Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

English Presentation By Self-Reflection Approach Assisted By Indisch Learning Applications To Improve Speaking Skill Titin Kustini; Kurniawati, Rani Dewi
WAHANA Vol 73 No 2 (2021): Wahana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini melaporkan temuan penelitian aksi kelas pada presentasi bahasa Inggris menggunakan pendekatan refleksi diri pada semester keempat mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Majalengka. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa karena kurangnya kepercayaan diri dan kurangnya kesempatan untuk berbicara di depan umum menggunakan bahasa Inggris. Teknik Presentasi Bahasa Inggris dengan pendekatan Refleksi Diri dipilih dengan pertimbangan membiasakan siswa untuk berbicara bahasa Inggris di depan umum dan juga refleksi merupakan bagian penting dari pembelajaran sehingga memikirkannya dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan perubahan. Model penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Taggart. Karena penelitian ini dilakukan selama pandemi, penelitian ini dibantu oleh aplikasi pembelajaran Indisch yang memungkinkan proses pembelajaran terjadi baik sesi langsung maupun memberikan akses ketersediaan sumber belajar. Instrumen yang digunakan adalah pertanyaan item (kuis), lembar observasi dan video. Temuan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan siswa pada siklus I dengan nilai rata-rata 64,24, sedangkan pada siklus II adalah 81,77 dengan peningkatan persentase dari pra-siklus ke siklus I sebesar 31,84%, dari siklus I hingga siklus II meningkat sebesar 45,92% dan dari pra siklus ke siklus II meningkat sebesar 77,76%. Sehingga teknik presentasi bahasa Inggris dengan pendekatan refleksi diri dibantu oleh aplikasi pembelajaran Indisch dapat meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa semester IV Fakultas Hukum Universitas Majalengka tahun akademik 2019/2020.
English Presentation By Self-Reflection Approach Assisted By Indisch Learning Applications To Improve Speaking Skill Titin Kustini; Rani Dewi Kurniawati
WAHANA Vol 73 No 2 (2021): Wahana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/wahana.v73i2.4260

Abstract

Penelitian ini melaporkan temuan penelitian aksi kelas pada presentasi bahasa Inggris menggunakan pendekatan refleksi diri pada semester keempat mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Majalengka. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa karena kurangnya kepercayaan diri dan kurangnya kesempatan untuk berbicara di depan umum menggunakan bahasa Inggris. Teknik Presentasi Bahasa Inggris dengan pendekatan Refleksi Diri dipilih dengan pertimbangan membiasakan siswa untuk berbicara bahasa Inggris di depan umum dan juga refleksi merupakan bagian penting dari pembelajaran sehingga memikirkannya dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan perubahan. Model penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Taggart. Karena penelitian ini dilakukan selama pandemi, penelitian ini dibantu oleh aplikasi pembelajaran Indisch yang memungkinkan proses pembelajaran terjadi baik sesi langsung maupun memberikan akses ketersediaan sumber belajar. Instrumen yang digunakan adalah pertanyaan item (kuis), lembar observasi dan video. Temuan ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan siswa pada siklus I dengan nilai rata-rata 64,24, sedangkan pada siklus II adalah 81,77 dengan peningkatan persentase dari pra-siklus ke siklus I sebesar 31,84%, dari siklus I hingga siklus II meningkat sebesar 45,92% dan dari pra siklus ke siklus II meningkat sebesar 77,76%. Sehingga teknik presentasi bahasa Inggris dengan pendekatan refleksi diri dibantu oleh aplikasi pembelajaran Indisch dapat meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa semester IV Fakultas Hukum Universitas Majalengka tahun akademik 2019/2020.
Implementasi Sengketa Objek Tanah Bersadarkan Pasal 153 jo SEMA Nomor 7 Tahun 2001 Tentang Pemeriksaan Setempat (Studi Putusan Nomor 4/Pdt.G/2021/PN.Mjl): Implementation of Land Object Disputes Based on Article 153 in conjunction with SEMA Number 7 of 2001 Concerning On-Site Inspections (Study of Decision Number 4/Pdt.G/2021/PN.Mjl) Nuraeni, Yeni; Rani Dewi Kurniawati; Zuraidah
Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum Vol. 12 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH PENEGAKAN HUKUM JUNI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jiph.v12i1.14772

