial maupun simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Faktor lifestyle merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian.
ANALISIS DAYA SAING DAN RANTAI PASOK MANGGA GEDONG GINCU DI PASAR INTERNASIONAL Herista, Mutia Intan Savitri Herista; Wahana, Siti; Dwirayani, Dina; Mardhatilla, Farida
MAHATANI: Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal) Vol 8 No 2 (2025): Mahatani : Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/mja.v8i2.43157

Abstract

Mangga gedong gincu merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan Indonesia yang memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional. Namun perluasan pasar ekspor hingga saat ini belum cukup menggembirakan dengan berbagai tantangan yang dihadapi. Studi ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekspor mangga gedong gincu selama sepuluh tahun terakhir dengan melihat daya saing dan efektivitas rantai pasok yang sudah berjalan. Penelitian menggunakan analisis deskriptif, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari BPS, UN Comtrade, Kementerian Pertanian dan instansi lainnya yang terkait. Daya saing dan penguatan rantai pasok dikaji melalui hasil telaah review dengan fokus pada artikel ilmiah. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan mangga Gedong Gincu memiliki prospek ekspor yang kuat apabila pengendalian kualitas, manajemen rantai pasok dan penguatan mutu dilakukan secara masif dan berkelanjutan.