Tri Handayani
Departemen Sejarah Fakultas, Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Peran Nomor Inventaris Sebagai Sumber Informasi Jumlah Koleksi Pustaka: Studi Kasus pada Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang Tri Handayani
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6, No 2 (2022): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.074 KB) | DOI: 10.14710/anuva.6.2.231-244

Abstract

Pencatatan nomor inventaris merupakan salah satu sub kegiatan pada inventarisasi koleksi perpustakaan. Nomor tersebut dicatat pada Buku Inventaris. Nomor inventaris merupakan nomor unik dan setiap koleksi diberikan nomor yang berbeda. Dengan demikian nomor inventaris koleksi perpustakaan memiliki peran penting untuk mengetahui jumlah koleksi yang dimiliki perpustakaan secara akurat. Selain itu, nomor inventaris merupakan kode utama yang diperlukan pada penerapan program otomatisasi koleksi perpustakaan. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dokumen kebijakan, partisipasi. Pendekatan Ilmu Perpustakaan digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Buku Inventaris yang direkomendasikan peneliti kepada perpustakaan ini pada penelitian sebelumnya perlu dilengkapi dengan pencantuman nomor inventaris yang logis dan ilmiah. Visi dan Misi perpustakaan yang dimiliki perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang sangat jelas. Keberadaan visi dan misi tersebut, serta sikap kooperatif Kepala Sekolah beserta pengelola perpustakaan sekolah merupakan  unsur penting bagi keberhasilan penelitian ini. Sehubungan dengan keinginan Kepala Sekolah beserta jajarannya agar program otomatisasi perpustakaan diterapkan di perpustakaan sekolah tersebut, maka pencantuman nomor inventaris pada Buku Inventaris sangat direkomendasikan oleh peneliti. 
Persepsi Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Terhadap Pelaksanaan Klasifikasi Koleksi di Perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semaran Tri Handayani
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6, No 4 (2022): Desember
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/anuva.6.4.%p

Abstract

Persepsi merupakan bagian dari bidang psikologi yang mempelajari tentang proses mental seseorang. Proses mental merupakan proses kemampuan seseorang untuk menerima, mengelola, memberikan respon informasi yang ditangkap oleh alat-alat penginderaan manusia. Proses tersebut dapat dilihat dari gejala kognisi, gejala emosi, gejala konasi. Keahlian seseorang dalam mengklasifikasi koleksi perpustakaan banyak dipengaruhi oleh kemampuan seseorang tersebut dalam mengingat subjek koleksi perpustakaan yang pernah diklasifikasi. Ingatan merupakan bagian dari gejala kognisi. Informan penelitian ini adalah para mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang menjadi pendamping dalam kegiatan pendampingan penetapan klasifikasi koleksi perpustakaan di SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mereka terhadap kegiatan mengklasifikasi koleksi perpustakaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode observasi, studi dokumen, dan wawancara. Observasi dilakukan selama para informan melaksanakan pendampingan penetapan klasifikasi koleksi perpustakaan. Studi dokumen dilakukan terhadap draft buku inventaris/buku induk koleksi perpustakaan SD Negeri Manyaran 01 Semarang. Wawancara tidak terstruktur dilakukan kepada para informan. Kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk diisi oleh para informan tentang persepsi mereka selama melaksanakan klasifikasi koleksi perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan persepsi para informan, bahwa mereka harus melatih keahlian klasifikasi koleksi perpustakaan secara berkesinambungan selama beberapa hari hingga mereka mampu mengingat klasifikasi koleksi perpustakaan.
Village Barn in Coastal Area of Java, From “Lumbung Desa” to Village Unit Cooperative in Demak-Grobogan Endah Sri Hartatik; Wasino Wasino; Tri Handayani; Sri Sudarsih
Paramita: Historical Studies Journal Vol 33, No 2 (2023): History and Tragedy
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v33i2.43880

Abstract

This study aims to analyze the history of institutional changes in food security in the form of savings institutions at the micro-level of rural Indonesia. This research uses the history method using primary sources from documents and oral interviews. The traditional food security institutions in the form of Village Barns could run well because of the support and independence of rural communities. It happened during the colonial period until the beginning of Indonesian independence. After the emergence of modern logistics institutions in the form of the Logistics Affairs Agency (Bulog) and KUD, which were the result of the policies of the New Order government, rural communities became independent. They depended on the government for fertilizers, medicines, seeds, and others. With the presence of these modern logistics institutions, community-based resilience institutions are increasingly marginalized. Its findings indicate a difference in effectiveness between traditional food security institutions and current resilience institutions in ensuring the availability of rice in rural areas. The government needs to re-strengthen community participation-based savings institutions through village granaries.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejarah perubahan kelembagaan ketahanan pangan berupa lembaga tabungan pada tingkat mikro di pedesaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan menggunakan sumber primer berupa dokumen dan wawancara lisan. Kelembagaan ketahanan pangan tradisional berupa Lumbung Desa dapat berjalan dengan baik karena adanya dukungan dan kemandirian masyarakat pedesaan. Hal itu terjadi pada masa penjajahan hingga awal kemerdekaan Indonesia. Setelah munculnya lembaga logistik modern berupa Badan Urusan Logistik (Bulog) dan KUD yang merupakan hasil kebijakan pemerintah Orde Baru, masyarakat pedesaan menjadi mandiri. Mereka bergantung pada pemerintah untuk pupuk, obat-obatan, benih, dan lain-lain. Dengan hadirnya lembaga logistik modern tersebut, lembaga ketahanan berbasis masyarakat semakin terpinggirkan. Temuan-temuan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan efektivitas antara lembaga ketahanan pangan tradisional dan lembaga ketahanan pangan saat ini dalam menjamin ketersediaan beras di daerah pedesaan. Pemerintah perlu kembali memperkuat lembaga tabungan berbasis partisipasi masyarakat melalui lumbung desa.