Abstract

Local or on-site investigation is a function determined by law for a judge or panel of judges, which increases the judge's confidence in the clarity of the main case on earth before making a decision. local verification is usually carried out by going directly to the field to prove that the plaintiff is correct in filing his claim. the study aims to determine the implementation of local control in the case of PN decision Number 4/Pdt.G/2021/PN.Mjl, to determine and analyze efforts and obstacles in implementing local control. the research method used is normative-empirical. a library field study is research conducted directly with research subjects through books or literature and direct interviews. the conclusion of the local examination was carried out by the jury, deputy clerk, and related parties. according to the circular of the supreme court of the republic of indonesia, local examinations can be carried out on items that are portable but difficult to bring into the courtroom. Number 7 of 2001. considering this, it can be concluded that local investigations are carried out according to procedural law and based on the principle of rapid decision-making, namely the principle of simple and inexpensive testing, which aims to make decisions.
Paradigma Baru Konsep Ganti Rugi dalam KUHP Baru (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023) serta Perbandingannya dengan Konsep Ganti Rugi dalam KUH Perdata Kurniawati, Rani Dewi; Zuraidah; Nuraeni, Yeni
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 23 (2025): Proceedings of Seminar Nasional Kebaharuan KUHP Nasional dan Urgensi Pembaharuan KUH
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v23i.1556

Abstract

Perlindungan hukum terhadap korban kejahatan dalam hukum positif di Indonesia masih bersifat abstrak atau perlindungan tidak langsung. Dikatakan demikian karena tindak pidana menurut hukum positif tidak dilihat sebagai perbuatan menyerang kepentingan hukum seseorang tetapi hanya dilihat sebagai pelanggaran norma atau tertib hukum semata. Sehingga dalam perkembangannya penegakan hukum pidana di masa yang akan datang harus lebih memperhatikan hak-hak dari korban kejahatan diantaranya dengan pemberian ganti rugi. Untuk menggali problematika tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini mempertanyakan tentang pengaturan ganti rugi dalam KUHP Baru serta perbandingannya dengan Ganti rugi dalam KUHPerdata. Prospek pidana ganti rugi dalam politik hukum pidana di Indonesia serta perbandingannya dengan kosep ganti rugi dalam KUHPerdata adalah hal yang akan penulis gali dalam penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan termasuk jenis penelitian hukum normatif, yaitu penelitian hukum yang didasarkan pada data sekunder. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konsep (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prospek pidana ganti rugi dalam politik hukum pidana Indonesia perspektif KUHP Baru telah menempatkan korban sebagai subjek hukum yang sangat penting. (2) Pada sengketa perdata, ganti rugi menjadi aspek yang penting untuk diperhatikan karena berkaitan langsung dengan pemulihan hak-hak korban. Ganti rugi dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi korban sebelum terjadinya kerugian yang diakibatkan kesalahan atau kelalaian pihak lain.
Sinkronisasi Aturan dalam KUHP Baru (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023) dan Undang-Undang No 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual dalam Rangka Melindungi Korban Tindak Pidana Kekerasan Seksual Zuraidah; Kurniawati, Rani Dewi; Nuraeni, Yeni
Proceedings Series on Social Sciences & Humanities Vol. 23 (2025): Proceedings of Seminar Nasional Kebaharuan KUHP Nasional dan Urgensi Pembaharuan KUH
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pssh.v23i.1558

Abstract

Isu mengenai kekerasan seksual terus berkembang seiring dengan meningkatnya kejahatan yang berkaitan dengan kekerasan seksual. Hal ini dipicu oleh maraknya kasus kekerasan seksual di Indonesia. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, UU TPKS disahkan sebagai solusi atas tingginya angka kekerasan seksual di tanah air. UU TPKS tidak hanya memfokuskan diri pada perempuan sebagai korban tindak pidana kekerasan seksual, tetapi juga mencakup kelompok rentan lainnya. Di sisi lain, reformasi dalam Hukum Pidana Indonesia mengarah pada pengesahan KUHP baru yang memuat prinsip-prinsip penting, seperti rekodifikasi terbuka, prinsip keseimbangan, dan prinsip-prinsip relevan lainnya dalam penyusunan KUHP Indonesia. KUHP baru juga telah mengadopsi nilai-nilai yang tercantum dalam konvensi internasional, yang menjadi dasar utama dalam perumusan UU TPKS. Keadaan ini tentu menimbulkan perdebatan mengenai apakah ketentuan hukum pidana dalam UU TPKS (yang baru saja disahkan) perlu dimasukkan dalam KUHP atau tetap berada di luar sebagai ketentuan pidana khusus. Artikel ini akan membahas kedudukan UU TPKS dalam kaitannya dengan KUHP. Permasalahan ini akan dianalisis melalui proses legislasi UU TPKS, termasuk landasan teoritis yang digunakan dalam perumusan undang-undang tersebut. Selanjutnya, penulis akan mengeksplorasi apakah UU TPKS dapat dianggap sebagai undang-undang khusus, terutama jika dibandingkan dengan isu-isu aktual yang terdapat dalam KUHP.
Legal and Ethical Implications of Unilateral Cancellation of Naming Rights: A Case Study of PT KAI and BT Batik Trusmi Cirebon Siti Sopyah; Rani Dewi Kurniawati
Jurisprudentie: Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Vol 12 No 2 (2025): Volume 12 Nomor 2 Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum uin alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jurisprudentie.v12i2.62187

