Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Gambaran Mutu Pelayanan Kebidanan Dan Tingkat Kepuasan Ibu Nifas Di Puskesmas Sleman Tahun 2025 Nadia Putri Anggraheni; Kharisah Diniyah; Nurul Soimah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.467

Abstract

Mutu pelayanan kebidanan pada masa nifas merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kepuasan ibu dan mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, yang masih mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup menurut data 2016, meskipun cakupan kunjungan nifas di wilayah seperti Sleman, DIY, telah mencapai 95%. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan mutu pelayanan kebidanan pada masa nifas berdasarkan dimensi SERVQUAL (tangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathy) di Puskesmas Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini mengidentifikasi area perbaikan pelayanan untuk mendukung penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) nasional yang masih tinggi. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini merupakan seluruh ibu nifas di Puskesmas Sleman, sejumlah 88 responden menggunakan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner SERVQUAL (25 item, skala Likert 1-5) dan instrumen kepuasan (20 item). Analisis data univariat meliputi frekuensi, persentase, mean, dan standar deviasi untuk gambaran mutu dan kepuasan. Dari data SERVQUAL mutu pelayanan keseluruhan baik, dengan dimensi yang tertinggi yaitu assurance (80.6%) dan terendah yaitu responsiveness (11.3% kurang). Diperlukan intervensi pelatihan SERVQUAL bagi bidan untuk tingkatkan responsiveness dan empathy, optimalisasi jadwal kunjungan nifas (KF1-3), serta monitoring bulanan di Puskesmas.
Barriers faced by integrated health post cadres in stunting prevention among toddlers pratiwi, Dwi citra; Diniyah, Kharisah
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 5 No. 1 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v5i1.2936

Abstract

Background: Integrated Health Post cadres play a strategic role in stunting prevention efforts by monitoring the growth and development of toddlers, providing nutrition education, and mobilizing community participation. Globally, 250.2 million toddlers (23.2%) will experience stunting by 2024. In Indonesia, the stunting prevalence in 2024 remains at 19.8%, far below the national target of 14% by 2029. In Yogyakarta, the highest stunting prevalence is in Bantul Regency at 16.5%, with the Srandakan Community Health Center reporting a stunting percentage of 13.94% out of 1.028 toddlers. Purpose: To describe the role and challenges of Pos integrated health post cadres in stunting prevention. Method: This study used qualitative methods. Informants consisted of key informants (integrated health post cadre) and supporting informants (nutritionists and mothers of toddlers). Informants were selected using a purposive sampling method. Data collection was conducted through in-depth interviews using a structured interview guide and documentation. Data analysis included organizing the data, reading and reviewing the data, coding, developing theme descriptions, connecting themes, and interpreting the meaning of the themes. Results: This study indicates that cadres play a role in monitoring the nutritional status of toddlers, providing nutrition education, encouraging visits to the Integrated Health Post and mentoring mothers of toddlers at risk of stunting. However, the implementation of cadres' roles still faces several obstacles, including limited ongoing training, suboptimal support from health workers, and a lack of synchronization in nutrition data recording between integrated health post and Community Health Centers. Conclusion: Integrated health post cadres have fulfilled their role in stunting prevention, but this has not been optimal due to constraints in the service system and community participation. Suggestion: Increasing the capacity of cadres, strengthening coordination between health workers and cadres, and increasing community participation are needed to support successful stunting prevention.