Abstract

This study aims to analyze the legal and ethical implications of the unilateral cancellation of naming rights by PT Kereta Api Indonesia (Persero) against BT Batik Trusmi Cirebon, as well as to examine its implications for partnership practices between state-owned enterprises (SOEs) and the private sector in Indonesia. This study uses a legal-empirical approach, combined with a business ethics approach to assess the moral dimensions and social responsibility of corporate decisions. The results of the study show that unilateral cancellation violates the principle of pacta sunt servanda as stipulated in Article 1338 of the Civil Code and has the potential to cause a breach of contract in accordance with Article 1243 of the Civil Code because it was not done based on mutual agreement and without a valid settlement mechanism. This action also violates the principle of good faith, which requires the parties to act honestly and fairly in executing the agreement. From a business ethics perspective, this unilateral cancellation reflects the moral failure of corporations in applying the principles of Good Corporate Governance (GCG) and Corporate Social Responsibility (CSR), which is characterized by a lack of transparency, accountability, and social responsibility in the decision-making process. This situation has caused a crisis of trust between state-owned enterprises and private partners and has damaged the moral legitimacy of state-owned enterprises as public entities.
Indonesia-Malaysia Cooperation In Handling Illegal Immigrants: From The Perspective of International Law and Human Rights Protection Sopian, Azkia Fathia Kirana; Otong Syuhada; Rani Dewi Kurniawati
JURNAL ILMIAH LIVING LAW Vol. 18 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Living Law
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jill.v18i1.22042

Abstract

The phenomenon of illegal immigrants in Southeast Asia, particularly in the Indonesia-Malaysia corridor, poses serious challenges related to legal, security, and human rights issues. The complexity of this problem arises from differences in national regulations, weak cross-border surveillance, and high economic pressures that drive irregular migration. This study aims to analyze the extent to which bilateral cooperation between Indonesia and Malaysia in handling illegal immigrants is in accordance with international law and human rights protection principles. The method used is a normative juridical approach, examining international legal instruments such as the International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families (1990), ICCPR, ICESCR, and various bilateral Memoranda of Understanding (MoU) between the two countries. The results of the study show that, normatively, Indonesia-Malaysia cooperation has referred to international legal standards that emphasize humane treatment, the principle of non-refoulement, and the protection of the basic rights of migrants. However, operationally, its implementation still faces obstacles in the form of weak inter-agency coordination, limited resources, and a lack of independent oversight. These conditions have led to continued human rights violations, particularly in the form of arbitrary detention and limited access to basic services for undocumented migrants. Thus, strengthening monitoring mechanisms, training officers, and involving international organizations are necessary for this cooperation to be more effective, humane, and sustainable in accordance with the principles of international law.
TANGGUNG JAWAB PT. GO-JEK INDONESIA TERHADAP KERUGIAN MITRA (PENGEMUDI GO-JEK) DALAM APLIKASI GO-FOODAKIBAT KONSUMEN YANG TIDAK MEMBAYAR PESANANNYA Rani Dewi Kurniawati; Yeni Nuraeni
Journal Presumption of Law Vol 5 No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jpl.v5i2.6422

Abstract

Transportasi online saat ini banyak hadir di Indonesia, salah satunya adalah Go-Jek yang merupakan transportasi online berbasis aplikasi. Berbagai fitur layanan disediakan oleh GO-JEK Indonesia,diantaranya adalah Go-Food. Layanan pesan antar makanan untuk konsumen yang menginginkan berbagai jenis makanan pada suatu toko atau restoran dapat dilakukan dengan order melalui aplikasi Go- Food.Pada prakteknya terjadi berbagai macam kendala, diantaranya adalah terjadinya pemesanan oleh konsumen yang tidak bertanggung jawab dengan pembayaran tunai atau COD (Cash on Delivery), yaitu berupa order fiktif dan pembatalan order ketika makanan telah dibayar oleh Mitra atau pengemudi GO-JEK kepada toko atau restoran. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian , adapun 3 (tiga) permasalahan yang akan diteliti adalah hubungan hukum antara para pihak dalam fitur Go-Food, tanggung jawab GO-JEK Indone- sia, dan perlindungan hukum terhadap pengemudi Go-Jek yang mengalami kerugian dalam hal penggunaan fitur Go-Food oleh konsumen yang tidak bertanggung jawab. Dalam penggunaan aplikasi Go-Jek, para pihak tunduk dan terikat pada perjanjian elektronik kerjasama kemitraan, dimana perjanjian ini merupakan perjanjian baku serta memuat pula beberapa klausula baku yang dalam hukum dilarang sehingga berakibat perjanjian dinyatakan batal demi hukum. Penelitian ini diharapkan dapat membantu para pihak untuk mengkaji ulang klausula pada perjanjian yang dibuatnya , sehingga tidak akan ada kerugian yang dialami oleh Mitra atau Pengemudi GO-JEK dalam penggunaan fitur GO-Food oleh konsumen yang tidak bertanggungjawab.
KAJIAN YURIDIS PENGGUNAAN GANJA SEBAGAI METODE KESEHATAN DIKAITKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN JO UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG Rani Dewi Kurniawati; Fahmi Ihwani Fadilah
Journal Presumption of Law Vol 1 No 1 (2019): Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jpl.v1i1.2

Abstract

Sebagian masyarakat di Indonesia saat ini berpendapat kalau ganja adalah tanaman yang bisa menjerumuskan manusia dalam hidup yang penuh dosa, penyakit dan kecanduan. Ganja juga dikenal secara negatif oleh masyarakat sebagai tanaman yang mendekatkan kematian, tanaman yang dicari dan diburu oleh pemakainya hanya untuk kesenangan sesaat. Sehingga yang terjadi tidak sesuai dengan yang di harapkan oleh masyarakat ketika mereka berupaya mempertahankan hidup dengan memanfaatkan ganja untuk kesehatan, mereka justru terhalang oleh beberapa paradigma negatif yang menyebutkan bahwa ganja sepenuhnya tanaman yang berbahaya. Masalah yang akan dituangkan adalah bagaimana proses penggunaan ganja sebagai metode kesehatan serta bagaimana akibat hukum jika pemanfaatan tanaman ganja dijadikan sebuah metode atau alternatif untuk kesehatan.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari studi literatur. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis secara kualitatif.Masyarakat sampai saat ini masih menggunakan ganja untuk berbagai kebutuhan termasuk di dalamnya untuk metode pengobatan. Dalam literatur kebudayaan di Indonesia, ganja digunakan sejak dahulu kala dan turun-temurun. Akan tetapi banyaknya penyalahgunaan ganja, sehingga penggunaan ganja di Indonesia masih harus dihadapkan dengan hukum yang di dalam undang-undang tersebut tidak disebutkan bahwa ada izin penggunaan ganja untuk segi medis karena alasan belum adanya riset bahwa ganja aman dikonsumsi.
TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PERSEKUSI YANG TERJADI DI KABUPATEN MAJALENGKA DIKAITKAN DENGAN PASAL 170 KITAB UNDANG – UNDANG HUKUM PIDANA Rani Dewi Kurniawati; Nurhadiansah
Journal Presumption of Law Vol 1 No 2 (2019): Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jpl.v1i2.87

Abstract

Manusia disebut mahkluk sosial karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan manusia lainnya. Kehidupan di masyarakat tentunya manusia bersoalisasi dengan yang lainnya dan itu semua merupakan hal yang penting, karena dengan bersosialisasi maka kehidupan akan terasa nyaman dan tenang. Ketika manusia berinteraksi dalam suatu ikatan di masyarakat di situlah dibutuhkan Hukum. Saat ini banyak hal yang terjadi di masyarakat di luar aturan Hukum. Tindakan kekerasan menjadi salah satu contohnya termasuk tindakan main hakim sendiri tanpa mengindahkan aturan yang berlaku, terkadang timbulah kesewenang – wenangan dari salah satu pihak dalam hal mengadili konflik tersebut. Metode dalam penelitian ini menggunakan Deskriftif Analisis yaitu yaitu menggambarkan permasalahan yang berkaitan dengan objek penelitian dan terhadap masalah tersebut kemudian dianalisis dan dikaitkan dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Tindak pidana persekusi yang terjadi di Kabupaten Majalengka adalah kekerasan bisa di kategorikan tindakan persekusi dan melanggar Pasal 170 Ayat satu poin satu Kitab Undang – undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang – Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3), Hak Asasi Manusia (HAM) juga di langgar karena telah mengambil hak – hak yang di miliki korban. Unsur sifat melawan Hukum inilah yang menjadi dasar suatu perbuatan dinilai sebagai melawan Hukum apabila perbuatan tersebut memenuhi seluruh unsur tindak pidana yang ditentukan dalam Undang – undang. Berdasarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum agar dituntut seberat – beratnya menurut perbuatan yang terdakwa lakukan terhadap korban. Selain itu, Jaksa juga melihat dari teori pertanggungjawaban pidana salah satunya Kesalahan dapat juga dihubungkan dengan moralitas, “salah” atau “kesalahan” itu adalah perbuatan yang bertentangan atau melanggar ketentuan mengenai hak dan keadilan. Maka dengan apa yang dilakukan Jaksa, Kepolisian Resort Majalengka harus mengantisipati terhadap tindak persekusi dan wajib mensosialisasikan bahaya dan dampaknya kepada masyarakat.